NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Sinar matahari pagi kembali menyapa kamar utama vila di puncak, membawa kehangatan yang kontras dengan udara dingin di luar.

Liana perlahan membuka matanya, mengerjapkan pandangan yang masih sedikit buram.

Hal pertama yang ia rasakan adalah sepasang lengan kekar yang melingkar posesif di pinggangnya.

Kenzo ternyata sudah terjaga sejak tadi. Pria itu menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan satunya mengelus rambut Liana lembut.

Tatapan matanya begitu teduh dan penuh binar kebahagiaan.

"Selamat pagi, Sayang," bisik Kenzo dengan suara serak khas bangun tidur, lalu mengecup kening Liana sekilas.

Mengingat kejadian panas semalam, wajah Liana seketika terasa panas.

"P-pagi, Kenzo..." jawabnya gugup, berusaha menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.

Kenzo terkekeh melihat reaksi menggemaskan istrinya.

Ia merapatkan pelukannya, membiarkan kehangatan tubuh mereka menyatu.

"Sayang, hari ini aku mulai kerja. Ada beberapa dokumen rumah sakit dan urusan internal yang harus kuselesaikan. Kamu mau istirahat di mansion utama, atau ikut aku ke markas dekat hutan tempat kita nikah kemarin?"

Liana tampak menimang-nimang pilihan itu sejenak.

Berdiam diri di mansion yang besar dan sepi pasti akan membuatnya bosan setengah mati setelah semalaman di puncak.

"Hmm, aku mau di markas saja," jawab Liana akhirnya.

"Terus, malamnya baru kita pulang ke mansionmu."

Kenzo menaikkan satu alisnya, merasa heran dengan permintaan sang istri.

"Hm, kenapa begitu, Sayang? Bukankah di markas agak berisik dengan anak-anak geng?"

Liana mengelus perutnya yang masih rata dengan senyum tipis.

"Entahlah... anak kita yang mau ke sana."

Kenzo tertawa kecil, suara baritonnya menggema renyah di dalam kamar.

Rasa bahagianya membuncah mendengar Liana yang sudah mulai membawa-bawa calon anak mereka dalam percakapan mereka.

"Baiklah, kemauan jagoan Papa harus dituruti," ucap Kenzo gemas.

Ia kemudian menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.

"Ayo sekarang mandi. Kita harus bersiap."

Liana yang masih merasa lemas dan sedikit pegal berniat menolak mandi bersama karena tahu itu bisa berakhir panjang.

"Mandi sendiri saja, Kenzo. Kamu duluan sana."

Kenzo langsung memasang seringai nakal andalannya, menatap Liana dengan tatapan menggoda yang intens.

"Sayang, ayo mandi bersama. Semalam kita sudah lewat lima ronde, masa sampai pagi ini kamu masih belum jatuh cinta juga denganku?"

Mendengar celetukan blak-blakan suaminya tentang 'lima ronde' semalam, pipi Liana langsung memerah sempurna seperti kepiting rebus.

Ia mencubit pelan dada Kenzo untuk menyembunyikan rasa malunya yang luar biasa.

"Hm, dasar nakal..." gumam Liana pelan sembari memalingkan wajahnya yang merona hebat, membuat Kenzo kembali tertawa puas melihat betapa menggemaskannya sang istri pagi ini.

Sementara itu di belahan kota lain, di salah satu sudut ruang istirahat kantor ekspedisi, Rista duduk termenung dengan wajah ditekuk.

Rasa cemburu dan iri sempat membutakan matanya saat melihat Liana mendadak mendapatkan suami setampan, semapan, dan seposesif Kenzo. Ia merasa kalah saing dari sahabatnya sendiri.

Namun, sikap ketus Rista belakangan ini rupanya disadari oleh rekan-rekan kerjanya yang lain.

Beberapa teman kantor ekspedisi yang mengetahui kedekatan Rista dan Liana sejak lama langsung menghampirinya dan menegurnya dengan blak-blakan.

"Rista, kamu itu bodoh kalau pertemanan kalian harus putus cuma gara-gara seorang pria," ucap salah satu teman senior sambil menggelengkan kepala.

Teman yang lain menimpali, mengingatkan kembali masa-masa sulit yang pernah dilalui Rista.

"Apa kamu lupa, saat kamu jatuh dan kesusahan dulu, siapa yang paling depan menolongmu kalau bukan Liana? Dia sahabat terbaikmu, Ris. Jangan sampai rasa irimu merusak segalanya."

Mendengar rentetan kalimat telak dari teman-temannya, Rista tertegun.

Kalimat-kalimat itu menyentil lubuk hatinya yang terdalam.

Bayangan kebaikan Liana selama bertahun-tahun langsung berputar di otaknya.

Rista menganggukkan kepalanya pelan, menyadari betapa egois dan kekanak-kannya ia belakangan ini. Rasa bersalah yang teramat besar seketika menyeruak di dadanya.

Tanpa membuang waktu lagi, Rista segera mengambil ponselnya dari dalam tas.

Dengan jari yang sedikit bergetar karena gugup, ia mengetikkan sebuah pesan dan mengirimkannya kepada Liana.

[Li, aku minta maaf buat sikapku kemarin-kemarin ya. Apa aku boleh main ke rumah kamu hari ini? Aku kangen...]

Rista menatap layar ponselnya cemas, menunggu balasan.

Namun di tempat lain, di dalam kamar mandi vila puncak, Liana yang masih asyik mandi bersama Kenzo—sembari sesekali bersenda gurau menghindari kejahilan suaminya—sama sekali belum tahu jika sahabatnya itu baru saja menghubunginya.

Ponsel Liana tergeletak bisu di atas nakas, menyimpan pesan permintaan maaf yang belum terbaca.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian kasual, Kenzo kembali menggoda istrinya yang sedang berdiri di depan cermin besar.

Liana menatap pantulan dirinya dengan wajah cemberut, menyibak sedikit kerah bajunya untuk memperlihatkan mahakarya suaminya semalam.

"Lihat ini, Kenzo! Tubuhku banyak cap merahnya seperti kue bakpao!" protes Liana dengan pipi menggembung kesal.

"Hahahaha!"

Kenzo tertawa lepas, suara baritonnya menggema memenuhi kamar tidur.

Ia melangkah mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Liana dan mengecup kilat salah satu tanda merah di leher istrinya.

"Itu tandanya kamu itu milikku, Sayang. Milik Kenzo seutuhnya."

Liana hanya bisa mencibir gemas, meski hatinya menghangat.

Kemudian ia berjalan ke arah nakas dan mengambil ponselnya yang sempat terabaikan. Begitu layar menyala, matanya berbinar melihat satu notifikasi pesan masuk.

"Ken, Rista menghubungi ku lagi. Sahabat ku menghubungi ku lagi," seru Liana antusias, menoleh ke arah Kenzo dengan senyum lebar. Rasa bersalah di antara mereka tampaknya mulai mencair.

Kenzo yang sedang merapikan jam tangannya menoleh. Sebagai suami, ia ikut senang melihat istrinya kembali ceria.

"Baguslah kalau begitu. Ajak dia makan malam dan datang ke markas hari ini."

Liana menganggukkan kepalanya dengan cepat. Jemarinya dengan lincah mengetik balasan untuk Rista.

"Ristaa, iya nggak apa-apa kok! Sore ini kamu datang ya ke markas Black Cobra dekat hutan jam enam nanti. Kita makan malam bareng di sini, aku tunggu!"

Setelah mengirim pesan tersebut, Liana bergegas merapikan barang-barangnya ke dalam tas.

Mereka berdua lekas keluar dari vila dan masuk ke dalam mobil menuju ke markas.

Perjalanan harus dilakukan agak cepat, mengingat waktu sudah terus berjalan dan Kenzo jam sembilan pagi ini sudah harus mulai bekerja memimpin rapat serta memeriksa pasien di rumah sakit miliknya.

Setelah mendaratkan kecupan hangat di kening Liana dan memastikan istrinya melangkah masuk ke dalam markas dekat hutan dengan aman, Kenzo bersiap kembali ke mobilnya.

Sebelum membalikkan badan, ia menatap Liana dengan pandangan protektif yang begitu lekat.

"Sayang, jangan capek-capek ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku atau anak-anak," ucap Kenzo penuh perhatian.

Liana tersenyum manis, melambaikan tangannya pelan.

"Iya, Kenzo. Lekaslah berangkat, jangan sampai kamu terlambat."

Kenzo mengangguk, lalu bergegas memacu mobilnya meninggalkan area hutan.

Jadwalnya hari itu memang teramat padat—mulai dari memimpin rapat internal manajemen rumah sakit hingga serangkaian operasi yang sudah terjadwal dan tidak bisa ditunda lagi.

Pria itu harus kembali mengenakan jas putih dokternya dan fokus menyelamatkan nyawa orang lain.

Sementara itu, Liana melangkah lebih dalam masuk ke dalam markas.

Namun, setelah beberapa langkah berlalu, ia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.

Suasana markas sangat sepi, bahkan cenderung senyap.

Tidak ada satu pun anak geng yang biasanya duduk bersantai atau berjaga di ruang utama. Hanya ada helaan napasnya sendiri yang terdengar.

Ternyata, hari itu markas memang sedang kosong.

Bunga, Willy, dan Mario sedang sibuk dengan pekerjaan dan urusan eksternal mereka masing-masing untuk mengurus bisnis legal Black Cobra.

Sementara itu, anggota geng yang lain juga masih bekerja di luar lapangan untuk berpatroli, membuat Liana benar-benar sendirian di dalam bangunan luas yang dikelilingi rimbunnya pepohonan hutan tersebut.

1
Muft Smoker
wah udh tamat aja kak ,, kirain nunggu little cobra gede dulu ,,
tp ttap makasih kak buat cerita ny ,, meski singkat Dan tdk bertele2 ,, tp suka ma alur ny ,, dtggu next ceritany yx kak ,,

sehat2 selalu kak ,,
Muft Smoker
astagaaaa ,, org lgi pda sibuk nangis ,, si bumil malah asik berenang😂😂😂😂😂
Bunga Andthea
huhuhu cepet bgt tamat nya kak,
my name is pho: 🥰🥰
Nantikan novel yang lainnya ya kak
terima kasih
total 1 replies
Bunga Andthea
huwaa kakak ny baik bgt hari ini triple up
Muft Smoker
lanjuuut kak
Arumi
psikopat 😭
Muft Smoker
duuuh deg2an iikh ,,
semoga kenzoo cepat sampai dan menyelamatkan Liana ,,
Bunga Andthea
dobel up kak
Muft Smoker
semoga ad keajaiban ,, sebelum bnr2 jauuun Liana bisa di selamatkan ,,
Bunga Andthea
up lgi kak
Bunga Andthea
dobel up dong kak
Muft Smoker
nah kan Rista akhirnya km menemukan sosok yg baik ,, meski ia salah satu anggota geng motor ,,
Muft Smoker
udh Rista jgn iri dg Liana Krn punya suami kyak kenzoo ,,
mario juga kyaknya gx kalah keren koq ,,
🍒WINA🍒
Kenzo dalam keadaan kena obat perangsang telah menodai liana, kasian nasibnya liana ingin menolong org yg terluka apes diperkosa...

liana sampai kehilangan kehormatannya sangat dijaganya, hancur hidup liana yg memperkosa tidak bertanggungjawab langsung kabur aja🤣🤣🤭
Bunga Andthea
lagi kak dobel up kak
Bunga Andthea
sedih bgt liat keadaan Liana,
sumpah kak Lo bikin deg degan
Muft Smoker
yaaa kak ,, masa pemeran utama meninggoy ,, 😱😱😱😱😱😱
Inarairlan 0811
Kania or Rista ka
my name is pho: Kania kak.
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Bunga Andthea
ehh ehh tor jngan main" ya ini kenapa jdi gini liana nya
sri hastuti
lah kok spt itu thor, selamatkan liana thor, kl tdk bisa jd monster itu kenzo ,bisa diterjang semuanya , kenapa baru bahagia sebentar sdh spt ini 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!