NovelToon NovelToon
Takluk Oleh Kelembutannya

Takluk Oleh Kelembutannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hasanah Yoyoh

Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: TERJEBAK DI SARANG SERIGALA

​Deru mesin mobil sport mewah yang dikendarai Kamilah perlahan meredam begitu kendaraan berharga fantastis itu melewati gerbang besi tinggi menjulang. Mobil melaju pelan menyusuri jalanan pribadi yang tenang dan dilapisi pepohonan rimbun yang temaram, sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran sebuah vila megah milik Rizky Syah yang berdiri mengisolasi diri di kawasan perbukitan terasing.

​Kamilah mematikan mesin mobil, menarik rem tangan dengan sentakan kuat, lalu menoleh ke arah Rizky dengan raut wajah kesal yang sudah tidak mampu ia sembunyikan lagi.

​"Aku sudah mengantarkanmu sampai ke rumah dengan selamat! Sekarang, aku juga harus segera pulang!" tegas Kamilah sambil melepaskan sabuk pengamannya secara tergesa-gesa. Ia menatap Rizky dengan pandangan heran bercampur jengkel. "Aduh... kamu ini kan pengusaha kaya yang punya banyak satpam pribadi dan sopir pribadi, kenapa malah minta aku yang mengantarkanmu pulang, sih?!"

​Rizky menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan di balik temaram lampu kabin mobil. Pria itu menyandarkan kepala di sandaran jok kulit, menatap Kamilah dengan rileks. "Ini sudah terlalu malam. Sopirku juga punya keluarga dan dia harus segera pulang untuk beristirahat."

​Kamilah mendengus geli mendengar alasan yang amat tidak masuk akal tersebut. Pria dingin sekelas Rizky Syah mendadak peduli dengan jam kerja dan kesejahteraan sopirnya? Mana mungkin ada cerita seperti itu!

​"Kalau begitu, aku naik taksi online saja dari sini," balas Kamilah tidak mau kalah. Jemari tangannya mulai meraba-raba ke area jok belakang demi mencari tas tangannya.

​Namun Rizky menahannya dengan nada suara santai tetapi terasa sangat mematikan. "Di sekitar kawasan perbukitan ini semuanya adalah area vila pribadi eksklusif. Sistem keamanannya sangat ketat, taksi umum atau transportasi online tidak akan pernah diizinkan melewati gerbang depan untuk masuk ke area ini."

​Kamilah membelalakkan matanya yang jernih. "Kalau begitu, aku panggil sopir keluargaku saja untuk menjemputku sekarang!"

​Kamilah makin aktif meraba jok belakang demi menemukan ponselnya. "Mana tasku? Di mana kamu menaruh tasku dari tadi?"

​Bukannya menjawab pertanyaan itu, Rizky justru membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan santai. Saat Kamilah menoleh ke luar jendela, pria tinggi tegap itu rupanya sudah menenteng tas tangan milik Kamilah di antara jemarinya, melambaikan tangan ke arah Kamilah dengan cengiran tipis di bibirnya.

​"Hai..." goda Rizky singkat, lalu berbalik dan melangkah santai memasuki area teras vila mewahnya.

​"Rizky Syah! Kembalikan tasku sekarang juga!" seru Kamilah panik setengah mati.

​Tanpa berpikir panjang lagi, Kamilah langsung meloncat keluar dari mobil dan berlari kencang mengejar langkah lebar Rizky. Begitu Rizky mendorong pintu utama vila yang berukuran raksasa itu, Kamilah menyelinap masuk tepat di belakang punggungnya. Namun, tepat saat Kamilah berhasil menjejakkan kaki di atas lantai marmer yang dingin ber-AC, BRAK! pintu kayu tebal di belakang mereka langsung ditutup rapat dan dikunci secara otomatis oleh sistem keamanan vila.

​Kamilah berbalik kaget, menyandarkan punggungnya pada pintu yang kini telah terkunci mutlak dari dalam. "Apa yang sedang kamu lakukan?!"

​Rizky berbalik menatap Kamilah perlahan, meletakkan tas tangan gadis itu di atas meja konsol dekat pintu, lalu mengambil langkah maju mendominasi.

​"Berhentilah memberontak, Kamilah. Ini sudah hampir jam 12.00 malam," ujar Rizky dengan suara beratnya yang menenangkan namun dipenuhi ketegasan mutlak. "Malam ini kamu menginap di sini saja. Besok pagi-pagi sekali, aku sendiri yang akan mengantarkanmu pulang sampai ke depan rumah."

​"Aku tidak mau!" tolak Kamilah keras kepala, matanya memelototi Rizky dengan tajam. "Aku mau pulang sekarang juga, tidak peduli apa pun yang terjadi!"

​Rizky menyilangkan kedua tangan kokohnya di dada, menyandarkan bahunya ke dinding marmer sambil menatap gadis itu dengan sudut bibir terangkat sedikit. "Baiklah kalau begitu... kalau kamu memang memaksa mau pulang sekarang, silakan jalan kaki keluar dari kawasan perbukitan ini."

​Tanpa rasa takut, Kamilah memutar kunci pintu otomatis dan menarik gagangnya kuat-kuat. "Siapa takut? Aku memang mau jalan kaki saja daripada harus tinggal bersamamu!"

​Melihat Kamilah yang baru saja membuka pintu sedikit dan siap menerobos dinginnya malam, Rizky menambahkan dengan nada bicara yang teramat santai, seolah sedang memperbincangkan ramalan cuaca.

​"Ekosistem hutan di sekitar area vila ini masih sangat alami dan terjaga bagus..." celetuk Rizky santai. "...kadang-kadang di sepanjang jalanan perbukitan yang gelap menuju gerbang utama, suka ada serigala liar, rubah malam, dan juga berbagai jenis ular berbisa yang berkeliaran mencari mangsa."

​Langkah Kamilah terhenti seketika di ambang pintu. Angin malam yang bertiup kencang membuat bulu kuduknya merinding.

​Ular?! jerit Kamilah histeris di dalam benaknya. Dari semua jenis hewan di dunia ini, hewan yang paling ditakuti Kamilah sejak kecil hingga mampu membuat seluruh tubuhnya gemetar kaku adalah ular!

​Kamilah perlahan menarik kembali kakinya yang sempat keluar, menutup pintu vila rapat-rapat hingga terdengar bunyi kunci otomatis, lalu balik badan menghadap Rizky dengan wajah yang mendadak berubah agak pucat pasi.

​Kamilah menyengir kaku, berusaha keras menutupi rasa takutnya yang membuncah. "Ka-kamu pasti berbohong, kan?! Mana mungkin di kawasan elit begini ada ular dan serigala berkeliaran di jalanan!"

​Rizky hanya menaikkan sebelah alis mewahnya tanpa ada niat untuk membantah, sangat menikmati raut kepanikan polos yang terpancar dari gadis di hadapannya.

​Melihat Rizky yang hanya diam sambil tersenyum misterius, Kamilah menghela napas panjang tanda pasrah. Ia akhirnya sadar betul kalau dirinya sudah sepenuhnya terjebak malam ini di tempat terasing ini.

​Rizky kemudian merogoh saku celananya, lalu menyebutkan deretan angka dengan jelas. "Kode kunci pintu kamar di lantai atas adalah 0321. Silakan masuk dan beristirahatlah di kamar tidur utama."

​Dahi Kamilah berkerut seketika saat mendengar deretan angka itu disebut. 0321? Itu kan... tanggal 21 Maret, tanggal ulang tahunku sendiri?! batin Kamilah terheran-heran luar biasa.

​Kebetulan aneh macam apa lagi ini? Apa pria ini sengaja memakai tanggal lahirku untuk kodenya, atau ini hanya sebuah kebetulan yang kebetulan pas? Jangan-jangan dia ini penjahat atau perampok yang berniat menculikku ke sini dan tidak mengizinkanku pergi selamanya?! cecar Kamilah panik di dalam hatinya sendiri.

​Tanpa menyadari perang batin dan prasangka absurd di dalam kepala Kamilah, Rizky menunjuk ke arah tangga melingkar yang tampak sangat megah menuju lantai dua vila.

​"Naik ke atas, lalu belok kiri. Kamar tidur utama di sana adalah kamarku," jelas Rizky. Kemudian, dengan senyuman misterius yang sarat akan nada menggoda, ia menambahkan, "Aku akan menunggumu di dalam kamar ya?"

​Mendengar kata-kata itu, membayangkan dirinya harus berada di satu ruangan lagi dengan pria posesif ini membuat bulu kuduk Kamilah berdiri seketika.

​"Aku tidak mau!" seru Kamilah kencang sambil berlari kecil menuju anak tangga pertama. "Aku tidak mau tidur bersamamu! Aku mau menjauh darimu sejauh mungkin!"

​Kamilah bergegas menaiki anak tangga melingkar itu satu per satu dengan langkah seribu demi menyelamatkan diri dan mengamankan diri di dalam kamar.

​Melihat reaksi panik namun sangat menggemaskan dari Kamilah yang berlari ketakutan di tangga, Rizky berdiri tegap di bawah sambil mendongak ke atas, lalu berteriak setengah tertawa bebas.

​"Kalau nanti malam kamu ketakutan karena mendengar suara angin kencang atau hewan liar di luar jendela, panggil saja namaku kencang-kencang dari dalam kamar!" teriak Rizky dari lantai bawah.

​"Tidak perlu!" sahut suara Kamilah membalas dari lantai atas, tepat sebelum suara pintu kamar terdengar dibanting dan ditutup rapat-rapat.

​Di lantai bawah yang kini hening, Rizky Syah tidak sanggup lagi menahan tawa ringannya. Pria dingin yang biasanya ditakuti oleh seluruh jajaran pengusaha dan pejabat tinggi Kota Jakarta itu tertawa kecil secara tulus, menatap penuh kehangatan ke arah lantai atas tempat gadisnya kini berada.

1
Hasanah Yoyoh
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!