Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tawaran widuri
dimas memesan minuman untuk widuri
setelah menunggu hampir lama, Olivia turun dari atas pangung.
"vi" sapa dimas
"iya mas" jawab Olivia sambil meneguk segelas air
"ada yang mau ketemu sama kamu"
"siapa?"
"itu" ucap dimas sambil menunjuk widuri
"siapa itu mas? aku ndak kenal"
"dia mau ngajak kamu kerja sama vi"
"kerja sama?" tanya Olivia bingung
"iya di EO dia. yuk temui dulu"
"tapi mas... itu pangung bagaimana?"
"oke sebentar" dimas naik ke atas pangung membisikkan sesuatu kepada kakok
"yuk.. sudah di handle kakok aman"
Olivia mengikuti dimas
"Olivia kenalkan ini mbak widuri" dimas memperkenalkan mereka berdua
"silakan mbak widuri sampaikan maksud mbk menemui Olivia"
"Olivia, saya tertarik dengan ciri khas suara kamu, jika suatu saat kamu terkenal, orang menutup mata saja sudah tau itu suara kamu" puji widuri
"terimakasih pujiannya mbk"
"maksud saya menemui kamu, untuk mengajak bekerja sama dengan EO saya"
"tapi mbk.. bagaimana ini mas?"
"kita dengarkan dulu penjelasan mbk widuri vi" ucap dimas bijaksana
"begini Olivia, EO saya ndak setiap hari dapat job, bisa jadi satu minggu sekali atau dua kali, entah itu di pernikahan, di acara gathering, atau yang lainnya"
"saya tertarik dengan tawaran mbk widuri" ucap Olivia sambil melihat dimas dan dimas mengangguk "tapi saya sudah mempunyai perjanjian kerja di sini mbk"
"saya jelaskan dulu untuk waktunya ya via.. " ucap widuri sambil menegakkan posisi duduknya "biasanya EO saya ndak semalam di cafe, yang sering itu siang, sore paling mentok jam 10 malam"
Olivia dan dimas saling bertatapan
"kebanyakan juga di long weekend"
"bagaimana ini mas?" tanya Olivia
"kamu bagaimana vi. berminat atau tidak dengan tawaran mbk widuri"
"jujur aku berminat mas, tapi aku juga punya kontrak disini"
"kalau untuk membayar pinalti mungkin aku bisa bantu via" ucap widuri tenang
"begini mbk widuri" potong dimas "saya minta no ponsel mbk widuri, nanti saya bicarakan dengan Olivia, trus kami kabari hasilnya. bagaimana?" tawar dimas
"oke... baik" ucap widuri menyodorkan ponselnya untuk di save dimas
"maaf mbk, kalau boleh tau berapa pendapatan yang saya Terima di setiap event?" tanya Olivia
"setiap event ndak sama nominalnya vi, kalau di pernikahan mulai dari 2 sampai 3jt. untuk di acara gathering dan rapat instansi di atas 5jt bahkan bisa lebih.. yang lebih lagi itu siapa tau ada anggota dewan atau pengusaha kaya yang naksir kamu" canda widuri
"ah mbk widuri bisa aja"
"beneran via... banyak lho penyanyi ku yang sold out gitu, jadi istri simpanan, pacar, kalau beruntung ya jadi istri sah"
dimas melirik ke arah Olivia, lirikan sinis
"menakutkan mbk"
"sudah.. lha ini malah bahas ke simpanan segala" sanggah dimas
"maaf mas dimas, ya saya bilang yang sebenarnya kan, dunia hiburan dan dunia malam tidak lepas dari itu semua"
"iya betul mbk. Untuk hal itu, anggap saja sebagai selingan, yang terpenting sekarang nanti saya bicarakan dengan Olivia perihal tawaran mbk widuri"
"oke mas. saya tunggu kabar baiknya ya" ucap widuri bersiap beranjak dari duduknya
"terimakasih mas dima" ucap widuri menjabat tangan dimas dan Olivia "terimakasih Olivia, semoga kita bisa bekerja sama"
"Sama-sama mbk" ucap Olivia
"vi... dari tadi aku tertarik dengan brosmu itu" ujar widuri yang sedari perfom Olivia tadi melihat bros di baju Olivia
"oh.. ini. ini pemberian nenek mbk"
"cantik... mata merahnya itu lho" ucap widuri lalu pergi dari dimas dan Olivia
"mas, aku kembali lagi ya" ucap Olivia kembali ke panggung
"setelah selesai, temui aku di kantor ya vi" ucap dimas
"oke mas" Olivia pergi
Dimas menatap punggung Olivia yang semakin menjauh
*****
Waktu sudah menujukan pukul 2 dini hari, cafe senja bersiap untuk tutup hari itu
Olivia mengetuk pintu ruang kerja dimas
"masuk" ucap dimas
Olivia masuk kedalam ruang kerja dimas
"duduk vi"
Olivia duduk di kursi tamu ruang kerja dimas
"bagaimana hari ini? capek?"
"lumayan mas.. tapi aku senang"
"kenapa? banyak dapat tips?"
"iya mas, ni banyak kan" ucap Olivia polos
"kamu ada di cafe ini membawa warna baru vi, cafe semakin rame"
"aku bingung dengan tawaran mbk widuri tadi mas"
"kamu berminat?"
"iya mas, ndak mungkin kan aku selamanya ada di cafe ini terus"
"iya aku tau vi, aku juga senang kalau ada yang bisa survive dari cafe ku ini"
"tapi mas?"
"kalau kamu mau ngambil tawaran mbk widuri ambil aja vi"
"tapi mas? bagaimana dengan kontrakku?"
"kontrak hanya perjanjian di atas kertas via, kalau kamu mau ambil tawaran dari mbk widuri ambil aja, kesempatan tidak datang dua kali Olivia"
"tapi mas, bagaimana dengan cafe ini? aku senang ada di sini"
"kamu kan bisa tetap kerja disini vi"
"jadi maksud mas dimas, aku tetap bisa kerja disini?"
"iya, kamu lihat jadwal eventnya kerja sama dengan aku. bagaimana?"
"maksud mas dimas, mas dimas bantu aku gitu?"
"iya, kamu tetap di sini dan juga bisa ikut mbk widuri"
"serius mas?" ucap Olivia girang
"kan ada Mely yang bisa gantikan kamu selama kamu perfom diluar"
"terimakasih mas" ucap Olivia girang, yang reflek memeluk dimas
"Sama-sama vi"
"ehh.. maaf mas" Olivia melepaskan pelukannya
"vi kamu mau kemana?" dimas menatap Olivia sedang mengambil tasnya
"pulang mas. capek"
"aku antar"
"jangan mas, aku ndak enak sama yang lainnya masak dari kemarin aku bareng sama bos?"
"kamu milih mana, aku antar apa di ganggu orang?" ucap dimas sambil mengambil kunci mobil di atas meja kerjanya "takut kan?"
dimas keluar dari ruang kerjanya di ikut Olivia.
cafe senja sdh di tinggalkan oleh semua karyawannya, terasa hening
"tadi ujang nanya kamu sudah punya pacar apa belum" tanya dimas sambil mengendarai mobilnya
"belum punya mas, kok mikir pacar. fokus cari kerja dulu mas, hidup terus berjalan"
"ow... jadi peluang ujang untuk nembak kamu ada kan"
"lha kok mas ujang... ndak mas. enak aja"
"lha yang nanya tadi itu ujang lho vi"
"iya aku tau mas, tapi ya bukan berarti aku membuka pintu untuk mas ujang kan"
"ganteng lho vi"
"menurut mas dimas ganteng? tapi menurutku ndak"
"jadi tipe kamu yang seperti apa? apa ada di salah satu home band?"
"ndak mas, ndak ada sama sekali"
"sulit ya kriteria kamu... jangan-jangan pengusaha kaya? atau anggota dewan? seperti yang mbk widuri bilang tadi"
"ndak tau mas, dilihat aja. siapa tau ada pengusaha kaya, tua gitu"
"ohhh... jadi kamu cari pengusaha kaya, Tua, duda trus kawin sama kamu trus mati trus kekayaannya buat kamu"
"haha... itu hanya ada di sinetron mas. di dunia nyata mana ada yang seperti itu"
"kalau ada bagaimana? kamu mau?"
"mau lah.... siapa yang nolak menjadi kaya"
"matre ya kamu ini"
"ndak matre mas. tp berfikiran realistis aja. asal ndak menjadi perusak rumah tangga orang lain kan ndak pa-pa"
tak terasa Olivia sampai di depan gang tempat kosnya
"terimakasih ya mas. ndak aku ajak mampir. takut kena grebek" ujar Olivia sambil pergi menyebrang jalan
"vi... vi... kamu itu cantik, lucu" gumam dimas menatap Olivia sampai jauh