Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. ( Misi Rahasia )
"Andrea!"
Cheril dan Andrea kompak menoleh. Kening mereka sama-sama mengernyit melihat sekelompok orang yang selama ini paling mereka hindari sedang melambaikan tangan sambil berlari kecil hendak mendekat.
"Matilah kita, An. Shike dan gengnya pasti ingin membully kita," bisik Cheril panik. Telapak tangannya sudah berkeringat, trauma akan pembullyan yang pernah diterimanya saat baru masuk ke perusahaan.
"Sudah kau tenang saja. Kalau mereka berani macam-macam, aku akan langsung menghajarnya tanpa ampun. Jangan panik!" sahut Andrea tanggap akan rasa trauma yang dirasakan oleh temannya. Berdehem kecil, dia menatap penuh curiga pada tiga wanita yang kini sudah berdiri di hadapannya. "Ada urusan apa memanggilku?"
Shike lebih dulu bereaksi. Dia meraih tangan Andrea lalu menggenggamnya erat sekali.
"Terima kasih banyak untuk hari ini. Tanpa bantuanmu, aku tak tahu harus bagaimana menjelaskan pada keluargaku alasan kenapa bisa sampai dipecat. Aku salah, An. Dan aku tulus ingin meminta maaf padamu. Tolong beri kesempatan untuk memperbaiki kelakuanku ya," ucap Shike memohon dengan sungguh-sungguh.
"Iya, Andrea. Aku dan Yulia juga ingin meminta maaf padamu, pada Cheril juga. Kami sadar apa yang telah kami perbuat agak keterlaluan. Kami minta maaf," tambah Amber ikut menimpali.
Andrea cengo, begitu juga Cheril. Terheran-heran, mereka saling menatap sambil berbicara lewat telepati.
(Barusan kau dengar itukan, An? Ketiga nenek sihir ini minta maaf pada kita. Mereka minta maaf)
(Iya-iya aku juga dengar. Itu mereka sungguh meminta maaf atau cuma sedang bersandiwara saja? Katamu mereka sangat jahat)
(Memang jahat sih)
Melihat Andrea dan Cheril hanya diam sembari saling melihat, Shike dan dua temannya tampak sangat menyesal. Perbuatan yang pernah mereka lakukan sebagai seorang senior memang sedikit keterlaluan, apalagi pada Cheril. Namun, kali ini mereka benar-benar ingin memperbaiki segalanya. Bahkan jika memungkinkan ingin menjalin hubungan pertemanan dengan keduanya.
"Emm maaf, kalian tidak sedang menjadikan kami sebagai target bully 'kan?" tanya Cheril agak ngeri. Dia bicara dengan suara terbata, takut menyinggung.
"Orang yang telah menyelamatkan masa depan keluargaku, bagaimana mungkin aku melakukannya?" jawab Shike maklum akan kekhawatiran Cheril. Biar bagaimana pun juga dia pernah berbuat jahat kepadanya. Wajar kalau curiga.
Cheril menoel tangan Andrea. Dia agak ragu, tapi sedikit percaya juga.
"Oke, begini saja. Untuk membuktikan apakah niat kami tulus atau tidak, bagaimana kalau kalian membuat persyaratan pada kami. Setuju?" ucap Amber memberi jalur penengah.
"Persyaratan apa?" Andrea penasaran.
"Terserah kalian mau apa. Pokoknya selagi mampu, kami akan berusaha memenuhi syarat tersebut. Bagaimana?"
"Idemu boleh juga. Kalau begitu bagaimana kalau kalian membantu menyelesaikan masalahku? Sebagai jaminan, kalian tidak boleh membocorkan hal ini pada siapapun selain kita berlima. Atau aku akan melaporkan kalian pada bos!"
"Siap. Siapa takut!" sahut Yulia penuh semangat.
"Jadi begini ....
Lima wanita tersebut saling merangkul saat Andrea mulai menceritakan persyaratan yang dia maksud. Cheril yang dulunya sangat takut berurusan dengan si tiga sekawan ini, tak sadar merangkul pundak Shike.
"Masalah menyelidiki informasi rahasia orang lain aku jagonya!" seru Amber dengan bangga. "Tenang saja, An. Kau tinggal beritahukan saja kapan misi ini akan dimulai."
"Ckck, formasi kelompok kalian lengkap juga. Ada yang tugasnya menyindir dan meruntuhkan mental orang, ada yang tugasnya melabrak, lalu kau Amber, tugasmu paling mengerikan. Menjadi pusat dari seluruh informasi target. Pantas saja Cheril begitu takut pada kalian," ledek Andrea takjub.
"Hehe, kau bisa saja. Hanya kebetulan sejak kecil suka mengotak-atik sandi di komputer."
"Kenapa tidak jadi hacker?" Cheril penasaran. "Ada yang bilang jadi hacker itu bisa mendapat bayaran tinggi."
"Yang terlihat mudah di mata orang belum tentu mudah untuk dilakukan. Menjadi seorang hacker juga punya resiko tinggi, Cher. Keamanan keluarga bisa jadi sasaran hacker lain kalau sampai salah menerima proyek," ucap Amber menjelaskan.
"Oh begitu. Ternyata apapun profesinya tetap ada resiko yang mengikuti. Susah juga cari uang."
Shike menatap Andrea. Dia tak bodoh. Sepertinya gadis desa ini tak sesederhana yang terlihat.
"Andrea, kapan misi kita akan dimulai?"
"Jika kalian punya waktu, aku ingin secepatnya membongkar masalah ini. Sebenarnya aku tak terlalu berharap, tapi bagaimana pun juga aku ingin memastikan sendiri apakah kedua orang tuaku masih hidup atau tidak," jawab Andrea dengan berat hati. Sungguh, rahasia keberadaan orang tuanya terus menghantui pikiran.
"Kita tentukan satu tempat untuk dijadikan sebagai basecamp."
"Basecamp?"
Yulia mengangguk. "Misi ini lumayan rahasia. Kita tidak mungkin sembarang melakukan, apalagi nanti Amber akan meretas sebuah data penting. Bisa bahaya kalau dilakukan dari tempat tinggal kita. Iyakan?"
Ucapan Yulia sangat masuk akal. Mereka lalu pindah ke tempat yang agak sepi guna membahas kelanjutan misi tersebut.
"Aku butuh alat teknologi yang lumayan canggih untuk mempermudah akses," ucap Amber serius.
"Itu bisa aku akali nanti," sahut Andrea. Nama Lucien seketika muncul di kepalanya. "Modal semua dariku. Kalian cukup mencari tahu dan menyusun strategi. Lanjut."
"Aku?" Cheril menunjuk diri sendiri. "Apa yang harus kulakukan?"
"Kau diam dan bernafas saja, Cher. Itu sudah lebih dari membantu," celetuk Shike. Sedetik kemudian dia meringis lalu mengangkat dua jarinya ke atas. "Sorry, masih belum terbiasa bicara dengan nada baik-baik. Harap maklum."
Perbincangan masih terus berlanjut sampai akhirnya Andrea memutuskan untuk mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Butuh waktu untuk berpikir, dia menolak tawaran Shike yang ingin mengantarnya.
"Sepertinya aku harus menghubungi Kak Zein dan yang lainnya. Mungkin mereka bisa membantu menyelesaikan masalah ini," ujar Andrea lalu mengambil buku kecil tempat dia menyimpan nomor milik saudaranya. Diantara dia dan ketiga saudara lelakinya, Kak Zein adalah yang paling pintar dan paham dengan teknologi masa kini. "Kenapa aku bodoh sekali ya. Bisa-bisanya lupa memberi kabar setelah memiliki ponsel sendiri. Pasti mereka merajuk."
Menunggu panggilan dijawab, Andrea duduk di kursi tepi jalan. Dia memperhatikan mobil yang berlalu-lalang, berkhayal suatu saat bisa membeli salah satu dari kendaraan yang lewat.
["Halo, ini siapa ya?"]
"Kak Zein!" pekik Andrea girang. "Apa kabar? Ini aku Andrea. Sekarang aku sudah bekerja dan punya ponsel sendiri. Kalian di desa bagaimana kabarnya?"
Rentetan pertanyaan Andrea tak langsung mendapat jawaban. Dari dalam telepon tak terdengar suara apapun selain suara tarikan nafas.
"Maaf, aku lupa memberi kabar pada kalian. Saat sampai di rumah Nenek, aku sibuk mendekatkan diri dan melakukan penyesuaian. Aku juga langsung mencari kerja di kota, makanya tak sempat menelpon. Jangan marah, Kak."
["Kami semua khawatir padamu, An. Takut kalau-kalau ada yang menjahatimu di sana. Dan karena kau tak kunjung memberi kabar, aku dan kedua kakakmu sekarang sedang siap-siap menyusul ke kota."]
"Benarkah?"
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Bagai mendapat harta karun, Andrea langsung mengatakan perihal keberadaan orang tuanya yang entah hilang ke mana. Termasuk dengan misi rahasia yang tadi dia rencanakan bersama Cheril dan tiga sekawan.
"Uangku banyak, Kak. Nanti setelah sampai di kota kalian langsung hubungi aku saja. Masalah tempat tinggal bisa aku carikan. Kalau pekerjaan, aku pasti akan bantu kalian mencarinya juga. Oke?" ucap Andrea dengan riang. Sebentar lagi dia akan segera berkumpul dengan ketiga kakaknya. Hatinya gembira sekali.
["Ya sudah kalau begitu teleponnya aku tutup dulu. Mobil yang akan membawa kami keluar dari desa sebentar lagi datang. Ingat pesanku baik-baik, An. Jangan lakukan apapun sebelum kami tiba di sana. Mengerti?"]
"Mengerti, Kak."
Tak lama kemudian panggilan pun berakhir. Hari sudah malam, Andrea pun bergegas melanjutkan langkah. Saat akan berbelok ke arah gang, sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti di depannya. Andrea memicing waspada.
"Hello. Bisa bicara sebentar?"
(Puncak dari rantai makanan muncul dengan sendirinya. Aku harus gunakan kesempatan ini baik-baik)
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂