NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

023

Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra di kamar utama Mansion Valerio-Desmon, membiaskan pendar keemasan di atas sprei yang kusut. Kehangatan sisa malam penyatuan yang sakral masih terasa mengudara, namun ritme kehidupan baru sebagai sepasang suami istri yang utuh telah memanggil.

Aurora terbangun lebih dulu. Ia memindahkan lengan tegap Braxley yang melingkar posesif di pinggangnya secara perlahan agar tidak membangunkan sang suami.

Dengan gaun tidur tipis berwarna putih, ia melangkah mendekati kotak bayi di sudut ruangan. Draco kecil sudah terjaga, menendang-nendang pelan sembari mengulum jemarinya sendiri.

"Selamat pagi, pangeran kecil Mommy..." bisik Aurora lembut, mengangkat Draco ke dalam pelukannya dan mengecup pipi gembul yang wangi bedak bayi itu.

Sebelum Aurora sempat melangkah ke arah sofa rias, dua lengan tegap kembali melingkar dari belakang. Braxley yang baru saja terbangun menyusupkan wajahnya di leher hangat Aurora, menghirup aroma tubuh istri dan putranya secara bersamaan.

"Kau bangun terlalu cepat, Honey," gumam Braxley dengan suara parau khas bangun tidur, mengecup ceruk leher Aurora sebelum mengecup kening Draco.

"Seseorang harus menyiapkan ASI untuk pangeranmu ini, Axley," goda Aurora, menatap suaminya dengan binar mata penuh cinta.

Pagi itu menjadi awal dari rutinitas baru yang dipenuhi romansa dan kehangatan keluarga. Braxley, pria yang dikenal dingin dan tak tersentuh di dunia bisnis internasional, kini tidak ragu menyingsingkan lengan kemejanya untuk belajar memandikan Draco, menggendongnya saat menepuk-nepuk punggungnya setelah menyusu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Musim berganti dengan begitu anggun. Daun-daun musim gugur yang berguguran di halaman mansion berganti dengan hamparan salju putih musim dingin, lalu mekar kembali menjadi kelopak bunga musim semi yang indah.

Waktu bergulir tanpa terasa hingga tiga tahun berlalu sejak malam pernikahan sakral di katedral.

Di usia tiga tahun, Draco Valerio-Desmon tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan, aktif, dan luar biasa cerdas. Garis wajahnya merupakan salinan sempurna dari Braxley—mulai dari struktur rahang yang tegas, hidung mancung, hingga manik mata cokelat gelap yang tajam namun penuh rasa ingin tahu.

Pagi itu, di taman belakang mansion yang hijau, Aurora sedang duduk di bangku kayu sembari memangku putri kecil mereka yang baru berusia delapan bulan—skenario kebahagiaan yang melengkapi keluarga mereka. Putri kecil itu bernama Celestia Valerio-Desmon, berwajah sangat mirip dengan Aurora dengan mata bulat yang jernih.

Di atas rumput hijau, Draco sedang berlari-lari kecil membawa bola sepak mini. Rambut hitamnya yang sedikit bergelombang bergerak mengikuti langkah kakinya yang lincah.

"Mommy! Lihat Draco!" seru anak kecil itu dengan suara cemprengnya yang menggemaskan, menendang bola pelan ke arah Aurora lalu berlari menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuan Aurora.

Draco melingkarkan lengan mungilnya di leher Aurora, menempelkan pipi gembulnya ke pipi sang ibu dan mengecup bibir Aurora berkali-kali. "Draco sayang Mommy! Mommy cantik sekali hari ini!"

Aurora tertawa renyah, mengecupi seluruh wajah putranya dengan gemas. "Mommy juga sangat sayang Draco, Pangeran Tampan."

Namun, suasana hangat itu mendadak terganggu oleh suara langkah kaki yang tegas mendekat.

Braxley melangkah keluar dari pintu kaca patio. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu yang digulung hingga siku. Tatapan matanya yang tajam tertuju lurus pada interaksi antara istri dan putra pertamanya.

"Draco," panggil Braxley dengan suara bass-nya yang dalam, menyilangkan kedua tangan di dadanya.

Draco menoleh, menatap sang ayah dengan polos tanpa dosa. "Ya, Daddy?"

Braxley berjalan mendekat, membungkukkan tubuhnya sedikit hingga sejajar dengan mata Draco. "Berapa kali Daddy bilang? Kau tidak boleh mencium Mommy. Mommy itu milik Daddy."

Aurora menepuk lengan Braxley pelan sembari menahan tawa. "Axley, bersikaplah dewasa. Dia baru tiga tahun dan dia putramu sendiri!"

"Aku tidak peduli," potong Braxley dingin namun ada pendar cemburu yang sangat tebal dan kekanak-kanakan di matanya. Pria itu menatap Draco dengan pandangan mengintimidasi yang lucu.

"Draco, kau laki-laki. Kau punya Celestia untuk kau cintai sebagai adikmu. Tapi wanita ini..." Braxley menyentuh dagu Aurora, menarik wajah istrinya lalu mendaratkan sebuah ciuman posessif tepat di bibir Aurora di depan mata anak mereka. "...adalah milik Daddy sepenuhnya."

Draco mengerutkan alis tebalnya yang persis seperti alis Braxley, memanyunkan bibir kecilnya yang gembul.

"Tidak mau! Mommy milik Draco!" teriak Draco tidak mau kalah, merangkul leher Aurora lebih erat dan melotot ke arah ayahnya. "Daddy tidak boleh ambil Mommy!"

Braxley menyunggingkan senyum miring yang menantang. "Kau mau mencoba melawan Daddy, Little Desmon? Seluruh mansion ini, helikopter, dan kapal pesiar yang kau suka itu milik Daddy. Dan yang paling penting, Mommy tidur di kamar Daddy setiap malam, bukan di kamarmu."

"Axley!" tegur Aurora dengan wajah merona merah, memukul dada bidang suaminya. "Jangan mengajari anak kecil hal-hal seperti itu!"

Draco yang merasa terpojok mulai berkaca-kaca, menatap ibunya dengan pandangan memohon yang sangat menggemaskan. "Mommy... Daddy nakal! Draco mau tidur sama Mommy malam ini!"

Melihat putranya hampir menangis, kelembutan Braxley akhirnya menang atas rasa cemburu absurdnya. Pria tegap itu terkekeh pelan, merendahkan tubuhnya lalu menggendong Draco dengan satu tangan kekarnya, sementara tangan lainnya merengkuh bahu Aurora dan mengelus kepala Celestia di pangkuan istrinya.

"Baiklah, Pangeran Kecil," bisik Braxley, mengecup pelisip Draco yang masih memanyunkan bibir. "Tapi ingat janji laki-laki Desmon. Suatu hari nanti kau harus mencari ratumu sendiri, karena Mommy akan tetap menjadi milik Daddy sampai kapan pun."

Aurora menggelengkan kepalanya melihat tingkah suami dan anak laki-lakinya. Di bawah naungan hangat sinar matahari pagi dan tawa kecil keluarga mereka yang utuh, kehidupan berjalan begitu sempurna.

Namun, di balik keceriaan yang meledak-ledak saat berada di dalam benteng Mansion Valerio-Desmon, ada satu sisi dari perkembangan Draco yang perlahan-lahan menggoreskan kecemasan halus di benak Braxley.

Pria yang biasanya selalu memiliki kendali mutlak atas segala hal itu kini mendapati dirinya sering mematung di balik jendela kaca ruang kerjanya, menatap lurus ke arah taman luar tempat Draco kerap bermain sendirian.

Draco adalah balita yang luar biasa tenang—bahkan terlalu tenang untuk anak seusianya. Jika di dekat Aurora ia bisa menjadi sosok pangeran kecil yang bermanja-manja, situasinya berubah total begitu Draco berada di lingkungan luar atau di hadapan orang asing.

Anak itu tidak pernah menangis histeris atau merajuk guling-gulingan, melainkan memilih untuk menarik diri sepenuhnya ke dalam cangkang kesunyiannya sendiri.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hari itu, Grandma Zephyr dan Grandpa AJ mengundang beberapa keluarga rekan bisnis dinasti Desmon yang memiliki balita seumuran Draco ke mansion untuk acara minum teh sore.

Halaman belakang dihiasi wahana bermain mini, penuh dengan tawa dan jeritan riang anak-anak lain yang saling mengejar dan berebut mainan.

Di tengah riuhnya suasana tersebut, Draco justru berdiri mematung di dekat pilar marmer yang teduh.

Anak berumur tiga tahun itu mengenakan kemeja katun biru muda dan celana pendek rapi. Jemari tangannya yang mungil menggenggam erat sebuah mobil-mobilan besi klasik.

Ketika seorang balita laki-laki lain mendekat dan mencoba mengajaknya mengambil bola, Draco tidak membalas dengan senyuman atau dorongan fisik. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, menatap anak itu dengan manik mata cokelat gelapnya yang dingin, dalam, dan tanpa ekspresi—sebuah tatapan yang terlalu dewasa dan berjarak untuk seorang balita.

Setelah menatap anak itu selama beberapa detik tanpa mengeluaran satu kata pun, Draco perlahan membalikkan badan. Tanpa suara, ia berjalan menjauh, memilih untuk duduk sendirian di sudut tangga batu yang sepi sembari memutar-mutar roda mobil-mobilannya dalam keheningan yang pekat.

Dari balkon lantai dua, Braxley berdiri menyilangkan kedua tangannya. Manik matanya tak lepas mengawasi gerak-gerik putra pertamanya. Alis tebalnya bertaut rapat, membingkai wajah tegasnya yang dipenuhi guratan cemas.

Aurora melangkah pelan mendekati suaminya, merangkulkan tangannya di lengan tegap Braxley. "Kau memikirkannya lagi, Axley?"

Braxley membuang napas berat, usapan jemarinya melintasi rahangnya yang kaku. "Dia tidak mau bersosialisasi lagi hari ini, Aurora. Ini sudah bulan ketiga sejak kita mencoba memperkenalkannya pada lingkungan baru. Dia hanya berbicara padamu, padaku, dan sesekali pada Baxeena atau Mommy."

"Setiap anak memiliki fasenya sendiri, Sayang..." bisik Aurora lembut, mencoba menenangkan.

"Ini bukan sekadar fase," potong Braxley pelan, suaranya sarat akan beban berat yang tersembunyi. Pria itu menatap istrinya dengan pandangan yang penuh rasa bersalah yang mendalam. "Lihat tatapan matanya saat menatap orang lain. Itu bukan tatapan pemalu. Itu tatapan defensif. Dia membangun tembok yang sangat tinggi di sekeliling dirinya."

Braxley merengkuh pinggang Aurora, menarik wanita itu rapat ke dadanya sementara matanya kembali menatap Draco yang masih duduk sendirian di bawah sana.

Ada ketakutan terselubung yang merayap di dalam dada Braxley—sebuah kecemasan bawaan dari masa lalu kelam mereka.

Braxley takut bahwa trauma hebat yang pernah dialami Aurora saat mengandung Draco, atau isolasi ketat yang dulu diterapkan untuk melindungi kehamilan tersebut dari ancaman media dan aksi gila Jonathan Carser, secara tidak sadar telah membentuk jejak psikologis dalam diri Draco.

Pria itu khawatir kecenderungan pendiam Draco adalah cerminan dari kecemasan terselubung yang diwarisinya.

"Bagaimana jika ini salahku?" bisik Braxley parau, pengakuan yang jarang sekali keluar dari bibir sang penguasa Desmon. "Bagaimana jika rasa protektifku yang berlebihan selama ini justru mengisolasi jiwanya? Aku membuatnya merasa bahwa dunia di luar keluarga kita adalah tempat yang berbahaya."

Aurora menatap suaminya dengan tatapan teduh, mengusap lembut pipi tegap Braxley. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Axley. Kau memberikan perlindungan terbaik untuknya. Draco hanya memiliki jiwa yang sangat peka. Dia sangat selektif membagi dunianya."

Tak tahan hanya melihat dari kejauhan, Braxley akhirnya melangkah turun ke taman. Pria bertubuh tegap itu berjalan melewati riuhnya anak-anak lain yang sedang bermain, lalu berlutut di anak tangga batu tepat di samping Draco.

Draco tidak terkejut. Mengenal aroma parfum ayahnya, balita itu hanya mendongak pelan, menampilkan raut wajah yang mendadak melunak penuh kehangatan.

"Daddy..." sapa Draco pelan dengan suara kecilnya yang khas.

Braxley tersenyum tipis, merendahkan posisinya hingga duduk di atas tangga batu yang dingin tanpa peduli pada celana mewahnya yang kotor. Ia mengusap rambut hitam Draco yang lembut.

"Kenapa duduk sendirian di sini, Pangeran Kecil?" tanya Braxley lembut. "Anak-anak lain bermain bola di sana. Kau tidak mau bergabung?"

Draco menatap mobil-mobilan di tangannya, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Bising, Daddy. Draco tidak suka."

"Mereka hanya ingin berteman denganmu, Son," bujuk Braxley, mencoba memilah kata-kata terbaik untuk membimbing mental putranya. "Seorang calon pemimpin Desmon harus belajar mengenal dunianya, belajar berbicara dengan orang lain."

Draco mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Braxley dengan kejujuran polos yang telanjang. "Draco cuma mau sama Daddy dan Mommy. Di luar rumah... tidak aman."

Kalimat polos yang meluncur dari bibir mungil balita berumur tiga tahun itu bagaikan sembilu yang menusuk dada Braxley. Tangan tegap Braxley sedikit gemetar. Dugaan ketakutannya terbukti—anak sekecil ini telah menyerap insting kewaspadaan yang terlalu tebal dari dinasti mereka.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Braxley langsung meraih tubuh kecil Draco, mengangkatnya ke dalam garapan tangannya yang kokoh dan memeluknya erat-erat di atas dada bidangnya. Draco menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang ayah, melingkarkan lengan kecilnya di leher Braxley tanpa ragu.

"Dunia memang bisa jadi tempat yang keras, Draco..." bisik Braxley tepat di telinga putranya, suaranya bergetar oleh rasa cinta dan janji perlindungan yang teramat dalam. "Tapi Daddy ada di sini. Daddy akan selalu ada untuk mengajarimu berdiri tegak, sampai kau tidak perlu takut lagi pada apa pun di luar sana."

Di sudut balkon, Aurora berdiri menyaksikan pemandangan itu dengan air mata yang menggenang hangat. Meskipun kecenderungan pendiam Draco menjadi teka-teki dan perjuangan baru bagi mereka sebagai orang tua, melihat bagaimana Braxley mendekap dan berusaha memahami jiwa kecil putranya memberikan kepastian mutlak: bahwa dalam naungan cinta seorang ayah yang begitu besar, Draco tidak akan pernah berjalan sendirian dalam kegelapan apa pun.

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!