"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
"Pak Luki, biar ini jadi urusan saya," ucap Surya menunduk hormat.
"Baiklah. Tolong pantau orang ini, jangan sampai ada yang menjenguk kecuali atas izin saya," tegas Luki.
"Baik, Pak," jawab Surya sigap.
Luki lalu menggenggam erat jemari Amira. "Ayo kita pulang."
Amira yang sedari tadi hanya bisa mengedip-kedipkan mata masih merasa linglung dengan alur kejadian yang berbalik begitu cepat. Ia mendongak menatap suaminya.
"Pulang? Terus kekacauan yang kamu buat bagaimana, Luki? Botol whisky pecah, meja ada yang belah, kursi rusak, gelas-gelas kristal mahal itu bagaimana?" cerca Amira khawatir.
"Itu biar jadi urusan Pak Surya," sahut Luki santai.
Amira menepuk keras pundak Luki. "Jangan mentang-mentang dekat sama customer kamu jadi memanfaatkan kebaikan orang, Luki! Nasib kamu malam ini saja yang lagi baik dapat customer sebaik Pak Surya. Coba kalau ketemu customer yang jahat?"
Giliran Luki yang dibuat melongo. Ia tahu betul betapa senangnya Surya bisa menjalankan perintah dari sang pemilik Perdana Holding ini, tapi istrinya malah berpikir Surya hanyalah seorang customer ojol yang terlampau baik hati.
"Terus bagaimana?" tanya Luki menahan tawa.
"Tunggu aku sebentar," ucap Amira lalu melangkah menghampiri Surya. Luki yang penasaran hanya bisa mengekor di belakangnya.
"Pak Surya, untuk masalah kerugian ruangan ini, saya bisa bantu tanggung setengahnya, Pak... Nanti pagi akan saya urus pencairannya. Tolong tinggalkan nomor rekening Bapak," kata Amira dengan nada sangat penuh tanggung jawab.
Surya tersentak, refleks melirik Luki di belakang Amira. "E-eh... Tidak usah, Bu Amira! Ini semua sudah jadi tanggung jawab saya!" jawab Surya tergagap.
"Saya tahu Anda customer suami saya yang sangat baik... Dan sebagai istrinya, saya tidak mau suami saya berutang terlalu banyak jasa pada Anda. Jadi saya mohon, berikan nomor rekeningnya," desak Amira tak mau dibantah.
Surya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menatap Luki penuh permohonan petunjuk. Luki tertawa kecil tanpa suara lalu mengedipkan sebelah matanya dan melirik jam tangan—memberi kode agar Surya cepat menurut saja.
"B-baiklah, Bu..." Surya akhirnya menyebutkan nomor rekening perusahaannya.
Setelah berpamitan pada Surya, Amira dan Luki berjalan menuju area parkir.
"Kita ke kantor saja," ucap Amira begitu duduk di kursi penumpang. Luki mengangguk lalu mengambil alih kursi pengemudi.
"Sudah larut malam, kenapa harus ke kantor? Kamu perlu istirahat total, Sayang," jawab Luki seraya menekan pedal gas. Mobil pun melaju perlahan menyusuri jalanan kota.
"Di rumah justru aku tidak bisa istirahat dengan benar."
"Kenapa?"
Amira menarik napas panjang, mengepalkan tangannya rapat-rapt. "Mamah pasti akan mencecar aku dengan ratusan pertanyaan... kenapa aku gagal dapat pinjaman dan malah bikin kekacauan."
"Ya tinggal ceritakan saja kebenarannya, apa susahnya?"
"Mereka tidak akan pernah percaya padaku, Luki," tutur Amira dengan nada amat getir.
"Masa, sih? Kamu baru saja hampir dicelakai oleh babi sialan itu, masa mereka sama sekali tidak peduli?"
Amira menghela napas panjang. "Mamah cuma peduli sama keinginannya sendiri. Kalau dia mau dapat pinjaman modal, ya harus dapat, bagaimanapun caranya... Jadi, tolong arahkan saja ke kantor."
"Jangan di kantor. Kamu harus istirahat yang benar. Pipi kamu pasti memar bekas tamparan tadi, kamu harus pulihkan kondisi kamu dulu."
"Tapi jangan ke hotel," potong Amira cepat.
"Kenapa tidak mau ke hotel?"
Amira meremas gaunnya. "Sejak malam itu... aku jadi agak trauma ke hotel. Untung saja waktu itu pria yang bersamaku adalah kamu... Kalau orang lain, aku tidak bisa bayangkan nasibku."
Luki tersenyum menggoda. "Jadi... kamu bersyukur dong ketemu dan nikah denganku?"
Amira berdehem keras, menyadari dirinya baru saja keceplosan. "S-sudahlah! Lupakan saja! Kita istirahat di kantor saja."
"Jangan di kantor. Ke tempat aku saja," usul Luki.
Amira menoleh menatap Luki. 'Benar juga... sudah dua hari menikah, aku bahkan tidak tahu seperti apa rumah dan keluarganya,' batin Amira.
"Baiklah... tapi di sana ada keluarga kamu, kan?" tanya Amira memastikan.
"Keluargaku sedang ada di luar kota," jawab Luki santai.
"Jadi kamu sendirian dong di kontrakan?"
"Kontrakan?" ulang Luki heran, terdengar asing dengan kata itu.
"Iya... Apa kontrakan kamu dan keluarga berbeda? Tenang saja, kamu sudah menyelamatkan hidupku malam ini... Nanti aku akan carikan rumah sederhana di pinggiran kota untuk tempat tinggal kamu dan keluarga kamu."
"Amira..." Luki memanggil lembut, berniat menjelaskan identitas aslinya. Namun tiba-tiba ia teringat perkataan Amira kemarin malam: 'Aku lebih suka kamu jadi ojol ketimbang jadi orang yang sok kaya.'
"Kenapa, Luki?"
"Enggak... enggak apa-apa," jawab Luki menelan kembali kata-katanya.
"Kalau tidak apa-apa, bawa aku ke kantor saja dulu... Aku mengantuk sekali, mau tidur. Nanti bangunkan kalau sudah sampai, ya." Amira menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.
"Iya, Sayang."
Luki menatap lurus ke arah jalanan malam. 'Amira... bagaimana jika suatu hari kamu tahu kalau aku ini kaya raya dan mampu membeli apa saja? Apakah kamu akan membenciku? Aku sudah sangat sayang sama kamu... Aku harap kamu tidak meninggalkanku saat tahu identitasku yang sebenarnya,' celoteh Luki
Ia menoleh ke kiri. "Amira?"
Tak ada jawaban. Hembusan napas teratur terdengar halus dari bibirnya.
"Astaga, dia sudah tertidur..." gumam Luki terkekeh pelan. Ia menggaruk kepalanya melihat tingkah polos istrinya yang selalu menyimpulkan sesuatu tanpa memeriksa fakta lebih dulu—dan hampir saja keteledoran itu membuatnya masuk ke dalam perangkap busuk Dani dan Rini.
Luki memang menugaskan beberapa anak buah untuk mengawasi Amira dari jauh. Dari merekalah Luki mendapat kabar bahwa Amira dalam bahaya besar. Karena kebetulan posisinya dekat, Luki langsung menyambar motor trail milik seorang pemuda di jalanan dengan menukarkan kartu nama pribadinya—pemuda itu tentu saja bukannya marah, melainkan melompat kesenangan mendapat kartu nama sakti dari pimpinan Perdana Holding.
Mobil melaju menuju sebuah gedung pencakar langit yang megah: Perdana Tower Apartment, hunian eksklusif milik Perdana Holding.
Luki langsung mengarahkan mobil ke lift khusus pemilik gedung yang membawanya langsung ke lantai 50—lantai paling atas yang ditempati penthouse pribadinya. Setelah menyerahkan kunci mobil pada petugas valet, Luki berusaha membangunkan Amira dengan menepuk pelan pipinya. Namun Amira tidak bergeming sedikit pun, tertidur pulas layaknya orang pingsan akibat kelelahan dan guncangan emosi.
Akhirnya, Luki menggendong tubuh Amira secara bridal style masuk ke dalam unit penthouse-nya.
Di atas ranjang king size yang sangat empuk, Luki merebahkan Amira perlahan. Ia sempat panik saat Amira tidak juga bangun ketika dipanggil, hingga Luki harus menempelkan jarinya ke bawah hidung Amira—napasnya teratur dan terdengar dengkuran halus. Luki bernapas lega seraya tertawa kecil.
Dengan telaten, Luki melepaskan sepatu tumit tinggi milik Amira. Namun ia kebingungan saat hendak membukakan pakaian istrinya. Akhirnya, ia hanya sanggup melepas blazer kerja Amira.
Takut Amira kedinginan, Luki mengambil kain dan es batu untuk mengompres lembut pipi Amira yang memar bekas tamparan Dani. Setelah mengompresnya dengan penuh kehati-hatian, Luki menarik selimut tebal menutupi tubuh istrinya.
Luki membungkuk, mendaratkan kecupan hangat di kening Amira. "Selamat tidur, Sayang..."
Tak ingin merusak batasan, Luki memilih untuk tidur di sofa empuk di ujung kamar.
Pagi datang begitu cepat. Cahaya matahari menerobos masuk dari balik tirai kaca raksasa penthouse.
Amira perlahan membuka matanya. Rasa pening masih menyisa di kepalanya. Namun saat pandangannya mengedar menatap langit-langit kamar yang begitu tinggi, lampu kristal yang mewah, dan interior serba modern di sekelilingnya, matanya seketika membelalak sempurna!
"ARGHHHHHH! KENAPA DI HOTEL LAGI?!" teriak Amira histeris seraya menarik selimut rapat-rapt hingga ke dada!