Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Yang Aneh
Pernikahan kilat itu benar-benar diluar nalar. Tidak ada gaun pengantin mewah, tidak ada dekorasi bunga mawar, dan yang paling membuat Serena merasa ganjil sejak tadi adalah kenyataan bahwa ia tidak melihat satu pun batang hidung wanita di mansion raksasa ini. Semua yang hadir di ruangan sakral itu hanyalah barisan pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam, para penjaga setia Sergio yang berdiri kaku bagaikan patung.
Selesai pemberkatan singkat yang dipimpin oleh seseorang pemuka agama, para penjaga langsung membubarkan diri atas isyarat tangan Sergio, meninggalkan Serena dan sang mafia berdua di dalam ruangan yang luas itu.
Serena berdiri mengenakan dress sederhana, menatap sekeliling ruangan sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada Sergio yang sejak tadi menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada keheningan sejenak sebelum Sergio melangkah mendekat.
"Persiapkan dirimu nanti malam," ucap Sergio dengan suara berat dan dingin yang khas.
Serena mengerjap, memiringkan kepalanya dengan polos. "Untuk apa?" tanyanya tanpa beban.
Sergio menyipitkan mata kelamnya, merasa heran dengan tingkat kepolosan gadis di depannya.
"Tentu saja melakukan seks. Kamu tahu itu kan? Tugasmu sekarang adalah memuaskan aku dan melahirkan seorang penerus," ucap Sergio dengan nada sinis dan dominan.
Mendengar kata-kata itu, mata Serena langsung melotot lebar. Ia mundur setengah langkah, bukan karena takut, melainkan karena syok yang bercampur baur dengan antusiasme yang meledak-ledak di dalam dadanya.
"OMG! Seks?! Denganmu?!" seru Serena tidak percaya, suaranya melengking tinggi memenuhi ruangan.
"Berarti aku bakal tidur sama mafia dan punya anak dari mafia?! Wah... Kedengarannya seru banget! Ngomong-ngomong, kamu maunya punya berapa anak?" tanya Serena dengan mata berbinar-binar penuh semangat, seolah ia baru saja mendengar tawaran liburan gratis ke luar negeri.
Sergio terdiam kaku. Otak sang mafia besar itu mendadak mengalami korsleting sesaat. Ia menatap Serena dari atas ke bawah, menilai ekspresi ceria tanpa beban di wajah gadis itu.
"Apa gadis ini tidak punya rasa takut sama sekali?" batin Sergio tidak percaya. Biasanya, wanita-wanita yang dibawa ke hadapannya atau mendengar kata-kata blak-blakannya akan langsung menangis histeris, gemetar ketakutan, bahkan mengompol di celana. Tapi Serena? Gadis itu justru terlihat sangat menikmati perannya sebagai istri seorang mafia.
"Jangan-jangan... Serena ini tidak waras?" Pikir Sergio mulai diliputi prasangka buruk.
"Jangan-jangan Sebastian sengaja mengirimkan barang rusak ke mansionku?"
"Kamu tidak salah dengar, Serena?" tanya Sergio memastikan, suaranya terdengar sedikit ragu untuk pertama kalinya dalam hidup.
"Aku seorang pemimpin organisasi kriminal. Aku bisa membunuh orang tanpa berkedip. Dan kamu... malah terlihat senang akan tidur denganku?"
Serena mengangguk antusias tanpa ragu sedikit pun. "Kenapa harus sedih? Lagian kan kamu ganteng, seksi, ototnya bagus, dan paket komplit seorang male lead novel romance. Daripada aku disiksa di rumah ayahku yang pelit itu, jadi istri mafia tampan jauh lebih menguntungkan, tahu!" jawab Serena blak-blakan dengan senyum lebar.
Sergio memijat pelipisnya perlahan. Ia merasa kewalahan menghadapi jalan pikiran wanita di depannya ini. Jauh di lubuk hatinya, Sergio mulai mempertimbangkan apakah keputusannya menikahi Serena adalah sebuah kesalahan besar atau justru sebuah hiburan yang teramat absurd.
Belum sempat Sergio merespons, Serena tiba-tiba mendekat dua langkah, matanya berbinar penuh rasa penasaran yang menggebu-gebu, seolah ia sedang menghadapi seorang narasumber di acara bincang-bincang misteri.
"Oh ya, ngomong-ngomong aku suka banget cerita soal mafia, dan aku penasaran setengah mati," ucap Serena dengan nada bersemangat, menatap Sergio lekat-lekat.
"Apa kalian beneran menguliti musuh secara hidup-hidup, atau itu cuma mitos yang dibikin-bikin di dalam cerita novel saja?"
Sergio menatap tajam ke arah Serena. Alis tebalnya bertaut dalam. Kepala mafia itu benar-benar dibuat tercengang oleh pertanyaan konyol tersebut.
"Menguliti musuh hidup-hidup?" ulang Sergio dengan suara dingin, sengaja memberikan nada mengintimidasi agar gadis itu merasa ngeri.
"Tergantung seberapa besar kesalahan musuh itu. Terkadang, peluru di kepala saja tidak cukup untuk menebus dosa mereka, Serena."
Alih-alih lari ketakutan atau menutup telinganya, Serena justru bertepuk tangan kecil dengan mata berbinar-binar kagum.
"Wah, keren banget! Berarti rumor di luar sana benar dong? Duh, duniamu ini bener-bener liar dan menantang!" puji Serena tanpa rasa takut sedikit pun.
Sergio tertegun. Ia menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Wanita ini benar-benar tidak waras," batin Sergio dalam hati.
Bagaimana bisa ada makhluk hidup di dunia ini yang memuji kekejaman organisasi kriminal dengan wajah riang gembira seperti sedang menonton film bioskop?.
"Kamu benar-benar tidak takut mati, Serena?" tanya Sergio pelan, suaranya merendah, berniat memberikan sedikit teror nyata agar gadis itu sadar di mana ia sekarang berada. Sergio melangkah maju memperpendek jarak di antara mereka hingga aroma maskulinnya mengurung tubuh Serena.
"Satu gerakan salah saja darimu, aku bisa melenyapkanmu malam ini tanpa ada seorang pun di dunia luar yang tahu."
Serena mendongak, menatap langsung ke dalam mata gelap Sergio tanpa gentar. Alih-alih mundur, Serena justru tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipit di sudut bibirnya.
"Mati tersambar petir pas lagi main hujan-hujanan saja sudah pernah aku lewati, Tuan Mafia," jawab Serena santai, mengungkit kisah kematian konyolnya di dunia sebelumnya.
"Jadi kalau mati di tangan suamiku sendiri yang super tampan ini... yah, rasanya tidak terlalu buruk untuk ukuran takdir."
Sergio terhenyak. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Serena, namun sukses membuat jantung sang mafia berdegup di luar kendali. Ada aura misterius yang terpancar dari diri Serena, sesuatu yang membuat Sergio merasa bahwa gadis di depannya ini menyimpan rahasia besar yang tidak tersentuh oleh nalar manusia biasa.
"Kamu ini perempuan jenis apa, hah?" tanya Sergio dengan nada rendah, sebelah tangannya terulur secara refleks, menyentuh lembut dagu Serena dan sedikit mendongakkan wajah gadis itu agar menatapnya lebih lekat.
Serena mengerjap pelan, merasakan kehangatan jemari kasar seorang pria berpengaruh menempel di kulit wajahnya.
"Aku cuma wanita biasa yang kebetulan nyasar ke duniamu," jawab Serena jujur, meskipun Sergio menganggapnya sebagai lelucon.
"Tapi tenang saja, Tuan. Sebagai istri yang baik, aku bakal nurut sama semua perintahmu... termasuk bagian melakukan seks dan bikin penerus yang kamu sebutkan tadi."
Wajah Sergio mendadak terasa panas. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh lima tahun hidupnya, seorang wanita berhasil membuatnya kehilangan kata-kata dan merona tipis di balik ekspresi dinginnya.
"Bagus kalau kamu sadar akan tugasmu," balas Sergio cepat, berusaha menutupi salah tingkahnya dengan kembali memasang wajah arogan. Ia menarik tangannya dari dagu Serena lalu berbalik memunggungi gadis itu.
"Malam ini, jangan coba-coba kabur atau membuat ulah. Zayden akan mengantarmu ke kamar utama kita."
Serena tersenyum penuh kemenangan di belakang punggung Sergio. Kehidupan barunya di dunia novel mafia ini ternyata jauh lebih menarik dan mendebarkan dari apa yang ia bayangkan. Dan Sergio Maximilian Ziegler? Pria itu bukan sekadar ancaman, melainkan babak baru yang paling seru dalam hidupnya yang kedua.
Bersambung...
Sepertinya cuma Serena yang bahagia menjadi istri seorang mafia.😭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔