"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 Di Depan Semua Orang
Menjelang sore, dokter akhirnya mengizinkan Guai pulang.
Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan obat penenang dalam darahnya. Iritasi di sudut bibir hanya perlu salep tipis, sedangkan pernapasan dan kesadarannya harus dipantau dua puluh empat jam berikutnya.
"Kalau ia sulit dibangunkan, muntah berulang, sesak, atau warna bibir berubah, kembali ke IGD," kata dokter.
Angie mengulang empat tanda itu tanpa melihat catatan.
"Saya juga sudah menulisnya," kata Hansen.
Dokter tersenyum. "Dengan dua orang seperti kalian, pasien kecil ini akan diawasi lebih ketat daripada monitor kami."
Kepala perawat menyerahkan paket dokumen baru. Karena insiden pemindahan palsu, gelang identitas Guai diganti dan proses pulang harus diverifikasi oleh dua petugas menggunakan kode yang hanya diterima Hansen.
"Tidak ada staf yang boleh membawa Tuan Kecil tanpa konfirmasi lisan dari saya atau dokter penanggung jawab," katanya. "Kami juga menonaktifkan kartu yang dipalsukan dan sedang mengaudit seluruh akses pagi tadi."
Angie membaca setiap halaman sebelum menandatangani bagian pendamping. "Apakah salinan formulir palsu sudah diserahkan kepada polisi?"
"Asli disegel, salinan digital tersimpan di server terpisah. Rumah sakit akan memberi pendampingan hukum dan melakukan evaluasi terhadap kelalaian petugas kami."
"Perawat pengganti tidak dipecat hanya untuk menutup masalah, kan?" tanya Angie. "Dia melakukan kesalahan, tapi sistem juga gagal."
Kepala perawat mengangguk. "Ia dinonaktifkan sementara dari tugas mandiri selama pemeriksaan, bukan dijadikan satu-satunya pihak yang disalahkan."
Hansen menatap Angie. Bahkan setelah anak yang dirawatnya diculik, ia masih mampu membedakan tanggung jawab pribadi dan kegagalan sistem.
Guai duduk di pangkuan Hansen sambil memainkan kancing kemejanya. Angie hendak memasang sandal datar, tetapi luka di telapak kakinya tertarik saat membungkuk.
"Biar saya," kata Hansen.
"Saya bisa."
"Kalimat itu dilarang sampai kakimu sembuh."
Ia berlutut, memeriksa plester steril, lalu memasangkan sandal tanpa menekan luka. William yang berdiri di pintu memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum.
"Mengapa semua orang senang melihat Anda mengurus sepatu saya?" tanya Angie.
"Karena mereka tidak punya pekerjaan."
"Saya punya banyak pekerjaan," bantah William. "Saya hanya kebetulan menyaksikan peristiwa penting dua kali."
Telinga Hansen memerah. Angie tertawa untuk pertama kalinya sejak Guai hilang.
Di lobi, puluhan kamera masih menunggu. Pihak rumah sakit menyiapkan jalur keluar tertutup, tetapi Hansen memilih memberi satu pernyataan agar spekulasi tidak terus mengorbankan Angie.
Ia berganti ke setelan yang dibawa William, sementara Angie tetap memakai blus sederhana dan sandal datar. Meilin tiba untuk mendampingi mereka.
"Kau tidak harus bicara," katanya kepada Angie.
"Kalau saya diam, cerita palsu akan bicara untuk saya."
"Kalau begitu berdiri di sebelahku."
Kalimat itu membuat Angie menatapnya. Meilin tidak menjelaskan, hanya berjalan bersama mereka menuju mikrofon.
Hansen menggendong Guai. Begitu lampu kamera menyala, bayi itu menyandarkan kepala pada bahunya.
"Kondisi putra saya stabil dan ia sudah mendapat izin pulang," kata Hansen. "Percobaan membawa dia keluar dengan dokumen palsu sedang ditangani polisi. Saya meminta media tidak menyebarkan wajah, rekam medis, atau video saat ia kesulitan bernapas. Ia seorang anak, bukan bahan hiburan."
Seorang wartawan bertanya, "Apakah Angie Thio terlibat dalam penculikan?"
"Tidak. Rekaman rumah sakit membuktikan ia bersama saya. Tanda tangannya dipalsukan."
"Apa hubungan Anda dengan Angie?"
Hansen menoleh kepadanya sebelum menjawab. "Hubungan pribadi kami akan kami tentukan sendiri. Yang bisa saya pastikan, dia menyelamatkan Guai lebih dari sekali dan berada di bawah perlindungan saya."
"Apakah pernyataan Anda semalam berarti Anda akan menikahinya?"
"Pernikahan bukan keputusan yang saya umumkan sebelum bertanya kepada perempuan yang bersangkutan."
Angie menatapnya. Jawaban itu sederhana, tetapi memberi ruang yang sering dirampas orang lain darinya.
Wartawan lain bertanya, "Bu Angie, apakah Anda menerima perasaan Pak Hansen?"
Angie mendekati mikrofon. "Semalam seorang bayi hampir kehilangan nyawa. Pagi ini dia diculik. Hari ini bukan hari untuk menjadikan hubungan kami judul sensasional. Ketika kami ingin berbicara, kami akan berbicara sendiri."
Hansen tidak mengambil alih jawabannya. Ia hanya bergeser sedikit agar Angie tetap terlihat di depan kamera.
"Apakah Celine Lau masih ibu sah anak itu?"
"Status perdata sedang ditinjau melalui jalur hukum. Pembatasan mendekati Guai berlaku selama penyidikan. Saya tidak akan mengadili perkara di depan kamera."
Guai tiba-tiba menggeliat. Wajahnya memerah, lalu bunyi kecil yang sangat dikenal semua orang tua terdengar dari balik popok.
Beberapa detik kemudian, noda menyebar pada sisi jas mahal Hansen.
Lobi hening sebelum Nathan, yang baru datang, tertawa paling keras.
"Jasmu kalah," katanya.
Hansen melihat noda itu, lalu Guai yang tampak jauh lebih lega. Bukannya marah, ia tersenyum.
"Akhirnya jas ini punya hiasan paling mahal."
Tawa pecah di antara wartawan dan petugas. Ketegangan yang menguasai rumah sakit sejak pagi mencair. Angie menutup wajah karena malu sekaligus ingin tertawa.
"Saya bawa dia ganti popok," katanya.
Guai justru meraih leher Hansen. "Ba."
"Papa ikut," jawab Hansen. "Kita selesaikan pernyataannya dulu."
Meilin maju ke mikrofon. Ia meletakkan tangan di bahu Angie di depan seluruh kamera.
"Seorang anak mengenali siapa yang merawatnya dengan hati," katanya. "Guai memilih Angie ketika takut, sakit, dan membutuhkan rasa aman. Itu berarti perempuan ini memberinya ketulusan yang tidak bisa dibeli keluarga mana pun. Atas nama keluarga Liem, saya berterima kasih kepadanya."
Mata Angie panas. "Nyonya Liem..."
"Panggil saya Meilin untuk sekarang," katanya pelan. "Tentang panggilan lain, biarkan waktu yang menentukan."
Margaret muncul bersama pengacara di sisi lobi. "Pernyataan itu terlalu jauh. Celine masih memiliki hak hukum dan sedang sakit akibat tekanan."
Meilin hanya menatapnya. "Jangan gunakan kata sakit untuk menghapus korban yang hampir kehilangan napas."
"Kau menghukum putriku sebelum pengadilan memutuskan."
"Aku membatasi bahaya dari cucuku. Pengadilan akan menentukan sisanya."
Satu tatapan Meilin membuat Margaret berhenti mendekat. Untuk pertama kalinya, keluarga Lau tidak lagi memiliki tempat di samping keluarga Liem di depan publik.
Tak lama kemudian, polisi membawa Celine keluar melalui jalur samping. Pengacaranya berhasil mengajukan penangguhan penahanan sementara dengan jaminan keluarga, kewajiban lapor, penyerahan paspor, dan larangan menghubungi saksi serta mendekati Guai. Penyelidikan pidana tetap berjalan.
Ketika melihat kamera, Celine menundukkan wajah. Margaret mendekat seolah hendak memeluknya.
Tamparan keras justru mendarat di pipinya.
"Tidak berguna," desis Margaret. "Hal sekecil ini pun kau gagal."
Petugas segera memisahkan mereka. Seorang penyidik memperingatkan Margaret bahwa tindakannya tercatat dan dapat diperiksa sebagai kekerasan. Kamera sempat menangkap wajah Celine yang kosong sebelum pengacara menutup pandangan.
Di balik rasa sakit, Celine akhirnya melihat kebenaran yang tak bisa lagi ia abaikan. Margaret tidak menampar seorang putri karena kecewa. Ia menghukum sebuah alat yang gagal bekerja.
"Mulai hari ini kau tidak keluar tanpa pengawas," kata Margaret setelah petugas melepaskan lengannya. "Kau sudah memberi polisi terlalu banyak kesempatan."
Celine menyentuh pipinya. "Mama baru saja menamparku di depan mereka."
"Kalau kau berhasil, aku tidak perlu melakukannya."
"Sari bisa menyebut yayasan."
"Biarkan pengacara mengurusnya. Tugasmu hanya diam dan patuh."
Untuk pertama kali, Celine tidak menjawab `ya`. Ia masuk ke mobil dengan tatapan lurus, menyimpan kemarahan yang kini tidak lagi hanya tertuju kepada Angie.
Hansen tidak berhenti untuk menyaksikan lebih lama. Ia membawa Guai menuju ruang ganti, sementara Angie berjalan di sisinya dan Meilin mengikuti beberapa langkah di belakang.
Keluarga Lau pulang dengan reputasi retak. Keluarga Liem meninggalkan rumah sakit dengan susunan baru yang belum diberi nama, tetapi sudah dilihat seluruh Jakarta.