Namaku Khoirunnisa, aku anak dari sepasang suami istri yang sholeh dan merupakan ustad dan ustadzah. namun aku bukanlah seorang wanita yang sholehah. aku selalu membuka auratku jika bepergian. aku tak mendengarkan nasihat kedua orang tuaku. hingga malam kelam itu terjadi. aku di nodai oleh orang yang tidak ku kenal. sejak saat itu aku memilih untuk menutup auratku dan tinggal di pesantren sambil meneruskan kuliahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak tunangan
Tak lama makanan yang sudah di pesan Pak Alex sudah datang. mereka memilih untuk menikmati makanan itu. setelah selesai makan mereka memilih untuk menikmati hidangan penutup.
"Maaf Ahmad, berhubung anak-anak kita sudah ada disini gimana kalau kita langsung tukar cincin." ucap Pak Alex membuka suara.
"Memangnya Pak Alex sudah menyiapkan?" tanya Pak Ahmad
"Sudah dong, kan niat banget untuk menikahkan anak kita." jawab Pak Alex
Uhuk uhuk
Nisa yang sedang memakan puding tersedak saat mendengar kata nikah.
Alvin hanya diam saja karena tak ingin terlihat jelek di mata Pak Ahmad dan Bu Siti. padahal dalam hatinya dia ingin sekali untuk menolaknya.
"Nis hati-hati dong kalau makan." Bu Siti menyodorkan gelas berisi air minum kepada Nisa.
"Makasih Mah" Nisa mengambil gelas itu lalu langsung minum.
"Sama-sama" Bu Siti menatap anaknya yang sepertinya gerogi duduk di hadapan Alvin.
Nikah? sama lelaki yang sudah menodaiku. apa memang dia jodohku. tapi kenapa harus di pertemukan dengan cara seperti itu? aku rasa dia tidak mengenaliku karena aku memakai hijab. mau nolak tapi rasanya tak pantas. memangnya siapa lelaki di luar sana yang mau menikah dengan wanita yang sudah tidak Virgin. hm, ya sudah lah." batin Nisa yang mau mencoba untuk menerima Alvin.
Bu Hilya segera mengambil cincin yang sudah dia siapkan. lalu memberikannya kepada Alvin.
"Vin, pasang cincin ini di jari Nisa." pinta Bu Hilya
"Baik Mah" jawab Alvin dan langsung membuka tempat cincin itu.
"Nis, tangannya" ucap Alvin sambil tersenyum menatap Nisa.
Hm kalau bukan terpaksa males banget aku senyum-senyum gini kayak orang jatuh cinta." batin Alvin
Kini Alvin sudah menyematkan cincin di jari Nisa. begitupun Nisa yang juga menyematkan cincin di jari Alvin. mereka segera berfoto bersama mengabadikan momen berbahagia itu. Bu Hilya sangat antusias mengambil foto kebersamaan mereka.
"Alhamdulilah, terus kapan anak-anak kita menikah?" tanya Bu Hilya
"Saya sih terserah keluarga Ibu saja." ucap Bu Siti
"Tapi disini Nisa masih kuliah. kita mau bikin pesta pernikahan pada umumnya atau hanya ijab saja. ini sih terserah anak-anak." sahut Pak Alex ikut berbicara.
"Ijab dulu saja Pak." ucap Nisa
"Alvin juga setuju sama Nisa." sahut Alvin ikut bicara.
"Yakin mau ijab saja?" Kini Bu Siti bertanya kepada anaknya.
"Iya Mah, nanti resepsinya setelah Nisa lulus kuliah atau setelah kita berdua siap. karena kita juga butuh waktu untuk saling mengenal." jelas Nisa
"Ya sudah kalau itu alasan kamu Ibu juga setuju Nak." kata Bu Hilya menyetujui.
"Baiklah, Papah ikut setuju Nis." ucap Pak Ahmad
"Bagaimana jika anak-anak kita nikahnya satu bulan lagi." Pak Alex mengusulkan niat baik mereka.
"Kita setuju, iya kan Pah?" ucap Bu Siti sambil menatap suaminya.
"Iya Mah, Papah juga setuju." jawab Pak Ahmad.
"Alhamdulilah" ucap Pak Alex dan Bu Hilya bersamaan.
Sedangkan Nisa dan Alvin hanya menatap orang tua mereka yang terlihat bahagia.
"Saya mau pamit pulang dulu yah Lex. harus ngajar takut telat. kebetulan sudah selesai juga kan acara makan siangnya." ucap Pak Ahmad
"Oh iya Pak, mari kita pulang." jawab Pak Alex
"Nisa kamu sama Papah saja ayo pulangnya." ajak Pak Ahmad
"Biar sama Alvin saja yang mengantar Nisa ke pesantren. lagian agar mereka bisa saling mengenal." ujar Bu Hilya memberikan sarannya agar anaknya yang mengantarkan Nisa.
Ah apa-apaan ini Mamah." batin Alvin
"Tapi--" Pak Ahmad hendak bicara namun terlebih dahulu Bu Siti memotong perkataannya.
"Iya Bu, saya juga setuju." ucap Bu Siti
"Ya sudah ayo kita langsung pergi sekarang saja Mah." ajak Pak Alex
Kini mereka keluar dari ruangan itu. Pak Alex berjalan berdampingan dengan Istrinya. begitupun Pak Ahmad juga berdampingan dengan Istrinya. di belakang mereka ada Alvin. dan Nisa mengekor di belakang Alvin.
Mereka sudah sampai di parkiran restoran dan langsung masuk ke dalam mobil masing-masing. Nisa duduk di sebelah Alvin yang hendak mengemudi.
"Kemana kita?" tanya Alex
"Pesantren milik Pak Alex." jawab Nisa
"Oh kuliah disana ternyata. ngomong-ngomong kok aku lihat kamu kayak tidak asing yah. apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Alvin sambil fokus mengemudi.
"Sebenarnya kita--" Nisa hendak bicara namun ragu-ragu.
"Ah itu tidak penting." ucap Alvin dan Nisa tak jadi berbicara.
"Oh iya untuk pernikahan kita aku tahu kita tidak saling mengenal. aku juga tidak mau menikah sama kamu karena aku sudah punya kekasih. tapi sepertinya tak apalah kalau kita bersandiwara di depan orang tua kita." ujar Alvin yang terus mengoceh.
What bersandiwara? dia benar-benar menyepelekan pernikahan." batin Nisa tak habis fikir dengan jalan fikiran Alvin.
"Gimana? kamu setuju kan?"
"Ah iya setuju, tapi untuk kewajiban seorang Istri apa aku harus melakukannya?"
"Hahaha memangnya aku mau tidur sama kamu. kita biasa saja tidak perlu ngapa-ngapain walaupun sudah menikah. cukup bersandiwra di depan orang tua kita." jelas Alvin
"Baiklah" jawab Nisa
Tak terasa kini mobil yang di kemudikan oleh Alvin sudah sampai di depan pesantren. Nisa segera turun setelah berterima kasih dengan Alvin karena sudah mengantarnya.
Iqbal melihat Nisa yang baru keluar dari mobil.
Dari mana Nisa? kok bisa keluar masuk pesantren? padahal masih santri baru loh." batin Iqbal sambil memperhatikan Nisa yang sedang berjalan menuju ke Asrama Putri.
"Jangan di pandang terus. kalau cinta halalkan." ucap Pak Ustad yang kini sedang berdiri di sebelah Iqbal.
"Eh Pak Ustad, kapan datang?"
"Tadi saat kamu lihatin primadona pesantren."
"Iya Pak, sekarang santri putra banyak yang membicarakan Nisa."
"Makannya cepat-cepat bertindak sebelum di ambil orang."
"Iya Pak do'akan saja." ucap Iqbal
Setelah selesai mengobrol keduanya memilih ke Masjid. karena Iqbal akan hafalan secara khusus bersama Ustad. Iqbal merupakan santri teladan di pesantren itu. dia juga di angkat menjadi Asisten Ustad dan terkadang membantu mengajar.
Nisa sudah sampai di kamarnya. dia yang baru datang di tanyai berbagai pertanyaan oleh Melda.
"Nis kamu dari mana? kok bisa keluar? ih kenapa tidak ajak-ajak? kamu pergi sama siapa?" tanya Melda sambil menatap Nisa.
"Sudah bicaranya?"
"Ih ngeselin deh ditanya malah jawab gitu." gerutu Melda
Melda masih memperhatikan Nisa.
"Kan kemarin sudah bilang jika ada pertemuan keluarga." ucap Nisa
"Oh iya aku lupa Nis." kata Melda sambil cengengesan.
Tak sengaja Melda melihat cincin yang ada di jari Nisa. setahunya Nisa itu tidak memakai cincin di jari tengahnya.
"Nis, kamu habis lamaran?" Melda bertanya dengan suara agak keras.
"Stt jangan keras-keras kalau bicara." ucap Nisa
"Jadi benar kamu lamaran?"
"Iya Mel, Stt jangan bilang-bilang orang."
"Siap Nis, pasti pada potek nih hati penggemarmu. secara kamu itu primadona disini."
"Jangan berfikiran terlalu jauh."
"Ya kali seperti itu Nis." ucap Melda sambil menatap Nisa yang sedang sibuk mengambil perlengkapan mandi.
"Kamu mau mandi jam segini?" tanya Melda
"Iya Mel, nanti mah ngantri." jawab Nisa lalu segera keluar dari kamarnya.
Melda kembali rebahan di atas kasur. dia memang seperti itu tak ada jera-jeranya walaupun sering di hukum.
emng nya org hamil gmpang kn trgntung d kasih nya sm Allah swt .
nyatanya nisa hamil.. tapi... jgn" trlnjur nikah sama c nita lg hadehhhhh hncur hatiku kata nisa .. ikut sedih aku thorr mrskn hti ny nisa