“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Celin menggeleng lemah. "Reja nggak akan izinin gue kerja lagi. Dan sejujurnya, dengan status gue sekarang di keluarga Bagaskara, gue nggak punya pilihan. Adrian mau gue fokus mengawasi Reja dan bantu-bantu data perusahaan kalau dia butuh. Gue udah nggak punya kebebasan buat nentuin jam kerja gue sendiri."
Mendengar itu, mata Kirei ikut berkaca-kaca. Ia membayangkan betapa sepinya cafe tanpa Celin.
"Ibu bakal sedih banget kalau tahu ini, Li," suara Kirei bergetar. "Lo tahu kan, Ibu udah nggep lo kayak anak sendiri? Kadang dia lebih sayang sama lo daripada sama gue. Dia pasti bakal nungguin lo di depan pintu cafe tiap sore."
Celin menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menahan isak tangis yang mulai sesak di dada. "Sampein maaf gue buat Ibu ya, Rei. Bilang kalau gue kangen banget sama masakan dia. Tapi buat sekarang... gue bener-bener nggak bisa."
Kirei langsung menarik Celin ke dalam pelukannya. Di tengah keramaian taman kota yang tidak peduli, dua sahabat itu berbagi rasa kehilangan yang sama.
Kehilangan masa-masa sederhana saat mereka hanya memikirkan pesanan pelanggan dan ujian sekolah, bukan tentang kehancuran perusahaan atau pernikahan paksa.
Kirei melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata di pipi Celin dengan ibu jarinya. "Oke. Kalau itu emang jalannya buat lo bisa bertahan di rumah itu, gue dukung. Tapi janji sama gue, Li... jangan biarin mereka bener-bener hapus diri lo yang asli."
Kirei menggenggam tangan Celin lebih erat. "Gue bakal tetep di sini. Kalau lo butuh tempat lari, atau cuma sekadar butuh denger gosip nggak penting di sekolah supaya lo nggak gila, gue selalu ada buat lo. Status lo boleh berubah, tapi buat gue, lo tetep Celin si kutu buku yang paling kuat yang pernah gue kenal."
Celin baru saja hendak menjawab dengan ucapan terima kasih saat getaran ponsel di tasnya memutus momen hangat itu. Nama Reja yang muncul di layar seketika mengubah suasana haru menjadi horor yang mencekam.
Celin mengangkat telepon itu dengan tangan gemetar. "Halo?"
"Pinter banget ya sandiwara lo," suara Reja terdengar sangat tenang, tapi penuh ancaman di seberang sana. "Disaaat gue nggak ada di rumah, lo asik keluyuran?"
Darah Celin terasa membeku. Reja ternyata tidak benar-benar pergi jauh, atau mungkin ia sengaja memasang mata-mata untuk mengawasi gerak-gerik Celin sejak ia keluar rumah.
"Rej, gue cuma butuh udara segar—"
"Pulang sekarang. Detik ini juga," potong Reja dengan nada dingin yang tidak bisa dibantah.
"Atau gue bakal samperin lo ke sana dan bikin keributan yang bakal bikin Kirei malu seumur hidup. Pilihan di tangan lo."
Klik.
Panggilan diputus sepihak. Celin menoleh ke sekeliling taman dengan panik, mencari keberadaan Reja atau siapa pun yang mengambil fotonya tadi. Kirei menyadari perubahan wajah Celin.
"Li? Ada apa? Reja ya?"
Celin berdiri dengan terburu-buru, wajahnya pucat pasi. "Rei, gue harus balik. Sekarang. Reja tahu gue di sini. Maafin gue, Rei, gue harus pergi!"
Tanpa menunggu jawaban Kirei, Celin berlari menuju pinggir jalan untuk mencari taksi. Pikirannya kalut.
Jika Reja semarah ini sebelum mereka berangkat ke rumah Adrian, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di dalam mobil nanti malam. Sandiwara belajar bareng yang ia bangun semalam kini hancur total.
Taksi yang membawa Celin melaju membelah jalanan kota, namun tiba-tiba mata Celin menangkap pemandangan yang sangat ia kenali di sebuah gang sepi di pinggir jalan besar.
Di sana, seorang pria paruh baya tersungkur di aspal, sementara tiga orang berbadan besar terus menghujamkan tendangan dan pukulan ke tubuhnya yang sudah tak berdaya.
"Pak, berhenti! Berhenti di sini!" teriak Celin panik kepada sopir taksi.
Tanpa menunggu taksi benar-benar berhenti sempurna, Celin turun dan berlari kencang menuju kerumunan itu.
"Berhenti! Tolong berhenti!" Celin menerobos masuk, berdiri di depan tubuh ayahnya yang sudah bersimbah darah. Kondisinya sangat kritis—napasnya tersengal dan matanya hampir tertutup rapat.
Orang-orang berbadan besar itu berhenti sejenak, menatap Celin dengan pandangan mengancam.
"Jangan ikut campur. Orang tua ini harus diberi pelajaran."
"Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian sampai begini?" tanya Celin. Suaranya tidak gemetar. Meski jantungnya berdegup kencang, ia menjaga wajahnya tetap datar dan dingin.
"Dia ini penipu! Dia meminjam uang puluhan juta pada bos kami dan menjanjikan jaminan. Dia sudah menipu bos kami berkali-kali dan sekarang dia mau kabur," bentak salah satu dari mereka sambil mengepalkan tinju.
Celin menatap ayahnya yang tergeletak di aspal. Rasa benci, jijik, dan kasihan bercampur jadi satu di dadanya. Namun, ia tahu ia tidak bisa membiarkan pria ini mati di sini—bukan karena ia sangat mencintainya, tapi karena rasa tanggung jawab yang masih tersisa sebagai seorang anak.
Tanpa banyak bicara, Celin merogoh tasnya. Ia mengeluarkan seikat uang tunai yang sempat ia simpan untuk keadaan darurat dan beberapa lembar uang dari dompetnya. Ia melempar uang itu ke hadapan orang-orang tersebut.
"Ini bunga untuk keterlambatannya hari ini. Pergi sekarang sebelum saya panggil polisi. Sisanya akan dibicarakan lagi nanti," ucap Celin tegas.
Melihat tumpukan uang itu, mereka saling melirik lalu memungutnya. "Bilang pada ayahmu, ini baru peringatan kecil. Kalau sisa hutangnya tidak lunas dalam seminggu, dia tidak akan selamat."
Begitu mereka pergi, Celin segera memanggil kembali taksi tadi. Dengan dibantu sopir taksi, ia menggotong tubuh ayahnya yang berat dan babak belur ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit, Celin hanya menatap keluar jendela. Ia melihat tangan ayahnya yang terkulai lemas di sampingnya, namun tak ada satu pun tetes air mata yang jatuh dari mata Celin.
Ia tidak menangis. Sejak kecil, pemandangan ayahnya yang pulang dengan luka-luka akibat judi atau hutang sudah menjadi tontonan harian baginya. Hatinya sudah mengeras sekeras batu.
Sesampainya di rumah sakit, ayahnya segera dilarikan ke ruang IGD. Celin berdiri di koridor yang berbau antiseptik, pakaiannya kini ternoda noda darah ayahnya.
Ia melirik jam tangannya. Pukul 15.30.
Celin mematung. Ia ingat ancaman Reja di telepon tadi. Ia sudah terlambat terlalu lama untuk pulang. Saat ia merogoh ponselnya, layarnya menyala menunjukkan 15 panggilan tak terjawab dari Reja dan pesan teks yang sangat singkat namun mematikan.
"Kalau dalam 20 menit lo nggak sampai di rumah, jangan harap lo bisa liat Kirei atau Ayah lo dengan tenang lagi."
Celin menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit yang dingin. Ia terjebak. Ayahnya dalam kondisi kritis di dalam sana, sementara iblis yang satunya lagi sudah menunggu di rumah untuk meledak. Di tengah kebingungannya, sebuah pesan masuk lagi dari Reja.
"Gue tahu lo di rumah sakit. Jangan coba-coba bohong lagi."
Reja benar-benar mengawasinya. Celin baru sadar, permainan ini jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Reja tidak hanya ingin mengontrol hidupnya, tapi juga ingin menghancurkan setiap celah kebebasan yang ia miliki.
Bersambung...