NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 - Pengakuan Tia

Malam itu, hening di dalam kontrakan tipe 21 terasa begitu berat dan menekan. Di meja makan kayu yang sempit, hanya ada dua piring nasi goreng buatan Sam dan dua gelas air putih. Suara denting sendok Tia yang sesekali menyenggol piring menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan.

Tia menunduk dalam-dalam. Wajahnya yang kian tirus tampak memucat di bawah remang lampu pijar. Nasi goreng di piringnya baru tersentuh dua suap. Pikirannya melayang pada deretan notifikasi tagihan di ponselnya yang kian gencar berdering, sementara sisa uang di dompetnya tinggal beberapa lembar uang lima ribuan yang lusuh.

Sam memperhatikan setiap gerak-gerik Tia dari seberang meja. Ia meletakkan sendoknya perlahan, menyilangkan kedua lengan kekarnya di atas meja, lalu menatap wanita di hadapannya dengan pandangan yang dalam dan lembut.

"Mbak Tia..." panggil Sam pelan.

Tia tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan sendoknya. "E-eh... Iya, Mas Sam?"

"Makanannya tidak enak ya? Atau Mbak Tia sedang ada pikiran?" tanya Sam tenang, namun nada suaranya mengikat. "Sejak seminggu lalu, Mbak Tia kelihatan makin kurus. Lingkaran hitam di mata Mbak makin tebal, dan Mbak sering melamun sendiri. Kalau ada masalah... cerita sama aku, Mbak."

Dada Tia seketika bergemuruh hebat. Pertanyaan lembut dari Sam mendadak menghancurkan seluruh dinding pertahanan gengsi yang selama ini ia bangun rapat-rapat. Pertahanan wanita 35 tahun yang selalu berusaha terlihat kuat dan mandiri itu runtuh seketika.

Air mata yang sejak pagi ditahannya mendadak meledak, menetes deras membasahi pipinya dan jatuh ke atas piring nasi goreng.

"Mbak Tia?!" Sam kaget, refleks memajukan tubuhnya. "Kenapa menangis?!"

"A-aku..." Tia terisak hebat, bahunya naik-turun menahan tangis yang pecah tak terkendali. "Aku tidak bisa berpura-pura lagi, Mas Sam... Aku... aku tidak sanggup lagi..."

Tia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetaran. Suara tangisnya terdengar begitu pilu dan rapuh di dalam ruang tamu sempit itu.

"Aku sudah di-PHK sejak hari pertama kita dari hotel, Mas Sam!" pengakuan itu akhirnya meluncur deras dari bibir Tia. "Kantorku bangkrut! Aku tidak punya pekerjaan, aku tidak punya tabungan, TV dan kulkasku sudah laku dijual, dan aku punya utang pinjol!"

Sam membisu, menyimak setiap helaan napas penderitaan istrinya tanpa memotong sedikit pun.

"Setiap pagi aku pura-pura pakai baju kantor cuma buat cari kerja di perpustakaan daerah!" lanjut Tia sesenggukan, matanya yang basah menatap Sam dengan pandangan penuh rasa bersalah dan ketakutan yang amat sangat. "Tapi tidak ada satu pun perusahaan yang mau terima aku karena umurku sudah tua! Aku... aku sudah kehabisan uang, Mas Sam!"

Tia meremas ujung taplak meja, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Aku Minta maaf, Mas Sam... Aku tidak bakal sanggup bayar cicilan 'suami kredit' lima ratus ribu per bulan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan," bisik Tia pasrah, air matanya terus menetes ke atas meja. "Uangku benar-benar habis... Jadi... kalau Mas Sam mau mengakhiri pernikahan kontrak kita sekarang... aku ikhlas. Mas Sam boleh pergi. Jangan sampai Mas Sam ikut menderita gara-gara wanita pengangguran dan terjerat utang seperti aku..."

Kalimat itu terucap dengan rasa sakit yang mengiris-iris dada Tia sendiri. Mengusir Sam dari hidupnya terasa seperti mencabut separuh napasnya, namun Tia merasa tidak berhak lagi menahan pria tegap itu di sisinya.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tia menanti reaksi Sam dengan dada berdebar kencang, bersiap mendengarkan langkah kaki Sam yang melangkah pergi meninggalkannya sendirian dalam kehampaan.

Namun, langkah kaki yang ditakutkan Tia tidak pernah terjadi.

Sebaliknya, Sam berdiri dari kursinya. Pria berotot tegap itu melangkah memutari meja sempit, lalu berlutut di samping kursi Tia. Dengan jemarinya yang hangat dan kuat, Sam menghapus lelehan air mata di pipi Tia secara lembut.

Tia mendongak kaget, menatap mata tajam Sam yang kini berkaca-kaca menatapnya.

Sam yang dulu, seorang pawang buaya miskin yang menggantungkan hidup dari kasbon warteg, mungkin akan panik, marah, atau bergegas membatalkan kontrak demi menyelamatkan diri dari krisis finansial. Namun, Samsudin yang berdiri di hadapan Tia malam ini bukan lagi pria yang sama.

Ia adalah seorang pimpinan tunggal yang kini menguasai imperium bisnis puluhan triliun rupiah. Dan yang jauh lebih penting dari sekadar harta warisan, Sam telah terbiasa dengan keberadaan Tia. Rasa terbiasa oleh omelan manisnya, kehangatan seduhan teh malamnya, tawa bersama saat melawan kecoak terbang, serta keberanian polos wanita itu telah menumbuhkan benih rasa sayang yang begitu dalam dan mengakar kuat di dalam dada Sam.

Sam tersenyum tipis, sebuah senyuman paling hangat, tulus, dan menenangkan yang pernah Tia lihat sepanjang hidupnya.

"Mbak Tia..." suara Sam terdengar sangat dalam dan lembut. "Siapa bilang aku mau mengakhiri pernikahan kita?"

Tia terperanjat, matanya membelalak lebar di balik sisa air matanya. "T-tapi... aku kan tidak bisa bayar kamu lagi, Mas Sam! Aku tidak punya uang lima ratus ribu itu!"

"Peduli setan sama uang lima ratus ribu itu, Mbak Tia," potong Sam tegas tanpa ragu sedikit pun.

Sam meraih kedua tangan Tia yang dingin, menggenggamnya erat-erat di dalam telapak tangannya yang hangat.

"Aku tidak peduli Mbak Tia punya uang atau tidak. Aku tidak peduli Mbak Tia di-PHK atau punya utang," ujar Sam menatap lurus ke dalam manik mata Tia. "Perjanjian cicilan lima ratus ribu itu sudah tidak berlaku lagi. Aku tidak bakal pergi ke mana-mana. Aku bakal tetap di sini, jadi suami Mbak Tia."

"Mas Sam..." bisik Tia kaget, napasnya tertahan di tenggorokan. "Tapi... kenapa? Ini kan cuma pernikahan sewaan? Kau sudah tidak mendapat keuntungan dari pernikahan ini."

Sam tertawa hambar sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Dia mencoba mencari alasan yang logis di otaknya.

1
ˢ⍣⃟ₛ ERti ˢ⍣⃟ₛ.
tambahin up dong tor lagi seru lo torr
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu

udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
Ass Yfa
Sam...kalo belum mau jujur...bilang sja ke Tia...aku siap nafkahi mb tiSd. lahir batin🤭🤭
Ass Yfa
mereka itu miskom..belum ada kejujuran diantara mereka
Ardan
Sam kamu lelaki sejati, tambahin dong kalimat, "aku sudah ada rasa ama Mba Tia" 😍
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
Arin
Hayo..... mau cari alasan apa Mas Sam?? Sudah diterima kerja kantoran??? Tapi dalam hati bilang dengan gaji milyaran🤣🤣🤣🤣
Hary Nengsih
lom tau suami nya sultan
Arin
Cobalah saling terbuka, biarpun hanya suami-istri kontrak sementara.
Ida Khalifah: lanjut Thor 💪
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Khaira Almahendra
lanjoot thoor...mkn gregetan ni cerita nya😄,,,💪💪💪othor
Faidah Ida
lucu dan gemes thor,... 🤣🤣🤣

turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
Ass Yfa
Samsudi...gara2 grogi..mlh bikin dapur berantakan🤭
Ass Yfa
mb Tia suruh nglamar ditempat Sam
Ardan
sing sabar mbar, bojo mu si pawang buaya, udah jadi milyader loh, utang mu wis pasti dilunasin
Rommy Wasini Khumaidi
ini pasti mimpi,gk mungkin mereka secepat kilat melakukanya
❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ
itu akibatnya main nikah² an jadi serbasalah kalau ada adegan dewasa dikit udah tegang😁
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran
Ardan
makin lucu aja tingkah berdua🤣
Arin
Hayo lo..... Mba Tia. Sampai umur 35 baru ngelihat bentuk "ular ponton"?? 🤣🤣🤣 Apa lagi punya Mas Sam sang suami " kredit" Apa gak pengin di cicil dulu coba-coba kenalan dulu biar akrab🤭🤭🤭🤭
Hary Nengsih
ada2 ajs🤣🤣
Ass Yfa
😄😄😄😄ular piton...besar ya Tia...nggk pengin kamu🤭🤭
Rommy Wasini Khumaidi
sayang udah disewain kamar kalau dianggurin mas Sam,gas aja daripada nanggung,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!