Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kemenangan di Selat Malaka dan ruang sidang Singapura rupanya tidak membuat Vanguard Maritim mundur begitu saja. Bagi sindikat multinasional yang terbiasa mendikte regulasi global, kekalahan dari sebuah klan asal Asia Tenggara adalah tamparan keras yang tidak bisa ditoleransi. Ketika jalur hukum internasional didebat patah oleh Aura, dan jalur infiltrasi siber dipotong taktis oleh Kenzo, musuh mulai menggunakan metode paling purba dalam sejarah perseteruan kekuasaan: memotong langsung akar generasi penerus.
Seminggu setelah insiden pelabuhan, suasana di kediaman rahasia klan Bratadikara di Menteng terasa sangat sunyi. Rumah bergaya kolonial yang dikelilingi oleh tembok beton setinggi empat meter dan dijaga ketat oleh personel bersenjata taktis itu seharusnya menjadi tempat paling aman. Namun, bagi musuh yang sedang putus asa, tidak ada benteng yang tidak memiliki celah tersembunyi.
Sore itu, Aura sedang berada di ruang baca lantai dua, memeriksa berkas-berkas pengalihan aset Vanguard yang berhasil disita sebagai ganti rugi imateriil. Di halaman bawah, Gavinandra sedang bersama Nyonya Rahma, duduk di gazebo taman sambil menyusun lego bertema arsitektur kota.
Bzzzt... Bzzzt...
Suara dengung halus yang tidak wajar tiba-tiba terdengar dari arah langit-langit taman belakang. Sebuah benda berbentuk serangga mekanis berukuran tidak lebih besar dari telapak tangan—micro-drone pengintai militer dengan teknologi peredam suara frekuensi tinggi—meluncur perlahan di antara rimbunnya daun pohon kompas. Benda itu bukan sekadar kamera pengintai; di bagian bawahnya, sebuah jarum pneumatik kecil berisi cairan neurotoksin sintetik berkilau di bawah siraman cahaya matahari sore.
Gavinandra, yang memiliki ketajaman sensorik luar biasa warisan Devan, mendadak menghentikan aktivitasnya. Matanya yang jernih langsung menyipit, menatap lurus ke arah dedaunan.
"Nenek, ada mainan Paman Kenzo yang lepas kendali di atas pohon," ucap Gavin dengan suara tenangnya yang khas, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Nyonya Rahma mengernyitkan dahi, mendongak mengikuti arah telunjuk cucunya. Namun, sebelum sang nenek sempat menyadari bahaya, micro-drone tersebut mendadak menukik tajam dengan kecepatan tinggi, mengarah langsung ke leher Gavinandra.
Prak!
Sebuah tembakan senyap berkecepatan tinggi dari arah balkon lantai dua menghancurkan drone tersebut menjadi serpihan logam sebelum sempat menyentuh jarak satu meter dari tubuh Gavin. Bram berdiri di sana, memegang senapan runduk (sniper rifle) laras pendek dengan asap tipis yang masih keluar dari ujung peredamnya.
"Tuan Muda Gavin! Nyonya Besar! Masuk ke dalam rumah sekarang! Mode aman level satu!" teriak Bram melalui mikrofon taktisnya.
Seketika itu juga, sirine darurat di kediaman Menteng berbunyi dalam nada rendah yang menggetarkan dinding-dinding rumah. Aura yang mendengar suara tembakan dan teriakan Bram langsung berlari turun ke lantai bawah dengan jantung yang berpacu liar. Ia langsung mendekap Gavin yang baru saja dibawa masuk oleh Nyonya Rahma ke dalam ruang tengah yang dilapisi kaca antipeluru.
"Gavin! Kamu gak apa-apa, Nak? Ada yang terluka?!" tanya Aura, suaranya bergetar hebat saat ia memeriksa setiap jengkal tubuh putranya.
"Gavin gak apa-apa, Ibu. Paman Bram menembak serangga besi itu tepat waktu," jawab Gavin, tangannya yang kecil justru mengusap pipi Aura, mencoba menenangkan ibunya yang tampak begitu cemas.
Bram melangkah masuk dengan wajah yang sangat keras. Di tangannya, ia membawa serpihan badan drone yang berhasil diamankan menggunakan sarung tangan isolator. "Nyonya Aura, ini bukan drone pengintai biasa. Ini adalah unit asasinasi taktis otonom. Mereka menargetkan Tuan Muda Gavin secara spesifik. Sistem pertahanan siber luar kita telah disabotase dari dalam radius lima ratus meter."
Satu jam kemudian, Devanandra tiba di kediaman Menteng. Begitu pintu depan terbuka, hawa dingin dan pekat yang memancar dari tubuh tegap Devan seolah mampu membekukan udara di seluruh ruangan. Jaket taktis hitamnya terbuka, memperlihatkan kaos hitam yang melekat ketat di tubuh bidangnya. Sepasang mata elangnya memancarkan kemarahan yang begitu masif, sebuah titik didih tertinggi dari seorang pria yang wilayah privasi paling sucinya baru saja diusik.
Ia langsung berjalan ke arah Aura dan Gavin yang sedang duduk di sofa ruang dalam. Tanpa berkata-kata, Devan berlutut, memeluk erat istri dan anaknya dalam satu dekapan kokoh yang protektif selama beberapa menit, menyalurkan seluruh rasa lega sekaligus kepedihan yang tertahan di dadanya.
"Kenzo," panggil Devan, suaranya terdengar sangat rendah, jenis suara yang membuat para algojo mafia veteran sekalipun akan gemetar ketakutan.
Kenzo yang berdiri di dekat pintu dengan laptopnya langsung menyahut. "Gue udah melacak sinyal pemancar drone itu, Dev. Frekuensinya berasal dari sebuah rumah aman sementara di kawasan industri terbengkalai di pinggiran Jakarta Barat. Dan tebakan lo bener... ada pengkhianat di lini bawah kita. Salah satu teknisi keamanan tingkat tiga kita telah menerima aliran dana segar dari rekening luar negeri yang terafiliasi dengan sisa-sisa eksekutif Vanguard."
Aura bangkit dari sofa, berdiri di samping Devan. Meskipun naluri keibuannya sempat diguncang ketakutan, kini akal sehat dan ketajaman hukumnya telah kembali sepenuhnya.
"Mereka frustrasi karena draf penyitaan aset internasional yang aku ajukan di Singapura kemarin telah membekukan seluruh aliran dana operasional mereka di Asia," kata Aura, matanya menatap tajam dokumen analisis siber Kenzo. "Ini bukan lagi persaingan bisnis atau perang regulasi, Devan. Ini adalah tindakan terorisme murni. Secara hukum, kita memiliki hak penuh untuk melakukan tindakan bela diri darurat (self-defense) yang diakui oleh undang-undang nasional maupun konvensi internasional."
Devan berdiri, menatap Aura dengan tatapan yang sarat akan keputusan mutlak. "Kali ini, gue gak akan pakai draf perjanjian atau mediasi ruang sidang, Ra. Mereka mencoba menyentuh anak kita. Hukum Bratadikara yang akan menyelesaikan ini di lapangan."
Aura tidak mencegah suaminya. Sebagai seorang ahli hukum, ia tahu bahwa ada titik di mana hukum formal menjadi lumpuh ketika berhadapan dengan monster yang tidak mengenal aturan main manusia. Ia melangkah mendekat, merapikan kerah kaos Devan, lalu menatap langsung ke dalam mata elang suaminya.
"Bawa keadilan itu pulang dengan bersih, Devanandra. Jangan tinggalkan celah yang bisa membuat mereka menyerang kita balik di masa depan. Gunakan pasal perlindungan mutlak," bisik Aura dengan ketegasan yang setara dengan dinginnya baja.
Malam itu, di sebuah gudang tua di kawasan industri terbengkalai Jakarta Barat, hujan turun dengan sangat deras, menyamarkan suara langkah kaki belasan pria berjas hitam yang bergerak dalam formasi taktis melingkar. Rumah aman milik agen Vanguard tersebut dikelilingi oleh pagar kawat berduri yang telah dipotong rapi oleh tim Bram.
Di dalam gudang, tiga agen asing berbaju taktis abu-abu sedang sibuk mengemas peralatan siber mereka, bersiap untuk melarikan diri setelah menyadari bahwa operasi pembunuhan mereka gagal total.
Brak!
Pintu besi gudang hancur berantakan setelah dihantam oleh kendaraan taktis lapis baja milik Bratadikara. Sebelum para agen asing itu sempat meraih senjata otomatis mereka, tim taktis klan telah merangsek masuk dengan kecepatan kilat, melumpuhkan dua agen di antaranya dengan tembakan presisi di kaki dan bahu.
Agen utama mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka di pelipisnya, mencoba merangkak menuju pintu belakang, namun langkahnya terhenti ketika sebuah sepatu lars hitam menginjak tangan kanannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.
Pria itu mendongak dan seketika merasakan tenggorokannya kering. Devanandra berdiri di atasnya, menatapnya dengan pandangan dingin tanpa emosi sedikit pun, seperti seorang malaikat maut yang sedang meninjau draf eksekusi. Di belakang Devan, Bram berdiri dengan senjata siap tembak, sementara Kenzo sibuk mengambil alih seluruh peladen (server) data fisik yang ada di ruangan tersebut.
"Siapa yang memberi perintah?!" tanya Devan, suaranya tenggelam di antara suara rintik hujan yang menghantam atap seng gudang.
Pria asing itu meludah darah, mencoba tersenyum menantang. "Kamu... tidak akan bisa menyentuh bos kami di Eropa, Bratadikara. Ini cuma permulaan. Anakmu... akan selalu berada dalam jangkauan kami."
Mendengar nama anaknya disebut dari mulut kotor pria itu, sebuah kilat kemarahan yang murni melintas di mata Devan. Ia berjongkok, mencengkeram kerah baju pria itu dengan satu tangan, lalu mengangkat tubuh kekarnya hingga kakinya menggantung di udara.
"Lo salah menilai siapa yang sedang lo hadapi," bisik Devan tepat di depan wajah pria itu, suaranya begitu pelan namun mengandung daya hancur yang absolut. "Dulu, istri gue mendidik gue untuk selalu menggunakan koridor hukum. Tapi dia juga yang mengajarkan gue, bahwa hukum tertinggi di dunia ini adalah melindungi keluarga gue. Dan malam ini, kalian telah melanggar klausul paling sakral dalam hidup gue."
Devan melemparkan tubuh pria itu ke lantai dengan kasar, lalu berbalik memunggungi musuhnya yang sudah tidak berdaya.
"Bram, bersihkan tempat ini. Serahkan mereka semua beserta seluruh bukti fisik peladen yang diambil Kenzo kepada unit penanggulangan terorisme mabes polri dalam waktu tiga puluh menit. Pastikan draf laporannya disusun langsung oleh tim hukum Aura, tanpa ada satu pun celah hukum yang bisa membuat mereka melihat cahaya matahari lagi seumur hidup mereka," perintah Devan dingin.
"Siap, Tuan Muda," jawab Bram dengan hormat.
Pukul tiga dini hari, Devan kembali ke kediaman Menteng. Seluruh ketegangan dan hawa membunuh yang tadi menyelimuti tubuhnya telah lenyap, sengaja ditinggalkan di luar pagar rumah aman. Ia melangkah masuk ke dalam kamar utama dengan sangat perlahan, tidak ingin membangunkan anak dan istrinya.
Di atas ranjang besar, Aura sedang tertidur dengan posisi miring, sementara Gavinandra kecil tertidur lelap di tengah-tengah di antara posisi tidur mereka berdua—sebuah pemandangan yang sangat hangat dan damai yang seketika menghapus seluruh sisa kelelahan di tubuh Devan.
Devan membersihkan dirinya terlebih dahulu, mengganti pakaiannya dengan kaos bersih yang hangat. Ia kemudian perlahan naik ke atas ranjang, berbaring di sisi Gavin yang kosong.
Aura rupanya tidak sepenuhnya tertidur. Merasakan pergerakan di atas kasur, ia membuka matanya perlahan. Dalam remang cahaya lampu tidur bernuansa kuning temaram, Aura menatap suaminya. Ia melihat tangan Devan yang bersih, tanpa ada noda darah sedikit pun, mencerminkan kepatuhan pria itu pada janjinya.
"Semua sudah selesai, Dev?" tanya Aura lirih, suaranya parau karena kantuk.
Devan mengangguk kecil, mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Aura, lalu beralih membelai lembut dahi Gavin kecil yang sedang mendengkur halus. "Semua bersih, Ra. Bukti-bukti keterlibatan Vanguard dalam tindakan terorisme domestik sudah masuk ke jaringan kejaksaan agung malam ini. Besok pagi, Interpol akan memiliki dasar hukum internasional yang mutlak untuk membubarkan seluruh konsorsium mereka di Eropa atas permintaan pemerintah kita. Mereka tidak akan pernah bisa kembali lagi."
Aura tersenyum, mengulurkan tangannya di atas tubuh kecil Gavin, menyatukan jemarinya dengan jemari Devan yang hangat.
"Kita sudah berhasil membuktikannya lagi, Dev," bisik Aura, matanya menatap lekat-lekat wajah tenang putra mereka. "Bahwa kekuatan fisikmu dan hukum yang aku bawa bukan cuma draf di atas kertas kontrak bisnis. Tapi itu adalah perisai hidup yang akan selalu menjaga masa depan anak kita dari kegelapan dunia luar."
Devan menarik tangan Aura, mengecup punggung tangan istrinya dengan kelembutan yang dalam dan penuh rasa khidmat. Di tengah kesunyian malam Menteng yang kembali damai, dengan detak jantung teratur dari benih masa depan mereka yang tertidur aman di antara mereka, Devan tahu bahwa fajar yang baru akan selalu terbit dengan indah di atas dinasti Bratadikara—sebuah dinasti yang kini tidak lagi ditakuti karena kejamnya senjata, melainkan dihormati karena keadilan hukum dan kekuatan cinta yang mutlak tak tertandingi.