IG : Isthiizty
Disarankan untuk membaca novel PERNIKAHAN RAHASIA SEPASANG ANAK SMA dan SHE'S MINE terlebih dahulu.
Apapun yang sudah di takdirkan menjadi milikmu, tidak akan meleset sedikitpun meski semua orang menghalanginya.
Begitupula jika memang tidak di takdirkan untuk menjadi milikmu, mau seluruh makhluk di dunia ini mendukungmu, sampai kapanpun tak akan pernah menjadi milikmu.
Jadi jangan pernah menyalahkan keadaan. Karena jika dia memang ditakdirkan untukmu, pasti akan ada jalan untuk kalian bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Pernikahan
Rencana hanya tinggal rencana. Nyatanya pagi itu Mike harus mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Floryn karena Papa Jo menelepon dan menyuruhnya datang ke hotel untuk bertemu Om Ruli yaitu asisten pribadi Papanya.
Bahkan hari-hari selanjutnya Mike yang memang sudah di libatkan dalam urusan hotel kini mulai sibuk. Apalagi dirinya juga masih harus fokus kuliah semester duanya.
Sama seperti Alex sahabatnya, Mike yang juga sebagai pewaris tunggal bisnis papanya kini juga sudah di haruskan untuk mulai belajar tentang bagaimana menjalankan hotel agar semakin berkembang dan maju.
"Jangan pulang dulu. Kita nongkrong dulu aja yuk," ajak Alex sesaat setelah mereka sampai di parkiran kampus.
"Gak lah. Gue udah kangen sama anak gue," tolak Ello. Dia sudah tak sabar mengendong Nadeo yang kini sudah berusia satu minggu.
"Ayolah ngab. Mumpung masih jam satu siang ini. Lagian kita jarang-jarang kan bisa kumpul sambil ngopi-ngopi di luar. Sejam dua jam aja lah. Gue males banget kalau harus langsung ke kantor bokap. Bosen tau liatin berkas isinya angka-angka gak jelas," bujuk Alex penuh permohonan.
Alex memang menghabiskan waktunya dari pagi hingga sore untuk kuliah dan bekerja di perusahaan dad Kim. Tentu saja itu sebuah keharusan. Karena dia harus menafkahi istri dan calon anaknya.
Apalagi dad Kim benar-benar tak memberinya uang sama sekali. Ya walaupun biaya kuliah dad Kim yang bayar, tapi untuk kebutuhan sehari-hari dirinya dan Keyra, Alex hanya bisa mengandalkan gajinya dari perusahaan dad Kim.
"Sama gue juga bosan," sahut Mike ikut mengeluh. Bagaimana tidak bosan, dia yang sedikit malas-malasan membuat satu pekerjaan yang harusnya selesai dengan cepat menjadi harus di kerjakan lebih lama bahkan hingga larut malam.
"Ckk.. kalian ini cuma kerja gitu aja ngeluh," sindir Ello.
"Lah elo enak, ada kak Agam yang bantuin ngurus perusahaan. Tinggal tunjuk sana sini tau-tau kerjaan beres," ujar Alex. "Lagian sekarang 'kan bini lo udah tinggal di rumah papa Arya. Dan ada mama Rani juga yang jagain anak lo. Belum lagi ada dua baby sitter yang jagain Nadeo. Jadi gak pa-pa kali kita nongkrong bentaran doang. Gue juga yakin Ayura gak bakalan marah," sambung Alex masih mencoba membujuk Ello. Dia benar-benar butuh teman ngobrol sambil bersantai. Membayangkan hal itu membuat dirinya ingat saat-saat mereka belum menikah dan memiliki istri.
"Emang lo gak kangen bini lo?" tanya Ello curiga. Karena biasanya Alex lah yang paling menempel pada istrinya yang sedang hamil. Apalagi kehamilan Keyra baru memasuki trimester ke dua.
"Dia pergi nemenin mommy arisan," jawab Alex lesu.
"Cihh... pantesan." Ello menatap sinis sahabatnya itu.
"Udah gak usah ngliatin gue gitu. Gue emang selalu paling ganteng. Jadi lebih baik sekarang kita masuk mobil." Alex langsung masuk ke dalam mobil Ello tanpa permisi. Apalagi tadi dirinya memang tak membawa mobil saat pergi ke kampus.
"Mike, buruan lo masuk mobil lo sendiri. Kita ke cafe biasa," ucap Alex setelah menurunkan kaca jendela mobil.
"Emang biasanya kita ke cafe mana?" tanya Mike bingung.
Jujur saja sudah sejak lama mereka bertiga tak pernah kumpul bersama dalam artian hanya bertiga, benar-benar bertiga. Hingga Mike sendiri lupa mereka sering nongkrong di cafe mana.
"Green cafe dodol," sahut Alex sebal. Bisa-bisanya Mike melupakan tempat favorit mereka setahun yang lalu.
Iya setahun yang lalu sebelum kehadiaran Ayura. Karena sejak Ello menikah mereka akan nongkrong berempat bersama istri sahabatnya itu.
"Dodol di garut gak disini," sahut Mike yang langsung naik ke dalam mobilnya yang kebetulan terparkir tepat di sebelah mobil Ello.
Pada akhirnya kedua mobil itu pun beriringan keluar dari area parkir kampus menuju green cafe yang jaraknya kebetulan tak begitu jauh karena hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit saja.
...***...
Hari ini Floryn tak ada kelas hingga sejak pukul sebelas dirinya sudah berada di cafe untuk bekerja.
Ya dia harus bekerja karena setelah keluar dari rumah besar ayahnya, Floryn tak lagi mendapat uang dari sang ayah. Baik itu uang jajan ataupun uang untuk membayar biaya kuliahnya.
Dan untung saja sejak dulu Floryn bukan orang yang boros. Hingga dirinya masih memiliki sedikit tabungan untuk bertahan hidup sebelum mendapatkan pekerjaan menjadi pelayan cafe.
Selain menjadi pelayan cafe, Floryn juga mempunyai sampingan mengajar les bahasa inggris untuk beberapa anak di salah satu komplek perumahan.
Hasilnya pun bisa di bilang cukup lumayan untuk tambahan membayar uang kuliahnya. Ya walaupun dia harus sangat-sangat berhemat.
Jam hampir menunjukan pukul setengah dua siang. Hingga cafe tempat Floryn bekerja mulai sedikit sepi setelah jam makan siang usai.
Ya biasanya cafe akan rame saat jam makan siang dan setelah jam pulang kantor hingga malam. Sedangkan antara pukul satu hingga pukul lima, cafe akan sedikit sepi. Itu dikarenakan hampir enam puluh persen pelangan disana adalah pekerja kantoran.
"Floryn, kamu yang jaga kasir dulu ya. Soalnya Tari sakit perut. Dan saya memintanya untuk pulang," ujar seorang pria yang tak lain adalah manager cafe itu.
"Baik pak," jawab Floryn.
Ini bukan pertama kalinya dia menjaga kasir. Karena setelah hampir dua bulan bekerja di cafe ini, Floryn mulai di percaya untuk menggantikan posisi itu jika penjaga kasir harus izin seperti saat ini.
Belum ada lima menit duduk di meja kasir, Floryn sudah harus melihat sepasang manusia yang paling dia benci masuk ke dalam cafe tempatnya bekerja.
"Untuk apa mereka kesini?" gumam Floryn sembari menatap mantan sahabat dan kekasihnya yang tengah bergandengan mesra dan berjalan ke arahnya. Sepertinya baik Gladis maupun Jordy sudah siap mengungkap hubungan perselingkuhan mereka pada Floryn.
"Floryn," sapa Jordy.
"Untuk apa kalian kesini?" tanya Floryn datar.
Sakit hati? Tentu saja sakit. Tapi Floryn memilih untuk menyembunyikan sakit hatinya dan menahan rasa sesak itu sendirian. Dia tak mau terlihat lemah di depan para pengkhianat.
"Kita mau kasih ini ke elo." Gladis menyodorkan undangan ke arah Floryn. "Undangan pernikahan gue sama Jordy. Lo datang ya weekend ini," pinta Gladis tanpa merasa bersalah. Padahal saat ini Floryn masih berstatus kekasih Jordy. Bahkan belum ada kata putus di antara mereka berdua.
"Floryn, gue bisa jelasin," ucap Jordy yang terlihat tak enak hati.
"Gue akan dateng!" Floryn menerima undangan itu dan mengabaikan ucapan Jordy yang pastinya hanya berisi pembelaan.
"Bagus. Gue harap lo jangan ganggu calon suami gue lagi!" ucap Gladis memperingatkan.
"Sayang kamu disini?" Floryn keluar dari balik meja kasir dan langsung melingkarkan tangannya ke seorang pria yang baru saja datang.
ada2 aja tingkah mreka...