NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Ting!

Suara berdenting yang sangat familiar mendadak berbunyi di dalam kepala Husen.

Layar biru transparan yang hanya bisa dilihat olehnya kembali muncul mengambang di udara.

[Misi Kolektif Pertama Terpicu!]

[Nama Misi: Kebangkitan Kelas Buangan]

[Deskripsi: Capai nilai rata-rata 75 untuk seluruh murid kelas XI-7 di ujian tengah semester mendatang]

[Hadiah: 500 Poin Pengalaman, Skill Aura Mengajar Pasif]

[Hukuman jika gagal: Host akan dikeluarkan dari sekolah dengan paksa, dan kelas XI-7 akan dibubarkan secara permanen oleh pihak yayasan]

[Apakah Host menerima misi?]

[Ya / Tidak]

Husen menelan ludah melihat syarat hukuman yang tertera di layar sistem tersebut.

"Ternyata sistem ini bisa membaca situasi dan memberikanku target yang lebih tinggi dari taruhanku sendiri."

"Tujuh puluh lima bukanlah angka yang mudah untuk kelas yang tidak pernah belajar selama setahun penuh."

Tanpa ragu sedikit pun, Husen memilih opsi Ya di dalam pikirannya.

Layar biru itu menghilang dan digantikan oleh deretan angka kecil di atas kepala setiap murid.

Angka-angka itu menunjukkan prediksi nilai ujian mereka saat ini, dan semuanya berada di bawah angka tiga puluh.

Husen berjalan mendekati meja Nisa yang sedari tadi hanya diam menyimak perdebatan tersebut.

"Nisa, saya butuh bantuanmu."

"Kamu yang akan memimpin bimbingan belajar tambahan untuk seluruh kelas mulai hari ini sampai hari Sabtu nanti."

Nisa membetulkan letak kacamata tebalnya dan menatap Husen dengan pandangan tidak percaya.

"Kenapa harus saya?"

"Bapak kan gurunya, lagipula mengajari mereka materi dasar sama saja dengan berbicara pada tembok bata."

Beberapa murid mendelik marah mendengar hinaan Nisa, tapi mereka tidak berani membantah karena memang sadar diri.

"Karena kamu yang paling pintar di ruangan ini, dan mereka butuh bahasa yang bisa mereka pahami dari teman sebayanya."

"Bapak akan menyiapkan seluruh materi dan kisi-kisi pentingnya, tapi kamu yang harus menjelaskannya kepada mereka."

Nisa mendengus pelan dan menyilangkan lengannya di depan dada merasa terbebani.

"Saya tidak mau."

"Membuang waktuku untuk mengajari mereka yang bahkan tidak niat belajar sama sekali adalah pekerjaan sia-sia."

Husen tersenyum tipis dan memutuskan untuk menggunakan sedikit trik psikologis.

"Apakah kamu takut gagal membuktikan bahwa kamu lebih pintar dari anak-anak kelas unggulan itu, Nisa?"

"Jika kelas ini mendapat nilai tinggi berkat bimbinganmu, itu akan menjadi tamparan keras untuk guru-guru yang dulu membuangmu."

Mata Nisa sedikit melebar mendengar kalimat provokasi dari Husen yang tepat mengenai sasaran.

Dia mengingat kembali dendamnya pada sistem pendidikan dan guru-guru manipulatif di masa lalunya.

"Baiklah, saya terima tugas menyebalkan ini."

"Tapi kalau mereka terlalu bodoh untuk mencerna penjelasanku, itu bukan tanggung jawabku, Pak."

Husen tersenyum puas mendengar persetujuan Nisa lalu menoleh ke arah bangku paling belakang.

"Dan Bara, tugasmu mulai hari ini adalah memastikan tidak ada satu pun murid yang bolos dari jam tambahan ini."

"Saya tidak peduli bagaimana caramu, tapi pastikan mereka semua duduk di kursi masing-masing setiap sore."

Bara mengangkat sebelah alisnya dan menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jarinya.

"Sejak kapan gue berubah profesi jadi satpam kelas, Pak?"

"Kalau mereka mau kabur, ya biarin aja, itu urusan mereka sendiri."

Husen melangkah pelan mendekati meja Bara dan menatap tajam ketua geng itu dari jarak dekat.

"Sejak kamu menyadari bahwa direndahkan dan dipanggil sampah oleh guru sombong itu sangat menyakitkan."

"Kamu ketua di kelas ini Bara, ini saatnya kamu memimpin mereka menuju kemenangan, bukan menuju kehancuran di jalanan."

Kata-kata Husen terasa seperti pukulan telak yang menghantam harga diri Bara sebagai seorang pemimpin.

Bara menoleh menatap teman-temannya yang selama ini selalu mengandalkannya dalam setiap perkelahian fisik.

Kini, perkelahian itu bergeser ke ranah akademik, dan mereka semua terlihat kebingungan tanpa arah.

"Cih, dasar guru merepotkan."

Bara berdecak kasar lalu berdiri dan menatap seluruh teman sekelasnya dengan pandangan mengancam.

"Kalian denger instruksi Pak Husen barusan kan?!"

"Mulai hari ini, nggak ada satu pun dari kalian yang boleh cabut dari kelas setelah bel pulang berbunyi!"

Rico menelan ludah ketakutan melihat urat leher bosnya yang mulai menonjol menahan emosi.

"Ta-tapi Bos, kita kan ada jadwal nongkrong di bengkel sore ini."

Brak!

Bara menendang meja Rico dengan keras sampai kursi temannya itu terdorong ke belakang.

"Persetan sama bengkel dan nongkrong!"

"Kalau ada yang berani bolos dari kelas tambahan ini, gue sendiri yang bakal patahkan kaki kalian satu-satu!"

"Gue nggak sudi ngemis maaf sama guru penjilat dari kelas sebelah itu minggu depan!"

Seluruh kelas langsung mengangguk patuh dengan wajah pucat pasi menahan rasa takut yang teramat sangat.

Ancaman fisik dari Bara ternyata jauh lebih efektif daripada hukuman kedisiplinan dari pihak sekolah.

Husen tersenyum lebar melihat dinamika yang mulai terbentuk di dalam kelas buangan ini.

Otak genius Nisa dikombinasikan dengan kekuatan intimidasi Bara adalah resep sempurna untuk sebuah revolusi kelas.

"Bagus sekali."

"Nisa, tolong maju ke depan dan tuliskan jadwal materi yang harus kita kejar dalam lima hari ke depan."

Nisa berdiri dari kursinya sambil membawa sebuah buku catatan tebal di pelukannya.

Sret sret.

Langkah kakinya terdengar pelan saat dia berjalan melewati meja teman-temannya menuju ke depan kelas.

Dia mengambil sebatang kapur dan mulai menulis pembagian bab matematika dengan sangat terstruktur di papan tulis.

"Kita akan mulai dengan persamaan linear dasar."

"Bagi yang tidak tahu cara menghitung perkalian dasar, angkat tangan kalian sekarang juga agar saya bisa memisahkan kelompok kalian."

Rico dan hampir separuh murid laki-laki di kelas itu perlahan mengangkat tangan mereka dengan wajah tertunduk malu.

Nisa menghela napas panjang seolah baru saja melihat beban hidup yang sangat berat di depannya.

"Luar biasa, ternyata fondasi otak kalian benar-benar sudah lapuk dari awal."

"Bara, pastikan orang-orang idiot ini duduk di barisan paling depan agar aku bisa mengawasi mereka lebih dekat."

Bara mendengus pelan namun tetap berjalan memutar dan menarik kerah baju Rico secara paksa.

"Pindah ke depan sekarang, lu semua denger apa kata si bos kacamata itu kan."

"Jangan sampai gue harus pake kekerasan buat pindahin pantat kalian."

Suasana kelas berubah menjadi sedikit kacau tapi penuh dengan energi pergerakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Husen berdiri di sudut ruangan sambil bersedekap dada menyaksikan kolaborasi aneh antara dua murid bermasalah tersebut.

"Mereka mulai terhubung satu sama lain."

"Ini adalah langkah pertama untuk membangun rasa saling percaya di antara sesama murid yang terluka."

Sore harinya, matahari mulai terbenam mengubah langit menjadi warna jingga kemerahan.

Suara bel pulang sudah berbunyi sejak dua jam yang lalu, namun lampu di kelas XI-7 masih menyala terang benderang.

Suara bentakan Nisa dan ancaman Bara sesekali terdengar saling bersahutan memecah keheningan sekolah yang mulai sepi.

"Rumus ini bukan untuk dihapal, tapi dipahami polanya, Rico!"

"Lu kalau nggak paham nanya dong, jangan diam aja kayak patung Pancoran, awas aja kalau ujian lu dapet nol!"

Husen yang sedang mengoreksi beberapa dokumen di meja guru tersenyum simpul mendengar perdebatan kecil itu.

Meskipun metode mengajar Nisa terdengar kasar dan Bara menggunakan ancaman fisik, ada sebuah kehangatan aneh di ruangan itu.

Mereka tidak lagi membolos, mereka tidak lagi berkelahi, mereka sedang berjuang bersama-sama untuk sebuah tujuan yang sama.

"Bertahanlah sedikit lagi, anak-anak."

"Dunia akan segera melihat betapa menakutkannya kebangkitan dari mereka yang pernah dibuang dan dilupakan."

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!