Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keteguhan Dan Sudut Pandang baru
Naomy perlahan menurunkan lipatan kakinya, menatap Raka yang kini sedang sibuk memperhatikan isi kamar kos mungilnya. Pria itu melihat ke arah deretan komik tua di rak gantung, lalu beralih menatap botol air mineral tanggung yang tinggal setengah di atas meja. Tidak ada sedikit pun gurat jijik atau tidak nyaman di wajahnya. Raka justru terlihat sangat menikmati kesederhanaan di sekelilingnya.
Melihat pemandangan itu, sekat tak kasatmata yang selama ini menakuti Naomy perlahan menguap. Ia menyadari satu hal yang teramat penting malam ini.
"Di balik gelar CEO dan status anak konglomerat kamu yang bikin sekantor gemeteran... ternyata kamu tetaplah manusia biasa ya, Raka," ucap Naomy lembut, sebuah senyuman tulus terbit di bibirnya.
Raka menoleh, menghentikan kegiatannya. Tatapan matanya melembut, seolah kalimat Naomy baru saja menyentuh bagian terdalam dari dirinya yang jarang tersentuh oleh orang lain. Pria itu menghela napas pendek, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding dengan rileks.
"Gue emang manusia biasa, Non. Orang-orang di luar sana cuma mau lihat Raka yang pakai jas mahal, Raka yang gak boleh buat salah, atau Raka yang harus selalu menghasilkan keuntungan buat perusahaan," tutur Raka dengan nada suara yang terdengar lebih rendah dan jujur. "Mereka lupa kalau gue juga bisa capek, bisa bosan, dan butuh tempat buat jadi diri sendiri tanpa perlu dituntut apa-apa."
Raka menoleh kembali ke arah Naomy, menatap gadis itu dengan binar mata yang hangat.
"Dan tempat itu ada di sini. Di game, dan sekarang... di kamar kos mungil ini, bareng lo," lanjutnya lagi.
Naomy merasa dadanya berdesir hangat. Di balik kemewahan dan kekuasaan yang dimiliki pria di sampingnya ini, Raka ternyata menyimpan kesepian yang besar—kesepian yang selama ini ia salurkan lewat karakter tanker di dunia virtual. Malam ini, Naomy berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi melihat Raka sebagai pembatas yang jauh, melainkan sebagai seorang pria biasa yang berhak untuk bahagia bersamanya.
Suasana di dalam kamar kos yang mungil itu mendadak hening, hanya menyisakan suara deru angin malam dari luar jendela. Raka mengubah posisi duduknya, menghadap sepenuhnya ke arah Naomy dengan tatapan yang penuh perhatian.
"Non," panggil Raka dengan suara baritonnya yang lembut. "Gue boleh tanya sesuatu?"
Naomy menoleh, lalu mengangguk kecil. "Tanya apa?"
"Orang tua lo... sekarang tinggal di mana? Gue perhatikan selama ini lo jarang cerita tentang keluarga," tanya Raka hati-hati. Ia tidak bermaksud lancang, ia hanya ingin mengenal lebih dalam sosok gadis yang kini telah mengisi hatinya.
Mendengar pertanyaan itu, senyum di bibir Naomy perlahan menyusut. Sorot matanya bergerak turun menatap jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan. Ada jeda beberapa detik sebelum ia akhirnya menghela napas panjang, mencoba menata emosi yang mendadak menyeruak naik.
"Ibu dan ayah aku... udah lama cerai, Ka," ucap Naomy memulai ceritanya dengan suara yang sedikit bergetar.
Raka tertegun, namun ia tetap diam, memberikan ruang bagi Naomy untuk melanjutkan.
"Setelah cerai, mereka berdua sama-sama menikah lagi dan fokus sama keluarga baru mereka masing-masing. Di situ, aku ngerasa kayak... nggak punya tempat lagi," lanjut Naomy sambil tersenyum kecut, meski matanya mulai berkaca-kaca. Dada pria di sampingnya berdenyut nyeri mendengar nada pasrah dari kalimat itu.
"Waktu kuliah sampai awal kelulusan, aku luntang-lantung. Numpang di rumah saudara yang ini, terus pindah lagi numpang di rumah saudara yang itu kalau udah merasa nggak enak hati. Rasanya kayak jadi beban di mana-mana," Naomy bercerita sambil sedikit terenyuh, tenggorokannya mulai terasa tercekat mengingat masa-masa sulit saat ia harus bertahan hidup tanpa pegangan.
"Sampai akhirnya... aku keterima kerja di Apex Creative. Begitu dapat gaji pertama, hal pertama yang aku lakuin adalah cari kosan ini. Walaupun mungil dan murah, tapi buat aku, tempat ini berharga banget. Karena di sinilah akhirnya aku punya ruang yang benar-benar milik aku sendiri, tanpa harus takut diusir atau bikin orang lain risih."
Satu tetes air mata jatuh melintasi pipi Naomy. Kisah hidupnya yang mandiri dan tampak tangguh di kantor ternyata dibangun di atas fondasi luka keluarga yang begitu dalam.
Sebelum air mata itu jatuh lebih jauh, sebuah tangan kokoh yang hangat langsung mendekap bahu Naomy, menarik tubuh kecil gadis itu ke dalam pelukannya sekali lagi. Raka mendekap Naomy dengan sangat erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki untuk menyembuhkan luka masa lalu gadisnya.
Raka menghela napas lembut, menyadari bahwa ia baru saja kembali menggunakan gaya bicara kasualnya yang lama. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap Naomy dengan tatapan yang jauh lebih dalam dan hangat.
"Aku cuma nggak mau kamu sendirian lagi di sini, Sayang," koreksi Raka lembut, mengganti kata ganti dirinya sepenuhnya demi menenangkan hati Naomy. "Aku ingin memastikan kamu aman dan ada yang menjaga setiap hari. Di apartemen itu, aku bisa menjamin privasi kamu seratus persen dari anak-anak kantor."
Naomy terdiam, menatap manik mata Raka yang memancarkan kesungguhan tanpa cela. Perubahan panggilan dari 'gue-lo' menjadi 'aku-kamu' yang diucapkan oleh pria di hadapannya ini terdengar berkali-kali lipat lebih mendebarkan. Itu membuktikan bahwa Raka benar-benar menurunkan seluruh ego dan topengnya demi dirinya.
"Tapi, Raka..." Naomy menggigit bibir bawahnya, masih menimbang-nimbang risiko yang ada di kepalanya. "Pindah ke apartemen kamu itu langkah yang besar banget buat aku. Aku masih takut kalau ada hal-hal tak terduga yang di luar kendali kita."
Raka tersenyum maklum. Ia meraih sebelah tangan Naomy dan membawanya ke dalam genggaman hangatnya.
"Aku nggak akan memaksa kamu untuk pindah malam ini juga," ucap Raka dengan nada suara baritonnya yang menenangkan. "Kamu boleh pikirkan dulu. Tapi ingat, sekarang kamu nggak luntang-lantung lagi. Kamu punya aku, dan aku akan selalu siapkan tempat terbaik untuk kamu pulang."
Mendengar kalimat itu, benteng ketakutan di hati Naomy perlahan runtuh. Di dalam kamar kos mungil ini, ia akhirnya tahu bahwa ia tidak lagi bertarung sendirian di dunia nyata yang kejam.