NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Ngapain ya?

Pagi yang cerah sukses membuat suasana hati Danu ikut cerah. Langkah kakinya menyusuri jalanan menuju sekolah terasa jauh lebih ringan dari biasanya, bahkan sesekali diselingi lompatan kecil yang penuh kegembiraan. Sisa kebahagiaan dari hari kemarin seolah masih menempel erat di dadanya.

Setibanya di ruang kelas 10D, Danu langsung melangkah menuju bangkunya dan mendaratkan tubuhnya di kursi. Di sebelahnya, Rio tampak sudah datang lebih dulu, tetapi anak itu justru menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan lesu.

"Haaa... bosan banget nih," keluh Rio dengan suara mendem dari balik lipatan tangannya.

"Loh, kenapa bosan?" tanya Danu heran sambil meletakkan tasnya.

"Ya... kenapa enggak? Kegiatan sekolah tuh gini-gini doang. Cuma masuk, belajar, dengerin guru, terus istirahat. Gitu terus tiap hari," gerutu Rio sambil mengangkat kepalanya sedikit.

"Hmm... iya juga sih. Oh! Gimana kalau lu main game aja, Rio? Kayak biasanya," usul Danu mencoba memberi solusi.

"Bagus sih idenya, tapi gue lagi lose streak parah, Dan. Bintang gue turun drastis, jadi mendingan gak usah main dulu deh, malah bikin emosi," tolak Rio lemas.

"Ouhh, pantesan lemes," respons Danu manggut-manggut. "Terus lu maunya gimana dong hari ini?"

"Hmmm... nanti dulu lah, dipikirin kalau udah masuk jam istirahat aja," balas Rio sambil kembali menjatuhkan kepalanya ke meja.

Danu tersenyum jahil, kebiasaan lamanya yang kaku mulai luntur. "Yee... gitu doang padahal. Katanya bosen, disuruh mikir malah nunda."

Mendengar ledekan itu, Rio langsung mengangkat kepalanya dengan mata melotot jenaka. "Wah, wah! Berani lu ya sekarang ngeledek gue? Sini lu, Dan! Gue kelitikin sampai nangis!"

"Ehh, ahaha! Gak mau!"

Danu refleks melompat dari kursinya untuk menghindari terkaman Rio. Keduanya pun malah asyik berlarian kejar-kejaran mengelilingi deretan meja kelas. Tawa lepas Danu dan omelan Rio memecah keheningan pagi itu. Namun, aksi konyol mereka harus terhenti seketika saat beberapa murid lain mulai bermunculan dari ambang pintu.

Danu dan Rio langsung mematung di tempat. Saling tatap dengan canggung di tengah kelas.

"Duh... jadi malu gini dilihatin. Ayo, Dan, buruan balik ke tempat duduk!" bisik Rio kelabakan sambil merapikan seragamnya yang berantakan.

"Iya, iya," jawab Danu menahan tawa sambil mengangguk-angguk, lalu bergegas kembali ke bangkunya.

Tak lama setelah seluruh murid duduk di tempat masing-masing, guru mata pelajaran pertama pun melangkah masuk, disusul dentang bel sekolah.

"Oke, anak-anak, selamat pagi!" sapa ibu guru dengan suara lantang.

"Selamat pagi, Bu Guru!" balas para murid serentak.

"Ayo, ambil buku catatan kalian dan mulai tulis materi di halaman dua puluh empat sampai dua puluh lima. Jangan ada yang ribut."

Suasana kelas yang tadinya mulai riuh kini seketika berubah sepi. Para siswa-siswi menunduk fokus menyalin teks dari buku paket. Tentu saja, selalu ada beberapa murid bandel yang ketahuan asyik mengobrol di kursi belakang, yang berujung mendapat hukuman tambahan mencatat dari sang guru.

Waktu terus bergulir. Tiga mata pelajaran berturut-turut telah sukses menguras tenaga dan pikiran seisi kelas. Sampai akhirnya, bunyi bel istirahat yang sangat dinantikan menggema.

Danu mulai memasukkan buku tulis dan kotak pensilnya ke dalam tas. Ia menoleh ke samping dan mendapati Rio sudah tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka.

Mengingat janji mereka pagi tadi, Danu pun menggoyangkan bahu temannya itu. "Rio. Rio, bangun."

"Hmm...?" gumam Rio serak, matanya masih terpejam rapat.

"Katanya tadi lu mau cari kegiatan lain kalau udah istirahat," ingatkan Danu, masih dengan gaya bahasanya yang fleksibel.

"Ahh...?" Rio mengerjap-ngerjapkan matanya, mengumpulkan nyawa yang masih berceceran. "Oh! Iya bener. Ayo, Dan, kita keluar. Tapi sebelum cari kegiatan, temenin gue ke toilet dulu ya, gue mau cuci muka. Ngantuk banget nih."

"Oke," angguk Danu santai.

Mereka berdua bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju pintu keluar kelas. Langkah mereka menyusuri koridor yang mulai ramai oleh anak-anak, mengarah lurus ke toilet laki-laki di mana Danu harus setia berdiri bersandar di dinding menunggu Rio membasuh wajahnya.

Selesai Rio membasuh mukanya, mereka berdua mulai menyusuri area sekolah untuk mencari "kegiatan seru" yang sejak tadi dibahas. Mereka berjalan santai melewati deretan kelas, melongok ke ruang PMR yang sepi, hingga mengintip ke dalam lab kimia yang ternyata dikunci rapat.

Sayangnya, dari ujung ke ujung koridor, mereka tidak menemukan sesuatu yang menarik perhatian. Karena lelah berjalan tanpa hasil, mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak, duduk lesehan di atas lantai keramik koridor yang terasa dingin.

"Haa... gak nemu nih hal yang bagus buat dilakuin," keluh Rio seraya menyandarkan punggungnya ke dinding dinding.

"Hmm... emangnya lu maunya kegiatan yang kayak gimana sih?" tanya Danu, ikut bersandar di sebelahnya.

"Ya... pokoknya yang seru aja gitu, Dan."

"Ohh... abstrak banget kriteria lu," respons Danu menggelengkan kepala.

Saat keheningan mulai mengambil alih karena keduanya kehabisan topik pembicaraan, mendadak terdengar suara gaduh dari ruangan di sebelah mereka.

Gubrak! Kloneng!

Suara barang-barang logam dan kayu yang berjatuhan itu memecah kesunyian. Asalnya dari ruang seni—ruangan khusus yang menyimpan banyak alat musik sekolah.

"Wih, ada apaan tuh, Dan? Kok berisik banget dari dalem?" ucap Rio, rasa penasarannya langsung memuncak.

"Gak tahu," jawab Danu mengangkat bahu, tapi matanya ikut melirik ke arah pintu.

"Yuk, kita samperin!" ajak Rio bersemangat, langsung melompat berdiri.

"Ya udah, ayo."

Dengan langkah mengendap-endap, Rio perlahan mendorong pintu kayu ruang seni itu. Begitu pintu terbuka lebar, mata kedua sahabat itu serempak membelalak.

Kondisi di dalam ruangan itu benar-benar berantakan luar biasa! Perangkat drum berserakan dari posisinya, penyangga keyboard miring tak karuan, dan partitur serta beberapa seruling tergeletak begitu saja di lantai. Debu-debu halus langsung beterbangan menari di udara saat pintu dibuka.

"Wow... gila, kotor banget dan berantakan! Uhuk... uhuk!" keluh Rio sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya yang terkejut.

"Hmm... pasti ada yang abis jatuh. Kita cari orangnya dulu deh ke dalem," usul Rio, memberanikan diri melangkah masuk melewati celah-celah barang.

"Ya, awas jangan sampai keinjak alatnya," peringat Danu yang setia mengekor di belakang.

Saat mereka sedang memicingkan mata mencoba mencari sela di antara tumpukan alat musik, pandangan Danu menangkap ada pergerakan aneh di sudut ruangan, tepat di balik set drum yang terguling.

Ketika dihampiri dengan hati-hati, ternyata ada sosok laki-laki di sana. Danu dan Rio langsung mengenalinya. Itu adalah Kak Rizki, senior mereka dari kelas 12 yang ketenarannya di sekolah bukan karena prestasi, melainkan karena reputasinya yang luar biasa ceroboh.

Dan benar saja, tingkah cerobohnya kembali memakan korban—dirinya sendiri. Saat ini, tubuh jangkung Kak Rizki tampak mengenaskan, tersangkut dengan posisi aneh di antara dudukan cymbal drum dan lilitan kabel sound system yang ruwet.

Mendengar suara langkah kaki mendekat, senior itu susah payah memutar kepalanya. Wajahnya langsung memelas penuh harap.

"Hmm? Eh! Ada orang ya di situ? Woy, tolongin aku dong!" teriak Kak Rizki dengan raut merana, berusaha melepaskan kakinya yang malah semakin terjerat kabel.

"Ehh, Bang, kenapa kamu bisa sampai nyangkut gini?" tanya Danu keheranan sambil berjongkok melihat kondisi seniornya yang mengenaskan.

"Udah, gak usah banyak nanya dulu. Bantuin Kakak lepas dari lilitan ini sekarang!" rintih Kak Rizki panik.

"Ohh, oke, oke, Bang," Danu manggut-manggut patuh.

Danu dan Rio pun segera turun tangan membantu. Awalnya, mereka mencoba menarik kabel-kabel dan tiang cymbal itu dengan perlahan. Namun, bukannya terlepas, lilitannya malah semakin erat mengunci kaki Kak Rizki. Insiden penyelamatan yang seharusnya sederhana itu seketika berubah menjadi pertempuran sengit.

Mereka harus menghabiskan waktu sekitar tujuh menit penuh dengan keringat bercucuran—tarik, putar, geser, dan sesekali mengomeli Kak Rizki yang tidak bisa diam—hanya untuk membebaskan kaki sang senior.

"Haa... gila, ribet banget tuh kabel. Berasa kayak ngurai jaring ikan," keluh Rio yang kini duduk ngos-ngosan sambil menyeka keringat di dahinya.

"Iya bener..." sahut DaNu yang kehabisan napas. Ia sudah terlanjur lelah dan memilih langsung merebahkan tubuhnya di atas lantai keramik yang dingin.

Kak Rizki yang sedang memijat pergelangan kakinya tertawa canggung. "Hahaha, maaf ya, Kakak jadi ngerepotin kalian berdua siang-siang begini."

"Hmm, gak apa-apa," balas Rio santai. "Tapi gue penasaran dan mau nanya nih, Bang. Kenapa ruang seni buat ekstrakurikuler ini sepi banget? Bukannya ekskul musik biasanya rame yang minat, ya?"

Mendengar pertanyaan itu, senyum di wajah Kak Rizki perlahan luntur. Bahunya merosot turun. "Haa... ya gitulah. Kalian tahu sendiri kan, karena Kakak ini orangnya sering banget ceroboh dan kadang ngerusakin barang... banyak anak yang jadi gak suka dan akhirnya satu per satu pada keluar," jawab Kak Rizki dengan kepala menunduk lesu, terdengar sangat menyedihkan.

Melihat wajah melas sang senior, Danu dan Rio sontak saling bertatapan. Mereka terdiam cukup lama. Seolah bisa bertukar pikiran lewat tatapan mata, Rio mengangguk kecil sebelum kembali menoleh ke arah Kak Rizki.

"Uhmm... kalau sepi, gimana kalau gue sama Danu aja yang ikut ekskul ini, Bang?" tawar Rio tiba-tiba, memecah keheningan yang murung itu.

Kak Rizki langsung mendongak tajam, matanya membelalak tak percaya. "Wih, seriusan kalian berdua mau gabung?!"

"Iya," jawab Rio mantap, sementara Danu ikut tersenyum dan mengangguk setuju dari posisinya yang masih rebahan.

"HORE! TERIMA KASIH BANYAK, GUYS!" teriak Kak Rizki kegirangan. Saking hebohnya, senior jangkung itu langsung menubruk maju dan memeluk erat Danu serta Rio secara bersamaan layaknya beruang raksasa.

"B-Bang... sesak, woy! Lepas!" protes Rio dengan suara tertahan. Danu hanya bisa menepuk-nepuk punggung Kak Rizki sebagai sinyal menyerah minta diberikan oksigen.

Pelukan kelewat antusias itu memang membuat napas mereka nyaris putus, tetapi Danu dan Rio tidak benar-benar keberatan. Di tengah ruangan yang berdebu dan berantakan itu, Danu tersenyum lega. Pertanyaan tentang 'mau ngapain hari ini' akhirnya terjawab sudah. Dengan bergabungnya mereka berdua ke klub seni ini, sebuah babak baru dan pengalaman seru di sekolah sudah menanti mereka di depan mata.

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!