NovelToon NovelToon
DARK RONIN

DARK RONIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Perperangan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

DARK RONIN

Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.

Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Pemakaman

Jarak antara wilayah Utara tempat Shizuka gugur dan kediaman keluarganya di wilayah Barat ternyata jauh lebih jauh daripada yang bisa ditempuh dalam satu hari perjalanan. Angin yang bertiup dari arah pegunungan ke arah pantai membawa kabar duka ke setiap desa yang mereka lewati, dan semakin mendekat ke arah kampung halaman, semakin berat beban di hati setiap orang yang berjalan bersama rombongan itu.

Para utusan yang dikirim Tuan Daiki, bersama Kakashi, duduk bersama di sebuah ruangan sederhana tidak jauh dari tempat kremasi dilakukan. Mereka berdiskusi dengan penuh pertimbangan, menghormati adat sekaligus keinginan keluarga yang masih menunggu di rumah.

"Perjalanan pulang memakan waktu hampir lima hari," ucap salah satu utusan, suaranya pelan namun tegas. "Dan membawa jenazah sejauh itu... tidak pantas bagi Shizuka. Ia harus kembali dalam keadaan yang terhormat, bukan terguncang di atas kereta atau punggung kuda."

Yang lain mengangguk, wajahnya tertutup kesedihan. "Kami sudah bicara dengan petugas upacara. Di sini, di tempat ia berjuang dan gugur, abunya akan dikumpulkan dengan penuh penghormatan. Lalu kami bawa pulang dengan aman, dibungkus kain sutra putih, seperti layaknya seorang putri."

Kakashi berdiri di sudut ruangan, diam mendengarkan. Ia tidak ikut berbicara, namun setiap kata yang terucap terasa seperti tusukan di dadanya. Ia tahu keputusan ini benar — namun baginya, rasanya seolah ia meninggalkan sebagian dari Shizuka di tempat yang jauh ini.

Proses kremasi berlangsung dengan khidmat. Tidak banyak orang yang hadir, hanya mereka yang menyaksikan kepergiannya dan beberapa tetua setempat yang menghormati keberanian gadis itu. Asap tipis naik perlahan ke langit pagi yang cerah, menyatu dengan awan yang bergerak pelan ke arah barat — seakan jiwanya sendiri yang pulang ke rumah. Ketika abunya dikumpulkan ke dalam guci tanah liat yang sederhana namun indah, tangan Kakashi gemetar saat ia ikut membantu melipat kain penutupnya.

"Terima kasih, Kakashi," ucap salah satu utusan pelan. "Kau satu-satunya yang berada di sisinya hingga akhir."

Dua minggu berlalu sejak hari itu. Rasa duka yang tajam perlahan berubah menjadi kesedihan yang dalam namun tenang — seperti air sungai yang mengalir tenang setelah badai berlalu. Hari pemakaman akhirnya tiba.

Kawasan pemakaman keluarga Shizuka terletak di atas bukit yang menghadap ke lembah hijau, tidak jauh dari kediaman Tuan Kenzaburo, tempat Aoi kini tinggal. Di sana, di sebidang tanah yang tertutup rumput hijau dan bunga-bunga liar yang bermekaran, lubang telah digali. Di dalamnya, bukan hanya abu Shizuka yang akan diletakkan — pakaian kesayangannya, pisau-pisau yang selalu ia genggam erat, dan jubah yang ia pakai saat berangkat bertarung, semuanya dimakamkan bersama, agar ia pergi lengkap, membawa semua yang dicintainya.

Orang tua Shizuka berdiri di tepi liang kubur, tubuh mereka terlihat rapuh seakan tertiup angin. Ibunya menangis tanpa suara, bahunya bergetar, tangannya terus mengusap permukaan guci seakan mengelus wajah putrinya yang masih hangat. Ayahnya berdiri tegak, namun matanya yang merah dan basah mengkhianati keteguhannya. Di samping mereka berdiri Daiki — adik laki-laki Shizuka, pemuda yang baru saja mengambil alih kepemimpinan keluarga besar, namun hari ini ia hanyalah seorang adik yang kehilangan kakaknya. Air mata mengalir bebas di pipinya, jatuh ke tanah tanpa ia coba hapus.

Dan di sana, di sisi lain, berdiri Aoi — gadis berusia dua belas tahun yang kehilangan ayahnya, lalu kehilangan sepupu kesayangannya dalam waktu yang begitu singkat. Ia mengenakan pakaian hitam sederhana, rambutnya terurai rapi, matanya bengkak dan merah. Ia berdiri diam, menatap tempat peristirahatan terakhir Shizuka, seakan masih menunggu sepupunya itu menoleh dan tersenyum seperti biasanya.

"Kakak Shizuka..." bisiknya pelan, cukup untuk didengar hanya oleh angin. "Mengapa kau pergi begitu cepat? Aku belum sempat mengucapkan terima kasih..."

Jarak antara hari pemakaman Shizuka dan hari pemakaman Tuan Kenzaburo terasa begitu dekat, seakan takdir ingin menguji ketabahan mereka bertubi-tubi. Bunga-bunga di makam ayahnya belum sepenuhnya layu, kini bunga-bunga segar kembali diletakkan di gundukan tanah baru di sebelahnya.

Kakashi berdiri agak jauh dari kerumunan, di bawah naungan pohon cemara yang rindang. Ia mengenakan pakaian gelap yang sederhana, wajahnya tertutup bayangan, pandangannya tertuju pada guci yang perlahan diturunkan ke dalam tanah. Penyesalan terus menghantui pikirannya — andai ia lebih cepat, andai ia lebih kuat, andai ia tidak membiarkan Shizuka melangkah ke depan sendirian... ribuan andai berputar di kepalanya, tak pernah memberi ketenangan.

Ia tidak mendekat. Ia merasa tidak pantas. Baginya, ia adalah bagian dari kesedihan ini, bukan bagian dari penghiburan.

Setelah upacara selesai, orang-orang perlahan pergi meninggalkan bukit itu, memberi waktu keluarga untuk berduka sendirian. Namun Kakashi tetap berdiri di tempatnya, hingga hanya Aoi, Daiki, dan orang tua Shizuka yang tersisa. Saat mereka akhirnya berbalik untuk pulang, Kakashi melangkah keluar dari bayang-bayang pohon, menghadang mereka di jalan setapak yang menurun.

Ia berdiri tegak, menundukkan kepalanya sedikit, tatapannya tenang namun penuh kesedihan yang tak terucap.

"Nona Aoi, Tuan Daiki..." suaranya terdengar rendah namun jelas, memecah keheningan sore itu. "Ada hal yang harus kukatakan sebelum aku pergi."

Mereka berhenti, menatapnya. Aoi melangkah selangkah ke depan, seakan ingin mendekat, namun Kakashi mengangkat tangan pelan, menahannya.

"Aku sudah tidak memiliki ikatan dengan Tuan Kenzaburo, karena beliau telah tiada," lanjutnya, setiap kata terasa berat diucapkan. "Begitu juga dengan kalian. Aku hanyalah seorang ronin — dan itulah aturan dunia ini. Ketika tuan pergi, pengawalnya bebas. Tidak ada lagi kewajiban, tidak ada lagi tempat pulang."

Aoi menatapnya lekat-lekat, matanya kembali berkaca-kaca. "Tapi Kakashi-san... kau bukan sekadar pengawal..."

Kakashi tersenyum tipis, senyum yang getir namun lembut. "Terima kasih atas kata-katamu, Nona Aoi. Namun aturan ini ada karena suatu alasan. Seorang ronin yang tidak melepaskan ikatannya akan membawa kesialan bagi orang-orang yang ia tinggalkan. Aku tidak ingin kesedihan ini menimpa kalian lebih jauh."

Ia menatap Daiki, yang sejak tadi diam memperhatikannya.

"Tuan Daiki, kau telah memimpin keluarga ini dengan bijaksana. Jaga Aoi. Jaga semua yang dicintai Tuan Kenzaburo. Dan jika suatu hari kalian benar-benar membutuhkanku — jika ada bahaya yang datang, jika ada ketidakadilan yang terjadi — aku akan selalu siap. Di mana pun aku berada, seberapa jauh pun aku pergi, aku akan kembali."

Aoi melangkah maju lagi, bibirnya bergetar. "Tapi... ke mana kau akan pergi? Mengapa harus pergi?"

Kakashi menatap gadis itu, ingin sekali memeluknya, ingin sekali berkata bahwa ia akan tetap tinggal, bahwa ia akan melindunginya seperti janji yang pernah diucapkan kepada ayahnya. Namun ia tahu itu tidak benar. Ia membawa bayang-bayang kegelapan yang belum sepenuhnya hilang. Pedang itu, kekuatan itu, perasaan yang masih ia perangi di dalam dirinya... ia tidak boleh mendekatkan hal-hal itu kepada Aoi.

Daiki mengulurkan tangan, menahan bahu Aoi pelan, menggeleng perlahan. Matanya bertemu dengan mata Kakashi, dan di sana ada pengertian — pengertian yang mendalam, penuh rasa hormat sekaligus kesedihan. Ia mengerti. Kakashi tidak pergi karena tidak peduli. Ia pergi karena ia terlalu peduli.

"Pergilah, Kakashi," ucap Daiki pelan. "Dan terima kasih. Atas semua yang telah kau lakukan. Jalanmu mungkin jauh, namun ingatlah — pintu ini akan selalu terbuka bagimu."

Kakashi mengangguk, menelan ludah yang terasa pahit. Ia menatap Aoi untuk terakhir kalinya — wajah yang masih terlalu muda untuk kehilangan begitu banyak, mata yang memohon agar ia tidak pergi.

"Jadilah gadis yang kuat, Aoi," ucapnya lembut. "Itulah yang diinginkan ayahmu. Itulah yang diinginkan Kakak Shizuka."

Ia berbalik perlahan, tidak menunggu jawaban, tidak menoleh ke belakang. Langkah kakinya menjauh, menyusuri jalan setapak yang berkelok menurun, hingga sosoknya perlahan menghilang di antara pepohonan hijau.

Aoi berdiri diam, menatap tempat Kakashi menghilang, air mata jatuh membasahi pipinya. Ia tidak mengejar. Ia tahu, meski hatinya meronta ingin berteriak agar ia kembali, bahwa keputusan ini sudah diambil dan tidak dapat diubah.

Daiki merangkul bahunya pelan, membiarkan gadis itu menangis di bahunya. "Dia akan kembali," bisiknya, meski ia sendiri tidak yakin kapan. "Ketika waktunya tiba, dia akan kembali."

Di kejauhan, di persimpangan jalan yang membelah hutan, Kakashi berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah bukit itu, ke arah tempat mereka semua berada, lalu menghela napas panjang.

"Selamat tinggal..." bisiknya kepada angin. "Sampai jumpa lagi."

Ia melangkah terus, menuju jalan yang tak diketahui ke mana berujung — seorang ronin, bebas namun sendirian, membawa kenangan mereka di hatinya, berjanji dalam diam untuk menjadi layak kembali pulang ke rumah yang ia tinggalkan hari ini.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!