NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Tamat
Popularitas:4.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Suesant SW

Dara anak seorang pembantu di jodohkan dengan seorang pewaris tunggal sebuah perusahaan karena sebuah rahasia yang tertulis dalam surat dari surga.

Dara telah memilih, menerima pernikahannya dengan Windu, menangkup sejumput cinta tanpa berharap balasannya.

Mampukah Dara bertahan dalam pernikahannya yang seperti neraka?
Rahasia apa yang ada di balik pernikahan ini?

Mampukah Dara bertahan dalam kesabaran?
Bisakah Windu belajar mencintai istrinya dengan benar? Benarkah ada pelangi setelah hujan?

Ikuti kisah ini, dalam novel " Di Antara Dua Hati"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 BIBIT DENDAM

Dara membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa sakit.

Yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit kamar tinggi berwarna abu-abu muda light gray yang terkesan dingin tapi tidak suram.

Dia mengumpulkan kesadarannya, mengingat dengan benar bahwa ini adalah kamar pribadi milik Windu. Ternyata dia belum keluar dari kamar lelaki yang telah mencercanya dengan kejam sepanjang pagi ini.

Dara mengedarkan pandangannya sambil meletakkan punggung tangannya di dahi.

Seseorang yang sangat di kenalnya sedang menatap wajahnya dengan raut cemas.

"Nyonya muda..." Mbak Parmi memanggilnya dengan suara perlahan.

"Mbak?" Dara berusaha bangun.

"Nyonya sedang sakit. Tuan muda sudah memanggilkan dokter Niko untuk memeriksa nyonya." Mbak Parmi menjawab.

Dokter Niko adalah dokter pribadi keluarga Danuar, jadi sudah biasa meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah jika di perlukan.

Dara membuang pandangannya ke sekeliling, mencari-cari sosok Windu, dia kuatir pertengkaran mereka akan berlanjut di depan mbak Parmi.

"Tuan muda berangkat ke kantor, ada urusan mendadak karena tuan besar sedari pagi sudah berangkat ke Surabaya untuk ngecek pabrik." Mbak Parmi sepertinya mengerti apa yang sedang di cari-cari oleh Dara.

"Oh..." Dara menganggukkan kepalanya kepada mbak Parmi yang masih terlihat mencemaskan keadaan dirinya.

"Nyonya kenapa?" Tanyanya lagi.

"Aku tidak apa-apa mbak..." Dara beringsut bangun dan duduk di tempat tidur.

"Tapi...tuan muda minta nyonya harus tetap berada di kamar ini, sampai dokter Niko tiba."

Dara mengernyitkan keningnya menatap kepada mbak Parmi.

"Kenapa aku harus berada di sini? bukankah dokter Niko bisa menemuiku di kamar bawah?" Tanya Dara dengan heran.

"Tuan muda tadi berpesan begitu, saya di suruh menjaga nyonya di sini sampai tuan muda kembali." Jawab mbak Parmi.

"Aku tak harus menunggunya di sini." Dara menukas dengan raut keberatan.

"Tapi..." Mbak Parmi tampak ragu.

"Aku akan kembali ke kamar bawah saja." Dara berusaha turun dari tempat tidur.

"Nyonya..." Mbak Parmi meraih tangan Dara seolah berusaha menahannya.

"Sepertinya, tuan muda sangat cemas tadi. Nanti dia akan marah, jika saat pulang tidak menemukan nyonya muda di kamarnya."

Mbak Parmi berucap ragu.

"Dia mencemaskanku?" Dara menatap dengan heran kepada mbak Parmi.

Mbak Parmi mengangguk dengan yakin.

"Ka Windu mencemaskan aku?" Dara merasa tidak yakin dengan apa yang di dengarnya.

"Tuan muda saking cemasnya sampai memanggilkan orang serumahan untuk memeriksa nyonya. Katanya nyonya pingsan tiba-tiba, kelihatannya tuan muda sangat takut terjadi apa-apa pada nyonya."

Dara mencoba mencerna semua penjelasan mbak Parmi, sebelum sesungging senyum sinis muncul samar di bibirnya.

"Ya, dia mencemaskan aku, karena takut terjadi sesuatu padaku. Dia tak ingin menjadi tertuduh telah mencoba menganiaya aku. Bukan karena dia perduli." Dara membathin sambil meringis.

"Dia tidak akan marah, mbak." Dara berdiri tegak, bersiap untuk keluar dari kamar yang di bencinya ini, dimana dia mengira Windu mencumbunya karena menyukainya tapi ternyata melakukannya karena membayangkan orang lain.

Dara berjanji dalam hati, saat dia melangkahkan kaki keluar dari kamar ini, dia tidak akan kembali lagi ke ruangan ini.

"Tapi, tuan muda berpesan..."

"Mbak, aku yang akan bertanggungjawab jika dia mempermasalahkannya." Sahut Dara cepat.

Raut wajah Dara terlihat tanpa ekspresi, tatapannya pun sungguh berbeda.

Rasa sakit sepertinya merubah sebagian sikapnya.

Mbak Parmi menatap Dara yang menepis tangannya secara halus, lalu dengan terhuyung- huyung keluar dari kamar Windu.

Masih terbayang kata-kata Windu, bahwa dia tidak pernah bermimpi untuk menikahi anak pelayan yang tidak selevel dengannya.

Kalimat itu serasa berdengung di kepalanya, membuatnya merasa hampir kesulitan bernafas.

Windu secara terbuka menghina dirinya!

Dokter Niko tiba tidak sampai setengah jam kemudian, memeriksa Dara yang masih lemas.

"Ibu Dara hanya perlu istirahat, dia sepertinya terlalu lelah dan agak depresi. Mungkin ada tekanan yang membuatnya sedikit stres akhir-akhir ini." Kata Dokter Niko.

"Hanya beristirahat yang cukup, jaga pola makan, tidak usah terlalu banyak fikiran yang berat-berat. Minum obat dan vitamin ini saja selama beberapa hari, ibu Dara akan pulih kembali."

Dara hanya mengiyakan saja tanpa banyak bicara saat dokter Niko meresepkan beberapa macam obat sebelum pergi.

Dia hanya ingin segera mengurung diri di dalam kamar dan tak mau bertemu siapa-siapa.

Jangan sakiti orang yang mencintaimu dengan sangat karena jika dia merasa terluka, maka yang bersisa adalah dendam.

Dara lamat-lamat mengingat barisan kalimat itu, saat di lontarkan Isaya teman akrabnya waktu SMA, entah mengapa sekarang dia mulai merasa kata-kata yang tiba-tiba muncul tiba-tiba di benaknya itu adalah sesuatu yang mungkin benar.

Karena pelan-pelan hatinya yang terluka tiba-tiba sedikit menyimpan sedikit bibit dendam atas perlakuan Windu. Meskipun dia memang tak sepadan dengan laki-laki yang berpendidikan tinggi dan high class itu tapi setidaknya hargailah perasaannya dengan memilah kata-kata yang sedikit lebih baik untuk di dengar.

Dara berfikir mungkin dia lebih baik keluar dari rumah ini, toh Mama Windu sudah meninggal, tak akan bisa bangun untuk mempermasalahkan pernikahan mereka.

Harga dirinya sekarang lebih penting dari semuanya.

...***...

Menjelang malam, Windu baru pulang sementara Dara tidak mau keluar dari kamarnya.

Dia benar-benar enggan bertemu dengan Mahluk batu es yang kejam, suami yang menyebutnya istri warisan dan tak sabar menunggu kabar perceraian darinya.

Tok! Tok! Tok!

Sebuah ketukan di pintu kamar, Dara beringsut membukanya, mungkin mbak Parmi mau mengecek keadaannya dan mengambil nampan bubur yang tadi di antar ke kamarnya, atas permintaan Dara. Dia memang cuma berselera dengan bubur ayam saja saat ini, liurnya sedang tidak bersahabat.

Atau asisten rumah tangga yang lain hendak membicarakan sesuatu dengannya, maklumlah sejak meninggalnya Nyonya besar Danuar, semua urusan rumah di bawah kepengurusan Dara selaku istri Windu.

Saat Dara membuka pintu, tak dinyana ternyata yang berdiri di sana adalah Windu.

Dara menatap laki-laki itu dengan pandangan acuh.

"Ada apa?" Tanya Dara pendek, tangannya masih berada di gagang pintu, bersiap-siap menutupnya kembali.

"Aku mengantarkan barangmu yang ketinggalan." Windu mengacungkan bra coklat di tangannya. Seketika wajah Dara memerah.

Memang tak puas-puasnya Windu mencoba mempermalukan dirinya.

Dengan sedikit kasar Dara merampas barang itu dari tangan Windu.

"Aku terpaksa mengantarnya sendiri, karena kalau ku titipkan lewat mbak Parmi, kamu akan lebih malu lagi." Windu membicarakannya seolah dia perduli, tapi Dara tahu, itu hanya kalimat halus untuk menghina dirinya.

"Aku lebih suka jika tuan muda membuangnya saja ke tong sampah." Dara menyahut dingin.

Dia sekarang tak merasa takut lagi kepada Windu, karena sebentar lagi mereka bukan siapa-siapa.

"Jika tidak ada urusan lain, saya akan menutup pintu, tuan muda." Sindir Dara, sejak kejadian tadi pagi, dia memang tak mau lagi memanggil Windu dengan kak Windu seperti selama ini dia memanggil laki-laki itu, sesuai yang di ajarkan mama Windu semasa dia masih melayaninya.

"Aku akan tidur di sini malam ini...!" Wajah Windu yang dingin itu dengan tajam menatap Dara, lalu dengan kasar mendorong pintu lebih lebar, melangkah masuk dengan langkah panjang melewati Dara yang tercengang, masih di depan pintu.

...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...

...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

...I love you all❤️...

1
Arlini Pakan
Kecewa
Arlini Pakan
Buruk
Visencia Alingga
Luar biasa
Visencia Alingga
Lumayan
heni hariati
nyimak
Mebang Huyang M
Luar biasa
Mebang Huyang M
ngulang lagi baca ceritamu thor . kangen dgn mba dara yg imut.
Riska Afzal
😭😭😭
Tiara
Novel terbaik yg pernah aq baca di aplikasi ini 🙏🙏🙏🙏
Terimakasih
Tiara
Cerita ini ada "isi" nya. Terimakasih penulis udah menuangkan sesuatu yg sangat baik, sesuatu yang sangat menginspirasi. Banyak pelajaran yang bisa dipetik, sangat mengagumkan.
Rangkaian katanya indah tapi mudah dimengerti.
Karakternya tokoh2nya kuat,
Alurnya jelas, jadi tidak melewatkan 1 kalimatpun,
Sekali lagi Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
Eny Frihdihastuti
aku suka jalan ceritanya.
author pandai merangkai kata.
tapi tak pandai memilih visual windu, ga cocok tor sama dara haha maap ya tor 🙏
JandaQueen
apakah itu harus cuci darah spt pd org yg alami gagal ginjal ya..?
JandaQueen
dan kata2 keramat itu akhirnya meletusss
JandaQueen
berani ngapa2in bocah imut ku, tak santet onlen kau pak eko...🤣🤣
JandaQueen
ah si imut radith, suka sama cewek lebih tua ini rupanya... sini nak... tante aja yg peluk kamu... 😄
Vitriani
Lumayan
Dewa Rana
nangis aku thor 😭😭😭
Romi Tama
ya Allah😭😭😭
ami
Luar biasa
iren thezer
suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!