Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Langkah kaki Liam Oliver tertahan di ambang pintu ruang kerja privat hotel yang bernuansa kayu mahoni gelap. Atmosfer di ruangan ini terasa jauh lebih pekat dan dingin daripada kamar pengantin yang baru saja ia tinggalkan.
Di depan sebuah meja kerja besar bergaya klasik, Papa Bramantyo berdiri memunggunginya, menatap kosong ke luar jendela kaca besar yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta yang mulai meredup di sepertiga malam.
Liam menutup pintu jati tebal itu dengan rapat. Ia berdiri tegak, melipat kedua lengan kekarnya di depan dada bidangnya.
Kemeja satin hitamnya yang sedikit kusut dan beberapa helai rambut yang jatuh acak di dahinya justru mempertegas kesan maskulin yang intimidatif, gaya seorang pria yang terbiasa memegang kendali, namun kini dipaksa menghadapi ketidakpastian.
"Pa, cukup sandiwara ini," suara bariton Liam memecah keheningan, terdengar begitu rendah dan tajam. "Jangan membuatku merasa seperti penjahat di sini. Aku adalah korban yang sebenarnya! Aku dipaksa memakai jas milik Devon, dipaksa mengucapkan qobul untuk wanita yang tidak kukenal, dan sekarang... aku mendapati wanita itu sudah ternoda. Ego pria mana yang tidak hancur, Pa?!"
Papa Bramantyo perlahan membalikkan tubuhnya. Wajah pria paruh baya itu masih pucat, namun sepasang matanya kilat yang begitu menusuk, sorot mata seorang penguasa tertinggi Oliver Group yang tidak pernah bisa didebat oleh siapa pun.
Beliau berjalan mendekat, setiap ketukan langkahnya terasa begitu menekan hingga membuat Liam tanpa sadar menurunkan kedua lengannya.
"Ego? Kau bicara soal egomu yang terluka, Liam?!" suara Papa Bramantyo terdengar sangat rendah, namun setiap kata yang keluar seperti hantaman palu godam. "Kau merasa paling menderita malam ini hanya karena kau harus bertanggung jawab atas pernikahan ini? Kau merasa duniamu runtuh hanya karena setitik kesucian yang kau agungkan itu tidak kau temukan?!"
"Tentu saja! Aku pria normal, Pa! Aku tidak sudi menjadi tempat penampungan aib wanita lain!" bentak Liam, emosinya kembali tersulut.
PLAK!
Suara tamparan verbal dari kata-kata Papa Bramantyo terasa jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik. Pria paruh baya itu menggebrak meja kerja dengan sangat keras hingga vas bunga di atasnya bergetar.
"Jaga bicaramu, Liam Oliver!" bentak Papa Bramantyo, napasnya kembali memburu dan memegangi dadanya sejenak sebelum melanjutkan dengan telunjuk bergetar yang diarahkan tepat ke wajah tampan putranya. "Kau tidak tahu apa-apa! Kau hanyalah bocah manja yang sibuk dengan dunia kuliahmu yang nyaman, sementara wanita yang kau sebut 'kotor' itu sedang mendekam di dalam neraka yang diciptakan oleh musuh keluarga kita!"
Liam tertegun, matanya membelalak. "Apa... apa maksud Papa?"
"Kau menutup matamu dan langsung menghakiminya seolah dia adalah wanita murahan! Kau membentaknya, menekannya, bahkan menjatuhkan talak tanpa sudi mendengar satu patah kata pun dari bibirnya!" Papa Bramantyo melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aura kepemimpinannya menenggelamkan Liam.
"Dengar baik-baik, Liam. Mulai detik ini, Papa melarang keras dirimu untuk menyentuh, membentak, atau menyakiti fisik maupun mental Mira Hazelya! Jangankan menyakitinya, jika Papa melihat ada sehelai saja rambutnya yang jatuh karena tekanan darimu, Papa sendiri yang akan mencoret namamu dari seluruh hak waris dan silsilah keluarga Oliver!"
Ancaman itu mutlak. Liam membeku di tempat, rahangnya mengatup rapat. Ia belum pernah melihat ayahnya semarah ini, bahkan saat Devon kehilangan proyek bernilai triliunan rupiah beberapa tahun lalu, Papa tidak pernah bertindak sejauh ini.
Aura dingin khas cold CEO yang biasanya memancar kuat dari tubuh Liam mendadak lumpuh di hadapan kemarahan sang ayah. Namun, di balik rasa terkejutnya, rasa penasaran yang teramat besar mulai merayap di benak Liam. Ada misteri yang begitu besar yang sengaja disembunyikan darinya.
"Kenapa, Pa? Kenapa Papa sampai sejauh ini melindunginya?" tanya Liam, nada suaranya kini melunak, berubah menjadi suara berat yang sarat akan tuntutan kebenaran. "Jika dia memang tidak bersalah, kenapa dia hanya diam dan menangis? Kenapa dia tidak membela dirinya sendiri di hadapanku?!"
Papa Bramantyo menghela napas panjang yang terasa sangat berat, seolah udara di paru-parunya telah habis. Beliau berjalan kembali ke arah sang putra, Beliau mengeluarkan sebuah map cokelat tua yang tebal dan tersegel rapat dari saku jas miliknya.
Pria paruh baya itu menatap map tersebut dengan pandangan yang penuh dengan kepedihan dan rasa bersalah yang amat pekat, sebelum melemparkannya ke atas meja, tepat di hadapan Liam.
"Dia diam bukan karena dia bersalah, Liam," ujar Papa Bramantyo dengan suara yang mendadak melemah, nyaris berbisik. "Dia diam karena dia sedang memegang janji suci untuk melindungi keluarga kita. Dan dia diam... karena trauma yang kau bangkitkan malam ini jauh lebih kejam daripada kematian itu sendiri."
Papa Bramantyo menatap lurus ke dalam manik mata hitam Liam. "Buka map itu. Lihat dengan matamu sendiri, seberapa besar dosa keluarga Oliver kepada wanita suci yang baru saja kau hancurkan hatinya."
Jantung Liam mendadak berdesir aneh. Perasaan buruk yang teramat pekat seketika menyergap benaknya. Dengan tangan yang perlahan mulai bergetar, Liam mengulurkan jemari kekarnya untuk meraih ujung map cokelat tua tersebut, siap membuka gerbang rahasia kelam yang akan membalikkan seluruh dunianya dalam sekejap.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
emangnya seperti apa?