NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08- TARGET PALING LEMAH

Kalimat Adrian bagai sebilah pisau es yang dihunjamkan tepat ke sumsum tulang belakangku.

Ethan.

Duniaku mendadak kehilangan gravitasi. Wajah adikku yang tersenyum jahil saat sarapan tadi pagi, suara tawa cemprengnya ketika mengeluh soal kemejanya yang berantakan, lalu bayangan tubuh mudanya yang terbujur kaku di ruang jenazah sepuluh tahun yang lalu—semuanya bertubrukan liar di dalam kepalaku bagai badai pecahan kaca.

Di kehidupan pertamaku, Ethan mati dalam kecelakaan tunggal di jalan lingkar luar kampus. Mobilnya menabrak pembatas jembatan layang dan terjun bebas ke jurang sedalam dua puluh meter. Rem mobilnya blong. Polisi menyatakan itu kelalaian pengemudi akibat kecepatan tinggi. Saat itu, Ryan berdiri di sampingku di pemakaman, mendekap pundakku erat-erat sambil membisikkan kata-kata penenang palsu bahwa Ethan sedang mabuk bersama teman-teman klubnya.

Padahal Ethan tidak pernah menyentuh alkohol setetes pun seumur hidupnya.

Dulu, kecelakaan itu terjadi dua bulan setelah proyek pelabuhan disahkan. Tapi hari ini... aku telah mengubah garis waktu. Aku menampar muka Ryan di depan umum, menggagalkan draf kemitraannya, dan menghentikan suplai dana haram keluarga Marvia. Ryan yang tersudut tidak lagi punya kesabaran untuk bermain rapi. Dia mempercepat skenario pembantaian itu hari ini juga.

Napas yang kuhirup terasa membakar paru-paruku. Tanganku menyambar ponsel dari atas meja dengan begitu cepat hingga cangkir porselen di samping berkas bergetar hebat.

Aku menekan panggilan darurat ke nomor Ethan.

Satu dering.

Dua dering.

Tiga dering.

Klik.

"Halo? Kak Nadia?" Suara riang Ethan terdengar dari seberang sambungan, diiringi deru suara angin kencang dan deram knalpot mobil sport.

"Ethan! Kamu ada di mana?!" teriakku tanpa memedulikan etika di dalam ruang rapat yang masih menyisakan Ayah dan para direktur senior.

"Lagi di parkiran timur fakultas, Kak," jawab Ethan santai, terdengar suara tawa Ryan yang samar di latar belakang. "Tumben Kak Ryan baik banget ngajakin nongkrong. Dia bawa mobil baru, katanya mau tes tarikan mesin di jalan tol lingkar barat sekalian traktir aku makan siang. Kenapa, Kak? Mau titip makanan?"

Dadaku seperti dihantam palu godam seberat sepuluh ton.

"Ethan Arlena, dengarkan aku!" suaraku bergetar hebat, dipenuhi histeria yang tak lagi mampu kubendung. "Turun dari mobil itu sekarang juga! Jangan sentuh kunci kontaknya! Jangan pergi bersama Ryan!"

"Hah? Apaan sih, Kak? Ryan bilang tadi kalian cuma salah paham di kantor. Dia lagi baik banget, kok. Lagian kuncinya udah di tanganku, aku yang bakal nyetir—"

"ETHAN, TURUN SEKARANG!"

Bip.

Sambungan mendadak terputus. Hanya tersisa nada sibuk bernada monoton yang berdengung kejam di telingaku.

"Sialan!"

Aku mencoba menekan nomornya kembali, namun operator wanita menjawab dengan suara datar bahwa nomor tersebut berada di luar jangkauan sinyal. Jalur lingkar barat kampus memang terkenal dengan dead zone jaringan seluler karena diapit tebing beton penahan bukit.

Darahku mendidih hingga ke ubun-ubun. Ryan sengaja membawanya ke sana. Ryan tahu Ethan sangat menyukai mobil sport bertenaga kuda tinggi, dan Ryan sengaja menyerahkan kemudi kepada Ethan agar ketika remnya tidak berfungsi di turunan tikungan tebing, kematian Ethan akan dianggap sebagai kesalahan fatal dari anak manja yang ugal-ugalan.

Keluarga Arlena akan hancur oleh duka. Ayah akan terpuruk secara psikologis. Dan saat Arlena Holding rapuh tak bertuan, Ryan akan masuk kembali sebagai penyelamat yang membawa berkas restrukturisasi modal.

Rencana busuk yang biadab.

Aku berbalik secepat kilat, berniat berlari keluar ruangan, namun tubuhku limbung karena rok span dan sepatu hak tinggiku. Tepat sebelum lututku menghantam lantai marmer, sepasang lengan kekar terulur dan menangkap pundakku dengan cengkeraman kokoh bagai besi tempa.

Aroma tembakau dingin dan kayu cedar kembali menyergap hidungku.

Adrian Varell berdiri tegak menopang tubuhku. Matanya yang hitam kelam tidak lagi menyiratkan ejekan atau sindiran. Tatapan pria itu tajam, waspada, dan dingin membaca kepanikan di wajahku.

"Kamu tidak akan pernah sampai tepat waktu ke kampus barat dengan sedan keluarga Arlena," suara bariton Adrian berdentum rendah di dekat telingaku.

Edward Arlena yang sejak tadi mengamati dari ujung meja seketika bangkit, wajahnya yang menua berubah pucat pasi. "Nadia! Apa maksud teriakanmu tadi?! Ada apa dengan Ethan?!"

Aku menatap Ayah dengan mata basah, namun tatapanku membeku dalam determinasi yang mengerikan. "Ryan membawa Ethan ke tebing lingkar barat, Yah. Mobil yang dikemudikan Ethan... tidak punya rem."

Ayah membelalak, cangkir teh di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping di atas karpet wol mahal. "Apa?! Ryan?!"

"Paman Edward, tetaplah di sini dan amankan bursa saham perusahaan. Jangan biarkan orang-orang Hendra mematikan sistem internal kantor," Adrian memotong sebelum Ayah sempat panik lebih jauh. Pria itu mengalihkan pandangannya kembali padaku, mencengkeram pergelangan tanganku erat. "Ikut saya, Nona Arlena. Jika kita memacu mobil dengan benar, kita punya sisa waktu sembilan menit sebelum mereka mencapai tikungan turunan jembatan layang."

Aku tidak membuang waktu untuk bertanya bagaimana Adrian tahu detail rute tersebut. Aku mengangguk mantap.

Kami melangkah cepat menyusuri koridor eksekutif menuju pintu darurat di ujung timur, bukan menuju lift lobi utama. Adrian mendorong pintu baja bertanda akses khusus atap gedung. Tangga spiral logam membawa kami naik satu lantai menuju landasan helipad pribadi Varell Group di puncak gedung pencakar langit itu.

Namun kami tidak naik ke helikopter yang baling-balingnya masih mati. Di sudut teras dek bawah helipad, sebuah lift hidrolik khusus kendaraan bermotor terbuka. Di dalamnya, terparkir sebuah sedan sport hitam tanpa pelat nomor biasa—Mercedes-AMG GT Black Series berwarna hitam doff dengan bodi serat karbon yang tampak mengintimidasi layaknya jet tempur darat.

Asisten pribadi Adrian melempar kunci kontak berbentuk kristal hitam ke udara. Adrian menangkapnya dengan tangan kiri tanpa menoleh, lalu membuka pintu samping penumpang untukku.

"Masuk dan kunci sabuk pengamanmu," perintah Adrian dingin.

Aku menyobek belahan rok span hitamku sedikit di bagian samping paha tanpa ragu agar kakiku bisa bergerak bebas, lalu melompat masuk ke dalam jok bucket seat berbahan alcantara. Adrian membanting pintu pengemudi, menekan tombol engine start, dan seketika deru monster V8 twin-turbo berkapasitas empat liter menggelegar membelah udara lantai tiga puluh enam gedung Arlena Holding.

Mobil itu melesat keluar dari dek lift barang, meluncur turun melewati jalur spiral darurat dengan kecepatan yang membuat perutku terpelintir hebat. Adrian mengendalikan setir dengan satu tangan secara presisi gila-gilaan, sementara tangan kanannya memindahkan tuas transmisi dengan kecepatan refleks seorang pembalap profesional.

Ban mobil berdecit keras di atas beton landai saat kami meluncur keluar dari gerbang belakang gedung, memotong antrean kendaraan umum di jalan protokol, dan langsung melesat menuju arteri jalan bebas hambatan arah barat.

Gaya gravitasi menghantam dadaku ke sandaran kursi saat jarum spidometer digital melompat dari nol ke angka seratus empat puluh kilometer per jam hanya dalam hitungan detik. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta berubah menjadi sapuan garis kabur di luar jendela kaca yang gelap.

Aku mencengkeram pegangan pintu mobil erat-erat. Jantungku berdetak seirama dengan letupan knalpot di bawah sasis.

"Telepon Ryan," perintah Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari celah sempit di antara truk-truk kontainer di jalan tol.

Aku segera membuka ponselku, mencari kontak Ryan Arkana, lalu menyalakan mode pengeras suara.

Dering pertama.

Dering kedua.

Panggilan terhubung.

"Nadia?" Suara Ryan terdengar tenang di seberang sana, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang merancang pembunuhan adik tunangannya sendiri. "Ada apa meneleponku lagi? Tadi Selena bilang kamu sangat marah di kafe. Aku tahu kamu kesal, tapi jangan melampiaskannya pada—"

"Ryan Arkana, batalkan niat busukmu!" desisku dengan suara bergetar menahan amarah yang membakar kerongkonganku. "Suruh Ethan menepi sekarang juga! Kalau sehelai rambut saja dari adikku terluka, aku bersumpah demi napas terakhirku, seluruh keluarga Arkana akan kubuat membusuk di sel bawah tanah paling kotor di negeri ini!"

Hening sesaat di seberang sana. Deru angin dari jendela mobil Ryan terdengar mendesing pelan.

Lalu, sebuah tawa dingin yang begitu akrab terdengar. Tawa yang sama persis dengan tawa yang kudengar di apartemen lantai tiga puluh dua beberapa jam sebelum aku mati.

"Nadia, kamu bicara omong kosong apa?" bisik Ryan, suaranya kini berubah menjadi desisan berbisa yang mengerikan. "Aku tidak menyentuh adikmu. Ethan sendiri yang memintaku meminjamkan kunci mobil balap baruku. Dia ingin merasakan kecepatan di turunan jembatan barat. Kalau dia terlalu bodoh untuk mengendalikan stir mobil bertenaga tinggi, bukankah itu takdirnya sendiri?"

"Ryan, dasar binatang—"

"Kamu yang memulai perang ini di ruang rapat, Sayang," potong Ryan dengan nada berbisik yang dingin. "Kamu memotong napas papaku, mempermalukan Selena, dan melemparkan proyek pelabuhan ke tangan Varell Group. Kamu pikir kamu bisa keluar dari permainan ini tanpa membayar harga yang setimpal? Adikmu adalah uang muka dari kerugian yang kamu ciptakan hari ini."

"Ryan—"

"Selamat tinggal, Nadia. Dengarkan dentumannya di berita sore nanti."

Klik.

Sambungan diputus sepihak.

"SIALAN!" Aku memukulkan ponselku ke dasbor serat karbon hingga layarnya retak seribu. Air mata kemarahan dan ketakutan merebak di sudut mataku.

Sepuluh tahun yang lalu, aku tidak berdaya. Aku menangisi mayat adikku yang hancur tanpa pernah tahu siapa yang memotong selang rem mobilnya. Tapi kali ini... aku ada di sini! Aku sudah diberi kesempatan kedua oleh Tuhan! Aku menolak menjadi penonton dalam kematian keluargaku sendiri!

"Dia tidak berada di dalam mobil yang sama dengan Ethan," kata Adrian tiba-tiba, suaranya tenang luar biasa kontras dengan kepanikanku.

Aku menoleh ke arahnya dengan napas terengah-engah. "Apa maksudmu?"

"Ryan Arkana terlalu pengecut untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri di dalam mobil yang remnya sudah dimodifikasi untuk meledak di tikungan," jelas Adrian sambil memutar setir tajam ke kiri, menyalip dua bus antar-kota melalui bahu jalan berdebu dengan presisi gila. "Dia membuntuti Ethan dari belakang dengan sedan lain untuk memastikan adikmu benar-benar terjun dari jembatan layang. Dan itu artinya... kita masih punya celah."

Mobil kami menerobos gerbang tol barat tanpa melambat, memanfaatkan sensor gerbang otomatis Varell Group yang langsung membuka palang pintu. Di hadapan kami terbentang jalan layang beton yang meliuk-liuk di atas perbukitan hijau pinggiran kota.

Langit siang itu mulai mendung, persis seperti langit di hari kematian pertamaku. Udara terasa lembap, dan tetes-tetes air hujan pertama mulai jatuh menghantam kaca depan mobil.

Hujan.

Trauma dingin itu kembali merayap di kulitku, namun aku mencengkeram pahaku sendiri kuat-kuat, membiarkan rasa sakit fisik menyadarkanku dari kepanikan mental.

"Dua kilometer di depan," Adrian melirik layar navigasi satelit di konsol tengah yang memancarkan tiga titik pelacak merah. "Satu mobil sport kuning melaju dengan kecepatan seratus delapan puluh kilometer per jam di jalur turunan tebing. Di belakangnya, ada SUV hitam berjarak tiga ratus meter. SUV itu milik Ryan."

Mataku terpaku pada jalan layang di kejauhan. Di atas bentang jembatan beton yang melengkung tajam ke arah jurang sungai, aku melihatnya: sebuah Porsche kuning cerah melesat liar bagai peluru lepas kendali. Di belakangnya, lampu hazard mobil tersebut berkedip kacau.

Ethan sedang panik menginjak rem yang sudah tidak lagi merespons. Mobil kuning itu mulai meliuk tidak stabil, ban belakangnya mengeluarkan asap putih pekat saat menyentuh aspal basah akibat hujan yang mulai menderas.

Dan di belakang mobil kuning itu, sebuah Range Rover hitam menjaga jarak aman, sengaja menghalangi mobil pengguna jalan lain agar tidak ada yang menolong, sekaligus merekam detik-detik kejatuhan sang pewaris Arlena Holding.

Ryan Arkana sedang menonton eksekusinya.

"Ethan!" jeritku tanpa sadar.

Jarak kami dengan mobil Ryan tersisa lima ratus meter. Di depan sana, turunan maut jembatan layang dengan tikungan berbentuk tapal kuda hanya berjarak tujuh ratus meter lagi. Begitu mobil kuning Ethan menghantam dinding pembatas beton di ujung tikungan itu dengan kecepatan di atas seratus lima puluh kilometer per jam, pembatas itu akan jebol dan mobil adikku akan remuk di dasar jurang bebatuan.

"Nadia," panggil Adrian, suaranya begitu rendah dan fokus. "Pegang sabuk pengamanmu erat-erat."

"Apa yang akan kamu lakukan?!"

"Menabrak SUV itu keluar dari jalur, lalu menggunakan bodi mobil ini sebagai bantalan penahan laju mobil adikmu sebelum tikungan tapal kuda."

Mataku membelalak ngeri menatap Adrian. "Kamu gila?! Di kecepatan setinggi ini, mobil kita bisa terguling dan jatuh bersama dia!"

Adrian melirikku sekilas. Untuk pertama kalinya, aku melihat senyuman tipis terbit di bibir pria itu di tengah badai bahaya—senyuman seorang predator yang hidup di atas tepi jurang kematian.

"Kamu bilang ingin membuat kontrak dengan iblis untuk membalikkan papan catur, Nona Arlena," bisik Adrian serak, kakinya menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil terdalam. "Maka bersiaplah membayar harganya sekarang."

Mesin AMG GT Black Series menjerit parau bagai monster yang dilepaskan dari neraka. Mobil kami melompati gundukan sambungan jalan layang, melesat bagai anak panah hitam menembus tirai hujan lebat.

Ryan di dalam Range Rover hitamnya tampaknya baru menyadari keberadaan kami dari kaca spion. Mobil hitamnya berusaha bergerak ke kanan untuk memblokir jalur kami, namun Adrian tidak sedikit pun mengurangi kecepatan.

"Pegangan!" raung Adrian.

DUAAARRRR!

Bumper depan mobil kami menghantam sudut belakang Range Rover milik Ryan dengan kecepatan mengerikan. Benturan logam berkekuatan ribuan joule itu membuat SUV hitam Ryan berputar liar di atas aspal licin bagai gasing, menghantam dinding tebing bukit di sisi kiri dengan dentuman memekakkan telinga, lalu terbalik dua kali sebelum akhirnya berhenti dalam posisi roda di atas, ringsek tak berbentuk.

Aku bahkan tidak sempat menarik napas lega melihat kehancuran mobil Ryan.

Di hadapan kami, mobil Porsche kuning Ethan sudah berada di bibir tikungan tapal kuda. Mobil itu bergetar hebat, bagian belakangnya mulai terpelanting ke arah jurang. Di balik kaca belakang mobil kuning itu, aku bisa melihat siluet Ethan yang panik memutar kemudi ke segala arah, wajahnya dipenuhi teror murni anak muda yang tahu hidupnya akan berakhir dalam tiga detik.

"ETHAN!" teriakku sekuat tenaga hingga pita suaraku serasa robek.

Adrian tidak membiarkan mobil kami melambat. Ia membanting setir ke kanan dengan kalkulasi matematis yang luar biasa gila, memotong jalur dalam tikungan, dan menyalip mobil Ethan dari sisi jurang.

Adrian sengaja menempatkan bodi samping kiri mobil Mercedes kami tepat di depan hidung mobil sport Ethan yang melaju tanpa rem.

BRAAAAKKKKK!

Dentuman kedua terjadi. Logam bertemu logam. Percikan api menyembur liar di bawah sasis mobil di tengah guyuran hujan lebat.

Tubuhku tersentak hebat ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman empat titik yang menekan tulang rusukku hingga nyaris patah. Bau karet terbakar dan uap radiator seketika menyeruak pekat memenuhi kabin.

Adrian mencengkeram setir dengan kedua lengannya yang berotot, menahan guncangan liar dari benturan mobil Ethan yang mendorong mobil kami terus meluncur menuju dinding pembatas jembatan. Jarum spidometer perlahan turun: seratus dua puluh... delapan puluh... lima puluh...

KRRRKKKK!

Bumper depan mobil kami akhirnya menghantam dinding pembatas beton jembatan layang. Beton tebal itu retak, kerikil dan debunya berhamburan jatuh ke jurang di bawah sana. Namun bodi serat karbon mobil Adrian berhasil menahan momentum dorongan tersebut.

Mobil berhenti.

Hening mendadak merayap turun.

Hanya suara desau hujan deras yang menghantam kap mesin yang penyok dan desis uap panas dari radiator yang pecah.

Di sebelah kiri mobil kami, Porsche kuning Ethan terhenti dalam posisi terjepit antara mobil kami dan tebing jalan. Kap mesinnya hancur, namun ruang kabin pengemudinya utuh sempurna.

Melalui kaca samping yang retak, aku melihat Ethan.

Adikku terkulai di atas setir, kantung udara (airbag) putih mengembang di hadapannya. Keningnya berdarah karena benturan, namun dada pemuda itu masih naik dan turun dengan teratur.

Dia masih bernapas.

Ethan masih hidup.

Air mataku tumpah ruah menuruni pipi. Bukan air mata keputusasaan seperti malam di apartemen lantai tiga puluh dua itu, melainkan air mata kemenangan berdarah. Aku telah merenggut nyawa adikku kembali dari cengkeraman takdir kematian.

Napas di dalam dadaku masih berburu liar saat aku perlahan menoleh ke sisi kanan.

Adrian Varell menyandarkan kepalanya di sandaran jok. Kemeja putihnya ternoda sedikit percikan darah dari luka gores di pelipisnya akibat serpihan kaca. Jas hitam mahalnya kusut berdebu. Namun pria itu tidak mengeluh.

Adrian menoleh ke arahku. Sepasang mata hitam kelam itu menatapku lekat-lekat menembus remang tirai hujan.

"Adikmu selamat, Nona Arlena," suara bariton Adrian terdengar sedikit serak, namun tetap dingin dan sarat kekuasaan.

Aku menatap pria di hadapanku dengan napas tertahan. Seorang konglomerat dingin yang rela mempertaruhkan nyawanya sendiri di atas tebing jurang maut hanya untuk sebuah kontrak kerja sama dan membuktikan kalkulasinya. Dia benar-benar monster yang berbahaya.

"Kenapa Anda bertindak sejauh ini, Tuan Varell?" bisikku serak, jemariku yang gemetar menyentuh luka gores di pelipisnya tanpa sadar.

Adrian tidak menepis tanganku. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai berbahaya yang membuat bulu kudukku meremang.

"Karena saya tidak suka pion catur saya mati sebelum permainan selesai," jawab Adrian pelan, tatapannya beralih menatap kaca spion samping.

Di belakang kami, berjarak seratus meter di tengah jalan layang yang basah, sosok seorang pemuda merangkak keluar dari jendela mobil Range Rover hitam yang terbalik.

Ryan Arkana.

Pakaian pemuda itu compang-camping berlumuran darah dan lumpur jalanan. Wajahnya yang dulu selalu terlihat tampan dan angkuh kini dipenuhi memar dan darah segar yang mengalir dari hidungnya. Ryan merangkak di atas aspal dengan tangan gemetar, menatap ke arah mobil kami dengan sepasang mata yang dipenuhi rasa ngeri dan ketidakpercayaan yang luar biasa.

Rencana pembunuhannya gagal total. Kedoknya sebagai sahabat yang baik telah terkoyak menjadi serpihan berdarah di atas aspal jalan tol.

Aku membuka pintu mobil yang sudah sedikit penyok, lalu melangkah turun ke atas aspal yang diguyur hujan deras. Air hujan seketika membasahi rambut panjangku dan kemeja putihku, namun aku tidak peduli. Rasa dingin air hujan itu tak ada artinya dibandingkan api pembalasan dendam yang kini berkobar sempurna di dalam jiwaku.

Aku melangkah perlahan menghampiri sosok Ryan yang masih merangkak di atas jalanan dingin. Setiap ketukan sepatuku di atas genangan air terdengar bagai lonceng kematian bagi pemuda itu.

Begitu jarak kami tersisa tiga langkah, Ryan mendongak. Matanya membelalak ketakutan saat melihat sosokku berdiri menjulang di hadapannya di bawah langit kelabu.

"N-Nadia..." bisik Ryan dengan bibir gemetar berlumuran darah. "T-tolong aku... ini kecelakaan... aku tidak sengaja—"

Aku berjongkok di hadapannya. Tanganku mencengkeram kerah kemejanya yang berdarah dengan sangat kuat, menarik wajah pemuda itu mendekat ke wajahku.

Aku menatap tepat ke dalam matanya yang bergetar hebat—tatapan yang sama persis dengan yang kuberikan padanya di malam ia membunuhku sepuluh tahun kemudian.

"Dua jam yang lalu di kafe, kamu bilang aku tidak mengerti urusan bisnis orang dewasa, kan, Ryan?" bisikku dengan suara yang begitu lembut, namun dingin menusuk bagai racun mematikan.

Ryan menelan ludah, air mata ketakutannya bercampur dengan darah di pipinya. "Nadia... maafkan aku... tolong panggilkan ambulans..."

"Ini baru permulaan, Tuan Muda Arkana," lanjutku tanpa memedulikan rintihannya. Aku mendekatkan bibirku ke telinganya, membisikkan kata-kata penghakiman pertama yang akan menghancurkan hidupnya perlahan-lahan. "Mulai hari ini, kamu dan Selena akan menyaksikan bagaimana satu per satu aset keluargamu kubakar menjadi abu di depan matamu sendiri. Dan kamu... akan tetap hidup untuk melihat hari di mana kamu berlutut memohon kematian kepadaku."

Aku melepaskan cengkeramanku dengan kasar hingga wajah Ryan terhempas kembali ke aspal basah.

Dari kejauhan, suara sirine mobil polisi dan patroli pengawal Varell Group mulai meraung membelah hujan, mendekat dengan cepat ke arah jembatan layang.

Permainan bertahan hidup di Babak Pertama ini baru saja mencapai titik balik tertingginya.

Ryan telah kalah dalam langkah pembukaannya. Dan bidak catur hitamku... kini siap menyapu bersih seluruh pion keluarga Arkana dari papan permainan.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!