Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Tak lama kemudian. Mereka akhirnya sampai di rumah lama mereka, rumah sederhana yang telah ditinggalkan selama hampir dua tahun sejak Mahardika pergi bertapa dan berobat ke Gunung Merapi.
Mahardika melihat ke sekeliling. Beberapa bagian dinding kayu rumah itu tampak sudah lapuk.
Sepetak tanah di samping rumah yang dulu ada Tanaman kopi dan cabai yang dulu rajin ia rawat dan tinggalkan untuk kebutuhan hidup anak dan istrinya sudah tak ada sisa lagi, berganti dengan semak belukar yang tumbuh liar dan tinggi.
"Tanah ini nanti akan kubersihkan dan kutanami dengan tanaman obat herbal," kata Mahardika dalam hati.
Mahardika berjalan mendekati pintu depan yang terkunci oleh sebuah gembok besi besar yang sudah berkarat.
"Selamat datang di rumah lama kita, Sayang," kata Mahardika penuh kehangatan.
Mahardika menggenggam gembok berkarat itu. Hanya dengan sekali, gembok besi itu terlepas dan hancur di tangannya.
Krek!
Mahardika mendorong pintu kayu yang berderit kasar itu dengan pelan.
Begitu pintu terbuka, debi berterbangan.
Kondisi bagian dalam rumah itu sungguh mengenaskan.
Suasananya terlihat sangat lusuh, lemari baju kayu di sudut ruangan sudah miring dan hampir roboh.
Dan beberapa serta peralatan rumah tangga milik mereka tampaknya telah dicuri orang.
Mahardika mendudukkan Amel dengan perlahan di atas sebuah bangku kayu, lalu ia berjongkok di depan putri kecilnya itu.
"Sayang, enggak apa-apa, kan, kita tinggal di rumah ini? Hidup sederhana bersama Papa?" tanya Mahardika dengan lembut.
Amel mengangguk kepala pelan. "Iya, Pa... Amel enggak apa-apa kok, asal bisa terus sama Papa. Rumah ini banyak kenangan kita sama Papa," kata Amel mantap, kedua tangannya yang kecil menggenggam erat jari ayahnya.
Hati Mahardika tersentuh hangat mendengarnya.
Ia berdiri tegak, menyingsingkan lengan bajunya seraya tersenyum lebar.
"Pintar anak Papa! Jadi hari ini, mari kita mulai membetulkan dan membersihkan rumah kita kembali agar layak dihuni!" seru Mahardika penuh semangat.
"Ayo, Pa! Amel mau bantu!" jawab Amel sambil tertawa gembira, melompat kecil dari bangkunya dengan wajah ceria yang sudah lama tak terlihat.
Dengan semangat baru, Mahardika langsung bergerak cepat.
Ia mengambil sapu, lalu menyapunya dengan cepat.
Ia mengalirkan energi murni, sehingga ia bisa menyapu dengan cepat.
Lemari kayu yang hampir roboh ia tegakkan kembali dengan mudah, lalu ia perbaiki bagian engselnya yang rusak.
"Wah! Papa hebat banget! Kayak ada sihirnya!" seru Amel terkagum-kagum dengan mata berbinar lebar sambil bertepuk tangan gembira.
Mahardika tertawa renyah, merasa sangat bahagia melihat keceriaan yang kembali di wajah putrinya.
"Ini bukan sihir, Sayang. Ini hasil latihan Papa waktu berobat dulu. Nah, sekarang giliran Amel bantu Papa, ya!" kata Mahardika tersenyum.
"Siap, Kapt-en!" jawab Amel penuh semangat, memberikan hormat.
"Amel tolong lap meja kayu kecil ini pakai kain basah ya. Jangan yang berat-berat, biar Papa yang bereskan sisanya," ujar Mahardika lembut seraya menyerahkan selembar kain bersih yang sudah dibasahi air.
"Oke, Pa! Amel bakal bikin mejanya bersih kinclong!" dengan riang Amel mulai mengelap meja kecil itu dengan tekun.
Sementara Amel sibuk dengan tugas kecilnya, Mahardika melangkah ke pekarangan rumah.
Ia menatap semak belukar yang menutupi sepetak tanah milik mereka.
Dengan mata tembus pandangannya, ia mengamati struktur tanah yang ternyata masih sangat subur.