NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Hari Tanpa Jadwal Jaga

Alarm pukul empat tiga puluh tetap berbunyi meski Nan Shin tidak lagi memiliki jadwal jaga.

Tangannya meraba ponsel secara otomatis. Selama beberapa detik, tubuhnya masih percaya ia harus mandi, mengenakan seragam, dan berangkat sebelum jalan ramai.

Lalu ia melihat kursi di sudut kamar.

Tidak ada seragam yang digantung untuk dipakai.

Nan Shin mematikan alarm. Di daftar pengingat masih ada enam jadwal kerja untuk dua minggu berikutnya, semuanya dibuat sebelum namanya dihapus. Ia menghapus satu per satu.

Cheng An tidur membelakanginya. Napasnya teratur.

Nan Shin tetap bangun.

Pukul lima ia sudah menanak nasi, menyiapkan telur, mengisi botol minum anak-anak, dan menyetrika seragam sekolah Yi Ming. Semua pekerjaan yang biasanya dilakukan di antara shift kini selesai sebelum matahari muncul.

Ibu Kho masuk ke dapur dan tampak puas.

“Nah, begini kan lebih enak. Nggak terburu-buru.”

Nan Shin tidak menjawab.

Setelah anak-anak berangkat dan Cheng An pergi, rumah menjadi terlalu tenang. Tidak ada suara monitor, roda brankar, telepon, atau orang memanggil namanya dari balik tirai.

Nan Shin berdiri di tengah ruang keluarga sambil memegang kain lap.

Ia tidak tahu apa yang harus dikerjakan lebih dulu karena tidak ada pasien paling gawat, tidak ada prioritas klinis, dan tidak ada pergantian shift yang memberi batas waktu.

“Kamu bisa mulai dari kamar anak,” kata Ibu Kho. “Setelah itu bersihkan dapur. Siang belanja sayur.”

“Saya mau mengurus dokumen dulu.”

“Dokumen apa lagi? Sudah selesai, kan?”

“BPJS, surat pengalaman kerja, dan rekening pembayaran.”

Ibu Kho menghela napas. “Ya sudah. Tapi jangan sampai pekerjaan rumah terbengkalai.”

Pukul sepuluh lewat dua belas, ponsel Nan Shin bergetar.

Kredit masuk: Rp 45.000.000.

Keterangan transfer mencantumkan penyelesaian hubungan kerja RSUD Serpong Utama.

Nan Shin duduk di tepi ranjang. Angka itu berada di rekening yang selama ini dipakai menerima gaji dan membayar kebutuhan keluarga. Cheng An tidak memegang kata sandinya, tetapi nomor rekening tersebut tercatat pada berbagai dokumen rumah.

Ia membuka aplikasi bank dan memilih layanan pembukaan rekening tambahan. Verifikasi wajah dilakukan dua kali karena cahaya kamar kurang terang. Setelah memindah tempat ke dekat jendela, proses berhasil.

Rekening baru dibuat atas namanya sendiri.

Nan Shin memilih kata sandi yang tidak berkaitan dengan tanggal lahir, anak, rumah, atau pernikahan. Ia mengaktifkan notifikasi surel pribadi dan menonaktifkan tampilan saldo pada layar kunci.

Lalu seluruh Rp 45 juta dipindahkan ke rekening baru.

Saldo rekening gaji kembali hampir seperti semula.

Di buku biru, ia menulis:

Dana bertahan hidup. Bukan uang belanja keluarga. Bukan biaya les. Bukan dana promosi siapa pun.

Ia membagi rencana penggunaannya di bawah kalimat itu. Kebutuhan pribadi dasar. Biaya pencarian kerja. Perpanjangan dokumen profesi. Dana darurat. Tidak satu rupiah pun dikeluarkan hari itu.

Ketukan terdengar di pintu.

“Nan Shin,” panggil Ibu Kho. “Uangnya sudah masuk?”

Nan Shin menutup buku dan mengunci laci.

“Administrasi belum semuanya selesai.”

Itu bukan jawaban atas pertanyaan, tetapi juga bukan kebohongan. Gaji terakhir dan dokumen kerja memang belum selesai.

Ibu Kho membuka pintu sedikit. “Kalau sudah masuk, bilang. Kita perlu bahas uang les dan biaya rumah bulan depan.”

“Biaya rumah dibahas bersama Cheng An.”

“Selama ini kamu juga bayar.”

“Selama ini saya punya gaji.”

Wajah Ibu Kho berubah, tetapi Nan Shin lebih dulu berdiri.

“Saya mau mengambil surat pengalaman kerja.”

“Hari ini?”

“Iya.”

Perjalanan kembali ke rumah sakit pada hari tanpa jadwal terasa asing. Ia memakai pakaian biasa dan masuk lewat lobi pengunjung. Petugas keamanan yang kemarin bertanya apakah ia sudah pulang hanya mengangguk ragu.

Nan Shin sempat berbelok ke koridor pegawai karena kebiasaan. Pintu akses di sana hanya bisa dibuka dengan kartu identitas yang sudah dikembalikannya.

Tangannya berhenti di depan alat pemindai kosong.

“Lewat jalur tamu, Bu,” kata petugas keamanan dengan sopan. “Tinggalkan kartu identitas di meja dan pakai kartu pengunjung.”

Nan Shin menyerahkan KTP, menerima kartu plastik bertuliskan Tamu, lalu memasangnya di dada. Kemarin nama dan foto lamanya masih membuka setiap pintu. Hari itu ia harus menjelaskan tujuan kunjungan untuk mengambil surat yang membuktikan dirinya pernah bekerja di sana.

Di depan lift, dua perawat yang tidak dikenalnya berjalan lewat tanpa menyapa. Rumah sakit sudah menerima orang baru bahkan sebelum jejak langkahnya hilang dari lorong.

Ia menarik napas dan mengantre.

Di bagian HRD, seorang petugas menyodorkan tiga lembar dokumen melalui celah kaca.

“Ini surat pengalaman kerja, panduan pengalihan BPJS, dan rincian gaji terakhir Ibu.”

Nan Shin membaca bagian atas surat. “Masa kerjanya tertulis dua belas tahun, ya?”

“Betul. Silakan periksa nama dan tanggalnya.”

“Pembayaran kemarin sudah tercatat sebagai penyelesaian hubungan kerja?”

“Sudah. Rinciannya ada di halaman kedua.”

“Kalau ada selisih, saya menghubungi siapa?”

Petugas itu menunjuk alamat surel di bagian bawah. “Kirim ke alamat ini dengan nomor pegawai lama. Jangan kirim dokumen pribadi lewat WhatsApp.”

“BPJS saya langsung berhenti hari ini?”

“Status dari rumah sakit akan diperbarui sesuai pelaporan. Ibu perlu mengikuti panduan ini agar kepesertaannya tetap aktif lewat skema yang sesuai.”

“Berarti saya harus mengecek statusnya sendiri?”

“Iya. Kalau data belum berubah setelah masa proses yang tertulis, hubungi petugas BPJS melalui kanal resmi.”

Nan Shin membalik halaman terakhir. “Ada dokumen lain yang perlu saya ambil?”

“Untuk sekarang tidak ada.”

“Saya boleh minta stempel salinan surat pengalaman kerja?”

“Boleh. Tunggu sebentar.”

Petugas itu membawa surat ke meja belakang. Ketika kembali, cap biru sudah menutup sudut salinan.

“Simpan dokumen aslinya baik-baik, Bu.”

Nan Shin memasukkan semua lembar ke map. “Terima kasih. Saya tidak mau harus datang lagi hanya karena satu tanggal salah.”

Ayu menelepon saat ia berada di halte.

“Kak, rasanya aneh hari ini.”

“Kenapa?”

“Ada pasien yang tanya Suster Nan Shin. Terus Putri lihat ke loker Kakak dua kali.”

Nan Shin menggenggam map di pangkuan. “Kalian bisa tangani.”

“Kami tahu. Tapi tetap beda.”

Untuk pertama kalinya sejak bangun, ada seseorang yang mengakui ketidakhadirannya sebagai kehilangan, bukan kemudahan.

“Terima kasih sudah telepon.”

Saat Nan Shin kembali ke Cluster Verona, rumah sudah berbau cairan pembersih. Ibu Kho berdiri di depan kulkas dengan selotip.

Sebuah kertas baru menutupi jadwal lama.

Senin sampai Minggu. Pagi, siang, malam.

Nama Nan Shin mengisi hampir semua kotak.

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!