Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.
Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.
Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pai Ara & Souffle Cheesecake
Tidak mungkin. Seina pasti hanya sedang marah.
Bahkan ketika kepala pelayan membawanya pergi secara paksa, Seina masih terus menatap Violet dengan tatapan tajam sampai akhirnya menghilang dari pandangan.
Kini, hanya Violet dan Cedric yang tersisa di dalam ruangan. Cedric masih terpaku menyaksikan semuanya, sementara Violet akhirnya menangis sejadi-jadinya.
“Hei, hei! Jangan menangis!”
Seina diusir karena dirinya.
Selama ini, keberadaan Seina setidaknya membuat Violet merasa aman di tempat yang masih begitu asing baginya. Namun, sekarang Seina telah diambil darinya. Bahkan, kakak sulungnya itu dengan jelas mengatakan bahwa Violet tidak punya kuasa untuk mengubah keputusan tersebut.
Cedric berusaha menenangkannya, tetapi tangis Violet tak kunjung reda.
“Aku sangat membencinya!! Argh!”
"Sial! Semua orang pergi begitu saja tanpa membereskan masalah ini. Aku harus bagaimana sekarang?!”
Cedric ikut berteriak tanpa sadar.
Violet sudah tidak peduli lagi. Ia terduduk di lantai dan menangis sesenggukan. Padahal, menurut etiket yang selama ini diajarkan kepadanya, ia tidak seharusnya menangis seperti ini. Ia harus menutupi wajah dan menangis dengan anggun.
Tapi saat ini, tidak ada satu pun pelajaran itu yang terlintas di kepalanya.
Ia bahkan lupa bahwa orang yang berada di sampingnya adalah Cedric, putra ketiga yang selama ini ia takuti.
“Aku benci kalian semua!”
Cedric mondar-mandir dengan gelisah, ia tidak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya ia menarik napas dalam-dalam, lalu memberanikan diri mengusap punggung Violet.
“A-aku akan bicara pada Ayah. Jadi jangan menangis, ya?”
“Hiks... hiks... Benarkah?”
Violet mendongak dengan mata yang masih dipenuhi air mata.
“Iya. Kalau kita bicara pada Ayah, semuanya pasti akan beres!”
Meskipun terlihat canggung, Cedric berusaha meyakinkannya dengan suara lembut.
Entah kenapa, Violet mulai mempercayainya. Air matanya masih mengalir, tetapi tangisnya perlahan mereda. Cedric terus menepuk punggungnya sambil memintanya untuk percaya. Untuk pertama kalinya, Violet merasa anak itu ternyata cukup baik.
......................
Keesokan harinya, Seina benar-benar menghilang dari kediaman itu. Sebagai gantinya, seorang pelayan wanita yang belum pernah ia kenal datang membangunkannya.
“Nona, bangunlah.”
Violet tak pernah menyangka akan dipanggil dengan sebutan nona. Pelayan itu kira-kira seusia mendiang Rose, mungkin hanya empat atau lima tahun lebih tua darinya. Berbeda dengan Seina, wanita itu memiliki rambut hitam.
Melihat wajahnya, Violet akhirnya benar-benar menyadari bahwa Seina telah pergi. Matanya pun mulai berkaca-kaca.
“Seina dimana?”
Wanita itu mengernyit lalu menggeleng pelan.
“Tuan sangat marah. Dia tidak akan pernah diizinkan kembali ke sini. Dia sudah pergi pagi tadi.”
Entah kenapa, sebutan wanita itu terdengar begitu dingin di telinga Violet. Air matanya kembali menggenang. Namun, pelayan baru itu justru tersenyum ramah.
“Nona, saya yakin Anda akan menyukai saya.”
Tangannya mengusap kepala Violet dengan lembut. Sentuhannya terasa begitu hangat.
“Nama saya Meirra.”
“Ya.”
“Hei, Nona. Menurut Anda, pantaskah seorang nona berbicara begitu sopan kepada pelayannya?”
“Tapi Anda lebih tua dariku.”
Meirra terkekeh pelan mendengar jawaban itu.
“Benarkah? Anda merasa tidak nyaman memanggil saya begitu?”
Violet mengangguk.
“Kalau begitu, bagaimana kalau begini? Saya ingin berteman dengan Anda. Apa Anda tidak ingin berteman dengan saya juga?”
Violet mengangkat wajahnya. Mata biru jernihnya menatap Meirra, yang tersenyum lembut kepadanya.
“Kalau begitu, mari berteman, Nona Violet yang baik hati. Kita bisa menjadi teman yang baik.”
Mendengar namanya disebut, Violet refleks mengangguk. Ia masih merasa cemas dan takut. Kata-kata Meirra belum cukup untuk menghapus kegelisahannya, tetapi kehangatan yang terkandung di dalamnya tetap berhasil menyentuh hati Violet.
“Tapi kenapa aku dipanggil Nona? Aku kan Saintess.”
“Bukankah itu wajar? Anda adalah putri dari keluarga Marquise, jadi Anda bisa menjadi Nona sekaligus Saintess. Namun, Saintess adalah orang yang suci bagi semua orang, sedangkan di rumah ini hanya ada satu putri. Jadi bagi saya, Anda tetaplah Nona saya.”
Meski Meirra berbicara dengan begitu akrab, air mata Violet tetap mengalir. Ia masih sulit percaya bahwa Seina benar-benar diusir karena dirinya.
“Untuk hari ini, Tuan mengizinkan Anda beristirahat.”
“Jadi, Viscountess Bourne tidak datang hari ini?”
“Hmm, wanita gila itu—ah, bukan. Maksud saya, wanita itu sedang ada urusan lain, jadi mulai sekarang dia tidak akan datang lagi. Sebagai gantinya, Countess Loraine akan membantu Anda secara pribadi mulai sekarang!”
Countess?
Mendengar gelar itu, wajah Violet langsung pucat.
Bagaimana mungkin seorang Countess akan datang untuk mengajarinya?
Selama tinggal sebagai rakyat jelata, Violet paling sering mendengar tentang Baron dan Viscount yang mengurus wilayah milik para bangsawan tinggi. Ia pernah mendengar bahwa bangsawan yang benar-benar berkuasa adalah mereka yang memiliki wilayah luas dan pasukan sendiri.
Count, marquis, dan duke. Hanya sedikit bangsawan yang menyandang ketiga gelar tersebut. Mereka adalah orang-orang dengan kedudukan yang begitu tinggi hingga kata countess saja terdengar menakutkan bagi Violet.
“Tenang saja. Countess Loraine orangnya sangat baik. Katanya, beliau juga memiliki putri yang seusia dengan Anda.”
“I-Iya...”
Violet mengucapkannya dengan malu-malu.
Entah kenapa, ekspresi Meirra tiba-tiba berubah aneh. Seolah-olah ia sedang menahan keinginan untuk memeluk Violet karena terlalu menggemaskan, tetapi takut gadis kecil itu malah ketakutan.
Violet yang merasa diperhatikan dengan tatapan aneh segera menoleh.
“Hah?”
Namun, Meirra sudah kembali tersenyum ramah seolah tidak terjadi apa-apa.
Pelayan ini sedikit aneh, pikir Violet.
“Nona, jangan terlalu cemas." Meirra berbicara dengan lembut. “Semuanya akan baik-baik saja.”
Violet mengangguk.
Meirra kemudian menggenggam tangannya dengan hangat, seperti seorang teman.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar mengelilingi kediaman Marquis?”
......................
“Ahhh! Meirra!” teriak Cedric.
Meirra menunjuk ke arah seorang anak laki-laki sambil tersenyum.
“Yang Anda lihat di sana adalah bocah sialan—maksud saya, Tuan Muda Cedric. Usianya baru sebelas tahun, tapi kelihatannya masih jauh dari kata dewasa. Dan kebetulan, kamar di hadapan kita ini adalah kamar Tuan Muda Cedric. Seperti yang Anda lihat sendiri, mulutnya memang agak kasar. Semoga nanti Tuan saya dan Tuan Muda Carlisle memberinya teguran yang pantas!”
“Hei, kau—!”
Cedric hendak membalas, tetapi begitu melihat senyum Meirra, ia langsung terdiam.
Dengan pakaian tidur yang masih dikenakannya, ia hanya terpaku di tempat, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Meirra terkekeh pelan. Dengan gaya seperti pedagang yang sedang menjelaskan barang dagangan, ia memaparkan jenis kelamin, usia, dan sifat Cedric satu per satu.
Bahkan, sebelum Cedric sempat membalas, Meirra masih sempat melontarkan komentar yang terdengar seperti kutukan. Meirra yang sudah tidak tahan akhirnya menutup pintu dengan keras.
Melihat Violet yang masih kebingungan, Meirra tersenyum dan menggandeng tangannya. Mereka berjalan hingga berhenti di sebuah ruangan.
Meirra menunjuk ke sana sambil menjelaskan bahwa tempat itu adalah dapur. Dari dalam, aroma manis yang menggugah selera menguar.
“Aroma manis itu berasal dari masakan Koki Franc. Dia bukan hanya pandai memasak, tetapi juga ahli membuat roti dan makanan penutup. Sejak Nyonya pergi, hanya para pria yang tersisa di kediaman ini, jadi dia tidak punya banyak kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Tapi sekarang dia senang sekali karena akhirnya bisa membuat makanan penutup lagi.”
Meirra melambaikan tangan kepada seorang pria berkumis. Pria itu membalasnya, tetapi sesaat kemudian ekspresinya berubah ketika menyadari keberadaan Violet di samping Meirra.
“Ya ampun, Saintess!”
Franc buru-buru meletakkan wajan dan hendak berlutut, tetapi Violet segera mencegahnya. Melihat Franc yang masih kebingungan, pria itu kemudian mengambil sebuah pai kecil dan memasukkannya ke dalam kotak.
“Saya sedang mencari buah yang kira-kira disukai Saintess. Saya pikir buah ara yang mudah ditemukan ini mungkin cocok, jadi saya mencoba membuatnya menjadi pai. Tadinya mau saya sajikan sebagai kudapan. Kebetulan sekali Anda datang!”
Pohon ara memang tumbuh hampir di mana-mana, dan buahnya pun bukan sesuatu yang langka. Bentuk serta warnanya yang kurang menarik juga membuat buah itu tidak terlalu disukai para bangsawan.
Namun, mendengar kata buah ara yang begitu familiar, Violet justru tersenyum.
“Boleh saya mencobanya sekarang?”
"Tentu saja."
Berdiri sambil makan memang tidak sesuai dengan tata krama, tetapi jika Violet menginginkannya, tidak ada yang bisa melarang. Bagaimanapun, siapa yang berani menolak keinginan seorang Saintess?
Begitu Violet menggigit pai itu dan tersenyum bahagia, Meirra dan Franc pun ikut tersenyum. Bahkan tanpa menyandang gelar Saintess sekalipun, tidak ada koki yang tidak senang melihat seorang gadis kecil menikmati makanan buatannya. Terlebih lagi, gadis yang sedang tersenyum cerah di hadapan mereka adalah Saintess mulia yang selama ini hanya mereka dengar dari legenda.
Wajah Violet memang tidak secantik boneka, tetapi senyum kecil di wajahnya entah bagaimana mampu menghangatkan hati orang yang melihatnya.
“Enak sekali.”
Mendengar itu, Franc yang biasanya pendiam langsung tertawa lepas. Ia kemudian dengan sopan meminta izin untuk menyiapkan souffle cheesecake sebagai hidangan penutup berikutnya. Karena Violet sudah mencicipi sepotong pai, ia berencana menyajikan cheesecake tersebut untuk sarapan keesokan harinya.
Violet langsung mengangguk penuh semangat.
France pun tersenyum puas dan kembali ke dapur. Dari balik pintu, terdengar tawa aneh disertai suara, “Akhirnya masakanku diakui!”
Setelah meninggalkan dapur, Meirra mengajak Violet menuju ruang makan. Violet sudah beberapa kali datang ke sana. Namun, karena tidak memiliki kenangan yang menyenangkan di tempat itu, wajahnya seketika muram.
“Nanti, setelah Nona sudah menguasai semua tata krama, mungkin Nona bisa sarapan bersama semuanya.”
“Tidak. Aku tidak mau.”
Mendengar penolakan yang jarang sekali keluar dari mulut Violet, Meirra sampai membulatkan mata. Sepertinya ia cukup terkejut melihat Violet menolak dengan begitu tegas.
“Aku akan makan sendiri.”
“Nona, Tuan Besar pasti akan sedih.”
“Lagipula, aku ini rakyat jelata. Aku juga bukan putri kandung Tuan Marquis.”
Ekspresi di wajah Meirra seketika berubah.
Violet tahu ucapannya terdengar kejam. Namun, bukankah ini juga atas perintah Marquis? Jadi, menurutnya tidak ada yang perlu ia sesali. Biasanya Violet tidak banyak menunjukkan apa yang ia suka atau tidak suka, tetapi kali ini ia benar-benar menolak makan bersama. Bukan semata karena merasa dirinya bukan putri kandung, melainkan karena ia memang tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak disukainya.
“Nona, kenapa? Apa Tuan Muda Cedric sering mengganggu Nona?”
Violet menggeleng.
“Kalau begitu, kenapa Nona tidak mau?”
“Aku tidak suka melihat wajah orang-orang di rumah ini. Termasuk wajah Tuan Muda Pertama.”
“Benarkah?”
Jawaban itu benar-benar di luar dugaan sampai Meirra tampak terkejut.
“Kenapa?”
Violet menggigit bibirnya pelan. Ia mulai khawatir telah mengatakan sesuatu yang salah, tetapi Meirra tampaknya benar-benar penasaran.
Bagi rakyat jelata, apalagi mereka yang hidup serba kekurangan, pekerjaan sangatlah penting. Namun, Carlisle mengusir Seina begitu saja tanpa belas kasihan. Ia mengabaikan permohonan Seina maupun Violet dan malah mengatakan bahwa Violet tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu, apa bedanya dia dengan para bangsawan lainnya? Mungkin Violet sendiri tidak tahu apa yang ia harapkan dari Carlisle, tetapi sikapnya telah menghancurkan sedikit rasa suka yang diam-diam pernah tumbuh dalam hati Violet.
Namun, Violet tidak sanggup mengatakannya. Ia hanya menggigit bibir dan tetap diam. Meski begitu, ia sempat melirik Meirra, khawatir wanita itu akan menganggap ucapannya keterlaluan. Ternyata Meirra tidak tampak kesal. Ia justru seperti sedang berusaha memahami keadaan.
“Tuan Muda Pertama? Bukankah seharusnya Nona memanggilnya Kakak?”
“Aku tidak mau.”
Baru kali ini Violet menilai seseorang dengan begitu tegas. Selama ini, ia tak pernah memandang seseorang hanya berdasarkan rasa suka atau tidak suka.
“Tuan Muda Carlisle sebenarnya orang yang baik. Memang terkadang beliau cukup keras, tetapi pada dasarnya beliau bukan orang seperti itu.”
Penjelasan Meirra sama sekali tidak meyakinkan.
“Tidak bagiku.”
Violet menjawab dengan keras kepala.
Ia tahu tidak semua yang terjadi adalah kesalahan Carlisle. Ia juga membenci Marquis yang membiarkan Seina diusir, Cedric yang tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan dirinya sendiri karena merasa menjadi penyebab semua itu.
Namun, setiap kali berhadapan dengan Carlisle, selalu saja terjadi sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Terutama ketika Carlisle mengatakan bahwa gaun itu tidak cocok untuknya. Entah mengapa, ucapan itu terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan perkataan orang lain.
Melihat Violet yang tetap keras kepala, Meirra akhirnya menyerah untuk membujuknya. Ia juga baru menyadari satu hal: setiap kali Violet benar-benar ingin menegaskan sesuatu, ia akan berhenti menggunakan bahasa formal dan berbicara dengan santai.
“Kalau begitu, selanjutnya kita ke ruang kerja Tuan Marquis.”
Marquis memiliki wilayah yang sangat luas di sekitar ibu kota. Ketika Violet bertanya apakah kediaman ini juga termasuk wilayahnya, Meirra menjelaskan bahwa tempat ini hanyalah kediaman yang diberikan kerajaan, sedangkan wilayah kekuasaan Marquis berada di tempat lain.
Luas wilayah Marquis bahkan mencakup beberapa kota besar dan sekitar sepuluh desa. Namun, Violet masih belum benar-benar memahami seberapa luas ukuran sebesar itu. Yang ia tahu, setelah urusan di istana selesai, Marquis biasanya mengurus berbagai urusan wilayahnya dari ruang kerja yang ada di kediaman ini.
Kebetulan, Marquis sedang keluar dari ruang kerjanya.
Dari ujung koridor, tampak sang Marquis berjalan menghampiri mereka. Rambut biru gelap dan sepasang mata birunya membuat Violet langsung mengenalinya. Sang Marquis pun segera menyadari keberadaan mereka.
“Salam untuk Saintess.”
Namun, begitu mendengar sapaan itu, Violet langsung menutup mulut rapat-rapat dan berbalik. Ia bahkan berlari menjauh darinya.
Penolakan itu begitu jelas.
Tindakannya memang tidak sopan, tetapi Violet sudah tahu bahwa sang Marquis tidak akan marah atau menghukumnya hanya karena hal semacam ini. Setidaknya, ia tidak seperti para bangsawan lain yang pernah dikenalnya.
Lagipula, ada alasan mengapa Violet sulit bersikap baik kepada Marquis. Ia tahu Marquis pasti sudah diberi tahu oleh Viscountess bahwa dirinya telah dipukuli. Namun, bukannya melakukan sesuatu, ia malah mengusir Seina yang selama ini baik kepadanya.
Bahkan permintaan Cedric pun sepertinya tidak ia kabulkan.
“Nona!”
Meirra berlari mengejar Violet. Sesaat, Violet mengira Meirra akan memarahinya karena bersikap tidak sopan. Namun, Meirra hanya menatap wajahnya dengan penuh kekhawatiran.
“Apa Anda baik-baik saja?”
Melihat Violet yang terengah-engah setelah berlari sekuat tenaga, Meirra menyeka keringat di wajahnya. Violet tidak menjawab. Ia hanya menatap Meirra dengan tatapan kesal.
Meirra datang untuk menggantikan Seina. Seharusnya aku membencinya.
Namun, Violet tidak sanggup marah kepada Meirra yang begitu baik dan perhatian. Ia hanya bisa menunjukkan wajah tidak senang.
“Tuan Marquis pasti sangat terkejut. Sebenarnya, kenapa Nona melakukan itu?”
Violet hendak menjawab, tetapi ia mengurungkan niatnya. Bagaimanapun, jika ia sampai mengakui bahwa dirinya sebenarnya membenci Marquis, masalah besar pasti akan menantinya.
Saat sedang memikirkan apa yang harus dikatakan, seseorang memanggilnya.
“Violet!”
Mendengar suara yang begitu akrab, Violet mengangkat kepala. Ledian sedang turun dari tangga. Meskipun tinggal di rumah yang sama, mereka sudah cukup lama tidak bertemu karena tidak lagi makan bersama.
Violet menahan tangis sebelum akhirnya memeluk Ledian dan terisak. Sepertinya Ledian sudah tahu apa yang terjadi. Ia hanya menepuk-nepuk punggung Violet dengan lembut.
“Aku yang akan mengantar Saintess ke kamarnya. Kau kembali saja.”
“Baik.”
Meirra menurut dan pergi. Setelah hanya berdua, Ledian kembali memeluk Violet dengan erat.
“Maafkan aku. Aku hanya tahu kau dimarahi. Aku tidak tahu kalau kau sampai dipukuli seperti itu.”
“Tidak. Ini salahku karna tidak mengatakan apapun.”
Ledian benar-benar tampak merasa bersalah.
“Seberapa parah lukanya? Kau yakin masih sanggup berjalan seperti ini?”
“Tidak apa-apa. Aku sudah mengoleskan obat”
Violet tersenyum, dan Ledian pun ikut tersenyum. Hatinya yang sempat dipenuhi kegelisahan perlahan terasa lebih hangat.
“Kau pasti sedih karena pelayanmu pergi, violet."
Hanya Ledian yang benar-benar memahami perasaannya. Ia bahkan bisa mengerti tanpa perlu Violet mengatakan apa pun.
Benar. Aku harus meminta bantuan Ledian. Kalau Ledian yang memintanya, mungkin Marquis akan mempertimbangkannya.
“Kalau begitu... apa kakak bisa bicara dengan Marquis untukku?”
Setelah ragu cukup lama, akhirnya Violet memberanikan diri bertanya. Namun, Ledian justru menggeleng dengan wajah sedih. Harapan yang sempat muncul dalam hati Violet seketika sirna.
“Ayah dan Kakak tidak pernah menarik kembali keputusan yang sudah mereka buat.” Ledian melanjutkan, “Terutama Carlisle. Dia orang yang begitu keras kepala sampai-sampai ditusuk sekalipun mungkin tidak akan menunjukkan rasa sakit.”
Nada bicaranya memang tidak terlalu baik, tetapi Violet tidak bisa menyangkalnya.Ledian mengusap kepalanya, lalu menepuk punggungnya dengan lembut.
“Kalau bersamaku, kau boleh menangis sepuasnya. Aku ada di pihakmu, Violet.”
Mendengar itu, mata Violet kembali dipenuhi air mata. Kalimat ‘kau boleh menangis sepuasnya’ seolah menjadi pemicu yang membuat tangisnya pecah.
“Kasihan sekali kau, Violet.”
Mendengar ucapan itu, Violet justru semakin sedih.
Ya, aku memang sangat menyedihkan.
Tempat ini begitu dingin, menakutkan, dan sepi. Kini ia benar-benar merasa sendirian. Satu-satunya orang yang masih bisa ia andalkan di tempat ini hanyalah Ledian, orang yang dulu mengulurkan tangan kepadanya.