Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.
Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.
Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Suami Sempurna
Diana kembali ke kamarnya setelah gagal menaklukan Jayden tadi. Ia pun menjadi sangat kesal karena ia sedang ingin sekali bercinta saat ini. Namun, karena Jayden menolaknya maka ia hanya bisa menahannya saja, karena ia juga tidak mungkin pergi ke luar untuk mencari pria lain sekarang.
Jayden pasti akan curiga padanya nanti jika ia menyelinap keluar di tengah malam. Diana kemudian duduk di sofa dan mulai menggigiti kuku ibu jarinya. Itu adalah kebiasaan buruknya sejak lama ketika ia sedang gusar.
'Ada apa dengan Jayden? Mengapa sikapnya semakin aneh saja akhir-akhir ini? Bukankah tadi dia sudah terpancing, lalu mengapa tiba-tiba malah mengusirku? Apa karena aku mengatakan keinginanku ingin memiliki bayi?'
Diana masih terus menggigiti kukunya itu bahkan terkadang tanpa sadar, ia melukai kulitnya hingga berdarah.
'Tadi saat di pesta sikap Jayden juga aneh. Ia terlihat kesal saat wanita tua itu berniat menggugurkan bayi menantunya hanya karena masalah jenis kelamin, dan Jayden juga selalu menatap ke arah wanita itu. Apa dia adalah salah satu wanita Jayden? Dan sekarang wanita itu sedang hamil bayinya?'
Diana kemudian bangkit dari sofa dan berjalan mondar mandir di dekat jendela.
'Tidak. Tidak. Itu tidak mungkin. Jayden tidak akan membiarkan wanita yang tidur dengannya untuk mengandung benihnya. Dia tak mungkin melakukan hal bodoh itu.
Lagi pula aku pun mengetahui semua j*lang yang pernah tidur dengan Jayden selama ini. Tetapi, aku sama sekali tidak mengenal wanita tadi. Jadi dia pasti bukan salah satu wanita simpanan Jayden, karena dia bukanlah tipe Jayden.'
Diana memang tak mempermasalahkan Jayden yang memiliki banyak kekasih di luar sana karena Jayden memang tidak suka dikekang. Selama statusnya adalah calon istri sang pewaris Zhou Corp., maka ia pun dapat menahan semua rasa amarah dan cemburunya.
Terlebih lagi Jayden bukanlah tipe pria yang suka bermain hati dengan para wanitanya. Jayden hanya menjadikan mereka sebagai penghangat ranjangnya. Karena pria itu memang mudah bosan dan tak akan menetapkan hati hanya pada satu wanita.
Namun, Diana juga harus tetap mengamankan posisinya sebagai tunangan Jayden. Ia tidak akan rela jika harus kehilangan pria itu dan semua harta kekayaannya.
'Sepertinya aku harus memastikan hal ini sekali lagi. Jangan sampai nanti Jayden akan memutuskan hubungannya denganku hanya karena j*lang itu.'
Diana segera berjalan ke arah nakas. Ia meraih handphone-nya untuk menelepon seseorang dan memastikan kecurigaannya.
.
.
.
MD Incorporation
Hari telah berganti pagi. Tak ingin berlarut-larut dalam masalah dan kesedihannya, Jesslyn pun memutuskan untuk kembali bekerja. Begitu sampai di kantornya, Jesslyn segera memulai aktivitas hariannya.
Ia melihat Ryan yang baru saja tiba di ruangannya dan Jesslyn pun segera pergi ke pantry untuk membuat kopi. Setelah siap, Jesslyn kemudian bergegas menyajikan secangkir kopi hangat itu di meja Ryan.
"Selamat pagi, CEO Huang. Ini kopi Anda," ucap Jesslyn seraya tersenyum menyambut kehadiran atasannya itu, yang juga merupakan suami kawan baiknya, Martha Liu.
"Terima kasih, Jessy." Ryan menarik kursinya dan bersiap untuk memulai pekerjaannya.
"Sama-sama, CEO Huang. Permisi."
Jesslyn ingin beranjak pergi dari ruangan Ryan, tetapi pria itu segera menghentikannya.
"Tunggu dulu, Jessy!"
"Ada apa, CEO Huang?" tanya Jesslyn seraya berjalan mendekat lagi ke arah meja kerja Ryan.
"Tolong kau antarkan rancangan gaun dan perhiasan ini untuk Manager Shen di Zhou Corp."
"Apa? Mengantarkan file design?" tanya Jesslyn terkejut.
"Ya, benar," jawab Ryan.
"Tetapi, mengapa aku? Bukankah seharusnya ...."
Jesslyn tak meneruskan kata-katanya. Namun Ryan mengerti apa maksud Jesslyn. Sebenarnya Ryan pun bingung saat Diana meneleponnya semalam dan mengatakan jika Diana ingin Jesslyn yang mengantarkan file design ini kepadanya di kantor pusat.
Karena biasanya yang akan mengantarkan rancangan itu kepada klien adalah sang designer-nya sendiri atau para staf dari bagian design. Sedangkan Jesslyn adalah seorang sekretaris CEO yang tidak begitu mengerti tentang detail produk yang sedang dirancang.
"Aku juga tidak mengetahui dengan pasti mengenai alasannya. Hanya saja ini adalah permintaan langsung dari Manager Shen yang memintamu secara khusus untuk mengirimkannya ke sana. Apa kau mengenal Manager Shen, Jessy?" tanya Ryan curiga akan sikap Diana kepada Jesslyn.
"Manager Shen? Tidak, aku tidak mengenalnya secara langsung?"
Jesslyn menggelengkan kepalanya. Ia memang tidak mengenal Diana. Jesslyn baru bertemu wanita itu semalam, tetapi tanpa kontak apa pun seperti menyapa atau berbincang akrab.
Jesslyn hanya melihatnya saja dari kejauhan karena Diana memang selalu berada di sekitar bos besarnya yaitu Jayden dan Ryan. Maka dari itu, Jesslyn sangat bingung dengan sikap Diana. Ia tidak pernah merasa telah menyinggung wanita itu, lalu mengapa Diana bersikap seolah sedang mempersulitnya.
Mengantarkan dan memperkenalkan hasil karya orang lain, tanpa melibatkan sang pencipta karya tersebut sangatlah tidak etis. Terlebih lagi hal ini bukan karena sang designer tidak bisa hadir di sana, melainkan tidak diperbolehkan untuk ikut serta.
'Jessy memang sudah hampir dua tahun bekerja di sini, tetapi Zhou Corp. memang belum lama mengakuisisi MD Inc. Jadi wajar saja jika Jesslyn tidak banyak mengenal orang-orang dari kantor pusat itu. Lalu mengapa Manager Shen seperti sedang menargetkan Jessy?' gumam Ryan yang melihat kegusaran di matanya sekretarisnya itu.
Jesslyn tahu jika Ryan pun sedang bingung, tetapi pria itu juga tidak mampu berbuat banyak, karena ini adalah perintah langsung dari kantor pusat. Maka Jesslyn pun segera berbicara dengan atasannya itu.
"Baiklah, CEO Huang. Jika memang itu adalah perintah langsung dari kantor pusat maka aku akan mengantarkannya ke sana."
"Apa kau yakin?" Ryan mempertanyakan keseriusan Jesslyn.
"Iya. Aku akan mempelajari data-data itu secepatnya, agar tidak terlalu memalukan," ucap Jesslyn seraya tersenyum. Ryan pun hanya menghela napasnya.
"Baiklah. Tetapi, kau harus tetap berhati-hati. Ia adalah wanita yang sedikit sulit dikendalikan dan terkesan arogan, karena ia merupakan tunangan Presdir Zhou," terang Ryan.
Jesslyn pun memahami akan hal itu. Diana pasti bersembunyi di balik kekuasaan Jayden, untuk berbuat sesuka hatinya kepada siapa pun yang dianggapnya sebagai musuhnya.
"Baik. Aku mengerti. Anda tidak perlu khawatir, CEO Huang. Aku akan melakukan yang terbaik."
"Terima kasih, Jessy." Ryan tersenyum melihat semangat Jesslyn. "Oh ya, hampir saja aku lupa. Istriku ingin makan siang denganmu nanti."
"Martha mengajakku makan siang?"
"Iya. Setelah kau kembali dari kantor pusat, kau tidak perlu lagi kembali ke MD. Aku akan memberikanmu izin untuk bekerja setengah hari saja hari ini. Aku tahu, Martha pasti akan mengajakmu untuk pergi berbelanja setelah makan siang. Jadi tolong kau temani dia.
Sejak Martha hamil besar hingga akhirnya ia melahirkan bayi kami beberapa waktu yang lalu, Martha selalu berada di rumah dan tak pernah pergi bersenang-senang di luar. Aku ingin kau membantu untuk menghiburnya. Jangan sampai ia bosan hingga terkena baby blues. Itu akan berdampak buruk baginya dan bayi kami nanti."
Jesslyn melihat kekhawatiran dan cinta di wajah Ryan. Ryan tidak ingin Martha mengalami baby blues (gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan). Seketika, Jesslyn pun menjadi iri dengan Martha.
Sahabatnya itu mempunyai suami yang sangat mencintainya dan juga bayi mereka. Sedangkan, Peter selalu bersikap dingin kepadanya dan semalam pun Peter dan Jesslyn bertengkar hanya karena masalah jenis kelamin bayi mereka. Lagi-lagi Jesslyn hanya bisa menghela napasnya memikirkan Peter.
'Martha sungguh beruntung memiliki suami yang sangat baik seperti Ryan. Andai saja Peter juga dapat mencintaiku dan bayi kami, seperti cinta Ryan pada keluarganya, saat itu aku pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia.'
Ryan melihat Jesslyn yang terus termenung sejak tadi dan mengabaikannya, maka Ryan pun memanggilnya.
"Jessy! Jessy! Kau dengar aku?!" panggil Ryan dan Jesslyn pun sedikit tersentak kaget.
"Ah! Iya. Aku mengerti, CEO Huang. Aku akan menemani Martha nanti. Baiklah, jika tidak ada hal lainnya, aku permisi dulu. Aku harus secepatnya mempelajari data-data ini dan mengirimnya ke kantor pusat."
"Ya, baiklah. Silahkan."
Jesslyn pun beranjak dari ruangan Ryan dan kembali ke meja kerjanya. Ia kemudian mempelajari lembaran demi lembaran kertas itu. Untuk lebih meyakinkan pemahamannya akan design tersebut, maka ia pun bertanya langsung kepada sang designer-nya. Setelah semuanya beres, maka Jesslyn pun segera pergi ke Zhou Corp. untuk bertemu dengan Diana.
.
.
.