" Tolong keluarkan saya darisini...!! Saya mau keluar... Tolong bukain pintunya....!! " Triakan
keras Heru salah seorang eks pekerja pabrik garmen yang berlokasi di sentra industri terkemuka tak satupun ada yang merespon.
Entah tujuannya apa ia berkunjung ke area gudang yang sudah lama tutup akibat krisis yang berkepanjangan. Gudang kimia yang dulunya merupakan salah satu pabrik textile
terbesar yang pernah menyerap tenaga kerja
mencapai ribuan orang itu, kini tinggal nama saja karena sudah di alihfungsikan menjadi gudang penyimpanan zat kimia kain, sangat berbahaya bagi manusia . Gudang itu sendiri dulunya merupakan pabrik Garment terbesar yang pernah ada di negeri ini. Dan sekarang keberadaan gudang itu sendiri terbengkalai, tidak terawat sebagai mana mestinya. Kotor dan berdebu serta sebagian beberapa mesin operatornya banyak yang berkarat. Namun dibalik itu pun gudang kimia yang letaknya tak jauh dari deretan pabrik pabrik lainnya banyak menyimpan misteri kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martin deBs Komarudin1670, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vira kaget temukan mayat Wisnu
Vira kemudian menuju ke ruangan
mushola, Yang Vira tau ada sumber air untuk sekedar membasuh wajah nya yang penuh keringat karena nafasnya sesaknya terus saja masih mengganggu kenyamanan dirinya.
" Aku harus ke mushola.... Biasanya
kran air disana jarang mati....Sebab
kalo tidak nafasku akan berakhir
sampai disini..... " Kata Vira dalam hatinya bertanya. Ia langsung saja bergerak menuju mushola yang gak jauh dari ruang ganti pekerja. Tapi sebelum Vira sampe tempat ibadah itu ia harus melewati sejumlah mesin yang tak lagi produksi alias lama gak dipakai jadi rusak, kolam
pencuci kain yang menggunakan air keras namun terlihat kering. Sebab sudah terlalu lama jadi mau gak mau air dikolam harus dibersihkan
karena membahayakan manusia jika menyentuhnya akan terjadi iritasi pada kulit. Sampai di mushola, Vira bingung semuanya nampak kering kerontang , sejumlah kran air namun ada dua yang masih baik kondisinya dan cepat cepat saja ia memutarnya tapi air yang diharapkan tak kunjung keluar , begitu pun kran satunya lagi tetap saja tak ada airnya. Gimana ada airnya , tempatnya saja kering berdebu kecuali lantainya basah atau lembab pasti yang pernah menggunakan kran air tersebut. Vira makin kritis keadaan, ia bingung apa ysng di perbuatnya lagi. Tidak bakal ada orang yang menolongnya, ia betul-betul tertipu oleh bujuk rayunya Jumadi yang menyuruhnya masuk ke area gudang yang sangat berbahaya. Dalam hatinya Vira pun sempat berpikir, kalo begitu benar apa Sadiman, security pabrik yang menyarankan gak usah dilanjutkan pencarian Wisnu, sebab nasibnya akan sama seperti temannya yang sudah bisa dipastikan tewas jika sudah memasuki gudang kimia itu.
" Aku memang bodoh... Coba saja kalo saya mengikuti saran bapak security pabrik itu.... Pasti gak akan seperti ini nasibku... " Ucap Vira dalam hatinya berkata. Tiba tiba disaat Vira tengah memikirkan apa yang ada di lamunannya, wanita itu melihat ada corong angin seperti sinar terang walaupun redup, cepat saja menyentuh hati Vira untuk segera bangkit dan menghampiri corong udara angin yang ada di salah satu ruangan yang di konotasi
beracun atau poison warning. Vira gak peduli akan tulisan peringatan didepan pintu tebal yang bahannya terbuat dari besi bercampur dengan alumunium tersebut. Bagi Vira yang penting bisa menghirup udara segar dulu demi mempertahankan hidup dari keadaannya yang kritis. Vira berdiri tepat dibawah kipas blower yang biasa digunakan pabrik untuk sirkulasi udara yang masuk. Belum cukup lama Vira berdiri menghirup udara bersih dari corong blower kipas, Vira sambil berpikir, Semua rangkaian yang ada didalam gudang semuanya nampak mati tidak ada yang hidup termasuk baling baling kipas yang ada di ruang produksi semuanya gak berfungsi termasuk kran air tidak ada satupun yang menyala. Padahal pabrik itu dulunya salah satu penggunaan air yang paling boros, dimana mana banyak kran air baik untuk keperluan produksi maupun keperluan lainnya tapi sekarang malah terbalik. Air menjadi barang yang langka untuk bisa ditemukan. Tapi kenapa kipas blower itu tetap hidup dan menjadi satu satunya komponen yang ada didalam gudang yang terlihat hidup, ini pasti ada mengoperasikan. Siapa lagi kalo bukannya Jumadi, satpam yang tiba-tiba saja menghilang. Ketika Vira tengah asik asiknya ia menghirup udara yang keluar dari mulut corong kipas angin besar atau (blower) ini tidak lain untuk menjaga stabilitas dirinya. Tiba-tiba Vira terkejut luar biasa, melihat ada kaki manusia terselip dibalik drum drum kimia yang tersusun namun posisinya nampak berantakan dan begitu terlihat ternyata mayat yang tergeletak begitu saja. Lebih terkejut lagi ketika yang dilihatnya itu mayat Wisnu yang terjebak di gudang beberapa jam yang lalu. Vira pun langsung menjerit histeris.
" Aaaauuuuw....!!!! " Jeritan Vira memekik telinga Jumadi yang tiba tiba sudah berdiri dibelakang Vira.
" Kenapa menjerit.... " Seru Jumadi tidak terlalu keras suaranya, namun
terlihat sinis kedengarannya, Vira pun secepatnya berbalik kebelakang meihat, dan langsung kembali kaget karena didepannya teryata Jumadi sudah berdiri kokoh mengenakan dengan seragam security, lengkap dengan atribut yang menempel di tubuhnya .
" Kamu sebenarnya mau apa datang
ketempat ini....?? " Ucap Jumadi dengan wajah angkernya berbeda sekali dengan apa yang pernah tadi dilihatnya , sopan dan senyum. Kini Jumadi bagai monster yang sangat menakutkan setiap kali ada orang masuk ke gudang. Vira nampak panik melihat penampilan Jumadi yang berbeda dari yang dilihatnya.
" Saya cuma mencari teman saya
yang terjebak didalam sini....Tapi
ternyata dia sudah tewas.... " Jawab Vira sinis juga nadanya walau posisinya masih terlalu sohk
karena baru saja menemukan Wisnu yang ternyata sudah tewas begitu mengenaskan.
" Semua yang pernah datang kesini
itu artinya akan mati.... Termasuk
kamu....!! " Kata Jumadi sedikit keras dan mengancam. Vira makin cemas saja dan panik melihat cara Jumadi menatapnya seperti itu. Bau amis yang menyengat bercampur oleh zat kimia yang berbahaya jika tersentuh kulit manusia yang akan menimbulkan iritasi pada kulit. Apa lagi jika sampai zat kimia itu masuk kedalam mulut. Tidak menunggu waktu lama , orang itu akan tewas.
Termasuk yang kebanyakan yang tewas di ruangan ini akibat banyak yang menghirup zat kimia tersebut.
dan satu-satunya untuk bertahan hidup di dalam ruangan itu hanya tertumpu pada kipas angin yang ada cerobong lobang angin itu, namun kalo sampai hal itu diputus Jumadi, selesailah kehidupan Vira dan harus
mau mengikuti jejak rekan rekannya yang lain yang sudah lebih dulu mati di gudang kimia tersebut.
" Apa salah saya dan semua yang
sudah mati disini....!! " Protes Vira
pada Jumadi yang nampak geram melihat wanita yang sok pemberani tersebut, padahal penakut.
" Tujuan kamu cuma mewakili rekan
bdan kelompok kamu sendiri....!
Bukan mewakili seluruh pekerja
pabrik yang ada.... Kalian cuma
menjadi limbah para pekerja yang
lain....Sebab kasus perusahaan ini
masih menunggu keputusan di
pengadilan.... Kamu dan teman
temanmu diam diam memaksakan
tuntutan itu.....!! " Tegas Jumadi yang membuat Vira terkejut ketika Jumadi membeberkan apa yang jadi tujuannya bersama teman-teman yang sudah mati itu.
" Kenapa bapak bisa tau kalo tujuan
kami menuntut hak yang belum
sepenuhnya di penuhi perusahaan
dan apa hak bapak menghalangi
niat saya dan teman teman saya
disini....! " Vira berusaha tegas juga bicaranya, ia sudah kepalang masuk gudang dan terlanjur kesal pula melihat teman temannya sudah menjadi korban kejahatan secara sistematis yang dirancang sangat proporsional tanpa bisa diketahui oleh aparat yang berwajib. Jumadil sangat licik dan pintar untuk bisa mengelabui setiap calon korban yang datang ke gudang kimia itu. Ia paling bisa menempatkan kondisi dan situasi sehingga bisa membuat Jumadil merasa nyaman melakukan aksi biadabnya, menghilangkan tiap kaum buruh yang memprotes atas kebijakan pemimpin perusahaan yang dianggap belum menepati janji akan kewajibannya memberikan kompensasi terhadap kaum buruh.