Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Hari pertama menyambut hari-hari
Pagi itu sinar matahari baru saja mengintip di balik jendela, membawa aroma kopi yang ada yang diseduh ibu dari dapur, bapak sudah sibuk menata barang dagangnya di gerobak, bersiap menjemput Rezeki seperti hari-hari biasanya.
di sudut lain, kakakku yang sudah SMA kelas 2 sedang sibuk merapikan seragam. melihat kakak memakai seragam putih abu-abu yang tampak gagah, motivasiku makin berlipat ganda. namun juga membuat jantungku berdengung lebih kencang.
tetapi hari ini adalah hari pertama aku resmi menjadi siswa SMP dan aku akan bersemangat!
aku langsung beranjak dari tempat tidur dan bergegas mandi lalu memakai seragam. setelah rapi dengan seragam putih biru yang masih berbau tokoh, kaku aku berdiri dengan rasa bangga yang menyelinap. aku bukan lagi anak SD mulai hari ini fase kok sudah berbeda.
sebelum bapak pergi berjualan bapak tersenyum lebar saat aku keluar ke teras, ibu pun tersenyum.
"belajar yang rajin" ucap ibu dengan pelan.
"baik" jawabku dengan senyum.
kami berdua aku dan kakak berpamitan untuk berangkat sekolah. kakak menuju SMA aku ke SMP sehingga kita punya tujuan jalan masing-masing. perjalanan menuju sekolah dekatku makin bulat.
aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mandiri, meraih prestasi, dan melewati masa mpls (masa pengenalan lingkungan sekolah).
Ini dengan baik.
setelah perjalanan menuju sekolah.
begitu sampai gerbang sekolah SMP baruku, lingkungan baruku rasa gugup sempat kembali menyerang. namun aku tetap melangkah demi langkah dengan senyuman siap menghadapi petualangan baru.
Aku masuk ke kelas yang sudah di tentukan. beberapa diantaranya saling asyik mengobrol karena sudah saling kenal sejak SD, dan beberapa ada yang hanya berdiri Canggung sambil celingukan.
Aku memilih masuk melangkah lebih dalam
mencari bangku kosong yang tersisa. suara tawa dari kelompok anak-anak SD yang sama terdengar mendominasi ruangan, Dengan keheningan di sudut-sudut kelas tempat anak-anak pendiam dan saling asing berkumpul.
Pandanganku tertuju pada sebuah meja di barisan ke tiga di tengah tiba-tiba ada yang memanggilku "Ris" aku menengok ternyata itu Nayla yang dulu se SD Denganku tapi aku tidak terlalu dekat denganya dulu.
"Ris sini duduk sama aku aja masih kosong nih"
kata Nayla sambil melambaikan tanganya.
Rasa canggung yang sempat menyergap langsung sedikit cair. Meski dulu di SD tidak terlalu dekat dan jarang mengobrol, melihat wajah yang familier di tengah orang asing seperti ini rasanya tidak sedikit canggung aku tersenyum lebar dan segera melangkah menghampiri mejanya di barisan ketiga itu.
"Ehh, Nayla! Iya, boleh banget. makasih ya."
kataku sambil meletakkan tas ranselku di kursi sebelah kanan Nayla.
Kami pun mulai mengobrol
"ehh ris untung aku sekelas sama kamu"
tanya Nayla.
"Iya untung aku juga bareng sama kamu"
Ternyata rasa canggung yang sama juga sempat melanda Nayla. Dia bercerita kalau teman-teman dekatnya dari SD masuk ke kelas yang berbeda. hingga dia merasa beruntung melihatku masuk ke kelas ini. pembicaraan kami yang mengalir begitu saja mulai dari
membahas liburan sekolah kemarin hingga, menebak-nebak seperti apa sifat wali kelas kami nanti. jarak yang dulu di antara kami saat SD seolah menguap begitu saja, di gantikan dengan rasa solidaritas sebagai sesama "anak baru".
Sembari mengobrol dengan Nayla aku memperhatikan sekeliling. Beberapa anak yang tadi berdiri Canggung mulai memberanikan diri mengajak orang lain bicara di dekatnya.
Suasana kelas yang tadinya terkotak-kotak antara yang berisik dan yang hening, perlahan lahan mulai membaur.
Tiba tiba langka kaki yang tegas terdengar dari arah koridor. Suasana kelas yang tadi riuh mendadak senyap ketika. Seorang guru dengan senyum ramah namun berwibawa melangkah masuk ke dalam kelas, membawa gulungan kertas besar dan buku absen.
petualangan baruku di SMP resmi dimulai hari ini, dan aku bersyukur tidak harus memulainya sendirian.
guru tersebut meletakan buku absen di atas meja kayu yang berada di depan kelas, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan.
senyumnya semakin lebar melihat ketegangan yang tiba-tiba melanda kamu semua.
"Selamat pagi semuanya! selamat datang di jenjang yang baru". Sapanya dengan suara lembut, menyejukkan.
perkenalan, nama saya Bu Dwi
Saya yang akan mendampingi kalian sebagai wali kelas.
Bu Dwi membuka buku absen.
"ibu absen dulu" ucapnya
Bu Dwi terus memanggil nama satu persatu di Buku absen setiap anak yang namanya disebut menjawab dengan beragam ekspresi.
Ada yang tersenyum malu-malu, dan ada juga ada yang menjawab dengan suara lentang penuh semangat bahkan ada yang hampir suaranya tidak terdengar karena gugup.
Setelah mengabsen semua siswa Bu Dwi menutup buku absen secara perlahan. Ia meletakan nya di meja dengan pelan.
Bu Dwi tersenyum hangat kepada seluruh anak di kelas. Suasana tegang tapi sudah mulai mencair lalu melangkah ke depan menghadap anak-anak.
"Terima kasih semuanya jumlah kita pas tiga puluh orang. Lengkap dan sehat semua"
Ucap Bu Dwi dengan nada menenangkan
"Sekarang galiran kalian yang meperkenalkan diri".
Suasana kelas seketika senyap sejenak.
semua siswa tampak saling pandangan menanti siapa yang akan perkenalkan pertama untuk memecahkan keheningan.
Satu persatu siswa akhirnya bergantian maju bicara dengan percaya diri, ada yang tersapu malu sambil meremas ujung seragamnya, dan ada pula yang memancing tawa seisi kelas karena tingkah nya yang jenaka. Bu Dwi menyimak setiap cerita dengan sabar, sesekali mengangguk dan memberikan apresiasi yang membuat suasana kelas baru itu terasa semakin akrab.
Dua jam berlalu tanpa rasa setelah siswa terakhir kembali ke tempat duduknya diiringi tepuk tangan riuh, Bu Dwi kembali berdiri di tengah kelas dengan senyuman nya yang tak pernah lepas.
"Luar biasa. Sekarang kita sudah saling kenal" ujar Bu Dwi, suaranya terdengar bangga.
"ibu sangat senang bisa bersama tiga puluh anak hebat di kelas ini. Karena sesi perkenalan selesai, mari kita mulai lembaran baru bersama. Silahkan buka buku cetak halaman pertama".
Rasa canggung yang menggelayut, ruang kelas sejak pagi kini benar-benar telah menguap, berganti dengan semangat baru yang siap menyambut hari-hari belajar ke depan.
setelah beberapa jam, istirahat kedua selesai dan akhirnya pelajaran terakhir tiba-tiba baru pulang berbunyi aku menutup buku cetak lalu mengemas alat tulisku ke dalam tas dengan penuh semangat.
" sampai besok lagi" ucap Nayla
"Iya sampai besok lagi!" jawabku sambil berjalan keluar kelas.
langkah kakiku terasa jauh lebih ringan menelusuri jalan menuju ke rumah. begitu sampai di depan pintu, aku langsung mengucap salam. suasana rumah terasa sepi saat melangkah ke dapur ada ibu yang sedang sibuk memasak, memotong sayuran untuk makan siang.
"sudah pulang? Bagaimana hari pertama" tanya ibu sambil tersenyum hangat, menyeka keringat di dahinya dengan ujung daster.
"seru sakali, Bu! Tadi ada sesi perkenalan kelas", Jawabku sambil tersenyum.
Aku memandang sekeliling rumah yang sepi kakak belum pulang dari sekolah karena jadwal SMA biasanya selesai lebih sore.
Sementara itu, bapak sudah selesai berjualan bubur ayam keliling sejak pukul enam pagi tadi. Gerobaknya sudah terparkir di samping rumah, bersih dan siap untuk esok hari. Namun, bapak tidak sedang bersantai setelah beristirahat sejenak dan menghabiskan kopi buatan ibu, bapak langsung pergi lagi untuk melanjutkan pekerjaan keduanya sebagai buruh serabutan.
Aku meletakkan tas di kamar, lalu berganti.
dan aku kembali ke dapur untuk membantu ibu sambil menceritakan kejadian-kejadian di sekolah.
Rasa lelah karena belajar seolah luntur melihat betapa kerasnya bapak dan ibu betapa kerasnya bapak dan ibu berkerja demi sekolah kami.
pokoknya harus Sampek ending