NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Menang Dua Suara

Damar sudah tahu sejak jam tujuh pagi.

Notifikasi itu masuk ke ponselnya ketika dia masih di mobil menuju Sentul. Laporan otomatis dari tim keamanan IT: laptop kantor dengan nomor aset milik sekretaris Presiden Direktur diakses dari jaringan internal kemarin pukul 15.12, dan sebuah folder disalin ke perangkat eksternal. Tim IT menunggu instruksi. Kunci akunnya? Laporkan ke HR? Tarik dokumen penawaran?

Damar mengetik satu kata. Biarkan.

Lalu dia mematikan ponselnya dan menatap jalan tol di luar jendela.

Sekarang, di ruang presentasi yang berbau cat baru, dia menatap perempuan yang baru saja menutup laptopnya dan berkata "Bisa", dan dia ingin tahu satu hal. Apa yang akan dilakukan Anala Paramitha ketika semua yang dia siapkan dicuri tepat di depan matanya.

***

"Peserta terakhir, Grup Hadiwijaya."

Anala berdiri. Dia tidak membawa laptop. Dia hanya membawa satu lembar kertas, dan bahkan kertas itu dia letakkan terbalik di atas podium.

Para juri saling melirik. Salah satunya, laki-laki tua berkacamata dari pihak pemilik lahan, sudah menyandarkan punggungnya ke kursi seperti orang yang tahu hasilnya sebelum pertandingan dimulai.

"Bapak-bapak dan Ibu, saya tidak akan membahas harga," kata Anala.

Ruangan itu diam.

"Penawaran kami tetap. Tidak kami turunkan satu rupiah pun." Dia menatap juri satu per satu. "Karena kalau yang Bapak-bapak cari adalah pembeli yang paling murah, maka Gema sudah menang dan saya tidak perlu berdiri di sini. Tapi saya rasa Bapak-bapak tidak mengundang dua perusahaan besar ke Sentul hanya untuk mencari harga yang paling murah."

Laki-laki tua berkacamata itu menegakkan punggungnya sedikit.

"Saya mau bicara soal kopi."

Lima belas menit berikutnya, Damar menonton sesuatu yang belum pernah dia lihat di ruang rapat mana pun.

Anala tidak memakai slide. Dia bicara tentang petani kopi di lereng Bukit Selatan yang selama ini menjual hasil panennya ke tengkulak. Tentang jalur trekking yang bisa dibuka di antara kebun. Tentang kedai kopi kecil di setiap pos, yang dikelola warga, dengan sistem bagi hasil. Tentang kunjungan sekolah, tentang wisata akhir pekan untuk keluarga Jakarta yang lelah dengan mal. Tentang pemilik lahan yang tetap memegang saham kecil di koperasi pengelola, sehingga tanah itu tidak hanya dijual sekali lalu dilupakan.

Dia tidak membaca dari kertas di podium. Kertas itu tetap terbalik sampai akhir.

"Penawaran lain mungkin menawarkan harga yang lebih rendah hari ini," katanya, menutup presentasinya. "Tapi yang dijual di Bukit Selatan bukan tanah murah. Yang dijual adalah alasan orang mau datang lagi."

Dia menunduk sedikit dan kembali ke kursinya.

Tidak ada tepuk tangan. Juri-juri itu terlalu sibuk menulis.

Reza mencondongkan badan ke arah Damar. "Dia nyiapin itu kapan?"

"Barusan."

"Gila."

Damar tidak menjawab. Dia memperhatikan Anala yang duduk dengan punggung lurus, tangan terlipat di pangkuan, seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya ujung jari telunjuknya yang bergerak, mengetuk-ngetuk lututnya, cepat dan pelan. Satu-satunya tanda bahwa dia tidak setenang yang dia tunjukkan.

***

Pengumuman datang empat puluh menit kemudian.

"Dari tujuh anggota juri, empat suara untuk Grup Hadiwijaya. Dua suara untuk Gema Group. Satu abstain."

Selisih dua suara.

Tim Hadiwijaya di deretan belakang bersorak tertahan. Seorang staf perempuan dari divisi proyek memeluk temannya. Di seberang, tim Gema membereskan berkas tanpa suara. Fajar sudah tidak terlihat di mana pun.

Arka berjalan mendekat ketika orang-orang mulai berdiri. Dia tidak terlihat kalah. Dia terlihat seperti orang yang baru selesai menonton pertunjukan yang bagus.

"Selamat, Damar."

"Hm."

Arka tidak menatapnya lama. Dia menoleh ke Anala dan tersenyum.

"Sekretaris Nala." Dia mengucapkan sebutan itu dengan nada yang setengah serius, setengah mengejek. "Berapa pun gajimu di sana, Gema bayar dua kali lipat."

Ruangan di sekitar mereka mendadak tenang. Beberapa staf yang masih berberes berhenti bergerak.

Damar melangkah ke depan. Bahunya kini menghalangi pandangan Arka ke arah Anala.

"Dia tidak dijual."

Arka mengangkat alis. Sesuatu melintas di wajahnya, sebuah senyum yang lebih tipis dari sebelumnya, seolah kalimat itu lucu dengan cara yang hanya dia pahami.

"Tentu saja." Dia mundur selangkah dan merapikan jasnya. "Oh, iya. Selamat juga untuk pertunangannya. Bianca pasti senang."

Dia pergi sebelum Damar sempat membalas.

***

Mobil itu baru masuk Tol Jagorawi ketika Reza, yang duduk di kursi depan di sebelah Pak Ujang, berbalik dengan wajah berseri-seri.

"Nala, serius. Tadi itu luar biasa. Waktu IT lapor pagi-pagi soal laptopmu, aku udah lemas. Aku bilang ke Damar, tarik aja penawarannya, kita minta perpanjangan waktu. Eh, dia bilang..."

Reza berhenti. Dia melihat wajah Damar di kursi belakang dan menyadari apa yang baru saja dia katakan.

Terlambat.

Anala menoleh pelan ke arah Damar.

"Bapak sudah tahu," katanya. Bukan pertanyaan.

Damar tidak menjawab.

"Sejak pagi. Bapak tahu laptop saya dibuka. Bapak tahu penawarannya bocor." Suaranya tidak naik. Justru semakin pelan. "Dan Bapak diam saja."

"Za," kata Damar. "Hadap depan."

Reza berbalik dan menatap jalan tol dengan sangat serius.

"Kenapa?" tanya Anala.

"Aku mau lihat apa yang bisa kamu lakukan."

Itu jawaban jujur. Damar tidak biasa memberikan jawaban jujur, dan dia baru menyadari betapa buruk kedengarannya ketika diucapkan keras-keras.

Anala tertawa. Pendek dan dingin, tidak seperti tawa yang pernah dia dengar darinya.

"Jadi Pak Damar juga sedang menguji saya?"

Pak Damar. Dan saya. Di dalam mobil, di depan Reza dan Pak Ujang, ketika selama dua tahun ini, di luar kantor, dia selalu memanggilnya Damar saja.

"Kalau tadi saya gagal," lanjut Anala, "Bapak akan bilang apa? Sekretaris baru besok pagi sudah duduk di meja saya?"

Damar tidak menjawab itu. Dia tidak punya jawaban yang tidak akan terdengar lebih buruk.

"Aku tidak bilang," kata Damar pelan, "bukan berarti aku tidak peduli."

Anala menatapnya lama. Sesuatu di matanya bergeser, seperti air yang tidak jadi tumpah. Lalu dia memalingkan wajah ke jendela.

"Pak Ujang," katanya. "Tolong menepi sebentar. Saya mau turun."

"Bu..."

"Sebentar saja, Pak. Saya butuh udara."

Pak Ujang melirik spion, menunggu perintah. Damar mengangguk sekali. Mobil itu melambat dan berhenti di bahu jalan, lampu hazard berkedip-kedip.

Anala tidak jadi turun. Dia hanya membuka jendela dan membiarkan angin panas dan bising truk-truk masuk ke dalam mobil. Rambutnya yang tadi disanggul rapi mulai lepas di pelipis.

Ponsel Damar bergetar. Bianca.

Dia hampir menolaknya. Lalu dia mengangkatnya.

"Damar! Aku dengar kamu menang tender. Selamat, ya." Suara Bianca terlalu riang, seolah tadi malam tidak terjadi apa-apa di lorong timur. "Oh iya, Sabtu ini kamu ke Menteng, ya. Keluarga mau kumpul bahas acaranya. Eyang sudah tentukan tanggal lamaran."

Di sebelahnya, Anala tidak bergerak. Tapi Damar tahu dia mendengar setiap kata.

"Sabtu aku datang," kata Damar.

Dia memutus sambungan sebelum Bianca sempat menjawab.

Anala masih menatap ke luar jendela, ke truk-truk yang lewat. Dia tidak bertanya. Dan Damar tidak menjelaskan untuk apa dia akan datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!