Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Anggap Tidak Terjadi
Sejak kejadian malam itu, suasana rumah terasa berbeda.
Tidak ada yang benar-benar berubah.
Rumah itu masih sama. Meja makan masih berada di tempatnya. Suara langkah kaki masih terdengar dari lantai atas. Bahkan rutinitas Retna pun tetap berjalan seperti biasa.
Namun, ada sesuatu yang berubah di antara dirinya dan Mas Bule.
Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa begitu nyata.
Retna menjadi lebih sering menghindar.
Ketika Mas Bule berada di ruang makan, Retna memilih sibuk di dapur.
Ketika pria itu turun ke ruang tengah, Retna mencari alasan untuk masuk ke kamar atau mengerjakan sesuatu di belakang rumah.
Bahkan ketika tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, Retna buru-buru memalingkan wajah.
Ia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya menjadi seperti itu.
Bukankah seharusnya ia bersikap biasa saja?
Bukankah Mas Bule tidak melakukan sesuatu yang harus membuatnya merasa malu?
Tetapi setiap kali mengingat malam itu, jantung Retna selalu berdetak lebih cepat.
Ia masih mengingat juga bagaimana saat pria itu mencium bibirnya.
Ia masih mengingat kelembutan perlakuan pria itu.
Dan yang paling membuatnya bingung adalah...
Retna tidak merasa takut.
Justru sebaliknya.
Ia merasa nyaman.
Terlalu nyaman.
Dan itulah yang membuat Retna takut pada dirinya sendiri.
Sore itu, Retna sedang merapikan meja makan ketika suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Ia langsung tahu siapa orang itu.
Retna menundukkan kepala dan pura-pura sibuk menyusun piring.
"Retna."
Tangan Retna berhenti.
"Ya, Mas?"
Mas Bule berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Pria itu terlihat ragu sebelum akhirnya berjalan mendekat.
"Kamu akhir-akhir ini menghindari saya."
Retna tersenyum kecil.
"Tidak, Mas."
"Kamu menghindar."
Kali ini Retna tidak menjawab.
Mas Bule menarik napas panjang.
"Saya minta maaf."
Retna perlahan menoleh.
"Untuk apa?"
"Untuk kejadian kemarin."
Dada Retna terasa sesak.
Mas Bule menatapnya dengan ekspresi bersalah.
"Saya seharusnya tidak melakukan itu tanpa memikirkan perasaan kamu."
Retna menggigit bibirnya.
Ia tidak tahu mengapa mendengar permintaan maaf itu justru membuat hatinya semakin tidak nyaman.
"Saya tidak bermaksud membuat kamu salah paham," lanjut Mas Bule. "Jadi... jangan dipikirkan."
Retna terdiam.
"Anggap saja tidak pernah terjadi."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah mengapa, kalimat tersebut terasa seperti sesuatu yang menusuk hatinya.
Tidak pernah terjadi.
Jadi, bagi Mas Bule...
Apa yang terjadi kemarin memang tidak berarti apa-apa?
Hanya sebuah kekhilafan?
Sebuah tindakan spontan yang bahkan tidak layak untuk diingat?
Retna menunduk.
"Baik, Mas."
Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.
Mas Bule mengangguk.
"Saya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman tinggal di sini."
"Saya mengerti."
"Saya akan menjaga batas."
Retna kembali mengangguk.
"Terima kasih."
Mas Bule kemudian pergi meninggalkannya.
Retna tetap berdiri di tempatnya.
Tangannya masih memegang piring yang belum selesai ia susun.
Entah kenapa matanya terasa panas.
Ia mengusap sudut matanya cepat-cepat.
"Bodoh..."
Ia berbisik pada dirinya sendiri.
"Kenapa aku malah kecewa?"
Bukankah seharusnya ia lega?
Bukankah lebih baik jika Mas Bule menganggap kejadian itu tidak pernah terjadi?
Itu justru yang seharusnya ia inginkan.
Retna bukan siapa-siapa.
Ia hanya seorang perempuan yang bekerja di rumah itu.
Sedangkan Mas Bule adalah pria yang memiliki kehidupan yang jauh berbeda dengannya.
Mereka tidak berada di dunia yang sama.
Retna sadar betul akan hal itu.
Namun selama beberapa waktu terakhir, tanpa ia sadari, keberadaan Mas Bule telah menjadi sesuatu yang membuatnya merasa nyaman.
Ketika pria itu pulang dan menyapanya, Retna merasa senang.
Ketika Mas Bule bertanya apakah ia sudah makan, ada perasaan hangat yang muncul di dadanya.
Bahkan ketika mereka hanya duduk berdua sambil menikmati makan malam dalam diam, Retna merasa tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.
Perasaan itu tumbuh perlahan.
Dan Retna tidak menyadarinya sampai semuanya menjadi terlambat.
Kini, setelah Mas Bule mengatakan untuk melupakan semuanya...
Retna baru menyadari bahwa sebenarnya ia tidak ingin melupakannya.
Ia hanya tidak ingin mengakuinya.
Malam semakin larut.
Retna berada di kamarnya, duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kosong ke arah jendela.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Jangan berharap."
Suara itu nyaris tidak terdengar.
"Jangan berharap pada laki-laki lagi."
Ia sudah pernah mempercayai seorang lelaki.
Dan kepercayaan itu membuatnya terluka.
Ia pernah berpikir bahwa pernikahan akan menjadi tempat untuk pulang.
Ternyata justru menjadi tempat yang membuatnya kehilangan harga diri.
Karena itu, setelah semua yang terjadi, Retna berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mudah percaya lagi.
Namun Mas Bule perlahan membuat pertahanan itu runtuh.
Bukan dengan janji.
Bukan dengan rayuan.
Melainkan dengan perhatian-perhatian kecil yang bahkan mungkin tidak dianggap penting olehnya.
Dan sekarang, Retna kembali merasa kecewa.
Bukan karena Mas Bule melakukan sesuatu yang salah.
Tetapi karena Retna diam-diam berharap bahwa apa yang terjadi kemarin itu memiliki arti bagi pria tersebut.
Padahal mungkin tidak.
Mungkin bagi Mas Bule, itu hanya sebuah tindakan spontan.
Sebuah kekhilafan.
Sesuatu yang memang lebih baik dilupakan.
Retna menarik selimut dan berbaring membelakangi jendela.
"Seharusnya aku sadar diri."
Ia memejamkan mata.
"Mana mungkin Mas Bule melihat perempuan sepertiku?"
Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, Retna berharap bisa kembali menjadi dirinya yang dulu.
Perempuan yang tidak berharap.
Perempuan yang tidak mudah tersentuh oleh perhatian seorang lelaki.
Perempuan yang tidak menunggu suara pintu ketika Mas Bule pulang.
Namun semakin ia berusaha menjauh...
Semakin jelas pula satu hal yang tidak bisa ia bantah.
Ia mulai menyukai keberadaan pria itu.
Dan itulah yang paling menakutkan.
Karena Retna tidak yakin apakah hatinya sanggup menerima satu kekecewaan lagi.