NovelToon NovelToon
Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hasriani

“Nikah sama aku saja, Aluna.”

Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.

Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.

Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal

mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Akan Lupa Satu Hal Pun Tentang Kamu

Selesai makan malam, Abraham, Kai, dan kedua orang tua Aluna tengah berada di ruang keluarga untuk berbincang-bincang.

Sementara itu, Aluna memilih keluar rumah dan duduk di salah satu kursi di halaman depan untuk menghirup udara segar.

Sejak tadi suasana hatinya memang sedang tidak terlalu baik. Entah karena kejadian bersama Kai, kekesalannya karena kembali dikhawatirkan berlebihan oleh kedua orang tuanya, atau hanya karena kehadiran Andrew yang selalu berhasil membuat suasana hatinya berubah menjadi buruk.

Aluna menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya.

Setidaknya, di luar sini lebih tenang.

Tak lama kemudian, sebuah mobil yang tidak dikenalnya memasuki pekarangan rumah. Aluna sempat mengernyit penasaran, tetapi ekspresi wajahnya langsung berubah ketika pintu mobil itu terbuka.

Senyum kecil seketika terukir di wajahnya saat melihat seseorang turun dari dalam mobil.

“Rafa…”

Aluna langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan cepat menghampiri sahabatnya itu.

Rafa yang melihat Aluna menghampirinya pun tersenyum.

“Kok kamu di luar?” tanyanya begitu Aluna berdiri di hadapannya.

“Lagi cari udara segar,” jawab Aluna santai. “Di dalam ada tamu yang bikin sumpek.”

Rafa mengernyit kecil.

“Tamu?”

Aluna hanya mengangguk.

“Pokoknya ada.”

Jawaban asal-asalan itu justru membuat Rafa gemas sendiri. Ia tersenyum sambil mengangkat tangannya untuk mengelus pelan kepala Aluna.

“Kamu ngapain sih malam-malam kesini?” tanya Aluna sambil menatap Rafa penasaran.

“Aku bawain sesuatu buat kamu.”

Rafa mengangkat sebuah paper bag kecil yang sejak tadi dibawanya.

“Tadi pulang dari kantor, aku lewat coffee shop yang sering kita kunjungi waktu SMA. Terus aku ingat kamu suka kue ini, jadi aku beliin buat kamu.”

Aluna langsung menerima paper bag itu.

Ia mengintip ke dalamnya, lalu kedua matanya seketika berbinar saat melihat cake favoritnya.

“Wah, kok kamu masih ingat sih?” katanya dengan wajah senang. “Aku aja udah jarang kesana.”

“Ya karena dulu kamu selalu ngajak aku kesana.”

Aluna terkekeh kecil.

“Aku kangen juga sih sebenarnya.”

“Kamu nggak pernah kesana lagi sejak aku pergi?” tanya Rafa.

“Jarang. Rasanya beda aja kalau nggak sama kamu.”

Kalimat itu terdengar sederhana bagi Aluna, tetapi entah kenapa Rafa justru terdiam beberapa saat.

Aluna kembali menatap cake di tangannya dengan senyum kecil.

Yang membuatnya senang bukan hanya karena Rafa membawakan makanan kesukaannya, tetapi karena sahabatnya itu masih mengingat hal kecil tentang dirinya setelah lima tahun berlalu.

“Kok kamu masih ingat semuanya sih?” gumam Aluna pelan.

Rafa menatap Aluna cukup lama.

“Aku nggak akan lupa satu hal pun tentang kamu.”

Aluna yang mendengar ucapan itu langsung mengangkat wajahnya.

Tatapan keduanya bertemu.

Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Rafa menatap Aluna dengan begitu dalam, sementara Aluna hanya bisa terdiam seolah mencoba memahami sesuatu dari tatapan sahabatnya itu.

Namun seperti biasa, Aluna tidak terlalu memikirkan hal-hal semacam itu.

Ia justru kembali tersenyum.

“Makasih ya, Rafa.”

“Aku senang kalau kamu suka.”

Di sisi lain, Abraham dan Kai yang baru saja keluar dari rumah langsung melihat Aluna dan Rafa yang sedang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka.

Dari tempatnya berdiri, Kai bisa melihat bagaimana keduanya saling melemparkan senyum.

Setidaknya, seperti itulah yang terlihat dari sudut pandangnya.

“Abra,” panggil Kai.

“Hm?”

“Itu pacar adik lo?”

Abraham mengikuti arah pandangan Kai.

Kemudian ia tertawa kecil.

“Bukan. Itu Rafa, sahabatnya Aluna.” Jawaban itu justru membuat Kai menatap Abraham dengan ragu.

“Emang ada laki-laki sama perempuan yang temenan tapi nggak pakai perasaan?”

Abraham kembali menoleh ke arah Rafa dan Aluna.

Ia sama sekali tidak melihat sesuatu yang aneh dari kedekatan mereka.

Yang ia tahu, keduanya memang sudah seperti itu sejak kecil.

“Ada,” jawab Abraham santai. “Mereka.”

Kai kembali menatap keduanya.

“Dari kecil mereka udah sahabatan berdua. Terus pas masuk SMA, sahabatannya jadi bertujuh.”

“Jadi beneran cuma sahabat?”

“Iya. Rafa sama Aluna tuh dari dulu memang deket banget.”

“Oh…”

Kai hanya mengangguk pelan.

Tatapannya kembali mengarah pada Rafa.

Entah kenapa, melihat laki-laki itu menatap Aluna dengan cara seperti tadi membuat Kai sedikit ragu dengan penjelasan Abraham.

Namun, itu bukan urusannya.

“Oh, gitu.”

Jawabannya terdengar cuek, seolah ia sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui lebih banyak.

“Ayo, gue anter lo ke depan,” ajak Abraham.

***

Keduanya pun berjalan menuju halaman depan.

Saat jarak mereka semakin dekat, Aluna dan Rafa akhirnya menyadari keberadaan keduanya.

“Bang Abra…”

Pandangan Rafa kemudian berpindah.

Matanya langsung berhenti pada sosok Kai.

Rafa mengernyit kecil.

“Loh…”

Kai pun menatapnya dengan tatapan yang sama.

Rafa masih mengingat dengan jelas wajah laki-laki yang mobilnya ditabrak Aluna semalam.

“Lo juga kenal sama Kai?” tanya Abraham pada Rafa.

Rafa mengangguk, “Iya.”

“Mas kesini mau minta ganti rugi, ya?” tanya Rafa. “Kan saya udah kasih kartu nama saya.”

Kai langsung menatap Rafa dengan ekspresi tidak suka.

Sementara Aluna yang berdiri di samping Rafa hampir saja tertawa mendengar pertanyaan itu.

“Emangnya lo lihat gue kayak orang kekurangan uang?” tanya Kai dengan nada angkuh.

Aluna langsung mendengus.

“Dih, sok banget.”

Kai menoleh tajam.

“Gue ngomong sama lo?”

“Terus kenapa? Mulut gue mau gue pakai.”

“Aluna, yang sopan,” tegur Abraham.

Aluna yang tadinya sudah bersiap membalas langsung mengerucutkan bibirnya kesal.

“Iya…”

Jawabannya terdengar seperti seseorang yang terpaksa menurut.

Kai hampir tersenyum melihat ekspresi wajah Aluna.

Namun, senyum itu cepat ia tahan.

“Ini sahabat gue, Rafa,” ujar Abraham kemudian. “Rafa, kenalin. Ini Kai.”

“Sahabatnya Bang Abra ternyata,” ucap Rafa sambil mengangguk mengerti.

“Iya,” jawab Abraham.

Kemudian ia kembali menoleh pada Rafa.

“Oh iya, lo sendiri ngapain malam-malam kesini?”

“Mampir aja, Bang. Buat kasih Aluna cake favorit Aluna.”

“Oh, gitu.”

Kai melirik paper bag yang masih dipegang Aluna.

Kemudian ia kembali menatap Rafa.

“Cuma nganter kue?” tanyanya.

Rafa mengangguk.

“Iya.”

“Jauh-jauh?”

“Emangnya kenapa?”

“Nggak kenapa-napa.”

Aluna menatap Kai dengan tatapan curiga.

“Lo kenapa sih banyak nanya?”

“Lo juga kenapa ikut campur?”

“Nggak usah berantem,” sela Abraham sebelum keduanya kembali memulai pertengkaran.

Belum sempat Aluna membalas, suara mobil lain memasuki halaman rumah.

Andrew yang baru saja pulang langsung menghampiri mereka.

“Ngapain nih rame-rame kumpul depan rumah?” Kehadiran Andrew seketika membuat ekspresi Aluna berubah.

Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

“Aku masuk duluan.”

Aluna langsung berbalik.

“Bikin ulah apa lagi lo?” tanya Andrew sinis.

Namun Aluna memilih tidak menggubrisnya.

“Kak Abra, Rafa, aku masuk ya,” ucapnya sambil menoleh pada keduanya. “Hati-hati di jalan ya, Rafa.”

Perubahan sikap Aluna yang begitu cepat tidak luput dari perhatian Kai.

Beberapa menit lalu, gadis itu masih terlihat ceria saat menerima cake dari Rafa.

Namun sekarang, begitu Andrew muncul, wajahnya langsung berubah dingin.

“Iya, Al,” jawab Rafa. “Aku pamit pulang juga sekalian.”

Aluna mengangguk.

Ia sempat menatap Andrew dengan tajam sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam rumah.

Pandangan Kai mengikuti kepergian Aluna hingga gadis itu menghilang di balik pintu.

“Loh, nggak masuk dulu, Rafa?” tanya Abraham sekadar berbasa-basi.

“Lain kali aja, Bang. Udah malam juga.”

“Ya udah, hati-hati di jalan.”

“Iya.”

Rafa kembali ke mobilnya.

Tak lama kemudian, mesin mobil itu menyala dan perlahan meninggalkan pekarangan rumah keluarga Aluna.

Andrew pun memilih masuk ke dalam rumah tanpa banyak bicara.

Kini tinggal Kai dan Abraham yang masih berdiri di halaman depan.

“Yang tadi itu adik lo juga?” tanya Kai.

Abraham mengangguk.

“Iya.”

“Yang lo ceritain… yang nggak akrab sama Aluna?”

“Iya.”

Kai kembali mengingat perubahan ekspresi Aluna saat Andrew datang.

“Kelihatan sih,” jawabnya singkat.

Ada sesuatu dalam diri Aluna yang mulai membuat Kai penasaran.

Di hadapan orang-orang tertentu, gadis itu bisa terlihat begitu manja dan ceria.

Namun, pada orang lain, ia seolah membangun tembok tinggi dan tidak membiarkan siapa pun masuk.

“Lain kali main kesini lagi, ya,” ujar Abraham.

“Siap, Bro. Gue balik dulu.”

“Hati-hati di jalan.”

Kai mengangguk.

Ia berjalan menuju mobilnya, tetapi sebelum masuk, tatapannya sempat kembali mengarah ke rumah besar di hadapannya.

Entah kenapa, wajah Aluna kembali terlintas di pikirannya.

"Cewek resek."

Tanpa sadar, sudut bibir Kai terangkat tipis.

***

Sementara itu, di dalam rumah, Aluna berjalan menuju kamarnya sambil masih membawa paper bag pemberian Rafa.

Begitu pintu kamarnya tertutup, ia langsung duduk di atas tempat tidur dan kembali mengeluarkan cake favoritnya.

Senyum kecil terukir di wajahnya.

“Masih ingat aja.”

Ia mengambil satu gigitan kecil.

Rasanya persis seperti yang ia ingat.

Aluna tersenyum lagi.

Malam yang tadinya membuat suasana hatinya kacau, entah kenapa kini terasa sedikit lebih baik.

Setidaknya sampai ia kembali teringat wajah seseorang yang sangat menyebalkan.

“Kai…”

Aluna langsung mengernyit.

“Kenapa sih harus sahabatan sama Kak Abra?”

Ia menghela napas panjang.

Sepertinya mulai sekarang, hidupnya tidak akan setenang yang ia bayangkan.

Karena entah kenapa, laki-laki bernama Kai itu seperti mulai muncul di tempat-tempat yang sama dengannya.

Dan Aluna sama sekali belum tahu…

Bahwa pertemuannya dengan Kai malam itu hanyalah awal dari banyak pertemuan lain yang akan jauh lebih menyebalkan.

1
Mira Hastati
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!