Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 6
"Mau kemana kamu? Cepet ke rumah ibu! Beres-beres di rumah. Ada banyak setrikaan! Baju-baju Elisa belum di setrika!" suara Bu Sri menghentikan langkah Rumi.
"Maaf Bu, cari saja orang lain untuk beres-beres di rumah ibu. Karena Rumi sekarang bekerja, permisi Rumi berangkat dulu!" jawab Rumi masih sopan.
Sreeeeettttt
Tangan Rumi di tarik paksa oleh Bu Sri. Ibu mertua Arumi terlihat sangat kesal mendengar menantu tak di inginkannya bekerja. Karena nantinya dia akan semakin sulit untuk menyuruh Rumi bekerja di rumahnya.
"Apa kerja? Kerja apaan? Jadi ba bu? Atau jadi tukang cuci di rumah makan? Astaga kamu memalukan sekali Rumi. Udah bagus kamu di rumah saja. Udah sana nggak usah sok-sokan mau kerja segala. Sampai kapanpun kamu tak akan pernah bisa menyaingi intan dan Hani," da da Bu Sri naik turun.
"Saya bekerja bukan untuk menyaingi kedua menantu kesayangan ibu. Namun saya ingin membantu keuangan keluarga kami. Gaji Mas Fathur tak cukup untuk kebutuhan kami sampai akhir bulan. Apalagi uang gajinya di bagi dua dengan ibu. Apa gaji mas Fajar dan Farid juga sama di potong setengahnya Bu?" tanya Arumi tenang namun mampu memancing emosi yang sedari tadi memang sudah mulai terasa.
"Heh itu sudah kewajiban Fathur. Kedua kakaknya tak wajib memberikan ibu uang. Apalagi mereka punya anak. Kalian kan belum punya anak, jadi untuk apa kalian punya uang lebih? Yang ada kamu malah akan boros!" jawab Bu Sri membuat Rumi tersenyum kecut.
Ternyata benar dugaannya jika hanya suaminya saja yang selalu di minta uang untuk menghidupi ibu dan adiknya yang manja itu. Sedangkan kedua kakaknya terbebas dari kewajiban. Dengan alasan sudah memiliki anak, padahal mereka selalu di puji karena pekerjaan dan gaji yang sangat besar. Tapi ternyata selama ini mereka tak pernah memberikan uang kewajiban untuk kebutuhan keluarganya.
"Boros Bu? Bahkan kami harus berhemat tidak seperti ibu, ah sudahlah saya harus berangkat kerja, Bu! Dua menantu ibu itu orang kaya, bisa membayar orang untuk sekedar beres-beres di sana. Maaf saya pensiun jadi Ba Bu gratisan!"ujar Rumi kemudian benar-benar pergi dari sana tanpa peduli dengan teriakan Bu Sri.
"Ada apa lagi mertua kamu?" tanya Asti yang sudah menunggu.
"Biasa nyuruh aku kerja di rumahnya, kebiasaan kalau pagi sudah ke rumah pasti Elisa butuh baju rapi buat ke kampus," jawab Rumi.
"Apa dia tak punya tangan? Kenapa harus selalu kamu yang kerjakan? Perasaan si Elisa itu sangat di manja!"
"Sudahlah, yang terpenting sekarang aku sudah kerja, Asti. Sekali lagi terima kasih karena sudah membantu aku," jawab Rumi memeluk tangan Asti bahagia.
Hari pertama bekerja bagi Rumi cukup merepotkan. Karena dia mamang belum terbiasa bekerja di tempat kitchen. Namun, benar seperti yang di katakan oleh Asti jika semua orang di sana sangat baik. Bahkan mereka mengajarkan dengan sangat sabar dan perlahan-lahan kepada Rumi.
"Kamu gantian istirahat dulu, Rum .. waktunya satu jam ya," ujar Mbak Ayu.
"Ah iya mbak, terima kasih," jawab Rumi.
Mereka tak bisa istirahat berbarengan sehingga waktu istirahat di gilir. Dua sampai tiga orang dalam satu waktu.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, karena semua teman-teman di tempat kerja ini sangat baik ..." ucap Rumi membuka bekal makanan yang dia bawa.
Semalam dia meminta uang lima puluh ribu kepada suaminya untuk ongkos bekerja. Karena dia tidak mau menganggu uang kebutuhan rumah yang sudah ada post nya masing-masing. Bahkan hanya sekedar untuk membeli kebutuhan pribadinya saja, Rumi tak memiliki jatah. Fathur juga tak bisa memberikan uang tambahan lebih dari seratus ribu kepada Rumi.
"Bagaimana dengan hari pertama kamu kerja?" tanya Fathur saat mereka makan malam.
"Alhamdulillah, mereka semua sangat baik, Mas!" jawab Rumi.
"Syukurlah," Fathur bisa melihat jika wajah istrinya lebih berseri dari biasanya.
Padahal baru satu hari berkerja tapi bisa membuat Rumi sangat bahagia. Apa selama ini tinggal di rumah tak membuatnya senang? Padahal selama ini dia hanya diam saja di rumah.
"Ibu tadi ..." ucapan Fathur terhenti.
"Iya mas, tadi aku bertemu Ibu saat akan berangkat kerja. Ibu minta aku pagi-pagi buta ke rumah untuk menyetrika baju Elisa. Aku heran selama ini Elisa tak pernah mengerjakan tugas rumah. Padahal setelah menikah dia akan menjadi seorang istri yang mengurus kebutuhan suaminya. Mending kalau dapat suami kaya, kalau tidak? Apa harus kau juga yang kerjakan?" potong Rumi.
"Nggak gitu dek, dia ada banyak tugas kuliah makanya nggak sempat mengerjakan pekerjaan rumah dan membantu ibu," Fathur membela adiknya.
"Aku memang tak pernah kuliah Mas, tapi aku melihat anaknya Bu Gina yang kuliah juga tak selalu pulang malam. Bahkan dia bisa membantu pekerjaaan ibunya juga berjualan. Sedangkan Elisa? Bahkan sampai ke dalaman saja aku yang cuci! Itu sebenarnya nggak boleh. Apalagi aku adalah orang lain di keluarga kalian," Fathur hanya bisa menelan ludah tanpa bisa menjawab ucapan istrinya.
"Ibu besok pagi pasti datang lagi dan bilang kalau aku harus berhenti kerja. Aku nggak mau ya, Mas! Bukan aku tak mau menjadi menantu berbakti. Tapi aku juga manusia biasa Mas, tiga tahun aku menjadi ba bu di rumah ibumu setiap hari dari siang sampai sore sebelum kamu pulang,"
"Berharap dengan berbakti akan mendapatkan sedikit saja perhatian dan kasih sayang dari ibu. Namun nyatanya tidak sama sekali sampai sekarang. Jadi lebih baik aku capek kerja tapi bisa menghasilkan uang sendiri. Setidaknya mau makan enak sesekali juga bisa! Masak daging di rumahmu, aku hanya mendapatkan bumbunya saja ..." Jelas Rumi tanpa ada emosi atau dengan nada tinggi.
Rumi mengatakan dengan sangat tenang bahkan senyum terukir di bibirnya. Fathur malah merasa semakin bersalah.
"Bukannya kamu ke rumah ibu untuk beres-beres di sana satu Minggu dua kali?" tanya Fathur.
"Mana ada? Aku tiap hari ke sana. Kalau tidak, ibu pasti sudah menggedor pintu rumah. Tanya sama Mbak Hilma yang rumahnya di sebelah rumah ibu!" jawab Rumi.
"Kenapa nggak bilang sama Mas? Mas kira setiap hari kamu hanya di rumah saja, Dek!" ucap Fathur lirih.
"Kamu nggak akan percaya mas, lagi pula aku juga malas membahas masalah itu terus. Karena Mas pasti kan jawab, sabar dek kamu harus bisa mengambil hati ibu," jawab Rumi.
"Maafkan Mas, Dek ..." Fathur hanya selalu bisa mengatakan kalimat itu dan memeluk Rumi dengan erat.
Tapi besoknya dia tak akan bisa berkutik saat ibunya kembali memaksa Rumi. Setelahnya sudah di pastikan kalau Rumi harus mengalah. Dan kembali Fathur hanya bisa minta maaf tanpa ada tindakan apa-apa setelahnya. Bolehkan Rumi kesal kepada suaminya? Apa itu akan berdosa?
"Fathur, mana Rumi?" suara Bu Sri terdengar saat mereka bersiap untuk pergi bekerja. Rumi dan Fathur saling pandang. Entah apa lagi sekarang yang di inginkan Bu Sri dari menantu yang katanya tak berguna tapi selalu di suruh ini dan itu. Bahkan dia sudah ketergantungan dengan tenaga Rumi.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/