Setelah disiksa, dikhianati dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan hampir tak bernyawa Gendis bertekad Mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.
Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9 RUMAH BESAR
Gendis mencoba memejamkan matanya. Gadis itu terus berusaha melawan rasa sakit di hatinya akibat semua kenangan yang sedari awal dia masuk apartemen, terus saja berputar di kepalanya.
Semua yang ada di dalam apartemen itu mengingatkan dirinya pada perbuatan jahat yang sudah dilakukan oleh sang kekasih dan sahabatnya.
***
Gama dan Meira mendengarkan semua ucapan Gendis dengan serius. Mereka bertiga sedang berdiskusi tentang rencana selanjutnya setelah mereka sampai di kota ini.
"Misi kita dimulai dengan masuk ke rumah besar itu. Kalian berdua pastikan, apa mereka masih tinggal juga itu atau tidak."
"Aku rasa mereka pasti sudah tidak tinggal di sana lagi, secara, apartemen ini juga dijual kan?" ucap Meira memberikan pendapat.
"Kau benar. Mungkin saja mereka sudah menjual semua aset yang mereka rampas darimu," sambung Gama.
"Mungkin saja kalian benar, tapi kita tetap harus ke sana agar kita bisa mengetahui informasi tentang mereka."
"Kau benar. Tapi bukankah dia sekarang adalah orang yang yang sangat terkenal?
Kita bahkan bisa mengetahui rumah mereka lewat media."
Meira menepuk kepalanya.
"Kenapa aku tidak berpikir sampai ke situ?" Gadis cantik itu menepuk kepalanya.
"Kamu kan lola." Gama mengacak-acak rambut sahabat baiknya itu.
Sementara Gendis tersenyum melihat mereka berdua.
"Kita cari tahu dulu, apa mereka masih tinggal di sana."
"Kau masih ingat di mana letak rumah itu, kan?"
"Tentu saja aku masih mengingat semuanya," jawab Gendis.
"Rumah itu adalah rumah warisan dari nenek angkatku. Nenek memberikan warisan itu karena dia merasa berhutang budi pada kedua orang tuaku yang pernah menyelamatkannya waktu itu.
'Kalau saja Arabella tidak berpura-pura disandera oleh Arga, mungkin saat ini rumah besar itu tidak akan jatuh di tangan mereka berdua.'
Bodohnya dia karena terlalu mempercayai Arabella yang ternyata hanyalah seorang pengkhianat.
"Baiklah, besok kita pergi ke sana. kita mulai penyelidikan dari rumah besar itu."
"Besok biar aku dan Meira saja yang masuk ke dalam rumah itu," ucap Gama.
Meira mengangguk setuju. Begitupun dengan Gendis.
***
Mereka bertiga memarkirkan mobil mereka tidak jauh dari rumah besar yang ditunjukkan oleh Gendis.
Rumah itu terlihat berbeda dari dua tahun yang lalu, saat Gendis masih tinggal di sana. Warna cat rumah itu tidak lagi sama seperti dulu.
"Bagaimana caranya kita bisa masuk ke sana?" Meira menatap Gama yang sedang serius menatap rumah besar itu.
"Kita pura-pura saja menjadi teman Gendis. Gimana?" usul Gama.
"Kau benar. Kita bisa berpura-pura menanyakan Gendis pada mereka.
"Itu beneran rumah kamu, kan Laura?" Gendis mengangguk membenarkan.
"Itu adalah rumahku. Peninggalan nenek. Aku masih ingat dengan jelas, walaupun berapa rumah di sini juga terlihat sama."
"Rumah ini terlihat sedikit berbeda karena mereka sudah mengganti warna cat
rumah ini," jelas Gendis.
Ingatannya kembali ke masa dua tahun yang lalu. Saat dia berpamitan pada kedua asisten rumah tangganya. Saat itu Gendis bersama dengan Arabella berpamitan pada orang-orang di rumah itu kalau mereka akan pergi jalan-jalan.
Arga dan Arabella mengatakan pada kedua asisten rumah tangga itu kalau Gendis tidak akan pulang selama beberapa hari karena mereka akan menginap di apartemen Gendis.
Gendis tersenyum mencibir dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia karena tidak menyadari kalau saat itu bahaya sedang mengintai dirinya.
Kebodohan dan kepolosan gadis itu membuat Arabella dan Arga begitu gampang menipunya.
'Dari awal kalian sudah merencanakan semuanya dengan matang, hanya saja, aku tidak pernah menyadarinya.'
"Laura."
"Hmm."
"Ini benar-benar rumah kamu kan?" Gendis mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah, aku dan Gama akan masuk ke dalam rumah itu.
"Ayo Gama!"
Meira dan Gama keluar dari mobil kemudian bergegas menuju rumah rumah besar itu.
Seorang petugas keamanan menghadang langkah mereka di depan pintu gerbang.
"Mau cari siapa?"
"Kami mau bertemu dengan teman saya."
"Teman?" Pemuda tinggi besar itu memperhatikan Gama dan Meira bergantian.
"Benar, Pak. Kami mau bertemu dengan teman saya yang tinggal di rumah ini," jawab Meira.
"Memangnya siapa nama teman kalian?"
"Gendis." Meira dan Gama menjawab bersamaan.
"Gendis? Siapa Gendis?"
"Tidak ada orang yang bernama Gendis di rumah ini," lanjut sang penjaga keamanan. Laki-laki itu menatap Meira dan Gama dengan tajam.
"Tapi teman kami benar-benar tinggal di sini, Pak. Kami bahkan pernah menginap di rumah besar ini." Meira mencoba menyakinkan laki-laki itu.
"Tidak ada orang yang bernama Gendis di sini, Nona. Mungkin Anda salah rumah."
"Tidak. Kami tidak salah. Aku bahkan pernah menginap di rumah ini."
"Tapi di sini benar-benar tidak ada orang yang bernama Gendis, Nona."
"Rumah ini adalah rumah keluarga Rahardian. Tidak ada orang yang bernama Gendis di sini!" tegas pria itu.
.
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya, teman-teman ...🙏