"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip Menyebar 20.
Lantai koridor utama SMA Veteran jam istirahat pertama terasa lebih bising dari biasanya.
Bukan karena pengumuman ujian dadakan, melainkan karena sebuah fakta tak kasat mata yang menyebar secepat virus: Timy dan Nawang putus.
Bagi warga sekolah, ini adalah runtuhnya dinasti best couple yang selama satu tahun penuh menjadi standar romansa di mading sekolah.
"Seriusan? Demi apa?"
"Katanya sih Nawang yang mutusin. Gila, padahal kurang apa coba si Timy?"
"Tapi denger-denger ada orang ketiga. Si anak baru itu, siapa sih namanya..."
Timy mendengar semuanya. Setiap bisikan yang sengaja dikecilkan saat dia lewat, justru terdengar berkali lipat lebih nyaring di telinganya. Cowok itu berjalan tegap, menyampirkan tas ranselnya di satu bahu, sengaja memasang wajah datar andalannya. Sebagai kapten tim basket dan cowok yang punya reputasi, menunjukkan wajah galau di depan publik adalah pantangan nomor satu. Egonya menolak terlihat kalah.
Di lapangan outdoor, anak-anak tim basket sudah berkumpul. Ring basket berdentang keras saat salah satu junior melakukan lay-up.
"Yo, Cap! Tumben agak telat," sapa Rio, wakil kapten sekaligus sahabat Timy, sambil melempar bola ke arahnya.
Timy menangkap bola itu dengan satu tangan, memutarnya di ujung jari dengan gestur santai yang biasa dia lakukan. "Kesiangan dikit. Yok, langsung warming up."
Namun, ada satu refleks tubuh yang tidak bisa Timy bohongi. Begitu kakinya menginjak garis lapangan, matanya secara otomatis melirik ke arah bangku tribun di pinggir lapangan—tempat anak-anak cheerleader biasanya menaruh tas, tempat di mana Nawang selalu duduk memakai bando kelincinya, memegang botol minum termos warna pastel milik cowok itu.
Hari ini, bangku itu kosong. Hanya ada beberapa tas anak anak paskibra yang tergeletak tak beraturan. Tidak ada Nawang yang melambaikan tangan, tidak ada senyum teduh yang biasa menyambutnya sebelum latihan dimulai.
Ada denyut aneh yang menusuk dada Timy. Cepat-cepat dia mendribel bola, menerobos pertahanan Rio, dan melakukan jump shot.
Bola masuk sempurna tanpa menyentuh ring. Tapi, kepuasan yang biasanya hadir setelah cetakan angka itu, kali ini absen. Kosong.
"Woi, fokus, Tim! Malah bengong lu setelah nge-shout," tegur Rio, menepuk bahu Timy.
Timy hanya berdeham, menyeka keringat di dahinya yang sebenarnya belum seberapa. Matanya beralih ke koridor kelas dua yang menghadap langsung ke lapangan.
Di sana, berdiri Naya. Cewek itu tersenyum manis, melambaikan tangan kecil ke arah Timy dari lantai atas. Kemarin, lambaian tangan itu adalah hal yang membuat ego Timy melambung.
Namun hari ini, melihat Naya di sana justru memicu rasa bersalah yang aneh. Pikiran logisnya berputar, Apakah semua kekacauan ini sepadan?
Sementara itu, di sudut kantin belakang yang agak sepi, Nawang sedang mengaduk es teh manisnya dengan sedotan. Gerakannya pelan dan ritmis. Di depannya, Rendy duduk tenang sambil mengunyah roti sobeknya.
"Lu beneran nggak papa?" tanya Rendy, memecah keheningan di antara mereka. Matanya menatap intens, mencoba membaca apakah ada sisa tangis di balik mata bulat Nawang.
Nawang mendongak, lalu tersenyum tipis. Kali ini senyumnya lebih lepas dari kemarin. "Gue kelihatan kayak orang yang mau mati, ya? Sampai lu nanya gitu tiga kali sejak jam pertama."
"Nggak. Justru karena lu kelihatan terlalu biasa saja, gue jadi agak ngeri," jujur Rendy. Dia menggeser sekotak susu cokelat dingin yang baru dia beli dari koperasi ke dekat tangan Nawang. "Nih, asupan glukosa. Biar otak lu nggak penuh sama gosip anak-anak di depan."
Nawang meraih kotak susu itu, menempelkan dindingnya yang dingin ke pipinya sendiri sebelum meminumnya. "Gue beneran nggak papa, Ren. Sedih? Ya pasti adalah. Satu tahun itu bukan waktu yang sebentar. Tapi pas gue mutusin buat lepasin kalung itu kemarin, rasanya kayak beban berat di pundak gue langsung diangkat. Gue capek nebak-nebak kebohongan orang."
Rendy mengangguk paham. Dia menghargai bagaimana Nawang mengelola emosinya. Tidak ada drama menangis meraung-raung di pojok kelas, tidak ada aksi melabrak Naya seperti yang diprediksi orang-orang. Nawang menghadapi realitas ini dengan kepala tegak, sebuah kedewasaan yang jarang ditemukan pada anak usia belasan tahun.
"Bagus deh. Lagian, lapangan basket hari ini mendadak aura aurannya suram banget," seloroh Rendy mencoba mencairkan suasana. "Si Timy mainnya kayak orang kesetanan, tapi mukanya kusut kayak baju belum disetrika."
Nawang tidak menyahut. Dia hanya menatap cairan cokelat di dalam kotaknya. Dia tahu Timy. Cowok itu tidak terbiasa ditolak, tidak terbiasa dilepaskan. Yang dialami Timy saat ini bukanlah patah hati karena kehilangan cinta, melainkan egonya yang tergores karena diputus secara sepihak. Dan Nawang tidak berniat untuk menyembuhkan luka ego mantan pacarnya itu.
**
Bel istirahat kedua berbunyi.
Timy berjalan menyusuri koridor tengah menuju loker. Langkahnya terhenti saat melihat kerumunan kecil di depan mading. Di sana, Nawang sedang mengobrol dengan pembina ekskul cheerleader, Bu Sarah, didampingi oleh beberapa anggota timnya.
Timy memperlambat langkahnya, berpura-pura memeriksa ponselnya padahal telinganya dipasang tajam-tajam.
"Nawang, kamu yakin mau ambil cuti dari posisi kapten untuk kompetisi bulan depan?" suara Bu Sarah terdengar cemas. "Formasi kita sudah matang, lho."
"Yakin, Bu," jawab Nawang tegas namun tetap sopan. "Saya mau fokus ke ujian akhir dan beberapa olimpiade biologi yang sempat tertunda. Lagipula, wakil kapten sudah paham betul semua koreografinya. Saya tetap pantau dari luar lapangan, kok."
Mendengar hal itu, langkah Timy benar-benar berhenti. Nawang cuti dari kapten cheer? Itu artinya, cewek itu benar-benar memotong semua jalur interaksi yang melibatkan mereka berdua sementara waktu.
Lapangan basket dan tim cheerleader adalah ruang bersama tempat mereka biasa menghabiskan waktu setelah jam sekolah.
Dengan mundurnya Nawang, peluang mereka untuk berpapasan sengaja dipangkas habis.
Setelah Bu Sarah pergi, Nawang berbalik dan langsung berhadapan dengan Timy yang berjarak tiga meter darinya. Anak-anak lain yang ada di koridor mendadak menahan napas, mengira akan ada adegan drama atau konfrontasi panas.
Timy menatap Nawang, matanya menyiratkan banyak pertanyaan yang tertahan di tenggorokan. Dia ingin bertanya kenapa harus mundur, apakah ini karena dia, atau apakah Nawang sebenci itu padanya sekarang.
Namun, Nawang melakukan sesuatu yang sama sekali tidak diduga oleh Timy maupun orang-orang di koridor.
Cewek itu tidak membuang muka. Dia juga tidak menatap dengan benci. Nawang hanya menatap Timy, memberikan satu anggukan sopan yang biasa diberikan kepada teman sekelas yang tidak terlalu akrab, lalu berjalan melewatinya begitu saja tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.
Aroma parfum vanila Nawang yang familier sempat singgah di indra penciuman Timy selama satu detik, sebelum akhirnya menguap terbawa angin koridor.
Timy mematung di tempatnya. Genggamannya pada ponsel mengencang.
Detik itu, sebuah kebenaran menghantam kepala nya dengan keras: Nawang tidak sedang marah padanya. Nawang sudah selesai dengannya. Dan di dunia ini, hal yang lebih menakutkan daripada kemarahan seseorang adalah kepasrahan dan ketidakpeduliannya yang total.
Timy menyadari, dia tidak hanya kehilangan seorang pacar, tapi dia telah kehilangan orang yang paling memahami semua sisi buruknya di sekolah ini.
"Tim? Lu nggak papa?" Rio tiba-tiba muncul dari belakang, menepuk punggungnya.
Timy menarik napas dalam, memaksakan senyum sinis yang tampak dipaksakan di wajahnya. "Gak papa. Cabut yok, gerah di sini."
Dia melangkah pergi, mencoba mengubur rasa sesak yang perlahan tapi pasti mulai merayap naik dan memenuhi dadanya, merutuki ego masa mudanya yang kemarin malam menganggap remeh sebuah kata berpisah.
......................
...****************...
Tbc,