Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Itu Aku
Di pelataran minimarket SPBU, Kevin dan teman-temannya masih berdiri.
Pandangan mereka tertuju ke arah pendar lampu belakang Koenigsegg Jesko Attack putih yang perlahan menyatu jalanan BSD.
Suara raungan mesin V8-nya yang khas masih terngiang halus di telinga mereka.
"Yuda... Pria yang luar biasa..." Kevin bergumam pelan, menatap jalanan ramai itu dengan perasaan takjub.
Ia terdiam sejenak.
"Omong-omong, sepertinya dia seumuran kita, kan?" Kevin menoleh ke arah teman-temannya.
Dion, pemilik Lamborghini Huracán hijau, mengangguk cepat. "Ya, aku rasa juga begitu. Wajah dan gaya bicaranya santai banget, paling baru umur 21 atau 22 tahun. Anak kampus mana dia?"
Dion berpikir Yuda pasti sama seperti mereka—anak muda generasi kedua kaya yang sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi di Jakarta atau Tangerang Selatan.
Namun, Kevin justru mengerutkan keningnya.
Sebagai salah satu figur penting di lingkaran komunitas supercar muda Jabodetabek, jaringan pergaulan Kevin sangat luas.
Ia kenal hampir semua anak orang kaya yang berkuliah di kampus-kampus swasta elite seperti UPH, Prasetiya Mulya, Binus, hingga UI.
"Jika dia anak kampus daerah Jabodetabek, pasti aku akan tahu," Kevin sedikit ragu.
"Apalagi pria sepertinya... membawa mobil senilai seratus miliar lebih. Orang tuanya pasti konglomerat papan atas yang namanya sering masuk berita bisnis."
Penasaran, Dion langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia membuka aplikasi perpesanan, meluncurkan pertanyaan ke grup utama Jabodetabek Supercar & Hypercar Club—grup privat yang berisi ratusan pemilik mobil eksotis di ibu kota.
Dion: "Guys, ada yang kenal anak muda nama Yuda? Umur awal 20-an, nongkrong di BSD bawa Koenigsegg Jesko Attack putih?"
Hanya dalam hitungan detik, grup WhatsApp itu mendadak heboh!
"Jesko Attack?! Di RI?! Lu bercanda ya, Yon?!"
"Hoax kali! Mana ada Jesko masuk RI, pajaknya aja bisa bikin ginjal melayang!"
"Aku anak Prasmul kagak pernah dengar ada nama Yuda bawa Jesko."
"Anak UPH juga kagak ada. Kolektor tua di Jakarta yang sanggup beli Jesko aja cuma hitungan jari, itu pun gak ada yang namanya Yuda!"
Melihat balasan heboh di layar ponsel Dion, Kevin makin yakin kalau Yuda bukan berasal dari lingkaran orang kaya lama Jakarta yang biasa mereka kenal.
Tiba-tiba, pemuda pemilik Ferrari F8 yang sedari tadi meneliti foto belakang Jesko di HPnya menepuk bahu Kevin.
"Vin! Coba lu ingat-ingat lagi!" serunya dengan mata membelalak. "Tadi pas mobilnya melesat di jalan tol sama pas parkir di depan minimarket... lu perhatikan plat nomornya gak?!"
Kevin mengernyit, mencoba memutar ulang rekaman memori di kepalanya. "Plat nomor? Tadi aku fokus ke tampilan jesko sama terkejut dengan cara mengemudinya... Memangnya kenapa?"
"Aku sempat lihat sekilas pas dia tancap gas!" potong pemuda itu antusias. "Kode depannya bukan plat B!"
"Bukan B?!" Dion dan Kevin kaget secara bersamaan.
"Bukan! Seri kodenya huruf G!"
Seketika, atmosfer di antara mereka bertiga mendadak hening.
"Plat G...?" Kevin bergumam, mengulang huruf tersebut di dalam hatinya. "Itu kan... kode wilayah Jawa Tengah bagian utara kan?"
"Gila..." Dion menelan ludahnya yang terasa kering. "Jadi dia bukan anak orang kaya Jakarta? Dia Sultan dari daerah yang lagi main ke BSD?!"
Fakta itu menghantam pikiran Kevin cukup keras.
Di RI, orang kaya yang muncul dari daerah terpencil dan memilih tampil low-profile memiliki kekayaan yang jauh lebih fantastis dan tak terukur dibandingkan anak-anak muda Jakarta yang suka pamer di media sosial?
Yuda datang menaiki mobil berharga Rp130 miliar dengan plat nomor daerah, mengenakan kaos polos kasual tanpa logo mencolok, tetapi memiliki Skill Mengemudi yang sanggup mempecundangi empat supercar sekaligus di jalan tol.
Kevin melirik kartu nama latar emas di tangannya yang tadi sempat ia berikan pada Yuda.
Senyum antusias perlahan mengembang di wajahnya.
"Misterius banget..." bisik Kevin penuh rasa kagum. "Aku semakin gak sabar nunggu hari Sabtu malam di Sentul. Kita bakal kedatangan naga yang sebenarnya."
...----------------...
Sementara itu, Yuda baru saja memarkir Jesko Attack di garasi vila.
Garasinya luas.
Tiga kendaraan barunya berjajar rapi, dan di sudut paling pojok, Honda Beat lamanya terparkir tenang kontras dengan kemewahan kendaraan lainnya.
Yuda tersenyum kecil menepuk jok motor beatnya. “Mulai besok, kamu kembali bertugas,”
Setelah itu, Yuda masuk ke dalam vila.
Baru beberapa langkah memasuki ruang utama, ia kembali menyadari betapa besarnya tempat tersebut.
Ruangan yang luas, halaman, kolam renang, hingga berbagai fasilitas lainnya jelas terlalu banyak untuk diurus seorang diri.
Yuda menghela napas. "Kayaknya harus cari pembantu."
Setelah mandi, ia membuka aplikasi pesan antar dan memesan 3 porsi sate ayam+lontong dengan teh manis dingin.
Dua puluh menit kemudian, ia makan di meja makan keluarga yang bisa menampung dua belas orang.
Sendirian.
Suara sendok dan piring terdengar nyaring di ruangan sebesar itu.
Yuda memandang kursi-kursi kosong di sekelilingnya. “Aku benar-benar harus cari orang yang mengurus rumah ini.”
Kemudian ia teringat satu hal lain, dan wajahnya berubah.
Enam hari lagi pulang kampung.
Dan ia belum benar-benar menyiapkan apa pun untuk sandiwaranya dengan Risa.
...----------------...
Keesokan paginya, Yuda kembali ke Gudang Express.
Ia tidak membawa Jesko, Cullinan, atau BMW.
Ia mengenakan kaus polos, celana panjang, dan seragam kurir lamanya.
Jam tangan Patek Philippe-nya masih terpasang dipergelangan tangannya.
Orang awam jika melihat jam di tangannya, mereka hanya akan mengira itu jam biasa.
Ini juga alasan dia memilih Patek Philippe, tampilan tidak mencolok.
HP Huawei Mate XT juga tidak ia bawa, ia kembali memakai Poco X7 Pro lamanya.
Semuanya demi satu hal, agar tidak terlalu mencolok.
Ia masih menyukai suasana diperlakukan sebagai orang biasa oleh teman-teman kurirnya seperti biasa.
Honda Beat-nya melaju seperti biasa, dan anehnya, ia merasa lebih tenang di atas motor itu daripada di balik kemudi hypercar mana pun.
Dari pengalamannya menaiki jesko kemarin, di jalanan ia selalu ditunjuk sana sini dan menjadi pusat perhatian banyak orang.
Meski merasa bangga, tapi ada juga perasaan tidak enak yang membuat Yuda teringat dengan pertunjukan tarian monyet yang sering ia tonton saat masih kecil.
Dalam artian, ia sendiri seperti monyet dalam pertunjukan tersebut selalu di tunjuk orang lain.
Sesampainya di gudang, ia langsung menemui manajernya, Pak Heru.
Yuda menjelaskan bahwa ia ingin pindah dari jalur paket reguler ke layanan kurir instan.
Alasannya sederhana: ia ingin jam kerja yang lebih fleksibel, tanpa target harian, dan bisa menerima atau menolak pesanan sesuai kondisi.
Ia juga menyampaikan bahwa Minggu depan ia akan mengajukan cuti beberapa hari untuk pulang kampung menghadiri pernikahan sepupunya.
Pak Heru sempat terkejut.
Kinerja Yuda selama ini termasuk yang terbaik di gudang, dan jarang ada kurir yang meminta jalur yang pendapatannya lebih tidak pasti.
Tetapi karena Yuda tidak pernah bermasalah, ia akhirnya mengangguk.
Perusahaan menawarkan dua pilihan di layanan kurir instan.
Pilihan pertama adalah ojek instan, yaitu mengantar penumpang sekaligus paket.
Pilihan kedua adalah paket saja.
Yuda memilih keduanya.
Ia tidak ingin kehilangan kebebasan berkeliling kota, dan ia penasaran dengan berbagai jenis orang yang akan ia temui di jalan.
Hanya saja, ia memutuskan untuk bekerja santai: menerima pesanan yang menarik, menolak yang merepotkan, dan berhenti kapan saja ia mau.
Pak Heru hanya menggeleng pelan sambil mencatat, mengira anak muda itu sedang mengalami fase pubertas aneh dalam hidupnya.
Dan secara teknis, dia memang benar.
Siang harinya, warung Bu Ning di belakang gudang penuh seperti biasa.
Enam kurir duduk berjajar di bangku panjang dengan piring nasi di tangan masing-masing.
Yuda ada di antara mereka, dengan segelas es teh dan sepotong tempe goreng.
Sudah lama ia tidak makan di sini, dan anehnya, rasanya masih sama enak.
“Yud, lihat ini,” Rendi menyodorkan Hpnya.
Pria yang dulu mengaku setampan Yuda itu menepuk bahunya. “Viral sejak semalam.”
Layar ponsel menampilkan video berdurasi enam belas detik.
Sebuah SPBU di waktu senja.
Mobil putih rendah dengan sayap belakang besar terparkir di depan minimarket.
Kamera bergoyang karena diambil dari seberang jalan.
Di pojok layar, seorang pria muda berkaos gelap berjalan mendekati mobil itu sambil memegang botol air mineral.
“Komentarnya sudah 3 juta,” Anto menatap HPnya sambil menyendok nasi. “Mobil apa ini katanya?”
“Koenigsegg Jesko Attack,” Rendi membaca judul video di layar. “Harganya 130 miliar.”
Seisi bangku terdiam sejenak.
“130 miliar,” kata Jaka. “Kalau gajiku 5 juta sebulan dan aku tidak makan sama sekali, butuh berapa tahun?”
Rendi menghitung di kalkulator ponselnya. “2160 tahun.”
“Berarti mulai nabung sejak zaman Majapahit, baru lunas sekarang.”
Tawa pecah di warung.
Yuda ikut tertawa sambil menyedot es tehnya menikmati candaan temannya.
Kamera ponsel orang itu ternyata cukup bagus.
Cukup jelas untuk menangkap mobil, tetapi cahaya senja membuat wajah pria di pojok layar hanya berupa bayangan samar.
Samar sekali.
“Eh, tunggu.” Anto menyipitkan mata ke layar.
Ia mendekatkan ponsel itu ke wajahnya, lalu melirik Yuda, lalu kembali ke layar. “Yang bawa botol ini... kok kayak pernah lihat ya?”
Yuda berhenti mengunyah.
“Yang mana?” tanya Rendi.
“Ini. Yang jalan ke mobil.” Anto menunjuk dengan dagunya, lalu menyenggol bahu Yuda dengan siku. “Yud, ini kamu bukan?”
Seisi warung menoleh.
Yuda menatap Anto dengan wajah datar, menatap layar ponsel, lalu menatap Anto lagi. “Itu emang aku."
Bab Berakhir.