Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Sadar akan apa yang baru saja meluncur dari mulutnya, rona merah seketika menjalar hingga ke ujung telinga Gu Qingli. Dia terburu-buru berbalik memunggungi Yunche. "Sudahlah, tak usah dibahas!"
Yunche masih berdiri terpaku di tempatnya, mendengarkan degup jantungnya sendiri yang berpacu teramat kencang. "Qingli..."
"Apa lagi?" sahut Gu Qingli tanpa menoleh.
Yunche mengulas senyum tulus yang hangat. "Terima kasih... karena sudah mau menungguku."
Langkah Gu Qingli terhenti sejenak. Namun, dia tetap menjawab tanpa memalingkan wajahnya, "Siapa juga yang menunggu? Jangan percaya diri."
Yunche tertawa kecil melihat reaksi defensif gadis itu. "Baiklah, kalau begitu."
Namun, di tengah atmosfer hangat yang melingkupi mereka, Patriark Shen berdiri menyendiri di sudut tribun. Tak ada raut gembira di wajahnya. Pandangannya berganti-ganti, menyapu Yunche, perwakilan Keluarga Gu, hingga akhirnya mengunci sosok Xiao Hanzhou.
Di saat yang sama, Xiao Hanzhou juga tengah menatap Yunche. Ketika pandangan Patriark Shen dan Xiao Hanzhou beradu, Xiao Hanzhou menyunggingkan senyum tipis. Namun, senyuman itu tak lagi mencerminkan pemuda ramah nan santun seperti biasanya—ada kilat dingin dan tajam yang tersembunyi di baliknya. Patriark Shen mengepalkan tangannya rapat-rapat; dia sadar, badai yang ditakutinya telah tiba.
Malam harinya, gegap gempita perayaan atas kemenangan Yunche masih menyelimuti pelosok Kota Qinghe. Namun, sang tokoh utama justru duduk menyendiri di dalam kamarnya yang hening.
Yunche mengangkat telapak tangannya. Pendar cahaya hitam misterius itu kembali membumbung halus di permukaan kulitnya. "Sebenarnya... kekuatan apa ini?"
"Kekuatan sejatimu", sahut sebuah suara gaib yang bergema langsung di dalam benaknya.
Yunche spontan menoleh. "Kau lagi..."
"Aku akan selalu ada di sini, Yunche."
"Cukup menyebalkan, tahu," gumam Yunche bersandar pada pilar bed.
Suara gaib itu terkekeh pelan. "Kau telah berhasil membuka segel kedua pada liontinmu. Sekarang, ingatan masa lalumu yang terkunci akan mulai memulihkan diri."
Yunche mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Meningat apa?"
"Masa lalu yang kelam."
Seketika itu juga, serangkaian kilasan memori menghantam benak Yunche secara paksa—kobaran api raksasa, hamparan pegunungan yang sunyi, genangan darah, dan sosok ayahnya, Shen Tianyu.
Yunche menggertakkan giginya menahan sakit kepala yang luar biasa. "Siapa... siapa yang membunuh Ayah?!"
Suara gaib itu membisu sejenak.
"Jawab aku!" raung Yunche seraya mencengkeram kepalanya erat-erat. "SIAPA?!"
Sebuah nama terukir jelas dan tajam di dalam pikirannya: Gu Tianming.
Tubuh Yunche membeku seketika. "Mustahil..."
Gu Tianming—Patriark Keluarga Gu, ayah kandung Gu Qingli, sekaligus sosok tetua yang selama ini sangat dihormati dan dipercayainya.
"Dialah yang menjebak ayahmu hingga harus pergi ke Gunung Tianyuan, bisik suara gaib itu, kian memojokkan kesadaran Yunche. Dialah yang mengkhianatinya... dan dialah yang menghabisi nyawa Shen Tianyu."
"Tidak! Hentikan!" Yunche menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba menolak kenyataan pahit itu. "Jangan bicara sembarangan!"
"Dia pembunuhnya, Shen Yunche."
"CUKUP! BERHENTI!" raung Yunche.
Ledakan aura hitam meluas liar dari tubuhnya, membuat Yunche jatuh berlutut di lantai dengan napas yang terengah-engah. Namun, dia tetap menggelengkan kepala dalam ketidakpercayaan. Bayangan wajah Gu Qingli berputar di benaknya—senyum tipisnya, suara lembutnya, sentuhan jemarinya saat mengusap darah di bibirnya, serta janjinya: 'Maka aku akan terus-menerus mengobatimu.'
Yunche memejamkan mata rapat-rapat, meremas dadanya yang terasa sesak luar biasa. "Qingli... apakah ayahmu..." Dia tak sanggup menyatukan kalimat mengerikan itu.
Pada saat yang bersamaan di Kediaman Keluarga Gu.
Gu Qingli berdiri ragu di depan pintu kediaman ayahnya. Baru saja jemarinya terangkat hendak mengetuk kayu pintu, lambaian percakapan dari dalam ruangan menghentikan gerakannya.
"Dia sudah berhasil membuka segel kedua," ucap sebuah suara yang sangat dihafalnya—suara sang ayah, Gu Tianming.
Suara pria asing menyahut dari dalam, "Seberapa cepat?"
"Jauh lebih cepat dari yang kita perkirakan."
"Kalau begitu, kita harus segera mengambil tindakan. Bagaimana dengan putrimu?"
Keheningan melingkupi ruangan itu sejenak. Gu Qingli menahan napasnya di balik pintu.
"Qingli tidak boleh tahu sedikit pun tentang hal ini," tegas Gu Tianming dengan nada berat.
"Kenapa?" tanya lawan bicaranya.
Gu Tianming menghela napas panjang. "Karena... jika dia sampai tahu siapa Shen Yunche yang sebenarnya... dia pasti akan sangat membenciku."
Jantung Gu Qingli mencelos.
"Dan bagaimana jika Yunche yang lebih dulu mengetahui siapa pembunuh ayahnya?" tanya suara asing itu lagi.
Hening yang tercipta kali ini terasa teramat panjang dan mencekam. Hingga akhirnya, Gu Tianming menjawab lirih, "Maka... dia pasti akan membunuhku."
Gu Qingli refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan, sepasang matanya membelalak lebar dalam kecemasan yang membendung. Seluruh dunianya seolah runtuh seketika.
Siapa pembunuh Shen Tianyu? Siapa Shen Yunche sebenarnya? Dan mengapa ayahnya begitu takut pada pemuda itu?
Dengan langkah gemetar, Gu Qingli mundur perlahan dari depan pintu. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Bukan sekadar rasa takut yang menghujam dadanya, melainkan kenyataan pahit bahwa semua orang di sekitarnya—termasuk ayahnya sendiri—telah menyimpan kebohongan yang teramat besar darinya.
Di luar benteng Kediaman Keluarga Gu, sesosok pria berbalut jubah hitam berdiri tersembunyi di balik bayangan pohon besar. Wajahnya tertutup rapat oleh tudung. Dia menggenggam sebuah gulungan surat kecil, lalu membukanya.
Hanya ada satu baris kalimat tersurat di sana: Segel kedua telah terbuka.
Pria berjubang hitam itu menyunggingkan senyum misterius, lalu memantik api untuk membakar surat tersebut hingga menjadi abu. Dia menatap dingin ke arah kediaman Keluarga Gu. "Kalau begitu... permainan utamanya baru saja dimulai."
Malam kian larut membungkus Kota Qinghe.
Yunche berdiri menatap rembulan di balik jendela kamarnya, mencengkeram erat liontin hitam di dadanya. Nama Gu Tianming terus bergema di benaknya bagaikan kutukan.
Di sudut lain kota, Gu Qingli duduk menyendiri di tepi ranjang. Air matanya menetes pelan menembus kain saputangan—benda yang tadi digunakannya untuk membersihkan luka di bibir Yunche. Meski sederhana, dia tak sanggup melepaskan kain itu dari genggamannya.
"Yunche..." bisik Gu Qingli pada keheningan malam seraya memejamkan mata. "Jika suatu hari nanti kau mengetahui kebenaran yang sesungguhnya... apakah kau masih mau menganggapku sebagai temanmu?"
Sementara itu, di dalam kamarnya yang gelap, Yunche mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, berbisik lirik, "Qingli... jika ayahmu benar-benar pembunuh ayahku... bagaimana bisa aku..."
Kalimat itu terhenti di tenggorokannya. Yunche tak sanggup melanjutkannya karena dia sudah tahu jawaban teratas di dalam hatinya—jawaban yang justru paling menakutkan baginya.
Tak peduli seberapa kelam rahasia yang tersembunyi, tak peduli apa pun yang telah dilakukan Gu Tianming, Yunche sadar betul bahwa dia tidak akan pernah bisa membenci Gu Qingli. Rasa suka itu telah terlanjur bertunas dan merambat terlalu jauh di dalam dadanya. Dan mungkin, perasaan yang sama mulai tumbuh di hati gadis itu.
Namun, benang takdir telah menarik mereka ke dua sisi arena yang berseberangan. Dua keluarga besar, sebuah dendam kesumat pembunuhan, rahasia masa lalu yang pekat... dan sebuah benih cinta yang mekar di antara dua insan yang seharusnya tak boleh saling memiliki.
apa gk syok tuh thor