"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023: Aksi Kontra-Akuisisi
SCBD tidak pernah benar-benar tidur, tetapi pada pekan kedua Februari, satu lantai ruang rapat di gedung kaca itu terasa seperti medan perang yang diberi karpet mahal.
Di atas meja panjang, tidak ada senjata.
Yang ada hanya dokumen penawaran, proyeksi hak suara, daftar pemegang saham, telepon yang tidak berhenti bergetar, dan gelas kopi yang sudah dingin sebelum sempat disentuh.
Dinda Permata duduk di sisi meja Cakra Capital.
Wajahnya tenang. Blazer putihnya rapi. Rambutnya disisir ke belakang. Di hadapannya, perwakilan konsorsium asing duduk dengan ekspresi orang yang terbiasa membeli barang lebih murah dari nilai sebenarnya.
Mereka datang dengan keyakinan.
Mereka tidak pulang dengan keyakinan yang sama.
"Kami sudah menguasai blok yang cukup signifikan," kata salah satu perwakilan konsorsium dalam bahasa Indonesia yang terlalu formal. "Pasar mengerti arah transaksi ini."
Dinda membalik satu halaman dokumen.
"Pasar mengerti uang," katanya. "Arah bisa berubah kalau uang yang masuk lebih bersih dan lebih cepat."
Di sisi belakang ruangan, CEO NusaPlay dan dua pendiri lain menahan napas. Mereka tidak terbiasa melihat orang berbicara tentang perusahaan hidup mereka seperti memindahkan bidak catur. Namun mereka juga tahu, tanpa orang seperti Dinda, NusaPlay mungkin sudah menjadi bidak orang lain.
Kepala legal Cakra menggeser lembar ringkasan.
"Cakra Capital telah mencapai perjanjian pembelian saham dengan beberapa pemegang minoritas strategis. Selain itu, kami memperoleh komitmen konversi dari dua pemegang saham awal yang sebelumnya pasif. Total hak suara yang kami kontrol dan dukung saat ini melewati tiga puluh lima persen."
Perwakilan konsorsium itu tersenyum tipis.
"Komitmen belum sama dengan penyelesaian."
Dinda mengangguk. "Benar. Karena itu dokumen escrow dan konfirmasi settlement ada di folder kedua."
Asisten Cakra meletakkan map biru di depan mereka.
Senyum di wajah lawan turun beberapa milimeter.
Dalam akuisisi, angka yang sudah masuk rekening bicara lebih keras daripada janji dalam press release.
"Kami tetap bisa menaikkan harga," kata perwakilan lain.
"Bisa." Dinda menatapnya. "Tapi untuk apa?"
Ruangan diam.
Dinda melanjutkan dengan suara ringan, "Kalau Anda menaikkan harga, Cakra bisa ikut. Kalau Anda memaksa sampai pasar panas, regulator akan menanyakan tujuan pengendalian dan sumber dana. Kalau Anda membeli terlalu mahal, Anda mendapatkan platform dengan komunitas yang marah, founder yang tidak kooperatif, dan kreator yang siap pergi. Anda menang di papan saham, lalu kalah di produk."
Ia menutup mapnya.
"Atau Anda keluar sekarang dengan premium yang pantas, tanpa kehilangan muka."
Itu bukan ancaman.
Itu lebih buruk.
Itu jalan keluar yang disusun begitu rapi sehingga menolaknya terlihat seperti kebodohan.
Di luar ruangan, para analis Cakra terus bekerja. Satu tim menghubungi pemegang saham minoritas yang belum menentukan sikap. Tim lain menyiapkan keterbukaan informasi sesuai aturan pasar modal. Firma hukum memeriksa ulang kalimat dalam pengumuman agar tidak memberi celah gugatan. Broker menjalankan transaksi besar dengan jadwal yang dipecah, menjaga agar pasar tidak salah membaca.
Semua bergerak legal.
Semua bergerak cepat.
Dan semua bergerak dengan satu prinsip: jangan beri lawan waktu untuk menciptakan cerita baru.
Di ujung meja, CEO NusaPlay akhirnya berbicara.
"Kalau Cakra menjadi pemegang saham pengendali, apa yang terjadi dengan tim kami?"
Dinda menoleh kepadanya.
"Manajemen inti tetap. Founder tetap di produk. Kami masuk di governance, pendanaan, keamanan data, dan strategi distribusi. Kami tidak membeli NusaPlay untuk membunuh rohnya."
Salah satu pendiri, perempuan dengan mata merah karena dua malam kurang tidur, berbisik, "Dan kreator?"
"Kontrak kreator tidak diputus massal. Tidak ada pemaksaan konten politik. Tidak ada pembatasan asal bicara kritiknya bisa dipertanggungjawabkan secara hukum."
Kalimat itu membuat tiga pendiri saling pandang.
Mereka tidak hanya butuh uang.
Mereka butuh pemilik baru yang tidak memperlakukan komunitas mereka sebagai gudang data.
Perwakilan konsorsium asing membaca angka keluar yang ditawarkan Cakra.
"Premium ini tidak buruk," katanya.
Dinda tersenyum. "Itu memang sengaja tidak buruk."
"Tetapi kami kehilangan posisi strategis."
"Anda kehilangan perang yang belum perlu Anda mulai."
Kali ini, bahkan kepala legal NusaPlay hampir tersenyum.
Negosiasi berlangsung sampai malam.
Tidak ada teriakan. Tidak ada gebrakan meja. Hanya angka yang dipindahkan, klausul yang diganti, jeda telepon ke luar negeri, dan wajah-wajah yang semakin sadar bahwa Cakra tidak datang untuk ikut bermain.
Cakra datang untuk menutup papan permainan.
Pukul sembilan lewat empat puluh, perwakilan konsorsium akhirnya meletakkan pena.
"Kami akan menerima skema keluar."
Dinda tidak menunjukkan kemenangan.
"Baik. Tim saya akan menyelesaikan dokumen final."
Tiga jam kemudian, konfirmasi terakhir masuk.
Saham blok utama berpindah.
Komitmen pemegang saham pendiri terkunci.
Hak suara Cakra dan pihak yang sepakat dengan governance baru melewati batas aman.
NusaPlay tidak jatuh.
Di ruang kecil sebelah, para pendiri NusaPlay berdiri tanpa tahu harus berteriak atau menangis. CEO mereka menutup wajah dengan kedua tangan.
"Saya pikir kami akan kehilangan semuanya," katanya.
Dinda masuk membawa folder tipis.
"Belum. Tapi mulai besok, kalian harus bekerja lebih rapi. Perusahaan yang hampir direbut tidak boleh tetap beroperasi seperti komunitas kampus."
Pendiri perempuan itu tertawa sambil menghapus air mata. "Itu cara Anda menghibur orang?"
"Saya buruk dalam menghibur. Bagus dalam menjaga perusahaan tetap hidup."
CEO NusaPlay menerima folder itu.
NusaPlay Equity Closing Confirmation.
Dokumen itu terasa lebih berat daripada ukurannya.
"Terima kasih," katanya. "Kepada Cakra. Kepada Anda."
"Terima kasih nanti saja," jawab Dinda. "Buktikan dengan menjaga platform."
Ketika keluar dari gedung, Jakarta sudah basah oleh hujan ringan.
Dinda duduk di mobil, melepas sepatu hak tinggi sebentar, lalu menelepon Arga.
Panggilan tersambung pada dering kedua.
"Selesai," katanya.
"Berapa?"
"Lebih efisien dari batas. Kita mengunci lebih dari tiga puluh lima persen hak suara efektif, founder tetap di kursi produk, konsorsium asing keluar dengan premium yang cukup untuk membuat mereka diam."
"Regulator?"
"Disclosure disiapkan. Legal clean. Tidak ada nama kamu."
"Bagus."
Dinda bersandar, menatap lampu jalan yang pecah di kaca basah.
"Mereka benar-benar tidak tahu siapa di belakang ini."
"Biarkan begitu."
"Satu lagi." Nada Dinda berubah sedikit. "Saat memeriksa ekosistem konten, aku melihat aset lain. Kilas Digital. News portal lama, traffic turun, utang vendor menumpuk, tapi arsip dan jaringan jurnalisnya masih berharga. Harganya sedang bagus."
Di seberang telepon, Arga diam sebentar.
"Apakah bisa dipakai untuk distribusi berita yang lebih serius?"
"Bisa. Kalau digabung dengan NusaPlay, kita punya live, video pendek, dan kanal berita. Belum besar, tapi cukup untuk mulai membangun media matrix."
"Lihat lebih dalam."
"Aku sudah lihat. Aku hanya bersikap sopan dengan pura-pura meminta izin."
Arga hampir tertawa.
"Kalau begitu, lihat dengan anggaran."
"Itu baru jawaban favoritku."
Panggilan ditutup.
Di Villa Puncak, Arga meletakkan ponsel di meja. Di sebelahnya, laporan Suryadinata masih terbuka, tetapi malam itu ia menatap halaman NusaPlay lebih lama.
Uang bisa membeli saham.
Tetapi dalam perang berikutnya, ia membutuhkan sesuatu yang lebih sulit dibeli.
Ia membutuhkan suara.
Dan malam itu, suara pertama sudah masuk ke tangannya tanpa satu pun orang melihat bayangannya.