Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 27
KEBODOHAN MUCHUS
Tengah malam telah menyelimuti kediaman Marcano sepenuhnya. Cahaya remang dari lampu lorong menembus celah tirai, menciptakan bayangan panjang di lantai kamar yang luas. Laura berbaring miring, matanya terpejam, berusaha membiarkan kantuk menjemputnya sebelum pagi tiba.
Namun tiba-tiba, ketukan terdengar jelas di pintu kamarnya— pelan namun berulang, menembus keheningan malam.
Tok! Tok! Tok! Tok!
Alis Laura langsung bertaut. Ia teringat wajah Muchus, tatapan yang selalu membuatnya merinding. Ia menarik selimut lebih tinggi, menutup telinganya perlahan, berharap suara itu akan hilang dengan sendirinya.
Namun ketukan itu terdengar kembali, kali ini disertai suara yang serak dan tertahan.
"Laura... Mrs. Laura Marcano..."
Di luar pintu, Muchus berdiri condong ke dinding, napasnya berbau alkohol kuat, senyum miring tersungging di bibirnya. Ia mengulurkan tangan menyentuh permukaan pintu seakan dapat menyentuh gadis di baliknya. Belum sempat ia berbicara lebih lanjut, langkah kaki terdengar mendekat mantap dan berat. Muchus menoleh, menyeringai lebar saat melihat sosok yang berhenti tak jauh darinya.
Killian berdiri tegak, tatapannya datar dan dingin.
"Kau mencari sesuatu?" tanya Killian tanpa nada ramah sedikit pun.
Muchus tertawa pelan, suaranya kabur pengaruh minuman. "Aku datang untuk membantu istrimu. Mungkin dia ingin menghubungi seseorang, aku bisa membantunya tapi dia ragu."
"Istriku tidak membutuhkan bantuanmu saat ini," jawab Killian tegas. "Pergilah."
Muchus melangkah mendekat sedikit, mencondongkan wajahnya. "Kau bicara seolah seperti pemikiran, Killian... seakan kau tuan di sini. Padahal kau hanyalah anak yang diangkat, bukan darah daging keluarga Marcano. Berhentilah menekan semua orang seakan semuanya milikmu."
“Aku bagian dari pemimpin itu.” Killian menatapnya tenang, namun matanya tajam menembus.
"Kau tidak tahu," ucapnya pelan namun jelas. "Marga Marcano ini milikku. Vincenzo menerima marga ini saat dia bersamaku dan Sandra — dia datang ke sini setelah dikhianati oleh suaminya. Ia memohon belas kasih untuk tinggal di sini. Lalu menggunakan nama Marcano, bukan nama suaminya, bukan pula nama yang dulu ia sandang."
Ia melangkah selangkah mendekat, membuat Muchus mundur selangkah tanpa disadari.
"Jadi jangan pernah bicara seakan kau lebih berhak dariku. Menjauh lah dari istriku. Jika tidak, kau akan tewas lebih cepat.."
Wajah Muchus memerah menahan amarah. Ia menatap Killian tanpa berkedip, tak berani melangkah maju namun tak mau mundur pula. Keheningan tegang tercipta di antara mereka, hingga suara wanita terdengar tegas memecahnya.
"Muchus!"
Muchus melirik. Zoey berdiri tak jauh dari sana, wajahnya cemas namun berusaha tetap tenang. Ia mendekat perlahan, menatap Killian yang masih menatap tajam muchus dengan ragu.
"Maafkan dia, Killian," ucapnya pelan. "Dia kehilangan kendali atas dirinya malam ini."
Killian mengalihkan pandangan ke wanita itu.
"Katakan padanya," ucapnya dingin. "Agar dia tidak melampaui batas kesabaranku. Sekali lagi dia mendekat ke sini, tidak ada yang dapat menjamin keselamatannya."
"Aku tahu.” Zoey mengangguk pelan, meraih tangan suaminya yang kasar. "Kita pergi."
Muchus hendak menolak, namun tatapan Zoey menahannya. Dengan langkah berat, ia akhirnya pergi, sesekali menoleh ke belakang dengan pandangan yang penuh dendam.
Saat lorong kembali hening, Killian mengetuk pintu pelan lalu membukanya perlahan. Baru saja ia melangkah masuk, sesuatu melayang cepat ke arah kepalanya — botol kaca yang berat.
Killian menangkisnya dengan satu gerakan tangan, memutar tubuhnya sekaligus menekan sosok yang melemparkannya ke permukaan pintu yang tertutup kembali. Kedua tangan orang itu tertahan di belakang punggung, terjepit oleh tubuhnya yang mendekat.
“Akkh— ”
Hening seketika. Killian menunduk, menyadari siapa yang ia tahan.
“Lepaskan aku.” Laura menegang, napasnya tertahan.
Killian melepaskan cengkeramannya perlahan. Laura menarik kedua tangannya, menahan rasa nyeri di pahanya yang tertekan saat ia bergerak tadi. Ia menunduk, wajahnya memerah karena gugup sekaligus bersalah.
"Maaf..." ucapnya singkat.
Killian menatapnya dari atas ke bawah, berhenti tepat di perban yang melilit pahanya.
"Perban itu sudah diganti," ucapnya datar.
Laura mengangguk pelan, tak berani menatap matanya. Killian berjalan menuju meja kecil di sudut kamar, menuangkan segelas air putih. Ia berdiri di sana sejenak, lalu berbalik menatap gadis yang kini duduk di tepi ranjang.
"Besok pagi-pagi sekali, kita berangkat," ucapnya tenang.
Laura mendongak, berkerut bingung. "Ke mana?"
"Kau akan tahu nanti."
Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan gadis itu. Tangan kanannya merogoh saku kemeja, mengeluarkan sebuah pil kecil berwarna putih. Sebelum Laura sempat bertanya, ia menangkup kedua sisi wajah gadis itu perlahan namun tegas, memasukkan pil itu ke mulutnya.
"Telan," perintahnya rendah.
Laura berusaha menggeleng, menolak menelannya. "Apa ini..."
Killian mendekatkan gelas ke bibirnya, tatapannya tak dapat ditolak.
"Telan sekarang."
Dengan keraguan yang memenuhi dadanya, Laura menelan pil itu bersama air yang ia berikan. Ia menatapnya tajam, napasnya memburu.
"Obat apa ini?"
Killian meletakkan gelas kosong di meja samping ranjang, suaranya tetap tenang dan datar.
"Itu obat racun."
Mendengar itu Laura terbelalak kaget.
***
Di sayap lain kediaman, Sandra berdiri di balik jendela kamarnya yang sedikit terbuka, menyaksikan sosok Muchus yang berjalan terhuyung-huyung di halaman sebelum akhirnya menghilang ke arah sayap tamu.
Ia mengatupkan giginya pelan. Semua yang terjadi tadi telah didengarnya dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Langkah kakinya tegas saat ia berjalan menuju ruangan kerja Vincenzo. Pintu itu terbuka sedikit, dan ia melihat kakaknya duduk di kursi besar, menatap lurus ke arah lukisan wanita bernama Jolie itu.
"Kau mendengarnya juga?" tanya Sandra tanpa salam.
Vincenzo tidak menoleh. "Aku mendengar semuanya."
"Muchus semakin tak terkendali," ucap Sandra mendekat, suaranya rendah namun tajam. "Dan Killian... ia menantangku secara terang-terangan. Ia menyebutkan namaku, menyebutkan asal-usulku di depan anak buahnya sendiri."
Vincenzo menghela napas panjang, tubuhnya terlihat lebih tua dari biasanya.
"Killian tidak berbohong," ucapnya pelan. "Itulah kenyataannya."
Sandra mengerutkan dahi, berdiri tepat di samping kursi kakaknya. "Jadi kau membiarkannya? Membiarkannya menguasai segalanya sementara aku dan putraku hanya dianggap beban?"
"Kau salah paham," jawab Vincenzo dingin, menoleh menatapnya. "Aku melindungimu selama ini. Dan Killian tahu itu. Ia tidak menyinggung perasaanmu tanpa alasan."
"Tanpa alasan?" Sandra tertawa sinis. "Ia melindungi gadis itu, menentangku, menentang Muchus, bahkan kini ia berani melawan keputusanmu. Di mana letak kesetiaannya, Kakak?"
Vincenzo berdiri perlahan, menatap lukisan itu sekali lagi sebelum berbicara.
"Kesetiaan Killian tidak pernah diragukan. Hanya saja... ia mulai memilih jalannya sendiri. Dan itu berbahaya bagi kita semua."
Sandra menatap punggung kakaknya, lalu menyeringai tipis.
"Kalau begitu biarkan aku yang mengurusnya. Jika ia tak mau mendengarkan, mungkin ada cara lain agar ia kembali sadar siapa yang sebenarnya berkuasa di sini."
Vincenzo berbalik menatapnya tajam. "Jangan berbuat bodoh, Sandra."
"Aku hanya menjaga nama baik keluarga ini," jawab wanita itu tenang, lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan kakaknya yang kembali sendirian di hadapan bayangan masa lalu.