NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Fiora mengangguk menuruti perintah Hayden. Ia menggandeng tangan Leo, lalu menuntun anak kecil itu menaiki tangga kayu menuju lantai dua tempat kamar utama berada. Hayden menunggu di ruang tengah hingga mendengar suara pintu kamar lantai atas terkunci rapat dari dalam, memastikan keamanan mereka.

Setelah situasi dipastikan aman, Hayden perlahan menurunkan tubuhnya ke atas sofa empuk di ruang tengah. Ia menghela napas panjang, membiarkan otot-otot tubuhnya yang tegang merileks. Rasa nyeri membakar dari luka tusuk di perutnya masih terasa hebat, namun efek obat pereda nyeri yang disuntikkan Fiora sebelumnya mulai bekerja, membuat rasa sakit itu berangsur tumpul.

Sembari menahan kantuk dan kelelahan yang luar biasa, Hayden memejamkan mata. Pikirannya melayang membayangkan bukit pemancar militer yang menjadi tujuan akhir Marcus. Marcus memegang tiga tabung 'Genesis', tetapi tanpa akses penuh atau kunci enkripsi yang mungkin tersimpan di vila ini, pria itu hanya memegang cairan tanpa guna.

Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang dingin.

Ketika fajar mulai membias kebiruan di balik jendela kaca vila, Hayden membuka matanya. Kondisi fisiknya terasa jauh lebih stabil meski ia belum bisa bergerak terlalu lincah. Ia menegakkan tubuhnya, memeriksa balutan perban di perutnya yang masih kering tanpa noda darah baru.

Langkah kaki halus terdengar menuruni tangga. Fiora berjalan mendekat sambil membawa sebaki makanan kaleng yang sudah dihangatkan dan dua botol air bersih.

"Gimana keadaan lukamu, Hayden?" tanya Fiora seraya meletakkan baki di atas meja.

"Jauh lebih baik. Jahitanmu rapi," jawab Hayden singkat sambil menerima sebotol air. Ia menatap Fiora lurus-lurus. "Fiora, ayahmu perancang 'Genesis'. Apakah ada data cadangan atau kaset enkripsi yang ditinggalkan Dr. Aris di ruang kerjanya?"

Fiora tertegun sejenak, lalu matanya berbinar teringat sesuatu. "Ruang kerja Ayah ada di sebelah kamar utama. Beliau memang sempat menyimpan satu *drive* khusus sebelum laboratoriumnya diserang... Tapi, kenapa kamu butuh itu?"

"Karena Marcus boleh saja memegang vaksinnya," sahut Hayden dengan senyum tipis yang dingin, "tapi tanpa kunci dekripsi milik ayahmu, 'Genesis' yang dibawa Marcus tidak akan pernah bisa direplikasi atau digunakan."

Fiora menatap Hayden lurus-lurus, menyilangkan tangannya di dada dengan raut wajah tegas yang tak bantah.

"Baik kalau itu yang kamu inginkan," ucap Fiora, suaranya menuntut kepatuhan mutlak. "Tapi tunggu lukamu pulih dulu baru kita bergerak. Nggak ada perdebatan."

Hayden hendak membantah, membuka mulutnya untuk menyuarakan urgensi mengejar Marcus sebelum pria itu bertindak lebih jauh. Namun, Fiora memotongnya lebih dulu dengan tatapan tajam khas seorang calon dokter.

"Luka tusuk di perutmu itu menembus otot, Hayden. Kalau kamu nekat bertarung atau bahkan cuma mengemudi rute terjal sekarang, jahitannya bakal lepas dan kamu bisa mati karena pendarahan dalam. 'Genesis' nggak bakal ada gunanya kalau pembawanya jadi mayat."

Hayden menghela napas panjang, mengepalkan tangannya di atas meja sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya kembali ke sofa. Ia tahu Fiora benar. Memaksa bertarung dengan kondisi tubuh yang remuk hanya akan menyerahkan nyawa mereka bertiga secara cuma-cuma kepada Marcus.

"Dua minggu," pungkasi Fiora tegas. "Aku butuh waktu dua minggu untuk memastikan jaringan ototmu menyatu dan lukamu benar-benar pulih. Selama itu, kita tinggal di sini."

Hayden akhirnya mengangguk pelan, menerima keputusan itu.

Dua minggu pun berlalu dalam keheningan vila tersembunyi tersebut. Di bawah perawatan medis Fiora yang teliti, kondisi fisik Hayden berangsur-angsur pulih. Hari-harinya diisi dengan latihan fisik ringan untuk mengembalikan refleks tubuhnya, sembari memetakan rute menuju bukit pemancar militer dan mempelajari data *drive* enkripsi milik Dr. Aris Dominic yang berhasil dipulihkan dari ruang kerja.

Di sisi lain, keberadaan Leo membawa kehangatan kecil di tengah kiamat yang dingin. Suara erangan dari balik pintu *basement* memang sesekali masih terdengar, tetapi batasan besi yang kokoh dan fokus mereka untuk bertahan hidup membuat masa-masa pemulihan itu berjalan aman.

Tepat di ujung minggu kedua, Hayden melepas perbannya. Bekas luka tusukan di perutnya kini telah mengering dan menutup sempurna. Ia mengepalkan tangan, merasakan kekuatannya telah kembali penuh—siap untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

"Aku dapat dari catatan Ayah, kita sebenarnya bisa membuat ulang vaksin itu. Tapi, kita butuh DNA dari keluarga Danielle karena racikan utamanya ada pada genetika keluarga mereka. Enam tahun lalu, tim peneliti pernah menguji cobanya pada bayi dari anak Danielle. Tanpa DNA itu, vaksin Genesis nggak akan pernah berfungsi sama sekali."

Hayden menghentikan gerakannya yang sedang memeriksa senapan, memutar tubuhnya perlahan menatap Fiora. "Keluarga Danielle?"

Fiora mengangguk cepat, menunjukkan sebuah kaset dokumen fisik dan catatan tangan lusuh milik ayahnya yang baru saja ia temukan di balik brankas tersembunyi ruang kerja.

"Iya. Ayah menulis kalau formula 'Genesis' yang dibawa Marcus itu cuma cangkang protein kosong," terang Fiora dengan nada serius. "Enam tahun lalu, tim peneliti diam-diam menguji coba sampel awal pada seorang bayi dari keturunan keluarga Danielle. Struktur antibodi bayi itu bermutasi dan menyatu sempurna, membuat garis keturunannya menjadi satu-satunya 'kunci hidup' untuk memicu reaksi vaksin. Tanpa ekstrak DNA dari keluarga Danielle, vaksin di tangan Marcus nggak lebih dari cairan mati yang nggak ada gunanya."

Hayden menyipitkan mata, otaknya berputar cepat menghubungkan potongan-potongan informasi. "Keluarga Danielle... Setahuku mereka salah satu penderma utama Fasilitas Oase sebelum kiamat terjadi. Apakah ada dari mereka yang selamat?"

Fiora menunduk membaca lembar berikutnya dengan dahi berkerut, lalu matanya membelalak kaget saat membaca sebuah nama yang tercantum di catatan akhir ayahnya.

"Tunggu..." bisik Fiora, jemarinya gemetar memegang kertas itu. "Di sini tertulis... nama asli anak itu. Bayi yang diuji coba enam tahun lalu."

Fiora mendongak, menatap Hayden dengan riak terkejut yang tak terbendung.

"Nama anak itu... Leo."

Hayden membeku. Senapan serbu di tangannya hampir saja terlepas. Ia mengalihkan pandangannya tajam ke arah sudut ruangan, di mana Leo sedang duduk tenang melukis gambar rumah dengan krayon kusam di atas lantai kayu.

Anak kecil berusia enam tahun itu—yang diselamatkan Fiora dari bunker minimarket—adalah kunci hidup dari seluruh peradaban yang tersisa.

"Leo..." gumam Hayden, suaranya sangat berat. "Bocah itu adalah subjek uji cobanya?"

Fiora mengangguk pelan dengan wajah pucat pasi. "Ayah tidak mencatat nama belakangnya, tapi tanggal lahir dan dokumen medis yang dilampirkan di kaset ini sama persis dengan berkas identitas yang kutemukan di tas Leo saat pertama kali menyeretnya keluar dari minimarket. Dia adalah garis keturunan Danielle yang tersisa."

Hayden mengepalkan tangannya rapat-rapat. Situasi permainan kini berubah total. Marcus di bukit pemancar militer mungkin menguasai tiga tabung 'Genesis', tetapi pria itu hanyalah memegang kotak kosong tanpa kuncinya. Jika Aegis Corporation sampai tahu bahwa kunci sebenarnya adalah seorang bocah enam tahun, Leo akan menjadi buronan nomor satu di muka bumi.

"Fiora," bisik Hayden, melangkah mendekat dengan mata menyala penuh ketegasan. "Catatan ini... jangan pernah katakan pada siapa pun. Bahkan pada Leo."

"A-aku paham," jawab Fiora gemetar, meremas kertas catatan ayahnya. "Tapi kalau Marcus mencoba mengaktifkan vaksin itu di bukit pemancar dan gagal, dia pasti akan melacak kembali seluruh laboratorium Ayah untuk mencari tahu penyebabnya. Cepat atau lambat, mereka akan menemukan nama keluarga Danielle."

"Makanya kita nggak boleh memberi mereka waktu untuk menyadarinya," potong Hayden dingin.

Ia memutar tubuhnya, menyambar rompi taktis dan memasang magasin peluru yang sudah terisi penuh ke senapannya. Luka di perutnya sudah pulih total dalam dua minggu ini. Tubuhnya kembali prima, dan kini tujuannya jauh lebih dari sekadar merebut kembali vaksin.

Ia harus melindungi kunci terakhir milik kemanusiaan.

"Persiapkan barang-barangmu dan bawa Leo ke *Armored Rover*," perintah Hayden mantap, menatap lurus ke arah bukit pemancar militer yang samar-samar terlihat di balik jendela vila. "KITA berangkat sekarang. Kita selesaikan Marcus sebelum dia menyadari apa yang sebenarnya ada di tangan kita."

1
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!