Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Beberapa pelayan yang sedang menuangkan air minum sampai menghentikan aktivitas mereka karena takut.
"Jangan-jangan Nona ini memang agen rahasia atau buronan polisi."
Suara hati Nadin yang berdiri di sudut ruangan terdengar sangat panik.
Astiana menahan tawanya mendengar pikiran absurd pelayan mudanya itu.
Dia kemudian mengambil serbet kain dan mengelap sisa remah roti di sudut bibirnya dengan anggun.
"Penyelidikan yang sangat hebat, Tuan Muda Raka, pantas saja kau bangga."
Astiana bertepuk tangan pelan dengan wajah yang sangat datar.
"Tapi sayang sekali, imajinasimu terlalu tinggi seperti menonton film aksi."
"Apa maksudmu."
Raka mengerutkan keningnya merasa tidak suka gaya bicaranya diremehkan.
"Kakekku yang membesarkanku adalah seorang pertapa yang hidup di pelosok gunung."
Astiana mulai menjelaskan keadaannya dengan tenang dan nada suara yang sangat meyakinkan.
"Kami hidup dari hasil hutan dan tidak pernah mengurus dokumen negara apa pun."
"Saat aku naik kereta, aku membeli tiket langsung di stasiun kecil melalui calo yang menawarkannya di pinggir jalan."
"Itulah kenapa namaku tidak ada di manifes penumpang resmi kereta tersebut."
Astiana menatap langsung ke dalam mata Raka tanpa berkedip sedikit pun.
Orang yang berbohong biasanya akan menghindari kontak mata, tapi Astiana tidak melakukan itu sama sekali.
"Omong kosong, zaman sekarang mana ada orang yang hidup tanpa identitas sama sekali."
Raka mendengus kasar karena merasa penjelasan Astiana terlalu dibuat-buat.
"Banyak, Tuan Muda, hanya saja kau yang hidup di istana emas ini terlalu buta untuk melihatnya."
Kata-kata tajam Astiana langsung menohok harga diri Raka.
"Kau."
Raka menggebrak meja makan hingga piring-piring kaca di atasnya bergetar pelan.
Trang.
"Cukup, Raka."
Pak Darma akhirnya mengangkat suaranya dengan nada yang sangat keras dan berkuasa.
"Kakek percaya pada setiap ucapan Nak Astiana."
"Tapi Kakek, ini sangat berbahaya, dia bisa saja menyembunyikan identitas aslinya untuk tujuan jahat."
Raka masih berusaha memprotes keputusan kakeknya yang dianggapnya terlalu naif.
"Kalau dia berniat jahat, kakek sudah mati di pinggir jalan kemarin sore."
Pak Darma membalas ucapan cucunya dengan fakta yang sangat telak.
Raka langsung bungkam dan tidak bisa membantah kenyataan tersebut.
Egonya terluka, tapi dia tahu kakeknya benar seratus persen.
"Gadis ini sangat pintar bicara dan memanipulasi kakek."
Suara hati Raka masih dipenuhi rasa tidak terima dan kekesalan yang memuncak.
"Aku tidak akan pernah melepaskan pandanganku darimu sedetik pun, gadis gembel."
Astiana hanya tersenyum tipis merespons ancaman batin pemuda di depannya itu.
"Nak Astiana, tolong maafkan sikap cucuku yang sangat kasar ini."
Pak Darma menatap Astiana dengan sorot mata penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, Kakek Darma, wajar saja kalau dia curiga pada orang asing sepertiku."
Astiana sengaja merendah agar Pak Darma semakin bersimpati padanya.
"Karena kau tidak punya identitas dan sanak saudara di kota ini, kau pasti kesulitan mencari tempat tinggal."
Pak Darma menopang dagunya sambil berpikir sejenak.
"Bagaimana kalau kau tinggal di rumah ini untuk sementara waktu."
Raka langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar tawaran gila kakeknya itu.
Uhuk uhuk.
"Kakek, ini sudah terlalu berlebihan."
Raka segera minum air putih untuk meredakan tenggorokannya yang sakit.
"Rumah kita bukan panti asuhan tempat menampung gelandangan."
"Rumah ini milik kakek, jadi kakek yang menentukan siapa yang boleh tinggal di sini."
Pak Darma memotong protes Raka dengan tegas tanpa ruang untuk berdebat.
Astiana sendiri sebenarnya sedikit terkejut dengan tawaran mendadak ini.
Dia awalnya hanya ingin menginap semalam untuk mencari petunjuk tentang mobil sedan hitam itu.
"Tuan Besar ini pasti sedang merencanakan sesuatu."
Astiana memfokuskan pendengarannya untuk membaca suara hati Pak Darma.
"Penyakit jantungku rasanya belum sembuh total, aku butuh gadis ini di dekatku untuk mengobatiku lagi."
"Selain itu, aku melihat ada potensi besar di dalam dirinya yang mungkin bisa membantu bisnis keluarga."
Astiana mengangguk pelan dalam hatinya setelah mengetahui motif asli Pak Darma.
Ternyata pria tua ini adalah seorang pengusaha sejati yang selalu mencari keuntungan dari setiap kesempatan.
Namun Astiana tidak keberatan dimanfaatkan, karena dia juga punya agenda tersendiri di rumah ini.
Koneksi keluarga Darma adalah tiket emasnya untuk menemukan keberadaan orang tuanya yang hilang.
"Terima kasih banyak atas kebaikan Kakek Darma."
Astiana membungkuk sopan dari kursinya menyetujui tawaran tersebut.
"Tapi saya tidak mau tinggal secara gratis dan merepotkan keluarga ini."
"Saya bersedia bekerja sebagai pelayan atau melakukan pekerjaan apa saja di rumah ini untuk membalas budi."
Raka tertawa meremehkan mendengar ucapan sok mandiri dari Astiana.
"Baguslah kalau kau sadar diri, kau memang cocok disuruh mengepel lantai dan mencuci piring."
"Raka, diam."
Pak Darma kembali menegur cucunya yang tidak tahu aturan itu.
"Kakek tidak akan membiarkan penyelamat nyawa kakek bekerja sebagai pelayan kotor."
Pak Darma menatap Astiana dengan senyum penuh arti.
"Mulai besok, kau akan menjadi asisten pribadi Raka sekaligus teman kuliahnya di kampus."
Prang.
Garpu yang dipegang Raka jatuh ke atas piring saking terkejutnya dia.
"Apa."
Pemuda tampan itu berteriak histeris dengan mata melotot seolah baru saja melihat hantu.
"Aku tidak mau, Kakek, ini gila."
Astiana juga ikut terkejut namun dia berusaha menyembunyikannya dengan sangat baik di balik wajah datarnya.
Ini adalah akhir perdebatan yang sama sekali tidak dia duga.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣