Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.
——Di dunia bernama Cardinal.
Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.
Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.
Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 8—
Allen menyandarkan dagunya pada kedua tangannya.
“Jadi? Kekuatan utamanya berasal dari Chronos miliknya?”
Kael mengangguk.
“Ya. Kemungkinan besar begitu. Tapi... kekuatan fisik dan kemampuan bela dirinya juga tidak bisa diremehkan. Terlebih lagi, selama pertarungan tadi dia sama sekali belum menggunakan Magi ataupun sihir.”
Allwin perlahan menurunkan tangannya. Tatapannya beralih kepada Kael.
“Berarti... secara tidak langsung lu mengatakan bahwa dia masih belum menggunakan kekuatan penuhnya?”
Nada suaranya terdengar tidak puas dengan kesimpulan tersebut.
Namun, bahkan Allwin sendiri tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk membantahnya.
Kael masih bersandar pada dinding. Raut wajahnya tidak berubah sejak pertemuan itu dimulai.
“Menurutku, itu kesimpulan yang paling masuk akal. Aku hanya bisa merasakan aura Magi yang dipancarkannya. Namun, tidak satu pun serangan maupun pertahanannya menunjukkan penggunaan Magi.”
Salah seorang komandan yang sejak tadi hanya menyimak akhirnya angkat bicara.
Ia melepaskan sarung tangannya, kemudian menghela napas panjang.
“Yang jelas, meskipun kita memiliki lebih banyak pasukan tingkat Honorer, pasukan musuh ternyata jauh lebih kuat daripada perkiraan kita. Kemenangan Allwin atas Rouge tetap sangat menguntungkan. Setidaknya, satu monster dari pihak lawan sudah berkurang.”
Allen terdiam.
Kedua tangannya terlipat di atas meja. Tatapannya tertuju pada peta yang terbentang di hadapannya.
Wilayah Asterwaff telah diberi tanda tebal.
Sebagian besar wilayah tersebut hampir jatuh ke tangan musuh.
Namun, Allen tidak menunjukkan sedikit pun keraguan.
“Mau bagaimanapun juga, kita pasti bisa menang.”
Ia mengangkat kepalanya.
“Kita memiliki lebih banyak kartu AS dibandingkan mereka.”
Tatapannya kemudian beralih kepada Allwin.
“Allwin, Gate of Multifunction milikmu bisa mengeluarkan hampir apa pun, kan? Kalau begitu, bukankah kau bisa menyediakan persenjataan yang lebih efektif daripada sekadar pedang? Seperti pistol yang kau gunakan sebelumnya.”
Allwin menatapnya datar.
“Hm... ada benarnya.”
Ia mengangkat satu tangan.
“Gw emang bisa mengambil benda apa pun dari Gate ini. Tapi kapasitas ukurannya cukup terbatas.”
Jarinya menunjuk ke arah peta.
“Benda terbesar yang bisa dikeluarkan kira-kira sebesar nuklir yang sebelumnya gw jatuhin di Foulska.”
Ia kembali mengusap dagunya.
“Ukuran maksimalnya sekitar delapan puluh sentimeter.”
“Kalau begitu tidak masalah,” sahut Kael. “Sebagian besar senjata tidak membutuhkan ukuran sebesar itu. Kau mungkin bisa menyediakan senjata yang efektif untuk kondisi perang saat ini dan memiliki mekanisme yang mudah dikuasai.”
“Ada beberapa yang bisa langsung digunakan.”
Allwin mulai menghitung dengan jarinya.
“Mungkin seperti ranjau peledak dan barier bertenaga listrik.”
“Hanya untuk bertahan?” tanya Allen. “Adakah senjata yang bisa digunakan untuk menyerang?”
“Ada.”
Allwin berhenti sejenak.
“Hanya saja mustahil membagikannya kepada seluruh tentara. Mereka juga harus beradaptasi dengan senjata tersebut terlebih dahulu.”
Ia menghela napas.
“Berlatih di tengah gempuran seperti ini? Nggak masuk akal. Untuk sekarang, lebih baik kita memperkuat pertahanan.”
Kael mengangguk.
“Benar. Kalau begitu, keluarkan sebanyak yang kau bisa. Kita akan memasangnya di garis pertahanan.”
Para komandan lainnya ikut mengangguk.
Keputusan pun dibuat.
Tidak lama kemudian, Allwin mulai mengeluarkan sejumlah ranjau peledak dan barier listrik dari Gate of Multifunction.
Para pekerja yang bertugas di garis pertahanan segera berkumpul di sekitarnya.
Setelah Allwin menjelaskan mekanisme dan cara penggunaannya, mereka langsung membawa peralatan tersebut ke titik-titik yang diperkirakan akan menjadi jalur serangan musuh.
Sebagian lainnya dibawa Kael menuju wilayah berbeda menggunakan teleportasi.
Di saat yang sama, Allwin, Allen, dan beberapa komandan kembali menyusun strategi pertahanan.
Pasukan pengintai dikerahkan menuju Foulska untuk memantau pergerakan musuh.
Bala bantuan segera dikirim menuju Asterwaff.
Ratusan tentara diperintahkan bergerak menuju garis depan untuk memperkuat pasukan yang masih bertahan di sana.
Persiapan pertahanan dilakukan hampir tanpa jeda.
Mereka tahu bahwa waktu yang tersisa semakin sedikit.
◇◇◇
Beberapa waktu kemudian, Kael telah selesai mendistribusikan peralatan tersebut ke tiga kota lainnya: Warstown, Wistoria, dan Victoria.
Namun, gempuran pasukan Vorax di Asterwaff belum juga berhenti.
Mereka terus bergerak maju.
Satu demi satu garis pertahanan ditembus.
Satu demi satu wilayah jatuh.
Dan tujuan mereka semakin dekat.
Victoria.
Setelah itu, Wistoria.
◇◇◇
Di sisi lain, Serena masih berada di kamp pengungsian yang terletak di perbatasan Victoria dan Asterwaff.
Suasana di sana dipenuhi kesibukan.
Para prajurit yang terluka menerima perawatan, sementara beberapa penyihir tempur duduk bersandar pada tenda dan batang pohon untuk memulihkan Magi mereka setelah menghabiskan sebagian besar cadangan dalam pertempuran sebelumnya.
Serena sendiri hanya duduk diam di atas sebatang kayu.
Namun, pikirannya terus bekerja.
Ia kembali mengingat pertarungannya dengan Shindou.
Kecepatan.
Kekuatan fisik.
Tarian Dewa Angin.
Ketiganya membuat serangan biasa nyaris tidak berguna.
Serena menundukkan kepala.
Lalu sebuah ingatan melintas di benaknya.
Tentang Kael.
Matanya perlahan melebar.
“Gravitasi...”
Suaranya nyaris tak terdengar.
Jika Shindou mampu bergerak secepat itu hanya dengan mengandalkan kekuatan fisik dan Tarian Dewa Angin...
Serena perlahan berdiri.
“Bagaimana kalau seluruh wilayah di sekitarnya kutekan dengan manipulasi gravitasi?”
Sebuah kemungkinan mulai terbentuk di kepalanya.
Belum tentu berhasil.
Bahkan, Serena sendiri belum sepenuhnya menguasai teknik tersebut.
Namun, setidaknya ada satu cara untuk mengetahuinya.
Ia berjalan menjauh dari kamp pengungsian.
Setelah menemukan tempat yang cukup sepi, Serena berhenti.
Tangannya terangkat.
Matanya terpejam.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Kemudian mengembuskannya perlahan.
“...Mari kita lihat.”
Seketika, suasana di sekitar Serena berubah.
Udara terasa berat.
Tekanan tak kasatmata menyebar dari tubuhnya dan menekan segala sesuatu dalam radius tertentu.
Krek!
Pohon-pohon di sekitarnya mulai berderak.
Batang-batangnya perlahan melengkung di bawah tekanan yang semakin kuat.
Tanah di bawah kaki Serena retak dan ambles sedikit demi sedikit.
Beberapa retakan bahkan melebar hingga membentuk parit-parit sempit.
Serena membuka matanya.
Ia mengamati keadaan di sekelilingnya selama beberapa detik.
Kemudian aktivasi Skill Uniknya dihentikan.
Tekanan gravitasi pun lenyap.
“Kurasa seperti ini cukup untuk membuatnya tersungkur ke tanah.”
Serena mengusap dagunya.
“Ditambah karena ini Skill Unik, gw nggak perlu terlalu khawatir Magi-ku habis.”
Ia mengangguk kecil.
Setidaknya, ia sudah menemukan kemungkinan untuk menghambat pergerakan Shindou.
Sekarang tinggal memastikan apakah efeknya benar-benar bekerja padanya.
Serena berbalik dan mulai berjalan kembali menuju kamp pengungsian.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan area tersebut—
Krek.
Sebuah ranting patah.
Serena berhenti.
Ia perlahan menoleh.
Tidak ada apa-apa.
Hanya pepohonan yang bergerak pelan diterpa angin.
“...”
Serena menyipitkan mata.
Tatapannya menyapu seluruh area.
Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas.
“Cuma angin.”
Ia kembali berjalan.
Tanpa menyadari bahwa beberapa puluh meter di belakangnya, sebuah bayangan berdiri diam di antara pepohonan.
Sepasang mata mengawasinya.
Shindou.
Ia tidak mengejar.
Belum.
◇◇◇
Beberapa menit kemudian, Serena akhirnya kembali ke kamp pengungsian.
Namun, suasana di sana telah berubah.
Para prajurit yang sebelumnya beristirahat sudah kembali bersiap. Beberapa penyihir tempur berdiri dengan tongkat dan senjata masing-masing, sementara pasukan garis depan mulai mengambil posisi.
Serena berjalan mendekati Veronica.
“Bagaimana keadaan—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya.
Sebuah suara terdengar dari balik pepohonan.
“Ketemu.”
Seluruh pasukan terdiam.
Serena membeku.
Veronica langsung mengangkat tangan.
“Semua bersiap!”
Dalam sekejap, para penyihir tempur mengangkat senjata.
Beberapa prajurit membentuk barisan pertahanan.
Kemudian—
Sebuah bayangan melesat keluar dari antara pepohonan.
Shindou.
Debu beterbangan dari tanah yang diinjaknya.
“Serang!”
Ledakan sihir langsung memenuhi area.
Api, es, dan petir ditembakkan secara bersamaan menuju Shindou.
Namun, tubuhnya bergerak di antara seluruh serangan itu.
Tarian Dewa Angin.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tubuhnya melintas seperti hembusan angin yang tidak dapat ditangkap mata.
“Cepat sekali!”
Shindou menerobos barisan pertama.
Dalam hitungan detik, beberapa penyihir terlempar dan empat penyihir tempur tumbang setelah terkena serangan berturut-turut.
“Jangan biarkan dia mendekati garis belakang!”
Veronica langsung maju.
Sebuah lingkaran sihir terbentuk di bawah kakinya.
“Semua mundur!”
Namun, Shindou sudah berada di hadapannya.
Veronica mengertakkan gigi.
“Lari!”
Para prajurit mulai mundur.
Mereka tidak punya pilihan.
Pertahanan mereka tidak mampu mengikuti kecepatan Shindou.
Serena yang berada sedikit di belakang barisan mencoba mengangkat tangannya.
“Gravitasi—”
Srak!
Sebuah rantai berwarna gelap melesat dari arah Shindou.
Serena bahkan tidak sempat menyelesaikan ucapannya.
Rantai itu langsung melilit tubuhnya.
“Apa—?!”
Rantai Hukuman.
Tubuh Serena terikat erat.
Semakin ia mencoba bergerak, semakin kuat rantai tersebut mengencang.
“Serena!”
Veronica menoleh.
Matanya melebar.
Ia hendak kembali.
Namun, beberapa bayangan mulai terlihat di kejauhan.
Pasukan Vorax.
Mereka sudah tiba.
Jumlahnya jauh lebih besar daripada kelompok mereka.
Veronica mengepalkan tangan.
“Tidak...”
Jika ia kembali mengambil Serena sekarang, seluruh pasukan akan ikut terjebak.
Ia menatap Serena.
Beberapa detik.
Tatapan mereka bertemu.
Veronica tampak ragu.
Namun, Serena justru memberikan anggukan kecil.
Sebuah pesan sederhana.
Pergilah.
Veronica menggertakkan gigi.
“Semua pasukan, terus mundur!”
“Kapten Veronica!”
“Jangan kembali!”
Ia memaksa dirinya berbalik.
Namun, sebelum benar-benar pergi, ia berhenti.
“Serena...”
Serena hanya menatapnya.
Tidak ada ketakutan di wajahnya.
Veronica mengertakkan gigi.
“...Maaf.”
Ia kemudian berbalik dan berlari menyusul pasukan lainnya.
Shindou menarik rantai tersebut.
Tubuh Serena terseret beberapa langkah.
Ia mencoba melawan.
Tidak berhasil.
Kemudian—
Sebuah serangan menghantam tubuhnya.
Serena kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Dari kejauhan, Veronica yang masih sempat menoleh menangkap sosok Serena yang jatuh ke tanah.
“SERENA!”
Langkahnya hampir terhenti.
Namun, pasukan Vorax semakin dekat.
Veronica menggigit bibirnya.
Ia tidak bisa kembali.
Bukan sekarang.
Ia terus berlari.
Dalam situasi seperti ini, satu-satunya kemungkinan yang bisa ia terima adalah Serena sudah tidak dapat diselamatkan.
Ia harus menganggap Serena telah tewas.
Beberapa puluh meter kemudian, Veronica akhirnya berhenti.
Ia berbalik.
Shindou masih berada di tempat itu.
Tatapan mereka bertemu.
“...Kalau begitu.”
Veronica mengangkat tangannya.
Cahaya sihir berkumpul di telapak tangannya.
Shindou juga mengambil posisi bertarung.
Mereka saling menerjang.
Benturan pertama mengguncang pepohonan.
Veronica menahan serangan Shindou dengan penghalang sihir, kemudian membalas dengan serangkaian serangan jarak jauh.
Shindou menghindar.
Tubuhnya bergerak ke samping sebelum kembali menerobos pertahanan Veronica.
Namun, Veronica berhasil membentuk penghalang kedua tepat di hadapannya.
“Cepat sekali...”
Shindou tersenyum tipis.
“Dan kau cukup merepotkan.”
Mereka kembali bertukar serangan.
Namun, pertarungan itu tidak berlangsung lama.
Suara gemuruh terdengar dari kejauhan.
Tanah bergetar.
Veronica menoleh.
Pasukan Vorax telah mencapai wilayah mereka.
Jumlahnya terlalu banyak.
Veronica menghela napas.
“Tidak ada gunanya melanjutkan.”
Ia mundur beberapa langkah.
Shindou tidak mengejar.
Ia hanya berdiri sambil memperhatikan Veronica.
Veronica kemudian berbalik dan berlari menyusul pasukannya.
Untuk saat ini, bertahan hidup jauh lebih penting daripada memenangkan pertarungan yang sudah tidak menguntungkan.
Di belakangnya, Shindou tetap berdiri di tengah pepohonan.
Sementara pasukan Vorax terus bergerak maju.
Dan Serena...
Telah tertinggal sendirian di medan perang.
◇◇◇
Shindou berjalan mendekati Serena yang masih terkapar di tanah.
Ia berhenti beberapa langkah di hadapannya.
“Oi.”
Tidak ada jawaban.
“Cepat bangun, bajingan.”
Shindou menyilangkan kedua tangannya.
“Aku tahu kau masih hidup.”
Mata Serena bergerak perlahan.
Beberapa detik kemudian, ia membuka mata dan mengangkat tubuhnya.
“Uhuk...”
Tangannya menyentuh dadanya.
Tubuhnya perlahan memulihkan diri. Kondisinya kembali stabil, seolah serangan sebelumnya hanya meninggalkan bekas sesaat.
Serena menghela napas.
“Sial... dari mana kau tahu aku masih hidup?”
“Kau langsung menciptakan jantung baru setelah organ lamamu rusak.”
Shindou menunjuk dada Serena.
“Lagian, aku bisa merasakan aura kehidupan seseorang. Menyembunyikan keberadaanmu dariku tidak semudah itu.”
Serena terdiam.
Tubuhnya masih terikat Rantai Hukuman.
Ia mencoba menggerakkan tangannya.
Rantai tersebut langsung mengencang.
Tidak ada celah.
Serena akhirnya berhenti melawan.
Ia menatap Shindou dengan tenang.
“Ini kesempatanmu, loh.”
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Kenapa kau tidak membunuhku sekarang?”
Nada suaranya terdengar tenang.
Namun, sorot matanya menunjukkan bahwa ia sengaja memancing reaksi Shindou.
Shindou hanya mendengus.
“Membunuhmu?”
Ia menggeleng.
“Itu tidak ada gunanya.”
Tatapannya menyapu Serena sesaat sebelum kembali menatap matanya.
“Aku punya urusan lain denganmu.”
Serena menyipitkan mata.
“Urusan lain?”
“Aku akan membawamu pergi.”
Shindou menarik rantai tersebut.
Serena terseret beberapa sentimeter mendekatinya.
“Dan setelah itu, aku bisa mendapatkan keuntungan dari keberadaanmu.”
Serena terdiam.
Kemudian tatapan sinisnya kembali muncul.
“Jadi kau cuma berniat menjadikanku barang tawar-menawar?”
“Kurang lebih begitu.”
“Bajingan.”
“Heh.”
Shindou tertawa kecil.
“Lagipula, dengan tubuh yang kau miliki, pasti ada banyak pihak yang bersedia membayar mahal untuk mendapatkanmu.”
Serena mendengus.
“Sopan kah begitu?”
Shindou hanya terkekeh.
Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut—
Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Vorax datang bersama beberapa pasukannya.
Ia menghentikan kudanya tidak jauh dari Shindou.
“Apa yang sedang kau lakukan dengan gadis itu?”
Vorax menunjuk Serena.
“Kenapa tidak kau bunuh saja?”
Shindou menggeleng.
“Tidak perlu.”
Ia menarik rantai yang mengikat Serena.
“Aku punya rencana lain untuknya.”
Vorax mengangkat alis.
“Rencana?”
Shindou tersenyum santai.
“Kebetulan aku sedang butuh uang.”
Ia menggaruk belakang kepalanya.
“Utang judiku di kasino belum lunas.”
Vorax terdiam.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian ia menatap Shindou dengan ekspresi datar.
“Judi sampai berutang?”
Shindou mengangkat bahu.
“Namanya juga adu hoki.”
“Bego banget.”
Tanpa menunggu jawaban, Vorax membelokkan kudanya.
“Urusanmu dengan gadis itu terserah. Jangan sampai menghambat pergerakan pasukan.”
Ia kemudian kembali menuju pasukannya.
Shindou memperhatikan kepergian Vorax sebelum kembali menatap Serena.
“Rekanmu humoris juga, ya.”
“Jangan samakan aku dengannya.”
Serena menghela napas.
“Lagipula...”
Tatapannya turun pada rantai yang mengikat tubuhnya.
“...kau terlalu percaya diri kalau mengira aku akan ikut denganmu begitu saja.”
Senyum tipis kembali muncul.
Shindou menyeringai.
“Kita lihat saja nanti. Untuk saat ini, aku akan menahanmu sementara.”
“Kalau begitu aku keburu hilang, loh.”
“Hahaha... tidak akan.”
Shindou menarik rantainya sedikit.
“Aku akan menyembunyikanmu di tempat yang jarang diketahui orang-orang. Lagipula, kalau ada yang menemukanmu, belum tentu mereka bisa melepaskan rantai ini.”
Serena hanya menatapnya datar.
Tanpa membuang waktu, Shindou langsung mengangkat tubuh Serena dan membawanya menjauh dari medan perang.
◇◇◇
Sementara itu, Vorax menghentikan pasukannya untuk sementara waktu agar mereka dapat beristirahat.
Tiga tim pengintai diperintahkan memantau pergerakan militer di Kota Victoria.
Setelah memastikan kondisi pasukannya cukup baik, Vorax berjalan mendekati beberapa komandan bawahannya.
“Kau, Rudrick.”
Seorang pria segera menegakkan tubuh.
“Bawa dua puluh ribu pasukan menuju Warstown di utara.”
Tatapan Vorax kemudian beralih kepada komandan lainnya.
“Kein. Kau bawa dua puluh ribu pasukan menuju Foulska dan Sirius. Taklukkan kedua wilayah itu.”
Ia menunjuk pasukan utama yang berada tidak jauh dari mereka.
“Sedangkan aku akan membawa sisa pasukan untuk menembus Victoria dan mencapai Wistoria.”
“Dimengerti.”
“Siap. Akan kami laksanakan setelah waktu istirahat selesai.”
Vorax mengangguk.
Beberapa menit kemudian, setelah memastikan pembagian pasukan telah dipahami, ia kembali menaiki kudanya.
“Istirahat selesai.”
Ia menarik tali kekang.
“Kita maju lagi.”
“Siap!”
Suara para prajurit menggema.
Pasukan kembali bergerak.
Tidak lama kemudian, tiga kelompok besar mulai berjalan ke arah yang berbeda.
Satu menuju Warstown.
Satu menuju Foulska dan Sirius.
Sementara pasukan utama bergerak menuju Victoria.
Wilayah kekuasaan mereka pun mulai melebar.
◇◇◇
Di pusat komando, Morphegor berdiri sambil menatap wilayah Asteria dari kejauhan.
“Operasi Ragnarok sudah dimulai.”
Tatapannya tetap tertuju pada wilayah tersebut.
“Sekarang tinggal menunggu hasilnya.”
Seorang pria berambut hitam dengan seragam jenderal putih yang rapi duduk tidak jauh darinya.
Ia meletakkan secangkir kopi di atas meja.
Zhanobia.
“Ya...”
Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi.
“Seharusnya Asteria sudah mulai menunggak utang kepada kerajaan lain. Kondisi ekonomi mereka pasti semakin buruk setelah perang selama ini.”
Morphegor berbalik menatapnya.
“Lagi pula, jumlah pasukan kerajaan mereka secara keseluruhan hanya sekitar satu juta seratus ribu. Kurasa kita bisa menang dalam satu atau dua bulan.”
“Tidak perlu terburu-buru.”
Zhanobia masih duduk santai.
“Ini baru langkah awal. Masih ada kerajaan lain di sekitar Asteria yang belum kita sentuh.”
Mata Morphegor sedikit melebar.
“Jangan bilang... kau ingin memulai perang dunia lagi?”
“Nggak juga.”
Zhanobia mengangkat cangkir kopinya.
“Aku hanya ingin menguasai pusat perdagangan di wilayah Thyrion, Babylon, dan Dynasty Shen.”
Ia menyeruput kopinya.
“Ketiga negara itu merupakan pusat perdagangan internasional. Ditambah sumber daya alam Asteria...”
Zhanobia tersenyum tipis.
“Bukankah itu akan membuat kita kaya?”
Morphegor menghela napas.
“Sungguh serakah.”
Ia kemudian menatap Zhanobia dengan lebih serius.
“Tapi aku sedikit khawatir dengan Thyrion. Mereka jelas bukan kerajaan kecil yang bisa ditaklukkan dengan mudah.”
“Ya... gw tahu.”
Zhanobia meletakkan cangkirnya.
“Thyrion adalah negara dengan militer terkuat saat ini. Personel aktif mereka lebih dari empat juta.”
Ia tersenyum santai.
“Tapi tenang saja. Gracia berada di bawah kendali kerajaanku. Jadi aku tidak terlalu mengkhawatirkan hasil akhirnya.”
Morphegor menyipitkan mata.
“Karena kau masih memiliki pion lainnya?”
Zhanobia hanya tersenyum.
“Kau... sebenarnya apa rencanamu?”
“Apa kau bodoh?”
Zhanobia berdiri dari kursinya.
“Tentu saja aku akan menggunakan segala cara yang diperlukan.”
Ia memasukkan satu tangan ke saku celana.
“Sebagai Raja Iblis Sins sang Keserakahan, aku rela melakukan apa pun demi mencapai kemenangan dan keuntungan mutlak.”
Morphegor menghela napas.
“Aku tidak melarangmu. Kita sesama Raja Iblis Sins.”
Tatapannya berubah serius.
“Namun, sangat berbahaya jika kita tanpa sengaja menyenggol Livyathan.”
Zhanobia terdiam sesaat.
“Oh, si sombong itu?”
Ia terkekeh.
“Mungkin memang bakal merepotkan. Tapi gw sudah bernegosiasi dengannya.”
“Dan?”
“Dia mengatakan bahwa daratan timur tenggara adalah wilayahnya.”
Morphegor berpikir sejenak.
“Kalau bagian timur tenggara... bukankah Babylon termasuk wilayah tersebut?”
“Babylon itu luas.”
Zhanobia berjalan mendekati jendela.
“Wilayahnya bahkan mencakup tiga benua sekaligus. Membentang dari timur tenggara hingga Eurania.”
Morphegor terdiam.
“Aku harap rencana ini tidak mengganggunya. Babylon sudah berada di bawah kendalinya sebagai sumber minyak bumi.”
“Tenang saja.”
Zhanobia meliriknya.
“Livyathan tidak berniat beraliansi dengan Babylon.”
Ia tersenyum tipis.
“Justru dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menguasai Babylon.”
“Oh... begitu.”
Morphegor mengangguk perlahan.
“Baiklah. Kuterima informasinya.”
Ia kembali duduk.
“Setelah Operasi Ragnarok sukses, aku akan mengambil napas sejenak sebelum menginvasi Ethereum di selatan.”
“Perhitungan yang bagus, Tuan Malas.”
Zhanobia tertawa kecil.
“Hehehe... kalau begitu, gw pergi dulu.”
Tubuhnya mulai diselimuti cahaya.
Perlahan, wujudnya berubah menjadi debu cahaya.
Morphegor hanya diam memperhatikan tubuh Zhanobia yang semakin menghilang.
Hingga akhirnya, tidak ada lagi yang tersisa.
Operasi Ragnarok baru saja dimulai.
Namun, bagi Zhanobia...
Perang ini hanyalah langkah pertama.