NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Kedai Perbatasan dan Aliansi Dua Orang Terbuang

Angin di wilayah perbatasan antara Dataran Utara dan Benua Tengah tidak lagi membawa salju hitam, melainkan debu pasir kuning yang kering dan gersang. Di tepi jalur karavan yang membelah bukit batu, berdiri sebuah kedai kayu tua yang reyot. Papan namanya yang miring bertuliskan Kedai Angin Sunyi, tempat para pedagang, tentara bayaran, dan buronan beristirahat sejenak sebelum memasuki wilayah Benua Tengah yang makmur namun penuh intrik.

Di sudut kedai yang paling gelap, Kala duduk sendirian. Sebuah tudung hitam menutupi rambutnya, dan kain kasa hitam kembali melilit kedua matanya, menyembunyikan Netra Kosmos Black Hole yang legendaris. Di atas meja kayu di depannya, bersandar sebilah pedang ramping bersarung kayu putih perak yang memancarkan urat rasi bintang redup. Kala sedang memulihkan organ dalamnya yang sempat terluka akibat tekanan balik saat menghancurkan Perguruan Pedang Langit tiga hari lalu.

Suasana kedai yang tadinya bising oleh tawa para tentara bayaran mendadak hening ketika pintu kayu kedai ditendang terbuka dengan kasar.

BRAKK

Seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun terjerembab masuk ke dalam kedai, tubuhnya dipenuhi luka sayatan pedang yang masih mengucurkan darah segar. Dia mengenakan jubah hijau zamrud yang telah robek di berbagai sisi—pakaian khas milik kelas atas Benua Tengah. Meskipun fisiknya tampak babak belur, matanya yang tajam memancarkan kecerdasan dan tekad yang tidak goyah. Di tangannya, dia memegang erat sebilah kuas tembaga kuno, senjata para master formasi.

Dia adalah Zian, putra terbuang dari Klan Badai Angin. Namanya dicoret dari silsilah klan setelah saudara tirinya meracuni nadi kultivasinya hingga cacat, menjatuhkannya dari status jenius menjadi buronan yang dikejar-kejar oleh pembunuh bayaran klannya sendiri.

"Tangkap tikus cacat itu! Jangan biarkan dia membawa cetak biru formasi pelindung klan!" sebuah teriakan menggema dari luar kedai.

Lima orang pria paruh baya dengan pakaian ketat hitam melompat masuk ke dalam kedai. Mereka membawa belati kembar yang dialiri energi angin yang sangat tajam. Lima orang ini adalah pembunuh bayaran bayangan yang dikirim oleh Klan Badai Angin, semuanya berada di Ranah Pengendali Jiwa Tingkat Puncak.

Zian mencoba bangkit, menyeka darah di sudut bibirnya, lalu mengacungkan kuas tembaganya ke udara. Dia mencoba menarik energi alam untuk membentuk formasi pertahanan, tetapi racun di nadinya membuat aliran Qi-nya terputus, memaksanya kembali memuntahkan darah hitam. "Sialan... jika nadiku tidak hancur, semut-semut seperti kalian tidak akan bisa menyentuh jubahku!" umpat Zian parau.

Mati kau, Tuan Muda Cacat!" pemimpin pembunuh bayaran itu melompat maju, mengayunkan belati kembarnya langsung ke arah leher Zian.

Zian memejamkan mata, bersiap menerima ajalnya. Namun, suara tebasan besi yang dia tunggu tidak pernah terdengar.

CHIIING!

Sebuah dentingan tipis yang sangat jernih dan dingin memotong atmosfer kedai.

Seketika, seluruh kedai kehilangan warnanya, berubah menjadi abu-abu monokrom. Debu pasir yang beterbangan di udara membeku kaku. Lima pembunuh bayaran terpaku di udara dalam posisi menyerang, belati mereka berhenti tepat satu inci dari dahi Zian. Bahkan darah yang menetes dari luka Zian berhenti melayang di udara, membentuk butiran-butiran merah yang membatu.

Hukum Sepuluh Senti telah aktif.

Kala perlahan berdiri dari sudut kedai. Tangannya memegang gagang pedang Jian hitamnya yang tipis, membiarkan bilahnya terbuka tepat sepuluh sentimeter dari sarung kayu Yggdrasil. Dia berjalan santai melewati Zian yang membeku, lalu berhenti di depan pemimpin pembunuh bayaran tersebut.

Kala tidak mencabut pedangnya penuh. Dia hanya mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh jimat giok klan yang tergantung di leher kelima pembunuh tersebut. Gaya gravitasi dari mata kiri Black Hole-nya menyedot seluruh energi kehidupan dan esensi Qi angin di dalam tubuh mereka dalam sekejap. Kulit kelima pembunuh itu berkerut kering, rambut mereka memutih, dan daging mereka menyusut drastis menjadi mumi yang rapuh dalam hitungan fraksi detik.

Kala melangkah kembali ke tempat duduknya, lalu mendorong pedang tipisnya masuk ke dalam sarung kayu.

KLIK

Satu detik absolut berakhir. Waktu semesta kembali mengalir normal.

BRUUUK! BRUUUK!

Lima sosok berpakaian hitam yang tadinya melompat gagah di udara tiba-tiba jatuh berhamburan ke lantai kedai sebagai mayat kering yang keriput tanpa ada luka luar sedikit pun. Mereka tewas seketika akibat usia hidup mereka yang habis dihisap ke dalam hampa udara.

Zian membuka matanya, terengah-engah karena terkejut. Dia menatap lima mayat pembunuh bayaran di depannya, lalu mengalihkan pandangannya dengan takjub ke arah pemuda berjubah hitam yang kembali duduk dengan tenang di sudut kedai. Sebagai seorang master formasi yang jenius, Zian tahu betul apa yang baru saja terjadi. Itu bukan teknik kecepatan fisik. Itu adalah manipulasi hukum waktu.

Zian menyeret tubuhnya yang terluka, berlutut dengan satu kaki di depan meja Kala. "Terima kasih atas bantuan senior. Nama saya Zian, mantan murid Klan Badai Angin. Jika senior bersedia menyelamatkan nyawa saya yang tidak berharga ini, saya bersumpah akan mendedikasikan seluruh pengetahuan saya tentang geografi, politik, dan formasi rahasia 4 Klan Suci di Benua Tengah untuk melayani senior."

Kala menatap Zian dari balik kain kasa hitamnya. Pusaran galaksi di matanya membaca ketulusan dan racun kebencian yang mendalam di dalam jiwa Zian—kebencian yang sangat mirip dengan apa yang dia rasakan terhadap Perguruan Pedang Langit.

“Kala, anak ini memiliki bakat batin yang murni di bidang formasi kosmis,” suara wanita yang misterius dari sarung pedang kayu Yggdrasil berbisik di dalam kepalanya. “Nadinya yang cacat akibat racun bisa disembuhkan jika kau memurnikannya menggunakan energi pembalik waktu milikmu. Dia bisa menjadi bidak atau teman yang sangat berguna untuk menembus pertahanan Benua Tengah.”

Kala meletakkan botol obat kecil berisi sisa tanaman herbal purba dari naga ke atas meja. "Minum ini. Racun di nadimu akan dinetralkan dalam semalam," ucap Kala datar. "Aku tidak butuh pelayan. Aku butuh penunjuk jalan yang tahu di mana letak Altar Suci Klan Api Berkobar dan Klan Cahaya Abadi."

Zian mengambil botol obat itu dengan tangan gemetar, matanya berkilat penuh harapan baru. "Senior ingin menyerang Klan Suci? Tempat itu dijaga oleh puluhan Master Ranah Penguasa Langit dan dilindungi oleh Formasi Dewa!"

Kala berdiri, mengikatkan kembali pedang tipisnya ke pinggang dengan kokoh. "Formasi atau Dewa... semuanya akan tunduk ketika detik waktu mereka dihentikan."

Dengan disembuhkannya Zian, aliansi pertama antara dua orang yang dibuang oleh takdir telah tercipta. Langkah kaki Kala kini tidak lagi sendirian. Di bawah bimbingan Zian, sosok berjubah hitam itu bersiap memasuki Benua Tengah untuk memulai pembantaian terhadap klan-klan suci yang telah berani menulis penderitaan dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!