NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Mencurigakan

Beberapa jam kemudian, salah satu lelaki itu turun di stasiun berikutnya.

Dua orang lainnya ikut turun.

Tinggal dua orang.

Sebelum turun, salah satu dari mereka sempat berbicara pelan kepada temannya.

Meng Lin tidak mendengar jelas. Tetapi setelah mereka pergi, lelaki yang tersisa langsung melihat ke arah rak barang.

Kali ini seorang pemuda terpelajar yang duduk di seberang menyadarinya juga. Ia diam-diam memindahkan tasnya ke pangkuan.

Meng Lin melihat itu. Tanpa perlu berkata apa-apa, ia tahu pemuda itu juga sudah mulai waspada.

Perjalanan masih panjang. Lelaki yang tersisa kembali duduk. Ia tidak melakukan apa-apa.

Setidaknya untuk sementara.

Ia hanya menyandarkan punggung ke kursi sambil sesekali melihat ke luar jendela. Temannya yang satunya lagi duduk dua baris di belakang.

Keduanya tidak banyak berbicara. Meng Lin juga tidak memperhatikan mereka terus-menerus. Ia tidak ingin membuat dirinya terlihat mencurigakan.

Ia mengambil botol air dan minum beberapa teguk. Di sampingnya, Yan Rao sedang membaca surat yang diberikan ibunya sebelum berangkat.

"Aku baru ingat," bisik Yan Rao.

"Apa?" tanya Meng Lin.

"Ibu menyuruhku menyimpan uang di beberapa tempat."

Meng Lin menoleh. "Itu benar."

"Katanya jangan menaruh semuanya di satu tempat."

"Nasihat yang bagus."

Yan Rao tersenyum. "Dia bahkan menjahit kantong kecil di bagian dalam bajuku."

Ia menepuk bagian dadanya. "Katanya kalau ada orang mencoba mengambil tas, setidaknya masih ada cadangan."

Meng Lin hanya mengangguk. Dari sudut matanya, ia melihat lelaki di depan mereka bergerak.

Lelaki itu berdiri. Berjalan menuju pintu antar-gerbong. Saat melewati tempat duduk mereka, pandangannya kembali jatuh pada tas-tas yang diletakkan di bawah kursi.

Ia tidak berhenti. Namun gerakannya cukup untuk membuat Meng Lin semakin yakin bahwa kewaspadaan mereka bukan tanpa alasan.

Beberapa menit kemudian, lelaki tersebut kembali. Kali ini ia membawa sebotol air.

Ia duduk dan membuka tutupnya.

"Masih lama?" Ia bertanya kepada penumpang yang duduk di dekatnya.

"Entahlah." Penumpang itu menjawab singkat.

Lelaki tersebut tertawa kecil. "Kalian semua pergi ke selatan?"

Beberapa pemuda mengangguk. "Ya."

"Sebagai pemuda terpelajar?" Pertanyaan itu membuat beberapa orang menoleh.

"Ya."

Lelaki itu tersenyum. "Anak muda memang harus banyak belajar."

Nada bicaranya terdengar biasa. Lelaki itu kemudian mengalihkan perhatian kepada pemuda yang duduk di seberang. "Kamu juga?"

Pemuda itu mengangguk. "Iya."

"Desa mana?" tanyanya penasaran.

Pemuda tersebut menyebutkan nama tempat penugasannya.

Lelaki itu mengangguk seolah mengenalnya.

"Jauh juga." Setelah itu ia tidak bertanya lagi.

Namun pemuda tadi terlihat tidak nyaman.

Ia kembali memeluk tasnya. Meng Lin melihat semuanya tanpa komentar.

Tidak lama kemudian, kereta memasuki daerah yang jalurnya sedikit menanjak.

Gerbong berguncang lebih keras. Tiba-tiba terdengar suara keras dari bagian belakang.

Brak!

Semua orang menoleh. Sebuah peti kayu yang diletakkan di rak atas jatuh ke lantai. Untungnya tidak mengenai siapa pun.

Petugas kereta datang untuk memeriksa. "Barang siapa ini?"

Seorang lelaki tua mengangkat tangan. "Milik saya."

"Jangan taruh barang seberat ini di atas."

Lelaki tua itu segera meminta maaf dan memindahkan petinya ke bawah kursi.

Kereta kembali berjalan. Namun guncangan kali ini membuat salah satu tas di rak bergeser.

Meng Lin langsung memperhatikannya. Tas itu hampir jatuh. Sebelum benar-benar terlepas, pemuda yang duduk di seberang bangkit dan menangkapnya.

"Ini milik siapa?"

Seorang perempuan mengangkat tangan. "Punya saya."

Pemuda itu menyerahkan tas tersebut.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Ia kembali duduk.

Lelaki yang tadi dicurigai memperhatikan kejadian itu. Kemudian ia menoleh kepada temannya.

Kali ini Meng Lin sempat melihat tatapan mereka.

Hanya sebentar.

Namun cukup.

Mereka seolah sedang membicarakan sesuatu tanpa suara.

Meng Lin menurunkan pandangan. Ia mengambil tas kainnya dan meletakkannya di antara kedua kakinya.

Yan Rao ikut melakukan hal yang sama. "Aku rasa kita sebaiknya tidak tidur terlalu lelap malam ini," bisik Yan Rao.

Meng Lin menatapnya. "Jangan terlalu takut."

"Aku bukan takut." Yan Rao berusaha tersenyum. "Aku cuma berjaga-jaga."

"Itu lebih baik."

***

Hari mulai sore. Cahaya matahari masuk dari jendela dengan warna kekuningan.

Sebagian penumpang mulai membuka bekal lagi. Anak-anak yang sejak pagi rewel kini tertidur di pangkuan ibunya.

Suasana kembali tenang. Seolah keributan sehari sebelumnya tidak pernah terjadi.

Namun ketika kereta berhenti di sebuah stasiun kecil menjelang malam, lelaki yang duduk dua baris di belakang tiba-tiba berdiri.

Ia mengambil tasnya. Mengangkatnya ke bahu.

Temannya yang berada di depan juga berdiri.

Meng Lin memperhatikan. Keduanya turun.

Tetapi kali ini mereka tidak membawa barang banyak. Mereka hanya membawa satu tas masing-masing.

Kereta kembali bergerak.

Yan Rao melihat ke luar jendela sampai kedua lelaki itu menghilang dari pandangan. "Jadi mereka turun juga."

Meng Lin mengangguk. "Sepertinya."

"Berarti kita aman sekarang?"

Meng Lin diam sebentar. "Seharusnya."

Ia tidak mengatakan bahwa sejak awal ia memang tidak yakin kedua lelaki itu benar-benar akan melakukan sesuatu. Tapi instingnya berkata, orang-orang itu pasti sedang merencanakan sesuatu.

Beberapa saat kemudian, pemuda yang duduk di seberang tiba-tiba berbicara. "Tadi kalian juga merasa aneh?"

Meng Lin menatapnya. "Bagian mana?"

"Lelaki-lelaki itu.!" Pemuda itu menurunkan suaranya. "Sejak mereka naik, mereka terus melihat barang orang."

Meng Lin mengangguk kecil. "Aku juga melihatnya."

Pemuda itu tampak sedikit lega. "Berarti aku tidak salah lihat."

"Belum tentu mereka berniat mencuri." sahut Yan Rao

"Aku tahu." Ia menghela napas. "Tapi lebih baik hati-hati."

Meng Lin setuju. "Benar."

Percakapan mereka berhenti sampai di sana.

Tidak ada yang membicarakan hal itu lagi.

Malam kembali turun. Setelah perjalanan panjang hampir dua hari, wajah para penumpang terlihat lelah.

Beberapa orang sudah mulai tidur. Yan Rao menyandarkan kepala ke jendela.

Meng Lin tetap terjaga. Ia melihat pemandangan di luar yang semakin gelap.

Sesekali cahaya lampu dari rumah penduduk terlihat di kejauhan, kemudian menghilang lagi.

Tidak lama kemudian terdengar suara pengumuman dari bagian depan gerbong. Para penumpang yang masih terjaga mulai memperhatikan.

Meng Lin mengangkat kepalanya. Nama stasiun yang disebutkan adalah stasiun tujuan mereka.

Yan Rao langsung terbangun. "Sudah sampai?"

"Sebentar lagi." Ia segera merapikan rambut dan pakaiannya.

Beberapa pemuda terpelajar mulai berdiri untuk mengambil barang dari rak. Gerbong yang sejak tadi tenang kembali ramai.

Meng Lin mengambil koper dan dua tas kainnya. Ia memeriksa tempat duduk sekali lagi. Tidak ada barang yang tertinggal.

Kereta semakin melambat. Dari jendela mulai terlihat cahaya lampu stasiun.

Yan Rao berdiri di sampingnya. Keduanya tidak mengatakan apa-apa. Setelah perjalanan selama dua hari satu malam, akhirnya mereka tiba di wilayah selatan yang menjadi tujuan mereka.

Namun bagi Meng Lin, perjalanan sebenarnya belum berakhir. Dari stasiun, mereka masih harus menempuh perjalanan menuju desa.

.

.

.

.

1
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Didi Wahyudi
niubi
nengnong
meng Lin ke kota cuma mau beli kemoceng 🤔🤦
nengnong
💪💪
Musdalifa Ifa
klo boleh request Thor tolong upnya dibanyakin🙏🤭🤭🤭
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
Rochmanah Setyowati
ditunggu upnya thor 💪💪💪👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!