Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Kecil di Balik Tirai
Lonceng peringatan berbunyi sebelum sosok bersayap itu menghilang di balik kabut.
Satu kali.
Dua kali.
Kemudian seluruh menara barat dipenuhi suara langkah kaki.
Prajurit berlari menaiki tangga sambil membawa tombak bayangan dan jaring rune. Sebagian menuju jendela tempat penyusup melompat. Yang lain mengepung ruang pengamatan, seolah pencuri itu mungkin masih bersembunyi di bawah ranjang.
Aelora masih berlutut di samping Eirna.
Sayap kecil di punggung kanannya bergetar tanpa henti, menunjuk ke arah jendela seperti jarum kompas yang kehilangan tujuan. Setiap gerakan bulunya membuat rasa sakit menusuk sampai ke bahu.
Ia menekan kain pada pelipis Eirna.
“Jangan bergerak.”
Tabib itu meringis. “Saya yang seharusnya mengatakan itu.”
“Kau yang berdarah.”
“Kau yang baru menumbuhkan sayap.”
“Sayapku tidak berdarah.”
“Belum.”
Aelora langsung meraba punggungnya.
Eirna memejamkan mata sesaat, mungkin menyesali pilihan katanya.
Pintu ruangan terbuka dengan hantaman keras.
Kael masuk.
Mantelnya dipenuhi debu hitam. Di tangan kanannya, ia membawa kepala boneka terkutuk yang sudah hangus. Bayangan di belakang tubuhnya bergerak liar di sepanjang dinding, membentuk cakar-cakar panjang.
Tatapannya menemukan Aelora lebih dulu.
Kemudian Eirna.
Lalu pintu yang terbuka dan jendela di ujung lorong.
“Apa yang terjadi?”
Suaranya sangat pelan.
Terlalu pelan.
Para prajurit di belakangnya langsung menundukkan kepala.
“Penyusup menyamar sebagai pengawal,” jawab Eirna. “Dia mencuri laporan saya.”
Kael menjatuhkan kepala boneka. Benda itu pecah menjadi abu saat menyentuh lantai.
“Laporan apa?”
Eirna mencoba bangun. Aelora menopang lengannya, meskipun tubuhnya sendiri hampir tidak kuat berdiri.
“Pemeriksaan inti sihir Putri.”
Bayangan Kael berhenti bergerak.
Hanya sesaat.
Setelah itu, seluruh lampu rune di lorong padam.
“Isinya.”
“Yang Mulia—”
“Isinya.”
Eirna menoleh sekilas kepada Aelora.
Gerakan kecil itu cukup.
Kael melihatnya.
“Bicaralah.”
Aelora berdiri di depan Eirna.
“Dia belum yakin.”
Kael memandangnya. “Bukan kau yang kutanya.”
“Aku pasiennya.”
“Kau juga anak yang hampir diculik untuk ketiga kalinya.”
“Itu tidak membuatku tuli.”
Kael memejamkan mata sebentar. Saat membukanya lagi, kemarahannya masih ada, tetapi tidak lagi diarahkan kepada Aelora.
“Bawa Eirna ke ruang perawatan.”
Dua tabib pembantu maju.
Eirna tidak bergerak.
“Laporan itu memuat jalur kelemahan sayap, batas penggunaan sihir, dan kemungkinan kerusakan tubuh.”
Kael menoleh tajam.
“Kerusakan apa?”
Eirna menarik napas.
“Aether dan Umbra dalam tubuh Putri tidak menyatu dengan stabil. Keduanya terus berkembang dan memakai daya hidup yang sama.”
“Seberapa buruk?”
“Tubuhnya mungkin tidak mampu menampung pertumbuhan kedua inti tersebut.”
Lorong menjadi sunyi.
Aelora menatap lantai.
Ia sudah mengetahui jawabannya. Namun ketika Eirna mengatakannya di depan Kael, kalimat itu menjadi lebih nyata. Lebih berat.
“Berapa lama?” tanya Kael.
“Belum dapat dipastikan.”
“Berapa lama?”
“Bisa berminggu-minggu. Bisa berbulan-bulan. Mungkin lebih lama kalau kekuatannya tidak dipakai.”
Aelora menunggu Kael marah.
Ia tidak melakukannya.
Wajahnya justru menjadi kosong.
Kosong seperti ketika ia mendengar nama Seraphiel.
Kosong seperti seseorang yang harus menahan seluruh istana agar tidak runtuh hanya dengan kedua tangannya.
Kael memandang sayap putih kecil di punggung Aelora.
“Kenapa aku baru mendengar ini?”
“Laporannya baru selesai,” kata Eirna.
Aelora segera menyela, “Aku yang meminta Eirna tidak memberi tahumu dulu.”
Kael menatapnya.
Tatapan itu tidak dingin.
Itu lebih buruk.
Terluka.
“Kenapa?”
“Karena kau sudah punya terlalu banyak masalah.”
“Jadi kau memutuskan penyakitmu bukan urusanku?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Kau meminta tabib menyembunyikan bahwa tubuhmu mungkin sedang hancur.”
“Aku tidak mau kau mengurungku lagi.”
Kael memandang pintu ruang pengamatan yang masih memiliki bekas cahaya emas.
“Sekarang Elyrion membawa catatan tentang seluruh kelemahanmu.”
“Aku tidak tahu laporan itu akan dicuri.”
“Itulah alasan seorang anak tidak mengambil keputusan medis sendirian.”
“Aku bukan hanya anak.”
“Tubuhmu tetap tubuh anak!”
Suara Kael mengguncang dinding.
Sayap kecil Aelora langsung menguncup. Rasa sakit menusuk punggungnya dan ia mundur setengah langkah.
Kael melihatnya.
Kemarahan di wajahnya lenyap, digantikan penyesalan.
“Aelora—”
Langkah kaki lain terdengar dari tangga.
Lady Varessa muncul bersama Lord Sevran, Lord Morcant, dan lima anggota Dewan Bulan. Lord Vael berjalan paling belakang. Ryn mengikuti ayahnya diam-diam, tetapi seorang penjaga menahannya sebelum ia mencapai lorong.
Varessa melihat Eirna yang terluka.
“Laporan apa yang dicuri?”
“Bukan urusan dewan,” jawab Kael.
“Penyusup Elyrion menembus jantung istana. Itu urusan seluruh Nocthara.”
“Kalau begitu cari penyusupnya.”
“Kami akan melakukannya setelah mengetahui apa yang dibawanya.”
Kael berdiri di depan Aelora.
“Tidak ada yang perlu kalian ketahui.”
Lord Sevran mendengus. “Lagi-lagi Raja menyembunyikan sesuatu mengenai anak itu.”
Bayangan Kael langsung melilit lehernya.
Sevran terangkat sedikit dari lantai.
Aelora menyentuh tangan Kael.
“Ayah.”
Bayangan itu berhenti.
Sevran jatuh sambil menarik napas kasar.
Lady Varessa menatap sayap putih yang terlihat di balik perban Aelora.
“Jadi laporan tersebut berkaitan dengan perubahan tubuhnya.”
“Putri membutuhkan ketenangan,” kata Eirna.
“Kerajaan membutuhkan jawaban.”
“Bukan di lorong,” balas Kael.
“Kalau begitu sidang darurat harus dilakukan sekarang.”
“Ditolak.”
Varessa mengangkat dagu.
“Piagam Bulan memberi Dewan hak mengadakan sidang ketika keamanan ibu kota ditembus kekuatan asing.”
“Kau terlalu mencintai piagam yang baru saja kuhancurkan.”
“Dan Yang Mulia terlalu sering menganggap kehendak pribadi sebagai hukum.”
Udara berubah dingin.
Beberapa prajurit mundur setengah langkah.
Aelora melihat tangan Eirna gemetar. Tabib itu masih berdarah. Cahaya di bawah kulit Aelora juga mulai bergerak lagi, merayap dari pergelangan menuju leher.
Ia tidak ingin pertengkaran lain terjadi.
“Aku akan kembali ke kamar,” katanya.
Kael menoleh. “Kau tetap bersamaku.”
“Aku lelah.”
Itu bukan kebohongan.
Punggungnya sakit. Demam mulai naik. Kakinya terasa seperti dibuat dari bubur.
Kael memperhatikannya beberapa saat, lalu mengangkatnya.
“Aku akan membawanya.”
Varessa menghalangi jalan.
“Sidang tidak dapat ditunda.”
Kael menatapnya.
“Kalau kau tidak menyingkir, sidang akan dimulai tanpa kepala klan.”
Varessa tetap berdiri.
Aelora menyandarkan kepala pada bahu Kael.
“Ayah.”
“Hm?”
“Aku ingin tidur.”
Kalimat itu akhirnya membuat Varessa mundur.
Kael membawa Aelora menuruni tangga menara. Milo yang masih lemah berlari kecil di belakang mereka. Tidak ada yang berbicara sampai mereka mencapai kamar utama.
Kael meletakkannya di atas ranjang.
“Eirna akan datang setelah lukanya dirawat.”
“Aku tidak mau diperiksa lagi.”
“Kau perlu diperiksa.”
“Aku hanya mau tidur.”
Kael menarik selimut sampai menutupi bahunya. Gerakannya hati-hati agar tidak menyentuh sayap.
“Aku akan kembali setelah sidang.”
Aelora membuka mata.
“Sidang tentang apa?”
“Penyusup.”
“Bukan tentang mengirimku pergi?”
Kael terdiam.
Hanya satu detik.
Namun Aelora melihatnya.
“Jadi benar.”
“Belum ada keputusan.”
“Siapa yang ingin mengirimku?”
“Tidurlah.”
“Ayah.”
“Aelora.”
“Ke mana mereka ingin mengirimku?”
Kael memandang pintu.
“Benteng Umbrael.”
Aelora belum pernah mendengar nama itu.
“Di mana?”
“Wilayah utara Nocthara.”
“Jauh dari istana?”
“Cukup jauh.”
“Kenapa?”
“Benteng itu memiliki pelindung yang tidak terhubung dengan jaringan rune istana. Elyrion akan lebih sulit menemukanmu.”
“Dan kau?”
“Aku tetap di sini.”
Aelora menggenggam selimut.
“Berarti mereka ingin memisahkanku darimu.”
“Mereka ingin mengurangi risiko serangan ke ibu kota.”
“Risiko itu aku.”
Kael menatapnya. “Bukan.”
“Mereka pikir begitu.”
“Aku tidak peduli pada pikiran mereka.”
“Tapi kau belum menolak.”
“Aku perlu mendengar seluruh usulan.”
Rasa dingin menjalar ke dada Aelora.
“Kenapa?”
“Karena laporan tentang kelemahanmu sudah berada di tangan musuh. Istana sudah ditembus berkali-kali. Aku harus mempertimbangkan semua pilihan.”
“Termasuk mengirimku pergi.”
“Termasuk mencari tempat yang paling aman untukmu.”
“Asteria juga pernah disebut aman.”
Kael membeku.
Aelora menyesali kalimat itu ketika melihat rasa sakit di wajahnya. Namun ia tidak menariknya kembali.
“Benteng Umbrael bukan Asteria.”
“Tetap bukan rumahku.”
“Aku belum mengambil keputusan.”
“Tapi kau mempertimbangkannya.”
Kael tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Ia berjalan ke pintu.
“Aku akan kembali.”
Aelora memalingkan wajah.
Pintu tertutup.
Milo melompat ke ranjang dengan susah payah.
“Kau seharusnya tidur.”
“Aku tidak bisa.”
“Kau sering mengatakan itu, lalu pingsan.”
“Aku tidak akan pingsan.”
“Tubuhmu sangat suka membuktikanmu salah.”
Aelora menarik selimut sampai menutupi kepala.
Namun dalam kegelapan, pikirannya justru semakin berisik.
Benteng Umbrael.
Tempat aman.
Jauh dari istana.
Jauh dari Kael, Nira, Ryn, Daren, dan semua orang yang baru mulai terasa seperti keluarga.
Mereka akan mengirimnya pergi karena musuh terus datang.
Karena darahnya membuka portal.
Karena sayapnya tumbuh.
Karena dirinya membuat istana tidak aman.
Mungkin itu benar.
Mungkin Nocthara akan lebih aman tanpa dirinya.
Namun bagian kecil dalam dirinya menolak menerima alasan itu.
Ia sudah pernah dibuang satu kali.
Ia tidak akan menunggu sampai orang-orang yang dicintainya membuangnya kembali dengan nama yang lebih lembut.
Aelora membuka selimut.
“Milo.”
Kucing itu sudah memejamkan mata.
“Milo.”
“Kerajaan terbakar?” gumamnya.
“Belum.”
“Bangunkan aku kalau sudah.”
Aelora menatap pintu.
Dua penjaga berada di luar. Jendela juga dijaga burung bayangan.
Namun di sisi kamar terdapat tirai besar yang menutupi pintu kecil menuju ruang ganti lama. Dari sana, lorong pelayanan mengarah ke aula timur.
Aelora mengetahui jalur itu dari masa depan.
Ia turun dari ranjang.
Punggungnya berdenyut. Sayap putih terbuka sedikit untuk membantunya menjaga keseimbangan.
Milo membuka satu mata.
“Mau ke mana?”
“Tidak ke mana-mana.”
“Kau sedang memakai sepatu.”
“Aku ingin tidur memakai sepatu.”
“Itu kebohongan yang buruk.”
Aelora mengenakan jubah gelap di atas gaunnya. Ia mengambil gelang Mirael, sisir kayu milik ibunya, serta Piko yang sudah diperiksa enam kali.
Milo duduk.
“Kau benar-benar pergi.”
“Aku hanya ingin mendengar sidang.”
“Kael akan marah.”
“Dia sudah marah.”
“Dia bisa menjadi lebih marah. Itu salah satu bakatnya.”
Aelora menyibak tirai.
Pintu sempit terlihat di belakangnya.
“Aku harus tahu apakah dia akan mengirimku.”
Milo turun dari ranjang.
“Kita dapat mendengar sidang tanpa kabur.”
“Aku juga ingin mencari jawaban.”
“Jawaban apa?”
Aelora melihat ke arah Menara Rune Terkunci yang terlihat samar dari celah jendela.
Sejak hari pertama di istana, suara Mirael pernah memanggil dari balik menara itu. Mural masa depan tersembunyi di dalamnya. Kael selalu melarang Aelora mendekat.
Dan setiap kali orang dewasa menyembunyikan sesuatu, jawabannya hampir selalu berada di tempat yang tidak boleh dimasuki.
“Kenapa darahku mengenali gerbang,” katanya. “Kenapa aku kembali ke masa lalu. Dan kenapa semua orang takut pada apa yang ada di dalam tubuhku.”
“Menara itu memiliki tujuh lapisan rune.”
“Aku pernah membukanya.”
“Tubuhmu saat itu lebih besar.”
“Ingatanku tidak mengecil.”
“Kau sedang sakit.”
“Justru itu aku tidak punya banyak waktu.”
Milo menatapnya lama.
Kemudian ia menghela napas seperti makhluk tua yang lelah menghadapi kebiasaan buruk keluarga kerajaan.
“Aku ikut.”
“Kau seharusnya menghentikanku.”
“Aku terlalu lemah untuk menyeretmu.”
“Itu bukan alasan.”
“Aku belajar dari kalian.”
Aelora membuka pintu sempit.
Lorong gelap menunggu.
Sebelum masuk, ia mendengar suara dari ruang sidang di lantai bawah. Ventilasi batu membawa percakapan para anggota dewan ke balik dinding kamarnya.
“Benteng Umbrael tidak cukup,” kata Lord Sevran. “Anak itu harus dikeluarkan dari Nocthara.”
Aelora berhenti.
Suara Kael menjawab, dingin dan tajam.
“Ucapkan itu sekali lagi.”
Lady Varessa menyela.
“Raja harus memilih antara satu anak dan keselamatan kerajaan.”
Keheningan panjang.
Aelora menahan napas.
Kemudian suara Kael terdengar.
“Aku akan memilih.”
Jantung Aelora berdenyut keras.
Ia menunggu kalimat berikutnya.
Milo menggigit ujung jubahnya.
“Kita harus bergerak. Penjaga berganti dalam dua menit.”
Aelora melihat ventilasi sekali lagi.
Ia tidak sanggup menunggu jawabannya.
Tidak dari balik tirai.
Tidak sebagai anak yang nasibnya dibicarakan tanpa kehadirannya.
Ia masuk ke lorong.
Pintu kecil menutup di belakang mereka.
Aelora berjalan menuju Menara Rune Terkunci tanpa mengetahui bahwa dari dalam kegelapan, suara Mirael telah menunggunya.
“Datanglah, Aelora.”
Langkahnya berhenti.
Suara itu terdengar lagi.
Lebih dekat.
“Sudah waktunya kau melihat bagaimana dunia ini berakhir.”