Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Bawah Cahaya Bulan
Malam itu bulan bersinar terang sekali, cahayanya putih dan jernih, menyinari seluruh halaman istana, membuat setiap sudut yang gelap menjadi terang benderang. Angin malam berhembus dingin, membawa bau tanah basah dan bunga-bunga yang mekar di malam hari.
Liān Huā tidak bisa tidur. Dia berjalan keluar dari kamarnya, berjalan perlahan menuju ke taman yang paling sepi, tempat yang dulu sering mereka kunjungi bersama. Dia duduk di atas batu besar di dekat kolam, menatap pantulan bulan di permukaan air yang tenang. Di sana, di bawah cahaya bulan yang sama, dulu mereka pernah berbicara, pernah tertawa, pernah saling menatap dan berjanji.
Pikirannya berputar terus. Apakah semua itu hanya mimpi indah yang akan segera berakhir? Apakah dia harus melepaskan semuanya demi kebaikan yang lebih besar? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya tanpa henti, membuat hatinya terasa perih dan gelisah.
Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah kaki yang pelan namun pasti mendekat. Dia tidak perlu menoleh pun sudah tahu siapa yang datang. Hanya ada satu orang yang berani berjalan di tempat ini di jam seperti ini, dan hanya ada satu orang yang detak jantungnya bisa dia kenali hanya dari suara langkah kakinya.
“Kamu juga tidak bisa tidur ya?” suara itu terdengar lembut dan penuh kelelahan, namun juga penuh kehangatan yang akrab.
Liān Huā berbalik, dan di sana berdiri Yuán Zhēn. Wajahnya tampak lelah, ada bayangan gelap di bawah matanya, seolah dia juga tidak tidur selama berhari-hari. Namun matanya tetap bersinar terang saat melihatnya, seolah cahaya bulan itu sendiri hanya berkumpul di dalam kedua mata itu.
“Yang Mulia... mengapa Yang Mulia datang ke sini? Sudah larut malam,” ucapnya pelan, menundukkan kepala agar kaisar itu tidak melihat betapa matanya sudah merah dan basah.
Yuán Zhēn berjalan mendekat, duduk di sampingnya di atas batu itu, jarak di antara mereka hanya cukup untuk satu orang lagi. “Karena aku tahu kamu ada di sini. Dan karena aku tahu... kamu sedang cemas, sedang sedih, sedang bertanya-tanya dalam hatimu apakah aku akan berubah pikiran, apakah aku akan memilih hal lain daripada kamu.”
Dia berhenti sejenak, menatap ke arah bulan yang tergantung tinggi di langit, lalu menoleh kembali menatap wajah gadis itu.
“Aku mendengar apa yang dibicarakan orang-orang. Aku tahu usulan mereka, aku tahu tekanan yang ada di pundakku. Dan aku juga tahu apa yang dikatakan orang-orang kepadamu — bahwa aku pasti akan menikah demi kepentingan negara, bahwa kamu hanyalah sementara, bahwa kita tidak pantas bersama.”
Suaranya rendah dan berat, namun penuh ketegasan. Liān Huā menatapnya dengan mata berkaca-kaca, menahan air mata agar tidak jatuh.
“Liān Huā, dengarkan aku baik-baik,” lanjutnya, sambil perlahan meraih tangan gadis itu, menggenggamnya erat dan hangat. “Sejak aku pertama kali melihatmu berdiri di halaman istana itu, sejak pertama kali kamu berbicara kepadaku dengan jujur dan berani, sejak saat itu aku sudah tahu — kamu adalah takdirku. Bukan Putri Xiāo Lán, bukan siapa pun yang dipilihkan orang lain, bukan siapa pun yang dianggap cocok oleh aturan atau kepentingan politik.”
Dia mengangkat tangan gadis itu, menempelkan telapak tangannya ke pipinya sendiri, menutup matanya sejenak seolah menemukan ketenangan yang hanya bisa didapatkan dari dekatnya saja.
“Mereka semua berbicara tentang kekuatan, tentang persatuan wilayah, tentang keuntungan negara. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengerti: kekaisaran ini dibangun di atas keadilan dan kasih sayang, bukan sekadar ikatan darah atau perjanjian kekuasaan. Jika aku harus menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai, hanya demi mendapatkan kekuatan tambahan, maka aku bukanlah kaisar yang bijaksana — aku hanya penguasa yang lemah, yang tidak mampu berdiri tegak dengan kekuatannya sendiri.”
Dia membuka mata kembali, menatap lurus ke dalam manik mata Liān Huā yang berkilauan terkena pantulan cahaya bulan.
“Tekanan itu berat sekali, Liān Huā. Aku tahu betapa sulitnya jalan yang kita pilih ini. Aku tahu ada banyak orang berkuasa yang akan berusaha menjatuhkan kita, bahkan mungkin menyakiti orang-orang yang kita sayangi. Tapi aku tidak akan menyerah. Dan aku juga tidak akan membiarkanmu menyerah atau pergi menjauh karena rasa tidak aman atau rasa bersalah.”
Jari-jarinya mengusap lembut punggung tangan gadis itu, gerakannya penuh kasih sayang sekaligus ketegasan.
“Jangan pernah berpikir bahwa keberadaanmu menjadi penghalang bagiku. Sebaliknya, justru karena ada kamu, aku menjadi lebih kuat, lebih berani, lebih bijaksana. Kamu adalah alasan kenapa aku ingin menjadi kaisar yang lebih baik, yang pantas mendapatkan cinta dan kepercayaanmu. Setiap kali aku merasa lelah atau ragu, aku hanya perlu mengingat wajahmu, dan aku langsung tahu apa yang harus aku perjuangkan.”
Air mata yang ditahan sejak tadi akhirnya mengalir perlahan di pipi Liān Huā, namun kali ini bukan air mata kesedihan atau ketakutan. Itu adalah air mata kelegaan dan kebahagiaan yang meluap-luap. Dia merasakan setiap kata yang diucapkan kaisar itu masuk ke dalam hatinya, mengisi setiap ruang kosong yang dulunya penuh keraguan dan kegelisahan.
“Yang Mulia...” suaranya bergetar namun jernih, “Hamba... hamba berjanji tidak akan ragu lagi. Di mana pun Yang Mulia berada, apa pun yang terjadi, hamba akan tetap berdiri di sisi Yang Mulia. Hamba akan berjuang bersama, menanggung segala beban bersama, dan tidak akan pernah pergi kemana-mana.”
Yuán Zhēn tersenyum lembut, senyum yang paling tulus dan damai yang pernah ditunjukkan gadis itu. Dia mengangkat jari, perlahan menghapus jejak air mata di pipi Liān Huā dengan sangat hati-hati, seolah sedang menyentuh bunga paling rapuh namun paling berharga di seluruh dunia.
“Panggil aku Zhēn,” bisiknya pelan, “Sekarang, di sini, di bawah cahaya bulan ini. Hanya kita berdua.”
“Zhēn...” panggilnya pelan, lembut namun jelas, nama itu terasa begitu manis dan tepat di lidahnya.
Mendengar namanya diucapkan dari bibir gadis itu, kaisar itu menghela napas panjang, seolah beban berat yang dipikulnya selama berhari-hari akhirnya hilang seketika. Dia menarik Liān Huā perlahan ke dalam pelukannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar nyaman di dadanya, mendengarkan detak jantung yang berdetak selaras dengan detak jantungnya sendiri.
Di sekitar mereka, angin berhembus lembut, menggerakkan daun-daun pohon willow yang menjuntai ke bawah, dan cahaya bulan terus bersinar terang, menjadi saksi bisu dari janji setia yang terucap di tengah malam yang sunyi itu. Mereka tahu bahwa perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai, bahwa badai besar masih menanti di depan mata. Namun malam itu, di bawah sinar bulan yang abadi, mereka menemukan kekuatan terbesar mereka: kepercayaan yang tak tergoyahkan, dan cinta yang cukup kuat untuk menghadapi apa pun yang takdir berikan.