Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
“Jadi, sesuai dengan tanggal kehamilan itu, benar anak ini adalah anak kita, kan?”
Alexander mencoba memperhalus kalimatnya, tetapi tetap mengajukan pertanyaan itu dengan sadar.
Sebenarnya, dia tidak memiliki kecurigaan apa pun terhadap janin dalam kandungan Soraya. Dia telah menghabiskan cukup banyak waktu untuk memeriksa kehidupan wanita muda itu melalui berbagai platform media sosial dan tidak menemukan jejak bahwa Soraya hidup sembarangan seperti yang sempat dia kira.
Namun, sebagai seorang pengusaha, Alexander terbiasa bersikap diplomatis. Dia tetap merasa perlu menanyakan hal itu.
Soraya yang sama sekali tidak siap menghadapi semuanya masih kebingungan menanggapi.
“Bukan. Ini anak manusia,” jawabnya.
Mendengar itu, Alexander mengusap dadanya untuk kesekian kalinya. Hampir satu jam sejak kedatangannya, tetapi Soraya masih belum menerima kehadirannya dalam pembicaraan ini. Meski begitu, mengingat Soraya sudah mengizinkannya untuk tetap berada di sini, Alexander merasa harus cukup tahu diri untuk bersyukur dan bersabar.
“Auh.”
“Kenapa? Ada apa?” panik Alexander ketika Soraya tiba-tiba mengeluh.
Saat itu dia sedang duduk menghadap Soraya yang bersandar di kepala ranjang. Secara refleks, tangannya bergerak menuju perut Soraya.
PLAK!
“Ah, maaf-maaf,” ujar Alexander sambil mengusap punggung tangannya yang dipukul.
“Pegang-pegang perut orang sembarangan!” gerutu Soraya cemberut.
Entah kenapa, ekspresi itu justru tampak lucu di mata Alexander.
“Maaf. Aku mengira perutmu sakit. Atau ada bagian lain yang sakit? Katakan saja....”
Mendengar betapa perhatiannya Alexander, Soraya memutar bola mata dengan jengah. Dia kembali teringat pada betapa gentleman-nya pria itu saat pertemuan pertama mereka.
Namun, jenis pria yang terlalu baik seperti ini selalu menimbulkan masalah kepercayaan bagi Soraya. Dalam pemahamannya, semakin baik, sopan, dan perhatian seorang pria, biasanya semakin bermasalah pula dirinya dalam hubungan.
Hal itu membuatnya teringat pada pamannya yang playboy.
“Ada apa?” tanya Alexander bingung setelah mendapat tatapan sinis dari sudut mata Soraya.
Lama menatapnya dengan sinis, Soraya akhirnya menggerakkan leher hingga mereka saling berhadapan.
“Ehmm, jadi....”
Alexander merasakan hawa dingin subuh merayapi tulang-tulangnya ketika mendengar ucapan Soraya yang terputus-putus.
“Jadi, setelah menguntit diriku habis-habisan, Kak Alexander tidak datang kemari tanpa rencana, bukan?”
Hanya hembusan napas yang lolos dari mulut Alexander. Bahkan untuk menelan ludah pun dia mulai kesulitan.
Tentu saja dia datang dengan rencana.
Dia berencana membicarakan kondisi Soraya, pendapatnya mengenai kehamilan ini, keinginannya, situasi dan kondisi mereka, lalu yang paling penting, rencana mereka ke depan terhadap anak itu.
Namun, jelas semuanya tidak akan berjalan seperti yang dia bayangkan.
Setidaknya, itu sudah dimulai ketika dia mengangguk.
“Ya.”
“Jadi, katakan. Apa rencana Kak Alexander?”
Alexander menatap Soraya dalam-dalam. Ada banyak hal yang ingin dia jelaskan, tetapi untuk saat ini dia hanya membutuhkan jawaban singkat. Dia tidak bermaksud menunda.
“Aku berencana bertanggung jawab penuh, sama seperti di awal,” jawab Alexander mantap.
Soraya yang semula merasa dirinya memimpin percakapan itu mengembang-kempiskan hidung karena sedikit tertekan di bawah aura kepemimpinan Alexander yang semakin terasa di bawah cahaya lampu.
Rahang pria itu tegas dan kokoh, tampak tidak selaras dengan tatapannya yang justru terlihat begitu penuh perhatian.
Namun, Soraya mengeraskan diri. Dia percaya penampilan bisa menipu.
Jadi, dia memilih langsung mengajukan pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan kebanyakan perempuan dalam situasinya.
“Memangnya Kak Alexander tidak punya kekasih? Mudah sekali bilang mau bertanggung jawab?”
DEG.
Peluh segera mencari jalan keluar dari setiap pori-pori Alexander.
Dia memang sudah berencana membicarakan hal ini, tetapi bukan pada pembahasan pertama. Dalam pengalaman negosiasinya, Alexander percaya bahwa pembicaraan seperti ini di awal dapat merusak keseluruhan percakapan.
“Tidak bisa jawab?” ujar Soraya lagi.
Kali ini dia memiringkan kepala, mencoba mencari mata Alexander yang sejak tadi menatap ke bawah. Ada sedikit kekehan bernada ejekan karena dia tahu tidak mungkin pria seperti Alexander tidak memiliki wanita, apalagi dengan usia dan penampilannya.
Menarik kedua kakinya hingga tertekuk dan mempertemukan kedua lengannya di atas lutut, Soraya membuang napas panjang.
Dari semua hal di dunia ini, dia tidak pernah mengira akan berada dalam situasi seperti ini.
“Begini saja, mari—”
“Ya, aku memilikinya. Tapi jelas hubungan itu akan dan harus berakhir,” potong Alexander.
Dia memotong begitu cepat karena sudah tahu percakapan ini akan sampai pada titik tersebut. Dia juga tidak ingin Soraya berpikir terlalu jauh.
Soraya memang sudah menduga hal itu, tetapi tetap saja dia terkejut mendengar pengakuan Alexander. Terlebih lagi, keteguhan di mata pria itu kini sama sekali tidak menghilang.
“Ouww!”
Soraya bergumam kaget ketika tiba-tiba tangannya ditarik Alexander dan masuk ke dalam genggaman pria itu. Tangan kecil dan halus miliknya hampir menghilang di antara kedua tangan Alexander yang dipenuhi urat-urat di permukaannya.
“Dengar, Soraya. Kamu bisa percaya atau tidak, tapi kamu pasti akan melihatnya nanti.”
Alexander menatapnya lekat.
“Aku memang sedang memiliki hubungan dan hubungan itu belum sepenuhnya berakhir. Tapi sebelum datang kemari, bagiku semuanya sudah sangat jelas. Jika memang dirimu mengandung anak kita, maka keputusanku juga sudah jelas mengarah kepadamu.”
Tegas, mantap, dan tidak terburu-buru. Begitulah gaya bicara Alexander yang membuat Soraya terpaku.
Namun, Soraya tidak terpaku tanpa pikiran.
Berbagai pemikiran justru berhamburan di kepalanya. Ada rasa kagum jika ucapan Alexander benar-benar mencerminkan pemikirannya. Ada pula kecurigaan bahwa semua itu hanya tipuan kata-kata belaka.
Bahkan, sebagian dirinya menganggap Alexander sebagai pria yang tidak punya hati dan otak.
Dia bingung harus memilih pemikiran mana untuk diangkat ke permukaan.
“Gila, ini sih brengsek,” gumam Soraya yang akhirnya memilih salah satunya.
“Maaf, kamu bilang apa tadi?” ulang Alexander, mengira dirinya salah dengar.
“Brengsek! Aku bilang Kak Alexander brengsek juga.”
Soraya memberikan tatapan tidak habis pikir yang disertai celaan.
Meski begitu, dia tetap berusaha mempertahankan panggilannya. Bagaimanapun, perbedaan usia mereka masih membuatnya menjaga jarak. Padahal, di sisi lain, Alexander sendiri mulai mengikis jarak itu dengan cara bicara yang semakin santai dan personal.
“Itu benar. Aku memang brengsek, dan itu tidak salah. Jadi, kalau bisa, tolong maafkan aku....”
Alexander membenarkan ucapan Soraya, bahkan meminta maaf dengan wajah tertunduk muram di bawah cahaya lampu yang terang. Cahaya itu semakin memperjelas garis-garis halus di dahinya, entah karena usia atau pikiran yang terlalu berat.
Dia merasa memang pantas disebut brengsek.
Soraya mengernyitkan alis, tidak mengerti jalan pikiran pria itu.
“Minta maaf untuk apa?”
Kini giliran Alexander yang bingung.
Tentu saja dia meminta maaf karena telah menghamili Soraya ketika wanita muda itu masih menempuh pendidikan, terlebih dengan cara yang tidak pantas untuk dilakukan kepada seseorang yang bahkan belum lama dikenalnya.
Alis Alexander terangkat. Tangan yang belum juga melepaskan tangan Soraya sedikit meremasnya tanpa sadar.
Dia menjelaskan satu per satu alasan permintaan maafnya dan berharap Soraya bersedia memaafkannya.
Namun, alih-alih mendapat maaf, dia justru melihat salah satu sudut bibir Soraya terangkat remeh sebelum tangan lembut itu lolos dari genggamannya.
Soraya juga sudah memikirkan kehamilannya, meskipun tidak sejauh dan seserius Alexander.
Intinya hanya satu: dia bahagia karena memiliki sesuatu yang selama ini dia kira tidak akan pernah dimilikinya dalam hidup.
“Kalau soal kehamilan ini, aku....”
Mata Alexander mengikuti tangan Soraya yang mengelus perutnya dengan penuh kasih. Senyum yang terbit di wajah wanita itu benar-benar sebuah senyuman, bukan senyum sinis seperti sebelumnya.
“Aku juga tidak mengharapkannya, sama seperti Kakak. Tapi aku menginginkan anak ini.”
Ucapan lembut itu membuat Alexander tanpa sadar ikut tersenyum. Ingatannya kembali pada awal pertemuan mereka yang kini hampir sebulan berlalu.
“Kamu salah, Soraya.”
Alexander menatapnya.
“Saat aku mulai takut memikirkan kemungkinan ini, sebenarnya saat itulah aku tanpa sadar sudah mulai berharap.”
Soraya yang masih tersenyum langsung tertegun mendengarnya.
Itu terasa sangat salah di telinganya.
Dia bisa mengerti jika Alexander tampak tidak memiliki pilihan sekarang. Namun, bagaimana mungkin seorang pria yang masih memiliki kekasih bisa berkata seperti itu? Seolah-olah dia memang mengharapkan kehamilan Soraya.
“Kak Alexander, kau yakin mencintai kekasihmu?” Soraya bertanya sinis. “Kenapa ucapanmu terdengar seperti kau tidak terikat hubungan apa pun? Apa kalian pasangan baru sampai kau bisa bicara seperti itu?”
Alexander memundurkan kepalanya, kaget mendengar pertanyaan tersebut.
“I-itu.... Itu....”
Dia kebingungan menentukan arah pembicaraan, tetapi tetap memilih menjawab jujur.
“Kami sudah bersama sebagai kekasih selama dua tahun. Keluarga kami sudah menjadi kerabat sejak lama, jadi hubungan kami hampir seperti dijodohkan.”
Alexander menarik napas sejenak.
“Sementara hubungan kami, ... sedang dalam persiapan pernikahan.”
Pada akhirnya, Alexander mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya, dan hal itu membuat mata Soraya membulat.
“Kalian dalam persiapan pernikahan?”
Alexander menatap mata Soraya dalam-dalam sebelum mengangguk penuh kesadaran. Pada akhirnya, dia memang tidak ingin menyembunyikan apa pun.
“Ya. Tapi itu akan berakhir di antara kami. Kamu bisa memegang perkataanku.”
Namun, Soraya yang semakin terkejut mendengar keteguhan Alexander justru mengalami semacam korsleting di otaknya.
Dia turun dari tempat tidur dan berdiri di hadapan Alexander dengan tangan kiri bertumpu di pinggang, sementara tangan kanannya menggaruk kepala.
“Kak tunggu! Pertama, kau benar-benar keterlaluan. Kedua, apa hubungannya aku dengan hubungan kalian yang akan berakhir? Kenapa aku yang harus memegang perkataanmu? Maksudnya apa?”
Alexander yang mendengar itu ikut berdiri.
Dia juga mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin dikatakan Soraya. Bukankah sejak tadi mereka membicarakan kehamilan ini? Lalu, mengapa wanita muda di hadapannya justru mempertanyakan hal itu lagi?
Namun, sebagai pria dewasa, Alexander tahu bahwa dialah yang harus tetap tenang di sini.
“Tentu saja hubunganku dengannya harus berakhir agar kita bisa menikah. Kalau tidak begitu, bagaimana aku bisa bertanggung jawab padamu, Nona?”
DEG.