NovelToon NovelToon
Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Beberapa pelayan yang sedang menuangkan air minum sampai menghentikan aktivitas mereka karena takut.

"Jangan-jangan Nona ini memang agen rahasia atau buronan polisi."

Suara hati Nadin yang berdiri di sudut ruangan terdengar sangat panik.

Astiana menahan tawanya mendengar pikiran absurd pelayan mudanya itu.

Dia kemudian mengambil serbet kain dan mengelap sisa remah roti di sudut bibirnya dengan anggun.

"Penyelidikan yang sangat hebat, Tuan Muda Raka, pantas saja kau bangga."

Astiana bertepuk tangan pelan dengan wajah yang sangat datar.

"Tapi sayang sekali, imajinasimu terlalu tinggi seperti menonton film aksi."

"Apa maksudmu."

Raka mengerutkan keningnya merasa tidak suka gaya bicaranya diremehkan.

"Kakekku yang membesarkanku adalah seorang pertapa yang hidup di pelosok gunung."

Astiana mulai menjelaskan keadaannya dengan tenang dan nada suara yang sangat meyakinkan.

"Kami hidup dari hasil hutan dan tidak pernah mengurus dokumen negara apa pun."

"Saat aku naik kereta, aku membeli tiket langsung di stasiun kecil melalui calo yang menawarkannya di pinggir jalan."

"Itulah kenapa namaku tidak ada di manifes penumpang resmi kereta tersebut."

Astiana menatap langsung ke dalam mata Raka tanpa berkedip sedikit pun.

Orang yang berbohong biasanya akan menghindari kontak mata, tapi Astiana tidak melakukan itu sama sekali.

"Omong kosong, zaman sekarang mana ada orang yang hidup tanpa identitas sama sekali."

Raka mendengus kasar karena merasa penjelasan Astiana terlalu dibuat-buat.

"Banyak, Tuan Muda, hanya saja kau yang hidup di istana emas ini terlalu buta untuk melihatnya."

Kata-kata tajam Astiana langsung menohok harga diri Raka.

"Kau."

Raka menggebrak meja makan hingga piring-piring kaca di atasnya bergetar pelan.

Trang.

"Cukup, Raka."

Pak Darma akhirnya mengangkat suaranya dengan nada yang sangat keras dan berkuasa.

"Kakek percaya pada setiap ucapan Nak Astiana."

"Tapi Kakek, ini sangat berbahaya, dia bisa saja menyembunyikan identitas aslinya untuk tujuan jahat."

Raka masih berusaha memprotes keputusan kakeknya yang dianggapnya terlalu naif.

"Kalau dia berniat jahat, kakek sudah mati di pinggir jalan kemarin sore."

Pak Darma membalas ucapan cucunya dengan fakta yang sangat telak.

Raka langsung bungkam dan tidak bisa membantah kenyataan tersebut.

Egonya terluka, tapi dia tahu kakeknya benar seratus persen.

"Gadis ini sangat pintar bicara dan memanipulasi kakek."

Suara hati Raka masih dipenuhi rasa tidak terima dan kekesalan yang memuncak.

"Aku tidak akan pernah melepaskan pandanganku darimu sedetik pun, gadis gembel."

Astiana hanya tersenyum tipis merespons ancaman batin pemuda di depannya itu.

"Nak Astiana, tolong maafkan sikap cucuku yang sangat kasar ini."

Pak Darma menatap Astiana dengan sorot mata penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa, Kakek Darma, wajar saja kalau dia curiga pada orang asing sepertiku."

Astiana sengaja merendah agar Pak Darma semakin bersimpati padanya.

"Karena kau tidak punya identitas dan sanak saudara di kota ini, kau pasti kesulitan mencari tempat tinggal."

Pak Darma menopang dagunya sambil berpikir sejenak.

"Bagaimana kalau kau tinggal di rumah ini untuk sementara waktu."

Raka langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar tawaran gila kakeknya itu.

Uhuk uhuk.

"Kakek, ini sudah terlalu berlebihan."

Raka segera minum air putih untuk meredakan tenggorokannya yang sakit.

"Rumah kita bukan panti asuhan tempat menampung gelandangan."

"Rumah ini milik kakek, jadi kakek yang menentukan siapa yang boleh tinggal di sini."

Pak Darma memotong protes Raka dengan tegas tanpa ruang untuk berdebat.

Astiana sendiri sebenarnya sedikit terkejut dengan tawaran mendadak ini.

Dia awalnya hanya ingin menginap semalam untuk mencari petunjuk tentang mobil sedan hitam itu.

"Tuan Besar ini pasti sedang merencanakan sesuatu."

Astiana memfokuskan pendengarannya untuk membaca suara hati Pak Darma.

"Penyakit jantungku rasanya belum sembuh total, aku butuh gadis ini di dekatku untuk mengobatiku lagi."

"Selain itu, aku melihat ada potensi besar di dalam dirinya yang mungkin bisa membantu bisnis keluarga."

Astiana mengangguk pelan dalam hatinya setelah mengetahui motif asli Pak Darma.

Ternyata pria tua ini adalah seorang pengusaha sejati yang selalu mencari keuntungan dari setiap kesempatan.

Namun Astiana tidak keberatan dimanfaatkan, karena dia juga punya agenda tersendiri di rumah ini.

Koneksi keluarga Darma adalah tiket emasnya untuk menemukan keberadaan orang tuanya yang hilang.

"Terima kasih banyak atas kebaikan Kakek Darma."

Astiana membungkuk sopan dari kursinya menyetujui tawaran tersebut.

"Tapi saya tidak mau tinggal secara gratis dan merepotkan keluarga ini."

"Saya bersedia bekerja sebagai pelayan atau melakukan pekerjaan apa saja di rumah ini untuk membalas budi."

Raka tertawa meremehkan mendengar ucapan sok mandiri dari Astiana.

"Baguslah kalau kau sadar diri, kau memang cocok disuruh mengepel lantai dan mencuci piring."

"Raka, diam."

Pak Darma kembali menegur cucunya yang tidak tahu aturan itu.

"Kakek tidak akan membiarkan penyelamat nyawa kakek bekerja sebagai pelayan kotor."

Pak Darma menatap Astiana dengan senyum penuh arti.

"Mulai besok, kau akan menjadi asisten pribadi Raka sekaligus teman kuliahnya di kampus."

Prang.

Garpu yang dipegang Raka jatuh ke atas piring saking terkejutnya dia.

"Apa."

Pemuda tampan itu berteriak histeris dengan mata melotot seolah baru saja melihat hantu.

"Aku tidak mau, Kakek, ini gila."

Astiana juga ikut terkejut namun dia berusaha menyembunyikannya dengan sangat baik di balik wajah datarnya.

Ini adalah akhir perdebatan yang sama sekali tidak dia duga.

1
Was pray
ngapainn membocorkan identitasmu pada tuan Kusuma sih astiana? kan itu beresiko buat keluarga darma... jamu gak berbakat jadi agen rahasia/ intelijen. kemampuanotakmu gak memenuhi syarat
Was pray
yeee ... jangan samakan kita metropolitan dengan kampung di puncak gunung yg primitif astiana... makanya punya HP gunakan untuk update pengetahuan bukan cuma buat ngisi kantong bututmu.... biar kuoeng... 🤣
Was pray: kampung it's oke.... tapi jangan sampai rampungan... malu maluin orang asal pedesaan .
total 4 replies
kiyoe
okeii Kaka terima kasih yaaa 🥰
Diana Lely
lanjut thor...makin rame aja...
Was pray
ternyata astiana benar-benar bodoh... seharusnya jam tangan bima jangan dia yang ambil .. bisa minta agar Raka yg mengambil jam itu dari semak2, kalau jam itu ditangan astiana ya otomatis menjadi bukti bahwa astiana benar2 mencuri .. dan bima juga tolol, udah jelas barang bukti ada ditangan astiana seharusnya itu jadi bukti kalau tuduhan mencuri itu benar..ha... ga... ga.... alur ceritanya jadi aneh.
Was pray
buat masalah tapi gak becus menyelesaikan masalah yg ditimbulkannya, idan menyeret orang lain dalam lingkaran permasalahan itu ciri-ciri pengecat
Was pray
hatimu penuh empati tapi otakmu tebal astiana
Was pray
astiana terlalu berani apa bodoh sih sebenarnyar? keberanian tanpa berpikir panjang bukan menyelesaikan masalah , tapi memicu permasalahan yg lebih besar resikonya, tujuan utama dikesampingkan cuma gara sok bijak dengan ikut campur urusan yg bukan urusannya
Was pray
emang burung elangnya terbuat dari karet?, kok bisa melilit ? kecuali kalau burung elang ya lagi lapar ... terus perut elang melilit .. karena perut si elang lapar. .🤭🤭🤣
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
rasakan, akhirnya tempat kasino itu hancur 🤣

selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣
Anisa
gila² thor😄
kiyoe: Hehehe 🤭
total 1 replies
Was pray
jakarta jadi surga buat orang kaya, tapi neraka bagi orang miskin
kiyoe: heheheh iyaa bener Kak
total 3 replies
Was pray
hati manusia bisa sekeras baja jika privasinya terusik, tapi bisa jadi selembut salju jika hatinya tersentuh oleh hutang Budi / nyawa
kiyoe: iyaa bener kak 🤭
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Astiana yang menyamar, tapi, aku malah ikut deg degan /Scream/
kiyoe: wkwkw tembak tembak dor dor dor
total 5 replies
Was pray
gak sekolah dari SD - SMA langsung kuliah..... wao... amazing... gak sekalian ambil gelar doktor tuh astiana....? 🤣🤣🤣
Was pray
Adrian cuma lulus TK doang Raka... 🤣🤣
Was pray
baru tau dan nyadar ya astiana?
Was pray
mencari seseorang /keluarga di jakarta tanpa alamat yg pasti kayak mencari jarum di lapangan sepakbola... hadeh... capek deh Nemu orang kayak model astiana ini
kiyoe: heheheh iyaa kak untung gak jadi gembel
total 5 replies
Anisa
wihh deg-degan thor😄
kiyoe: hehehe tunggu bab selanjutnya kak pasti deg-degan juga 🤭
total 1 replies
Siskasuryaningsih
knpa bibi nya gk di hajar tadi sebentar, kan enak tu
kiyoe: kan Astiana di suruh baik hati sama alm kakek yang merawat Astiana dari kecil kak hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!