Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah Hati Zea
Setelah berjam-jam mengumpulkan bukti, Zea dan Sagara akhirnya meninggalkan pasar ketika matahari mulai condong ke barat.
Beberapa foto, rekaman, serta catatan yang mereka dapatkan sudah tersimpan rapi, dan untuk pertama kalinya sejak turun ke lapangan, Zea merasa pekerjaannya sebagai gubernur mulai menunjukkan hasil.
“Capek juga,” keluh Zea sambil bersandar di kursi mobil. “Tapi setidaknya kita mendapatkan sesuatu yang berguna.”
Sagara yang duduk di sampingnya hanya mengangguk sambil memeriksa beberapa foto yang mereka ambil.
Mobil kemudian melewati kawasan pertokoan yang mulai ramai menjelang sore. Tanpa sengaja, pandangan Zea tertuju ke sebuah kafe kecil di seberang jalan yang terlihat cukup sepi.
“Eh ....” Zea tiba-tiba menegakkan tubuh. “Kapten, berhenti sebentar.”
Sagara langsung menoleh kepadanya.
“Ada apa?” tanyanya.
Zea tidak menjawab, melainkan menunjuk ke arah kafe di seberang jalan.
Di balik kaca kafe itu, Zea melihat seorang pria yang sangat dikenalnya. Reno.
Pria yang sejak kecil tumbuh bersamanya, satu sekolah dengannya selama bertahun-tahun, dan diam-diam sudah lama menjadi orang yang disukai Zea.
Hubungan mereka memang tidak pernah memiliki status yang jelas, tetapi Reno selalu mengatakan bahwa suatu hari nanti, setelah dirinya sukses, dia akan datang dan menikahi Zea.
“Reno,” bisik Zea dengan senyum yang perlahan melebar.
Sagara mengikuti arah pandangannya, kemudian kembali menatap Zea tanpa berkata apa-apa.
“Aku mau kasih dia kejutan.” Zea langsung membuka pintu mobil, tetapi Sagara menahannya dengan tatapan datar.
“Dengan penyamaran seperti itu?” tanyanya.
Zea membenarkan masker dan kacamatanya, lalu tersenyum penuh percaya diri.
“Justru itu.” Zea turun dari mobil tanpa membuka masker ataupun kacamatanya.
Kafe itu memang cukup sepi sehingga Zea bisa duduk di meja yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat Reno dan tiga temannya. Ia sengaja membelakangi mereka sambil sesekali mencuri pandang, sedangkan Sagara duduk di meja yang sama dengan posisi menghadap mereka.
Zea tersenyum lebar di balik maskernya. Dalam pikirannya, Reno pasti akan terkejut sekaligus senang jika tiba-tiba tahu bahwa perempuan yang selama ini dia kira sedang sibuk bekerja ternyata datang menemuinya.
Sebelum Zea sempat menyapa, salah seorang teman Reno tiba-tiba membuka percakapan. “Ren, bagaimana kabarmu dengan Zea?”
Telinga Zea langsung berdiri. Ia menahan senyum, lalu diam-diam memperhatikan Reno.
“Bukannya kalian dekat sejak kecil?” lanjut temannya. “Katanya dia sekarang gubernur, ya?”
Reno justru tertawa kecil. “Hah? Zea?”
Zea semakin tersenyum. Ia bahkan sudah membayangkan Reno akan mengatakan sesuatu yang manis tentang dirinya.
Kalimat berikutnya membuat senyum itu perlahan menghilang.
“Gadis itu terus-terusan mengejar aku,” kata Reno dengan nada meremehkan. “Padahal aku sebenarnya tidak suka sama dia.”
Zea membeku. Senyum di balik maskernya lenyap begitu saja.
Sagara yang sejak tadi diam langsung melirik Zea. Ia melihat tangan perempuan itu mulai mengepal di bawah meja.
“Serius?” salah seorang teman Reno bertanya dengan wajah heran. “Bukannya kamu harusnya merasa beruntung? Dia gubernur, cantik, anak konglomerat juga lho. Mau apa lagi?”
“Beruntung apanya?” Reno mendengus. “Kalau bukan karena orang tuanya, memangnya dia bisa apa?”
Ketiga temannya mulai saling pandang. Reno malah semakin percaya diri melanjutkan perkataannya.
“Dia itu cuma nona manja,” katanya. “Belum lagi kalau sampai menikah dengannya, kalian tahu sendiri bagaimana keluarga orang Bugis. Pasti urusan panaik dan segala macamnya bisa mahal.”
Salah seorang temannya mengernyit. “Tapi bukannya itu juga tergantung kesepakatan keluarga?”
“Iya,” sahut yang lain. “Setahuku, dalam adat Bugis, banyak hal yang dipertimbangkan, termasuk status sosial, pendidikan, kehormatan, kualitas diri, dan tentu saja kesepakatan kedua keluarga. Semuanya sepadan dengan Zea.”
“Kalau memang dia punya semua itu, ya wajar saja kalau keluarganya punya pertimbangan,” tambah temannya lagi. “Apalagi Zea sekarang punya posisi sendiri.”
Reno langsung mendecakkan lidah. “Buat apa? Ujung-ujungnya dia juga tidak bisa apa-apa, entar malah aku dijadikan babunya.”
Zea menunduk sedikit. Ia menatap meja di hadapannya sambil berusaha mencerna setiap perkataan pria yang selama ini ia anggap baik.
“Masih bagus Citra,” lanjut Reno santai. “Keluarganya tidak neko-neko, dan dia juga pasti bisa mandiri dia bisa masak dan segalanya.”
Salah seorang temannya langsung menatap Reno tidak suka. “Ren, jangan main-main begitu sama anak orang.”
“Iya,” timpal yang lain. “Zea sudah baik sama kamu. Bukannya dia sering membelikan kamu barang-barang mahal?”
Reno malah tersenyum congkak. “Zea itu bucin sama aku.”
Jantung Zea terasa seperti diremas.
“Hanya karena aku pura-pura bilang ingin sukses tanpa bantuan status orang tuanya, dia percaya kalau setelah aku sukses nanti aku akan meminangnya, dia langsung luluh,” lanjut Reno. “Padahal kami tidak punya hubungan apa-apa.”
Salah seorang temannya menggeleng tidak percaya. “Jadi selama ini kamu sengaja menggantung dia?”
“Memangnya kenapa?” Reno tertawa kecil. “Kalau aku telepon, meskipun dia sedang rapat, dia pasti datang. Dia yang terus mengejar aku, bukan aku yang mengejar dia.”
Zea menggigit bibirnya sendiri. Selama ini ia selalu mengira Reno hanya membutuhkan waktu untuk membangun kariernya, ternyata semua perkataan manis yang pernah diberikan kepadanya hanyalah cara agar Zea tetap berada di sisinya.
“Terus Citra bagaimana?” tanya salah seorang temannya. “Jangan bilang kamu juga mempermainkan dia.”
Reno tersenyum santai. “Citra itu pacarku.”
Zea langsung mengangkat wajah. Dadanya terasa sesak mendengar pengakuan itu.
Namun, sebelum ia sempat berdiri, terdengar suara perempuan dari arah pintu kafe.
“Sayang!”
Reno langsung menoleh. Wajahnya yang sebelumnya penuh kesombongan berubah menjadi senyum lebar.
Seorang perempuan berjalan menghampirinya dengan wajah ceria yaitu Citra.
Zea langsung mengenali perempuan itu. Citra adalah sepupu jauh Reno, dan selama ini Zea tidak pernah sedikit pun mencurigai kedekatan mereka.
Ketiga teman Reno segera berdiri. “Kami pergi dulu, Ren.”
“Iya, hati-hati,” jawab Reno santai.
Setelah ketiganya pergi, Citra langsung duduk di samping Reno. Tangannya bahkan meraih lengan pria itu dengan begitu akrab.
Zea semakin mengepalkan tangannya. Selama ini ia benar-benar buta terhadap apa yang terjadi di belakangnya.
“Tadi kalian membicarakan apa?” tanya Citra. Reno tersenyum lalu menjawab santai, “Mereka cuma tanya tentang Zea.”
Citra langsung mengangkat alis. “Terus, kamu masih akan menyatakan perasaanmu kepada Zea nanti?”
Reno tertawa kecil. Tangannya mengusap kepala Citra dengan gerakan akrab. “Ini cuma sementara.”
“Kenapa harus sementara?” tanya Citra.
“Karena aku masih butuh dia,” jawab Reno tanpa rasa bersalah. “Karierku di perusahaan juga masih membutuhkan bantuan Zea.”
Citra terdiam sebentar, lalu akhirnya mengangguk. “Jadi kamu tetap akan membuatnya percaya kalau suatu hari nanti kamu akan menikahinya?”
“Tentu saja.” Reno tersenyum licik. “Selama dia masih percaya, semuanya akan mudah.”
Citra kemudian tersenyum puas. “Kalau begitu, aku mau sesuatu yang kemarin kita lihat di mal.”
“Barang apa?” tanya Reno.
“Tas mahal.” Citra memperlihatkan barang yang diinginkannya.
Reno tertawa kecil. “Nanti aku suruh Zea membelikannya.”
Citra tampak puas. “Kamu serius?”
“Gampang.” Reno bersandar santai. “Aku tinggal bilang ibuku yang minta. Dia pasti membelikannya.”
Zea yang sejak tadi menahan emosi akhirnya tidak sanggup lagi. Ia berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat.
Zea sudah mengambil gelas berisi jus buah naga di atas meja. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia berjalan mendekati Reno dan Citra.
Reno yang melihat sosok perempuan berkacamata dan bermasker itu awalnya tidak terlalu memperhatikan. “Mbak, ada apa?”
Zea berhenti tepat di depan meja mereka. Tangannya terangkat.
Byur!
Jus buah naga dari gelas langsung mengguyur wajah Reno dan Citra. Keduanya terkejut dan berdiri hampir bersamaan.
“Apa-apaan ini?!” seru Reno sambil mengusap wajahnya.
Zea berdiri diam di hadapan mereka. Tangannya masih menggenggam gelas kosong, sementara matanya menatap Reno dengan tatapan yang sama sekali berbeda dari gadis yang selama ini mengejarnya.
Citra menunjuk Zea dengan marah. “Kamu gila, ya?!”
Zea perlahan menarik maskernya ke bawah. Kemudian ia melepas kacamatanya.
Wajah Reno langsung pucat.
“Z–Zea?”
Zea tersenyum tipis, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan di matanya. “Kaget?”
Reno berdiri terpaku. “Kamu ... sejak kapan ada di sini?”
“Cukup lama.” Suara Zea terdengar tenang. “Cukup lama untuk mendengar semuanya.”
Reno langsung kehilangan kata-kata. Sementara itu, Sagara berdiri tidak jauh dari mereka, tetap diam dan mengawasi keadaan agar Zea tidak melakukan sesuatu yang lebih nekat.
Zea menatap Reno untuk beberapa detik. “Ternyata selama ini aku memang bodoh.”
“Zea, dengarkan aku dulu—”
“Tidak perlu.” Zea mengangkat tangan menghentikannya. “Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun.”
Reno mencoba mendekat, tetapi Zea langsung mundur selangkah.
“Mulai sekarang, jangan pernah telepon aku lagi kalau hanya untuk meminta sesuatu,” katanya dingin. “Dan jangan pernah lagi membawa-bawa nama pernikahan hanya untuk membuatku terus menunggumu.”
Reno terdiam.
Zea kemudian memasang kembali maskernya. “Aku kira kamu pria yang sedang berjuang untuk masa depan.”
Ia menatap Reno untuk terakhir kalinya. “Ternyata kamu hanya sedang mencari seseorang yang bisa kamu manfaatkan, dasar mokondo.”
Setelah mengatakan itu, Zea berbalik dan berjalan meninggalkan kafe.
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏