NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Dingin Yang Gaptek

Istri Kontrak CEO Dingin Yang Gaptek

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 Ikut ke kantor

Pelangi sore itu hanya muncul sebentar. Setelah itu langit kembali mendung.

Tapi suasana di dalam kamar sudah tidak mendung lagi. Setelah kejadian handuk dan cium kening tadi, Safa dan Arga masih duduk di tepi ranjang. Tidak ada yang buru-buru bicara. Hanya ada suara AC yang terdengar pelan.

Safa masih bersandar di dada Arga. Tidak lagi perasaan malu atau canggung diantara keduanya.

"Mas," bisik Safa.

"Iya?"

"Terima kasih ya tadi... Mas langsung balik badan. Kalau enggak, aku malu banget."

Arga mengelus rambut Safa yang masih setengah basah. "Kamu istri saya. Sudah seharusnya saya jaga."

Kalimat itu sederhana, tapi membuat hati Safa terasa hangat. Dia mengangguk pelan di dada Arga.

Malam itu mereka lewati dengan tenang. Makan malam bersama di meja besar, nonton tv sebentar, lalu tidur lagi dengan selimut yang sama. Tidak ada guling di tengah lagi tidak ada rasa canggung lagi.

Pagi harinya, jam enam pagi alarm Arga berbunyi.

Biasanya Arga akan langsung bangun, mandi, memakai kemeja, dan berangkat ke kantor.

Pagi ini berbeda. Alarm dimatikan. Arga tidak langsung bangun. Dia menoleh ke samping.

Safa masih tidur meringkuk, wajahnya tertutup rambut, napasnya teratur. Daster bunganya sedikit berantakan karena semalam tidur sambil memeluk lengan Arga.

Arga menatapnya agak lama. Kemudian dia menarik selimut untuk menutupi kaki Safa yang kedinginan.

Safa terbangun pelan karena gerakan itu.

"Mas mau berangkat?" tanyanya dengan suara serak baru bangun.

Arga terdiam sebentar. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi ragu.

"Harusnya berangkat," jawab Arga akhirnya. "Tapi hari ini kamu ikut ke kantor ya."

Safa langsung duduk, rambutnya masih berantakan. "Aku? Ikut ke kantor? Untuk apa?"

"Temani saya. Duduk saja di ruangan saya. Tidak untuk melakukan apa-apa hanya duduk santai menemani saya."

Safa mengernyit bingung. "Kenapa tiba-tiba ingin ditemani?"

Arga menatap ke arah jendela, telinganya mulai memerah. " Beberapa hari menghabiskan waktu bersama rasanya nyaman dan jujur saya tidak ingin meninggalkan kamu sendiri dirumah tapi saya juga harus bekerja!" papar Arga,setiap kata yang diucapkan terdengar jujur.

Dia mengatakannya pelan, jujur, tanpa dibuat-buat. Tidak ada gombalan, hanya cerita apa adanya.

Mendengar itu, Safa tersenyum. Senyuman kecil tapi menggoda.

"Jadi Mas tidak mau jauh dari aku?"

Arga tidak menjawab, hanya menarik selimut Safa lagi dan berdiri. "Kalau kamu tidak mau ikut, saya di rumah saja hari ini saya mau bolos lagi."

Safa tertawa kecil. "Mau. Aku ikut. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu."

Jam delapan pagi, mobil Alphard hitam masuk ke basement kantor Mahendra grup.

Semua karyawan sudah bersiap karena mendengar Pak Arga akan datang setelah dua hari tidak masuk.

Pintu mobil terbuka. Arga keluar lebih dulu dengan kemeja putih yang rapi dan jas hitam yang dilipat di tangan. Wajahnya kembali dingin seperti biasanya.

Lalu di belakangnya, Safa keluar. Memakai dress panjang warna cream yang sopan, hijab cream, dan tas kecil. Dia berjalan setengah bersembunyi di belakang Arga.

Semua orang di lobi langsung diam dan saling berbisik.

Arga tidak peduli. Dia meraih tangan Safa dan menggenggamnya. Genggamannya erat, tidak dilepas. Dia menuntun Safa masuk ke lift pribadi.

Begitu pintu lift tertutup, Safa baru bisa bernapas lega.

"Semua orang ngeliatin aku tadi, Mas," bisiknya.

"Biar saja," jawab Arga sambil tetap menggenggam tangannya.

Lantai 42. Ruang CEO.

Ruangan itu sangat luas dan dingin. Dindingnya kaca dari lantai sampai langit-langit. Di sudut ruangan ada sofa besar.

Arga menuntun Safa ke sofa itu. Di sana sudah ada bantal kecil dan selimut tipis yang terlipat rapi. Sepertinya sudah disiapkan sejak semalam.

"Kamu di sini saja. Kalau kedinginan bilang saya. Kalau lapar jangan sungkan untuk bicara."ujar Arga.

"Kalau bosan bagaimana?" tanya Safa.

"Coel saya saja," jawab Arga singkat.

Safa tertawa. "Mas kan lagi kerja ,masa dicolek."

"Kerjaan bisa ditunda sebentar."

Sepanjang pagi, Arga bekerja. Ada meeting, ada tanda tangan berkas, ada video call. Tapi setiap sepuluh menit, matanya pasti melirik ke arah sofa.

Safa duduk dengan tenang di sofa. Kadang memainkan ponsel, kadang membaca buku dari rak Arga, kadang tertidur karena AC yang dingin dengan selimut tipis menutupi tubuhnya.

Setiap Safa tertidur, Arga yang sedang meeting akan memberi isyarat pelan kepada orang di layar laptopnya untuk menunggu. Lalu dia berdiri pelan, berjalan ke sofa, dan membetulkan selimut Safa yang merosot. Setelah itu dia kembali duduk dan melanjutkan meeting dengan wajah dingin seperti tidak terjadi apa-apa.

Rina, sekretarisnya, yang masuk untuk mengantar berkas hanya bisa diam di depan pintu melihat itu.

Jam dua belas siang, Arga menutup laptopnya dan berjalan ke sofa.

"Makan siang yuk," ajaknya.

Safa yang baru bangun dari tidur siang mengucek matanya. "Makan di mana?"

"Di sini saja."

Di atas meja kerja yang biasanya penuh berkas penting, sekarang penuh dengan kotak makanan. Ada ayam geprek, es teh manis, dan puding coklat. Semuanya makanan kesukaan Safa.

Mereka makan berdua di sofa, tidak di meja kerja. Arga melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai siku.

"Mba Rina tadi sampai kaget melihat kita," bisik Safa sambil tertawa kecil.

"Biar saja. Ini kantor saya," jawab Arga santai.

Setelah makan, Safa bersandar karna kekenyangan. Arga duduk di sampingnya. Tanpa banyak bicara, dia menarik pelan bahu Safa agar bersandar di bahunya.

"Mas tidak kerja lagi?" tanya Safa pelan. Kepalanya sudah di bahu Arga.

"Sudah selesai semua dari tadi."

"Kenapa bisa secepat itu?"

Arga diam sebentar, tangannya mengelus kepala Safa dengan lembut.

"Karena ada kamu di sini."

Di luar ruangan, dari celah kaca yang sedikit terbuka, beberapa staf mengintip. Mereka melihat bos mereka yang terkenal paling dingin di seluruh gedung, sekarang sedang duduk di sofa, membiarkan istrinya bersandar di bahunya sambil mengelus kepalanya pelan-pelan.

Di dalam ruangan, Safa yang sudah mengantuk berbisik pelan, hampir tidak terdengar.

"Mas, ritual cium keningnya masih berlaku tidak di kantor?"

Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menunduk pelan dan mengecup kening Safa dengan lembut. Lama dan hangat. Di depan kaca besar dengan pemandangan Jakarta di belakang mereka.

Tidak ada yang perlu dikatakan lagi. Dari caranya menggenggam tangan, membetulkan selimut, dan memesan makanan kesukaan, semua orang sudah bisa melihat bagaimana perasaan Arga sekarang.

Kukas dua pintu yang kini sudah mencair karna si gadis desa itu.

Bersambung

1
falea sezi
uda q krim hadiah thor🤭 up banyak ya.. 👍 g sabar nunggu bocil saseettnya
Atha Diyuta: trimakasih ka, ditunggu kemasan sasettnya 🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut q kirim hadiah👍
Atha Diyuta: mksh kaa ditunggu ya
total 1 replies
falea sezi
Arga kenpa dlu pcrn sama lampir 5 tahun🤣
Dewi kunti
Iki kepiye kok dadi ngulang meneh🤦
Dewi kunti: oalaaaaahhh
total 2 replies
Dewi kunti
typo
Dewi kunti
kenapa sekarang gampang banget ya main tium2 manjaaaa😘😘😘😘😘
Atha Diyuta: udah kecanduan ditium tium
total 1 replies
Dewi kunti
jangan buru2 jetiknya thor, perhatikan tanda bacanya juga
Atha Diyuta: iyaa ka udah keyboard hpku typo tanganku juga typo makanya q lagi revisi dari bab 1 ☺️☺️
total 1 replies
Dewi kunti
emang desanya Arga dimana thor😄😄😄😄
Atha Diyuta: asale aja dia mah,biar Safa diem gak banyak tanya😄😄
total 1 replies
Dewi kunti
Weh kembali berhijab
Dewi kunti
udah gak jilbaban didepan suami,dah dikuncir rambutnya
Dewi kunti
otw belah duren 😄😄😄😄
Dewi kunti: Sprin aj,🤣🤣🤣🤣🤣
total 6 replies
Dewi kunti
tp kmrn masak rendang,ngajarin ngidupin kompor,kata siapa gak pernah msk dapur, author nya blm ngopi ini
Atha Diyuta: 🙈🙈🙈belum sempet direvisi 😅😅😅
total 3 replies
Atha Diyuta
trimakasih siap revisi
Dewi kunti
pergi kepasar dong🤭🤭🤭ini keyboard nya ngeyel kynya
Atha Diyuta: astaghfirullah iya ka baru ngeh🙈🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
witing tresno jalaran Soko kulino
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
Dewi kunti
tangan sangat kalian cocok,maksude piye🤭🤭🤭🤭
Atha Diyuta: kadang" 😅😅
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!