Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV Fiona
Setelah beberapa kali menolak, akhirnya aku jatuh ke dalam pelukannya. Itu pun tidak sebentar. Cukup lama, aku merasakan kehangatan itu. Pria berparas dingin dan katanya kejam, nyatanya malah menghangatkan. Hingga tanpa sadar air mataku luruh di bahunya.
“Oh, maaf.”
Aku tersentak dan langsung menjauh darinya.
“Maaf, kemejamu basah,” ucapku lagi padanya.
Namun, pria itu malah tersenyum. Pria bule asal Italia dengan bahasa Indonesia yang fasih itu tampak santai.
“It’s oke. Aku suka. Sepertinya, aku tidak akan mencuci kemeja ini. Karena ada wangi tubuhmu di sini.”
Kekesalanku timbul lagi. “Dasar mesvm! Apa hanya itu yang ada dipikiranmu?”
Pria itu tertawa. “Tentu tidak. Hanya saja, faktanya memang cuma kamu yang disukai tubuhku.”
Aku memutar bola mataku dengan malas.
“Sungguh, sebelumnya aku tidak bisa menyentuh perempuan tapi denganmu …”
“Cukup!” ucapku sembari mengangkat tangan. “Sekarang, keluar! Aku tidak mau mendengar gombalanmu hari ini.”
“Itu artinya, kamu mau mendengar gombalanku besok atau lusa?”
“Gio!” Mataku melebar.
Melihat itu, Gio malah tertawa. “Kamu makin cantik saat marah, Fio. Sungguh, aku menyukaimu.”
“Sinting!”
Gio menyungging. Melihatnya tersenyum dengan arti yang aku ketahui, aku membentaknya lagi.
“Keluar!” Tanganku mengarah pada jedela yang terbuka. “Keluar sekarang! Atau aku teriak biar Pamanku datang dan memasukkan ke penjara.”
“Oh ya? Kamu tidak akan melakukannya.”
“Kenapa tidak?” aku tetap menantang. Namun dia tetap terlihat tenang.
“Karena aku baru saja menolongmu. Dan, aku tahu kamu bukan orang yang tidak tahu balas budi.”
Aku membeku. Ya, Gio baru saja menolongku. Bahkan, kejadian itu belum hilang satu kali dua puluh empat jam. Tapi, sikapku padanya masih tidak berubah.
“Aku juga pernah menolongmu,” tantangku lagi. “Jadi, kita impas.”
“Cerdas!” jawabnya tertawa. “Aku pikir, kamu peri sejati yang tidak membutuhkan validasi.”
“Karena kamu mengungkitnya duluan.”
“Oke … Oke …” pria itu menyerah. “Baiklah. Aku menyerah. Yang penting, sekarang kamu sudah baik – baik saja kan?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam. Sudah lama aku tidak mendengar pertanyaan itu. Dulu, pertanyaan itu keluar dari mulut Ayah dan Ibu ketika mereka melihatku terluka atau diam saja.
“Hei, kenapa diam?” tanya Gio lagi. “Are you oke?”
Air mataku ingin tumpah lagi. Namun, aku tahan. Aku tidak ingin terlihat cengeng di depannya. Setelah menarik napas panjang, aku berkata tegas dengan menegakkan tubuhku ke atas.
“Fine, Aku baik. Selalu baik. Tidak perlu mengkhawatirkanku karena aku bisa menjaga diri untuk tetap baik – baik saja.”
“Good. Itu bagus. Kalau begitu, aku pergi.”
Gio hendak melangkah mendekati jendela. Melalui pintu itu, dia akan keluar lagi. Namun, mataku melihat cahaya senter dari bawah. Seketika, aku langsung menarik lengannya dan tubuhku malah tidak seimbang. Gio terlalu berat untuk ditarik hingga aku yang kehilangan kesimbangan dan …
“Akh!”
Dengan cepat, Gio memegang pinggangku. Alhasil, aku tak jatuh ke lantai. Namun, malah membuat posisiku tak menguntungkan. Dad4ku menempel pad d4danya yang bidang. Wajahku dan wajahku bertatapan tanpa jarak dan …
Cup
Entah, set4n apa yang merasuki pikiranku, aku malah menciumnya.
Gio tampak suka. Pria itu tidak melewatkan kesempatan. Dia malah semakin menarik pinggangku dan membalas ciumanku dengan memburu. Akan tetapi, perlahan dia melembut dan kembali membuatku hanyut.
Dan sepersekian detik kemudian, aku terjaga. Aku mulai sadar, lalu mendorong dadanya. “Gio, stop!”
Mulut Gio masih terbuka. Dia masih ingin menikmati bibir ranum milikku yang tadi diterjang tanpa hambatan. Bahkan, sisa salivaku masih menempel disudut bibirnya.
“Aku …”
“Sorry.”
Dia malah meminta maaf. “Maaf, aku terlalu terbawa suasana.”
Aku mengangguk. “Sama aku juga. Hm … Anggap saja itu tanda terima kasih karena kamu sudah menyelamatkanku malam ini.”
“Hm … sama seperti waktu itu saat aku menolongmu dari Gomes.”
Aku mengingatkan kejadian saat ingin menangkap dua geng mafia yang selalu bersitegang itu. Ketika itu, senjata api yang dipegang Gomes sudah berada di kepala Gio. Kemudian, dengan cepat aku menembak tangan Gomes hingga senjata di tangannya otomatis terlepas dan petugas membekukkan kedua tangannya hingga Gio bebas dari ancaman kematian. Gio ikut dibawa ke sel, tapi keluar lagi tanpa syarat.
“Kamu menebusnya dengan memberikan tiket liburan untukku ke Maldives melalui Jihan. Bodohnya, aku menggunakan fasilitas itu,” kataku lagi.
“Dengan senang hati. Aku memberikan itu dengan senang hati,” jawabnya lagi.
Kami saling bertatapan lagi hingga sebuah teriakan dari bawah membuatku harus melakukan yang sebelumnya harus aku lakukan.
“Non Fio, jendelanya masih terbuka.”
Suara itu datang dari keamanan yang menjaga di depan gerbang kediaman Arif. Aku keluar dan berdiri di balkon. “Iya, Pak Budi. Tadi saya masih ingin menikmati udara malam. Selamat malam!”
“Selamat malam, Non.”
Aku tersenyum dan menutup jendela itu. Lalu, mataku tertuju pada Gio lagi.
“Apa aku menginap di sini?”
“Mau mu!” bola mataku memutar malas dan langsung menarik tangannya menuju keluar.
Dengan hati – hati, aku mengeluarkan Gio melalui pintu utama. Aku akan mengalihkan semuanya termasuk Pak budi agar Gio bisa keluar.
“Fio!”
Tubuhku membeku. Suara itu!
“Kamu mau ke mana malam – malam begini?”
Deg
Tiba – tiba, Paman Arif berdiri dan memanggilku.
Visual Gio
Visual Fiona