Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : KONFLIK TEMAN SEKOLAH DAN LUKA YANG SEMAKIN DALAM
Rangga duduk sendirian di bangku taman sekolah, memandangi langit sore yang mulai berubah jingga keemasan. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, dan angin sore berhembus sejuk membawa aroma rumput basah setelah hujan. Namun semua keindahan itu tidak mampu menenangkan hatinya yang sedang bergejolak. Hari ini adalah salah satu hari terburuk dalam hidupnya di SMA.
Semuanya bermula ketika Fajar, yang selama ini sudah mulai bersikap lebih baik, tiba-tiba berubah kembali menjadi musuh. Rupanya, Rizki—musuh lama Rangga dari SMP yang ternyata sepupu Fajar—telah datang berkunjung dan menceritakan semua kebohongan tentang masa lalu Rangga. Rizki mengatakan bahwa Rangga adalah anak pencuri, bahwa ia dikeluarkan dari SMP karena mencuri uang kas, dan bahwa ia hanya bisa sekolah di SMA karena memanfaatkan rasa iba guru-guru.
Fajar yang awalnya ragu akhirnya percaya begitu saja. Dengan penuh amarah, ia mengumpulkan teman-temannya dan mendatangi Rangga di kantin saat jam istirahat. Wajah Fajar merah padam karena kemarahan, matanya menyala-nyala seperti api.
"Rangga!" teriak Fajar, suaranya menggema di seluruh kantin. "Kau ternyata benar-benar pencuri! Aku sudah mulai percaya padamu, tapi kau hanya memanfaatkan kebaikanku! Rizki sudah menceritakan semuanya!"
Rangga terkejut. Ia berdiri dari tempat duduknya, berusaha tenang meskipun hatinya berdebar kencang. "Fajar, apa yang Rizki katakan tidak benar. Dia musuhku dari SMP. Dia selalu menyebarkan fitnah tentangku."
"Fitnah?" Fajar tertawa sinis, suaranya penuh kebencian. "Rizki adalah sepupuku. Aku tahu dia lebih baik daripada anak desa sepertimu! Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku akan percaya padamu?"
Siswa-siswa lain mulai berkerumun, membentuk lingkaran di sekitar mereka. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk ke arah Rangga dengan tatapan curiga. Rangga merasa seperti sedang berada di tengah lautan yang menenggelamkannya.
"Aku tidak pernah mencuri, Fajar. Itu semua kebohongan Rizki. Dia iri padaku karena aku lebih pintar darinya dan Anisa memilihku, bukan dia," kata Rangga dengan suara bergetar, tetapi tetap tenang.
"Aku tidak percaya padamu!" teriak Fajar. "Kau anak yatim piatu miskin yang tidak punya apa-apa. Kau hanya bisa bersekolah karena beasiswa iba! Dan sekarang kau berani berbohong padaku?"
Kata-kata itu menusuk hati Rangga seperti pisau yang berulang kali ditusukkan. Dadanya sesak, dan ia merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Namun ia berusaha menahannya, tidak mau terlihat lemah di depan semua orang.
"Fajar, tolong dengarkan aku," kata Rangga, suaranya mulai pecah. "Aku tidak pernah menyakiti siapapun. Aku hanya ingin belajar dan meraih mimpiku. Aku tidak tahu mengapa kau begitu membenciku."
"Karena kau pencuri!" teriak Fajar. "Pencuri sepertimu tidak pantas ada di sekolah ini! Kau harus keluar dari sini!"
Beberapa siswa lain mulai ikut-ikutan meneriakkan kata-kata kasar. "Keluar! Keluar! Pencuri!" Suara mereka menggema, memenuhi ruang kantin dengan kebencian yang pekat. Rangga merasa dunia di sekelilingnya mulai berputar. Ia merasa seperti anak kecil yang dulu dibuang di hutan—kesepian, ketakutan, dan tidak berdaya.
Anisa yang mendengar keributan itu segera berlari menghampiri. Melihat Rangga yang terpojok dan teman-temannya yang berteriak-teriak, ia segera melindungi Rangga dengan tubuhnya. "Hentikan! Diam kalian semua!" teriak Anisa dengan suara lantang dan penuh amarah. "Kalian tidak tahu apa-apa! Rangga bukan pencuri! Aku mengenalnya sejak kecil! Dia anak baik dan jujur!"
Fajar menatap Anisa dengan sinis. "Kau hanya membelanya karena kau pacarnya, Anisa. Kau tidak bisa melihat kebenaran!"
"Aku melihat kebenaran setiap hari!" balas Anisa dengan mata berkaca-kaca. "Aku melihat Rangga bekerja keras membantu neneknya, aku melihatnya belajar sampai larut malam, aku melihatnya menolong teman-temannya tanpa pamrih! Dia tidak mungkin mencuri!"
Rangga menggenggam tangan Anisa, merasakan hangatnya dukungannya. Namun di dalam hatinya, luka itu semakin dalam. Ia tidak tahan lagi. Tanpa berkata apa-apa, ia melepaskan tangan Anisa dan berlari keluar dari kantin, meninggalkan semua orang yang menatapnya dengan penuh kebencian.
Ia berlari sampai ke taman belakang sekolah, tempat yang sepi dan jarang dikunjungi. Di sana, ia duduk di bawah pohon rindang, menundukkan kepalanya, dan akhirnya membiarkan air mata mengalir bebas. Tangisannya pecah, isak tangis yang ia tahan selama bertahun-tahun kini keluar semua. Ia menangis untuk ayah dan ibunya yang telah tiada, untuk Nenek yang sudah tua dan sakit-sakitan, untuk semua fitnah dan kebencian yang ia terima, dan untuk dirinya sendiri yang merasa sangat lelah.
"Kenapa... kenapa semua ini harus terjadi padaku?" bisiknya di sela tangisan. "Apa yang salah denganku? Apa aku sebegitu buruknya?"
Ia teringat pada masa kecilnya di istana kaca—kehidupan yang mewah tetapi hampa, orang tua yang sibuk tetapi penuh kasih, dan malam pembunuhan yang mengubah segalanya. Ia teringat pada Nenek Saroh yang menemukannya di hutan, yang merawatnya dengan kasih sayang tanpa pamrih, yang memberinya kehidupan baru. Namun kini, semua kebencian dan fitnah terasa seperti mengancam semua yang telah ia bangun.
"Tuhan," bisiknya, memandang ke langit yang mulai gelap. "Aku sudah berusaha sebaik mungkin. Aku sudah berbuat baik pada semua orang. Tapi mengapa semua ini masih terjadi? Mengapa aku masih harus menderita?"
Tiba-tiba, ia mendengar langkah kaki mendekat. Anisa muncul di hadapannya, wajahnya basah oleh air mata. Ia segera duduk di samping Rangga dan memeluknya erat-erat.
"Rangga... jangan menangis," bisik Anisa, suaranya tersendat karena tangisnya sendiri. "Aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Rangga memeluk Anisa kembali, menangis di pelukannya seperti anak kecil yang kehilangan segalanya. "Anisa... aku sangat lelah. Aku lelah berjuang sendirian. Aku lelah membuktikan bahwa aku baik. Kenapa orang-orang selalu membenciku?"
Anisa mengusap rambut Rangga dengan lembut. "Mereka tidak mengenalmu, Rangga. Mereka hanya mendengar kebohongan. Tapi aku mengenalmu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya. Kau adalah orang terbaik yang pernah aku kenal. Jangan biarkan mereka menghancurkanmu."
"Aku sudah mencoba sekuat tenaga, Anisa," kata Rangga dengan suara pecah. "Tapi rasanya tidak pernah cukup. Aku selalu dihakimi karena masa laluku, karena asal usulku, karena kemiskinanku. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan."
Anisa memegang wajah Rangga, menatap matanya yang merah dan basah. "Dengarkan aku, Rangga. Kau lebih kuat dari semua itu. Kau telah melewati hal-hal yang tidak akan mampu dilewati oleh kebanyakan orang. Kau selamat dari pembunuhan, kau bangkit dari kemiskinan, kau menjadi orang yang luar biasa. Dan aku akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi."
Rangga menatap Anisa, merasakan cinta dan dukungan yang begitu besar dari gadis di depannya. Perlahan, ia mulai menenangkan diri. "Terima kasih, Anisa. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu."
"Kau tidak perlu memikirkannya," kata Anisa dengan senyum lembut. "Karena aku tidak akan pernah pergi."
Mereka duduk di bawah pohon itu sampai senja berganti malam. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit, dan cahaya bulan menyinari wajah mereka. Rangga merasakan kedamaian yang mulai menyusup ke dalam hatinya, meskipun luka itu masih terasa.
"Aku akan membuktikan bahwa aku bukan pencuri," kata Rangga dengan suara mantap. "Aku akan mencari tahu siapa yang sebenarnya mencuri uang kas OSIS. Dan aku akan membersihkan namaku."
"Aku akan membantumu," kata Anisa. "Kita akan melakukannya bersama."
Malam itu, Rangga menulis surat untuk Nenek Saroh dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Ia menceritakan semua yang terjadi—tentang fitnah, tentang kebencian, dan tentang bagaimana Anisa menyelamatkannya.
"Nenek, hari ini aku merasa sangat lemah. Aku dihakimi oleh teman-temanku, dan aku merasa seperti anak kecil yang dulu dibuang di hutan. Tapi Anisa datang dan mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian. Aku masih punya Nenek, aku masih punya Anisa, dan aku masih punya keyakinan bahwa kebenaran akan menang. Doakan aku, Nek. Aku berjanji akan terus berjuang."
Ia menutup surat itu, lalu memejamkan mata. Air mata terakhir mengalir di pipinya sebelum ia tertidur, dengan tangan Anisa yang masih menggenggam erat tangannya.
---
[Bersambung...]
---