Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Cengkeraman pada pergelangan tangan Shania terasa begitu kokoh, seolah-olah sebuah belenggu baja baru saja dikaitkan tanpa ampun. Sentakan itu datang begitu cepat hingga mangkuk kayu kecil di dekat sikunya nyaris terguling dan menumpahkan sisa adonan putih ke lantai.
Napas Shania tertahan di tenggorokan. Rasa dingin langsung merambat naik dari ujung jemarinya, membekukan seluruh darah di dalam tubuhnya dalam sepersekian detik. Ia mendongak, mendapati wajah keras sang Jenderal berada begitu dekat hingga bayangan tubuh tinggi besar Damian sepenuhnya menutupi cahaya redup yang masuk dari jendela dapur.
Mata abu-abu badai itu memancarkan kilat ketidaksenangan yang bercampur dengan ketegangan militer yang baru saja dibawa oleh surat darurat Senat. Ada beban berat yang bergelayut di pundak pria itu, namun alih-alih melepaskan amarahnya pada sang pembawa berita, Damian justru melampiaskan tekanan itu pada wanita di hadapannya.
"Kau..." suara rendah Damian bergetar tertahan, sarat akan ancaman yang membekukan darah. "Apa yang sebenarnya sedang kau permainkan di balik dinding-dinding kastil ini, Aurelia?"
Shania menggigit bibir bawahnya hingga pucat. Ia tidak bisa membuka mulut. Rasa sakit dari cengkeraman tangan Damian di pergelangan tangannya terasa semakin nyata, namun ketakutan terbesar bukan pada rasa sakit fisik itu, melainkan pada kemungkinan bahwa surat darurat dari Senat Kekaisaran tersebut ada hubungannya dengan faksi ayahnya—Adipati Christopher. Jika Damian mencurigainya terlibat dalam persekongkolan politik baru, maka hidupnya benar-benar telah sampai di ujung tanduk.
Di ambang pintu dapur, pelayan pembawa surat yang masih membungkuk gemetar tidak berani mengangkat kepala. Keringat dingin bercucuran di pelipis pria paruh baya itu melihat amarah sang Jenderal mulai tersulut.
Sebelum Damian sempat melontarkan interogasi yang lebih mematikan, pria itu mendadak menghentikan kata-katanya. Ia menatap lekat-lekat manik mata hijau Shania yang basah oleh air mata ketakutan, lalu secara kasar mengempaskan tangan wanita itu begitu saja. Tanpa memedulikan tatapan ngeri Shania, Damian berbalik memutar tubuhnya, menyambar gulungan surat dari tangan pelayan, dan melangkah pergi dengan derap sepatu lars yang menghantam lantai marmer koridor, meninggalkan gema kemarahan yang membekas di udara.
Tiga hari berlalu sejak insiden di dapur belakang itu. Kediaman Valerius kembali terbungkus dalam kesunyian yang mencekam, seolah-olah badai besar baru saja mereda untuk sementara waktu.
Di dalam kamar tidur utama sayap barat, Shania duduk di dekat meja tulis kayu mahoni yang diterangi oleh sebatang lilin lebah yang hampir habis. Jemarinya yang lentik memegang sebuah pena bulu dengan goresan yang sangat hati-hati di atas selembar perkamen putih bersih.
Udara malam musim semi terasa begitu dingin hingga embun menempel di balik kaca jendela. Namun, Shania tidak memedulikan hawa dingin itu. Pikirannya dipenuhi oleh satu hal yang jauh lebih mendesak: keselamatan dirinya sendiri yang bergantung pada langkah politik keluarganya di ibu kota.
Berdasarkan memori tubuh Aurelia yang tersisa di kepalanya, Adipati Christopher—ayah kandungnya—adalah seorang politikus licik yang sangat ambisius, pria tua yang melihat pernikahan putrinya dengan Damian bukan sebagai ikatan suci, melainkan sebagai alat spionase untuk meruntuhkan kekuasaan militer keluarga Valerius. Jika sang ayah terus menerus mendesak Senat dan memprovokasi konflik di perbatasan utara, maka vonis mati atas tuduhan pengkhianatan akan jatuh bukan hanya pada sang Adipati, tetapi juga menyeret nama Aurelia sebagai kaki tangan utamanya.
Shania harus menghentikan itu sebelum terlambat. Ia harus mengirimkan sebuah pesan peringatan kepada ayahnya—sebuah surat terselubung yang tidak boleh terbaca oleh mata-mata kekaisaran maupun penjaga istana, namun cukup kuat untuk membuat sang Adipati menarik diri dari ambisi gilanya.
Dengan napas yang diatur setenang mungkin, Shania mulai menuliskan bait-bait kalimat menggunakan metafora sastra kuno yang hanya dipahami oleh lingkaran keluarga terdekat mereka:
"Ayah tercinta,
Musim dingin di perbatasan utara datang jauh lebih cepat dari perkiraan tahun-tahun sebelumnya. Angin es dari pegunungan mulai meretakkan dinding-dinding batu yang rapuh. Pohon-pohon tua yang berdiri terlalu tinggi dan sombong di tengah badai biasanya adalah yang paling awal tumbang sebelum akarnya sempat mencengkeram tanah.
Aku menulis surat ini bukan untuk meminta gaun baru atau perhiasan berlian. Aku hanya ingin mengingatkanmu... kadang-kadang, merendahkan kepala dan memadamkan unggun api di tengah hutan yang kering adalah satu-satunya cara agar seluruh keturunanmu tidak ikut terbakar menjadi abu bersama ambisi mereka sendiri.
Kembalilah merawat kebun mawar di halaman belakang istana kota. Tinggalkan perburuan rusa di padang salju.
Putrimu, Aurelia."
Aurelia membaca ulang setiap kalimat yang ia tulis. Pesan itu disamarkan sedemikian rupa sehingga jika surat tersebut dicegat oleh mata-mata Damian atau pengawas istana, mereka hanya akan menganggapnya sebagai keluhan murahan seorang wanita bangsawan yang merindukan kenyamanan ibu kota. Namun bagi Adipati Christopher, kalimat tentang "pohon tua yang sombong" dan "unggun api di hutan kering" adalah peringatan keras bahwa posisinya sedang diintai oleh bahaya besar.
Ia melipat perkamen itu dengan rapi, membubuhkan cap lilin pribadi keluarga Christopher menggunakan cincin meterai kecil yang ia ambil dari laci rahasia, lalu menyelipkannya ke dalam amplop tebal berwarna gading.
Keesokan paginya, melalui bantuan diam-diam dari Lily—pelayan muda yang setia membantunya—surat itu berhasil diselundupkan keluar kastil bersama keranjang cucian kotor menuju kurir rahasia di pasar bawah.
Di pusat ibu kota Kekaisaran, berjarak ratusan mil dari Kediaman Valerius, cahaya matahari pagi memantul menyilaukan pada pilar-pilar marmer putih Istana Senat. Di dalam ruang kerja pribadi yang dipenuhi rak-rak buku tua berlapis kulit domba, Adipati Christopher duduk termenung di balik meja kerjanya yang luas.
Pria paruh baya dengan rambut uban yang tersisir rapi itu mengenakan jubah kebesaran bangsawan berenda emas. Di tangannya, sebuah amplop berstempel lilin merah tergeletak terbuka.
Sepasang mata tajam sang Adipati menatap lekat-lekat tulisan tangan di atas perkamen putih tersebut. Alis tebalnya bertaut sangat dalam, menciptakan kerutan-kerutan usia yang tegas di dahinya. Otaknya yang terbiasa menghitung untung-rugi politik kekaisaran berputar keras, mencoba memecahkan sandi tersembunyi dari surat yang dikirim oleh putri tunggalnya sendiri.
"Aurelia..." gumam sang Adipati pelan, suaranya terdengar parau di dalam ruangan yang sunyi itu. "Apa maksud dari omong kosong ini?"
Selama ini, setiap surat yang datang dari putrinya di Kediaman Valerius selalu berisi tuntutan kekanak-kanakan: permintaan uang sedia, makian terhadap sang Jenderal yang mengabaikannya, atau rengekan agar sang ayah mengerahkan pengaruh politik untuk menekan Damian. Tidak pernah sekalipun putrinya menulis surat dengan gaya bahasa sastra yang dingin, penuh peringatan terselubung, dan menyuruhnya mundur dari gelanggang politik.
Perubahan drastis ini terasa sangat janggal. Apakah putrinya telah kehilangan akal sehat karena tekanan hidup di benteng militer utara? Ataukah... ada ancaman besar yang jauh lebih mengerikan di sana, yang membuat putrinya terpaksa menulis surat peringatan dengan cara yang sangat hati-hati agar tidak terdeteksi oleh intelijen Valerius?
Sebelum Adipati Christopher sempat memanggil penasihat kepercayaannya untuk menyelidiki hal tersebut, pintu ruang kerjanya tiba-tiba didorong terbuka tanpa aba-aba.
Seorang pengawal pribadi berzirah perak masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu. Sang pengawal menjatuhkan diri dengan satu lutut di lantai marmer, memberikan penghormatan darurat yang gemetar.
"Yang Mulia Adipati!" seru pengawal itu dengan suara panik yang hampir pecah. "Berita darurat dari perbatasan utara! Pasukan khusus Jenderal Damian Valerius... mereka baru saja bergerak secara senyap dan membakar seluruh gudang logistik rahasia faksi kita di lembah perbatasan!"
Adipati Christopher terperanjat dari kursi kerjanya. Wajah tua bangsawan itu mendadak kehilangan seluruh warnanya, berubah pucat pasi dalam satu kedipan mata. Secarik surat dari putrinya yang tergeletak di atas meja mendadak terasa bagai selembar ramalan kematian yang kini benar-benar menjadi kenyataan.
Namun, sebelum sang Adipati sempat memulihkan keterkejutannya, pintu luar ruang kerja utamanya diketuk dengan keras tiga kali—bukan oleh pelayan, melainkan oleh suara hantaman sepatu lars baja pasukan pengawal istana kekaisaran yang mengepung tempat itu—
mampir diceritaku juga ya😊