Follow IG ; Vi_via129.
Alana adalah gadis yang baik hati dan cerdas. Tapi karena keloid di wajahnya dan penampilannya yang aneh membuat ia sering di bully di sekolah dan lingkungan tempat dia tinggal. Bahkan saudari kembarnya pun ikut-ikutan membullynya.
Hingga suatu hari pembullyan itu menyebabkan Alena saudara kembarnya koma dan Alana yang harus menanggung biaya perawatan Alena.
Sadar ia tidak memiliki apapun dan akan semakin menyulitkan hidupnya jika ia terus berhutang kepada sahabatnya. Alana memutuskan untuk menerima tawaran sahabatnya Naya untuk menikah dengan Pamannya yang terkenal dengan kata kejam, sadis dan tak punya hati. Dengan harapan ia dapat mengubah takdirnya.
Sanggup seorang Alana mengubah takdirnya menjadi lebih baik? Dan bagaimana cara dia menghadapi, pria tak berhati yang terkenal sadis dan kejam itu? Kepo in yuk.🤗🤗
Mengandung sedikit bumbu panas-panas.🤗🤗 Harap bijak dalam memilih bacaan.😘😘 follow IG vivia129. untuk visual dan segala informasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekejaman Saddam.
Setelah dari rumah sang kakak, Saddam membawa Alana ke sebuah hotel, setelah meminta Asistennya membooking hotel yang akan di jadikan Saddam sebagai malam kesekiannya bersama wanita. Sementara untuk Alana, mungkin akan menjadi malam pertamanya bersama seorang pria.
Walaupun pria itu adalah Suaminya, tetapi sebagai seorang wanita yang belum pernah memiliki hubungan sama sekali dengan pria mana pun, Alana tentu saja merasa takut. " Paman, ini dimana? Kenapa aku di bawah kesini." Tanya alan begitu mobil Saddam berhenti di parkiran hotel yang menjadi tujuan Saddam. Ia melihat sekeliling, dimana mobil-mobil mewah terparkir di sana. tapi belum menemukan jawaban atas pertanyaannya.
Di sisi lain Saddam melepaskan sabuk pengamannya. " Jangan banyak tanya, cepat keluar." Bentaknya, kepada Alana kemudian keluar dari mobil.
Hal itu justru membuat Alana semakin takut, dan tidak mengindahkan kata-kata Saddam, ia tetap berada dalam mobil sembari menggenggam sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya dengan begitu erat.
Sikap Alana, membuat Saddam semakin kesal ia, membuka pintu mobil dan kembali membentak Alana lagi. " Tunggu apalagi, cepat keluar."
Alana mengeleng kepalanya. " Nggak! Sebelum paman bilang! Mau di kemana aku."
Saddam tersenyum mengejek, kemudian mencengkeram rahang Alana dan menghimpitnya di kursi. " Jangan membuat aku semakin kehilangan kesabaran dan membunuhmu disini. Kamu harus sadar siapa kamu." Saddam melepaskan sabuk pengaman Alana dengan kasar, ia menarik pergelangan tangan Alana keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil itu dengan kuat, hingga menimbulkan suara keras yang membuat Alana terkejut.
Sikap Saddam yang tidak berperasaan membuat Alana semakin ketakutan, ia sudah ingin menangis tetapi masih berusaha untuk menahan air matanya. Sementara Saddam terus menyeret Alana, dari parkiran menuju lift dan dari lift menuju kamar presidential suite yang di pesan asistennya.
Sampainya di dalam kamar, Saddam kembali menghimpit tubuh Alana, kali ini ia menghimpitnya di tembok, kemudian mencekik leher Alana. " Dengarkan kata-kata aku dengan baik! Jangan pernah bertanya apa pun yang aku lakukan, jangan mencampuri urusanku, jika aku minta kamu harus siap dan Jangan sekali pun kamu membantah aku, mengerti." Tanya Saddam tanpa menghiraukan wajah Alana yang sudah merah padam dengan nafas yang tersengal-sengal.
Alana terus memberontak dan memukul pelan tangan Saddam di lehernya tetapi pria itu hanya tersenyum kemudian melempar tubuh Alana ke samping. " Wanita yang merepotkan." Umpatnya.
Sementara Alana berusaha untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, bekas tangan Saddam terlukis dengan jelas pada kulit leher Alana yang seputih susu. " Cepat siap-siap dan layani aku. Kali ini jangan membuang waktuku lagi. " titah Saddam tidak ingin di bantah. Tapi Alana tidak menyahutinya. Bukan karena dia ingin melawan, hanya saja lehernya begitu sakit akibat perubahan Saddam. " Kenapa Diam. Apa kamu sudah menjadi wanita bisu." Saddam kembali menghampiri Alana dan kali ini ia menjambak rambutnya, hingga poni Alana yang di tata dengan rapih serta diberi hair spray, agar rambutnya tidak bergeser dan tetap menutup luka di pelipisnya, kini terangkat dan memperlihatkan wajah alana yang sesungguhnya dengan tampilan keloid-nya.
" Aaahhkk Sial, kenapa dengan wajah kamu." Teriak Saddam. " wajah kamu kenapa seperti itu! Menjijikkan sekali." Umpat Saddam, meminta penjelasan, sementara Alana tidak tahu harus berkata apa.
" Sialan, brengsek! Kalian telah menipuku." Saddam terus mengumpat di dalam kamar. Pria itu merasa telah di tipu oleh kakaknya
Wajah Alana yang terlihat begitu cantik, seketika menghilang saat poni yang menempel di wajahnya di angkat. " Keluar kamu sekarang sebelum aku membunuhmu." Ancam Saddam lagi, ia yang sudah terlampau kesal, mengusir Alana keluar dari kamar itu.
Karena alana sudah sangat takut kepada Saddam. ia langsung berlari keluar dari kamar itu tanpa di minta dua kali. Alana tidak sakit hati dengan kata-kata Saddam sebab ia pun telah terbiasa dengan perlakuan kasar dan kata umpatan serta hinaan untuknya! Tapi sikap Saddam barusan sungguh sangat keterlaluan dan kejam.
Begitu berada di luar kamar Alana pun melangkah dengan santai meninggalkan hotel. ia masih mengunakan kebaya pengantin walaupun terlihat sedikit berantakan. " Lebih baik aku pergi dari pada aku harus mati disini."gumam Alana dalam hatinya
Sementara di dalam kamar presidential suite itu Saddam langsung menghubungi asistennya meminta untuk membawakan dua orang wanita sekaligus.
Sang asisten yang sudah tahu kebiasaan tuanya, langsung mencari dua orang wanita yang ia pastikan bersih untuk menemani bosnya.
Malam itu Saddam melampiaskan kekesalannya dengan membuat kedua orang wanita itu menjerit sepanjang malam syukurnya kamar itu kedap suara sehingga suara jeritan keduanya tidak terdengar sampai di luar.
Disisi lain Alana terus berjalan. Langit semakin gelap! Alana tidak tahu dimana ia berada saat ini, Alana ingin naik taksi pulang ke rumah sahabatnya tapi ia tidak memiliki uang untuk membayar ongkos taksi.
Alana memilih duduk di atas trotoar jalan, melihat kendaraan lalu-lalang kesana-kemari di hadapannya. Lehernya masih sangat sakit, karena ulah Suaminya. " Tuhan apa salahku kenapa tidak ada yang tulus menyayangi aku. Tuhan tolong akhir semua ini, karena pundak aku tidak sekuat itu, untuk menerima ujian darimu." Teriak Alana sembari mendongak wajahnya ke atas di susul cairan bening yang menetes dari kedua sudut matanya tanpa bisa ia tahan lagi.
" Ternyata apa yang di katakan Tante rina benar! Adiknya tidak sebaik dirinya." Alana masih terus menangis dan bergumam seorang diri, ia menurunkan wajahnya dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua pahanya.
Sehingga ia tidak sadar seorang wanita kini tengah berhenti tepat di hadapannya. " Nak! Apa yang kamu lakukan di sini?" Alana mendongak, kepalanya dan menemukan wanita paruh baya yang beberapa hari lalu ia temui di halte sedang menatapnya.
" Ibu, ibu ngapain disini." Bukannya menjawab Alana justru balik bertanya.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan menjawab." Ibu bekerja disini, seminggu sekali ibu dan teman-teman ibu akan bertukar tempat, tadinya ibu ingin pulang Tetapi melihat kamu ibu memutuskan untuk menghampiri kamu." Jelas wanita paruh baya itu panjang kali lebar, agar Alana tidak berpikir macam-macam tentangnya." Kamu ngapain disini nak." Wanita itu kembali mengulang pertanyaannya.
" Aku hanya tersesat dan tidak tahu jalan untuk pulang." Ucap Alana tidak ingin menceritakan masalahnya kepada orang yang baru ia temui.
" Astaga hanya itu saja, kamu sampai menangis seperti ini! Berdirilah, ibu akan memanggil taksi untuk mu." Wanita itu membantu Alana berdiri.
" Tapi Bu! Aku nggak punya uang untuk membayar ongkos taksi." Ucap Alana sedikit menundukkan kepalanya.
" Ibu yang akan membayar ongkos taksi kamu." Ucapnya sembari mengusap wajah sembab Alana. Alana ingin menolak bantuannya tapi wanita itu sudah lebih dulu menghentikan taksi yang lewat. " Pulanglah, Jangan putus asa, suatu saat kamu akan terus tersenyum." Ucapnya lagi sembari membantu Alana masuk kedalam taksi dan memberinya dua lembar uang seratus ribu. Setelah itu ia menutup pintu dan meminta supir taksi itu untuk jalankan taksinya, tanpa memberi kesempatan Alana untuk protes.
Taksi yang mengantar Alena berhenti di depan rumah Naya, penjaga yang mengenalinya langsung Membukakan pintu untuknya. " Non Al, dari mana malam-malam begini?"
Alana tersenyum kemudian menjawab." Dari rumah Sakit, jenguk saudari aku pak." Tentu saja Alana berbohong, karena ia tidak ingin bercerita kepada penjaga gerbang rumahnya Naya. " Makasih ya pak! aku masuk dulu mau istirahat."
" Iya non, selamat beristirahat." Alana tersenyum sembari mengangguk kepalanya. Ia tidak berjalan masuk ke rumah utama, melainkan berjalan ke samping menuju paviliun belakang.
Setibanya di paviliun belakang, lampu-lampu sebagian sudah di matikan, semua pelayan di rumah itu sepertinya lelah dan istirahat lebih cepat, Alana pun melangkah masuk ke dalam kamarnya karena dia sudah sangat lelah dan butuh istirahat.
Bersyukurnya Tante Rina belum memindahkan barang-barangnya ke rumah utama, sehingga Alana bisa mandi dan berganti pakaian sebelum beristirahat.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..🖤🖤...